
Duet Maut Janda dan CEO Badass
Bab 3
Tamparan dari tangan seorang pria yang rajin berolahraga kembali mendarat di pipinya. Kepalanya merasa sangat pusing, otak di dalam kerangka kepalanya terasa bergoyang.
Dia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Tidak bisa, bahkan menggerakkan satu jari pun sangat kesulitan.
Dada bidang itu, dia mengenalnya. Dulu, mendekapnya dengan sangat hangat. Sekarang terasa sangat mengerikan.
BREK!
Baju Vina di tarik dengan sangat kasar, membuat baju itu terpisah menjadi beberapa bagian. Kini tubuh bagian atasnya bertelanjang, memamerkan dua gunung kembarnya yang kenyal. Gerry menyentuh keduanya dengan kasar, menarik ujungnya dengan cepat.
Rintihan kesakitan Vina malah membuatnya lebih bernafsu.
Brek!
Lagi, dia menarik celana Vina. Kali ini tidak menyisakan sedikit pun pakaian yang melekat pada tubuh cantik penuh luka milik istrinya.
Ini miliknya. Istrinya tidak punya kuasa atas tubuhnya sendiri, semuanya, dialah yang menentukan. Memperlakukannya secara kasar, itu bukanlah masalah.
“Gerry ... tolong ... tenangkan dirimu ... hiks ....” Vina masih terisak, tapi Gerry tidak peduli.
Dia melebarkan kedua kaki Vina, dan meletakkan kepalanya di sana. Mengulum sesuatu yang akan membuat Vina merasa nikmat.
“Ah .... “ desahan kecil keluar dari mulutmu. Dia tidak bisa menahannya, walaupun tubuhnya sakit, tapi apa yang dilakukan oleh Gerry membuat tubuhnya bereaksi dengan baik.
Gerry mengusap mulutnya dengan telapak tangan secara kasar, menatap Vina yang keenakan dengan servisnya.
“Dasar jalang!” maki Gerry, lalu menarik paha Vina agar lubang miliknya lebih mendekat pada batang kepunyaannya.
Gerry menusukkan punyanya, kasar. Tubuh kecil itu menggelinjang. Melihat Vina sepertinya menikmati permainannya yang kasar, Gerry menambahkan tenaganya. Membuat semua tulang Vina yang sebelumnya seperti remuk menjadi lebih sakit.
Batang miliknya bergerak keluar masuk, dia mendesah kecil sambil menggigit bibirnya. Tubuh Vina memang sangat nikmat untuk dimainkan.
Dia mencondongkan tubuhnya, menarik rambut Vina sembari menggigiti bibir Vina.
“Ah ... ah ...” Gerry menikmati permainannya sendiri. Melihat darah segar yang keluar dari bibir Vina dia semakin bernafsu. Tubuhnya memanas, dia menginginkan lebih dari ini.
Lalu dia melahap bibir Vina, hingga Vina kesulitan untuk bernapas.
**
Seperti biasa, setelah melakukan hubungan kelamin, Gerry tidak peduli padanya. Dia hanya memedulikan dirinya sendiri.
Tubuh penuh memar itu, kesulitan untuk bergerak. Seluruh tulangnya terasa sangat menyakitkan. Tapi, Gerry telah masuk ke dalam mandi, dan ini sudah pukul tujuh pagi.
Jika dia masih terbaring di atas kasur, maka semuanya akan menjadi lebih sulit. Mereka tidak akan peduli dengan apa yang terjadi padanya, yang jelas, dia harus menyiapkan semuanya.
Jadi, Vina memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Walaupun dengan gerakan kecil saja dia sangat kesakitan, dia harus menahannya. Wanita sudah ditakdirkan seperti itu.
Vina turun dari kasur, dia berjalan dengan tertatih. Saat melewati kaca besar, dia melihat wajah dan tubuhnya yang penuh memar. Bahkan wajahnya bengkak dengan memar yang parah. Alasan apa lagi yang harus dia berikan pada Crysta? Dia selalu berbohong pada Crysta, tidak ingin anaknya menjadi membenci ayahnya sendiri.
Vina memakai baju yang dia pilih dengan cepat, laku mempersiapkan baju yang akan digunakan oleh Gerry. Sebagai seorang istri, dia tidak boleh membuat suaminya malu, jadi dia memberikan yang terbaik untuk Gerry.
Dari latar belakang Vina sendiri, dia memahami dengan baik selera berpakaian yang memberikan kesan yang elegan, dan tampak berkarisma. Semua orang yang melihat gaya berpakaian Gerry memujinya
Tidak butuh waktu lama Gerry keluar dari kamar mandi. Handuk kecil melingkar di pinggangnya. Dia melihat Vina sekilas dengan sinis.
“Dasar wanita bodoh,” gunanya sendiri sambil mengambil baju yang telah di silakan Vina.
Vina membantu Gerry memakaikan baju, dia terlihat seperti Raja. Itulah yang memang diyakini oleh keluarganya, bahwa pria adalah raja. Vina hanya perlu patuh dan menutup mulutnya.
Semuanya selesai dengan rapi, bahkan Gerry mengagumi hasil kerja dari Vina. Hari ini akan menjadi hari yang baik, dia harus mengembalikan semua kerugiannya kemarin. Gerry membusungkan dadanya, dia percaya diri dengan kemampuannya yang sebenarnya tidak seberapa.
Padahal Vina ingin memberikan pendapat pada proyeknya, namun lagi-pagi Gerry meremehkan Vina. Menyuruhnya untuk tutup mulut dengan tamparan di wajahnya.
Sebuah tamparan lebih efektif untuk membuat Vina diam dan tunduk padanya, itulah ajaran ibu tersayang Gerry.
Dia menyetujuinya, melihat Vina yang menciut, dia menyukainya. Dialah pemegang kendali, sang pemegang titah yang hanya bisa digeser oleh ibunya.
“Gerry ....”suaranya pelan dan rendah, dia takut akan membuat Gerry marah.
Gerry meliriknya malas.
“Bisa tidak aku minta uang? Aku ingin membelikan Crysta camilan....”
Vina belajar dari masa lalu, jika dia mengatakan ingin memberikan Crysta makanan, makan Gerry akan berubah menjadi monster lagi. Dia akan memarahin Vina dan berkata, “memangnya ibuku tidak memberimu makan!? Tidak tahu di untung!”
Apa pun yang bersangkutan dengan ibunya, Gerry akan sangat marah.
Gerry memutar bola matanya jengah.
“Uang terus! Bisa apa pun nggak ada! Dasar jalang!” maki Gerry.
Sedetik kemudian, Gerry merogoh dompetnya, memeriksa uang di dompetnya lalu melemparkan ke wajah Vina dengan meremas uangnya terlebih dahulu.
“Tuh ambil! Jangan bisa minta terus, dasar tidak berguna!”
Vina menahan air matanya agar tidak terjatuh. Gerry sangat benci dengan wanita lemah, dia tidak suka melihat air mata Vina. Menurutnya, Vina hanyalah berpura-pura menangis untuk menghindari amarahnya.
Setelah Gerry meninggalkan kamar mereka, Vina mengambil uang yang dilemparkan oleh Gerry.
Lima puluh ribu ... itu selalu menjadi uang terbesar yang pernah Gerry berikan padanya.
Vina memegang uang itu dengan perasaan lega dan sedih secara bersamaan. Sekarang, uang lima puluh ribu yang dulu tidak dia anggap terasa sangat berarti.
Dengan uang ini, dia bisa membelikan Crysta makanan, dan beberapa kue yang enak untuknya. Ya, itu hanyalah kue dengan harga ribuan yang terkadang melewati jalan perumahan di dekatnya.
Vina bersyukur dengan uang kecil yang diberikan suaminya, dan berharap, Gerry akan berubah menjadi sosoknya yang baik seperti dahulu.
**
Situasi seperti sekarang memang tidak menyenangkan. Siska sedang memandanginya dengan angkuh, ketiga anaknya sedang duduk di meja makan dengan angkuh, menatapnya dengan sinis seperti tidak berharga.
Tidak ada satu pun orang yang mengkhawatirkan dirinya saat melihat lebam di wajahnya.
“Nyonya sudah bangun~” Siska sengaja mengatakan hal tersebut karna Vina kelupaan memaksakan sarapan mereka. Walaupun sekarang sarapan telah tersedia di meja makan.
Ya memang seharusnya begitu, yang menyiapkan sarapan adalah pekerjaan pembantu mereka.
“Maaf, ma, Vina tadi membereskan kasur,” ucapnya lembut tapi dibalas dengan tatapan mematikan dari Siska.
“Pintar kau menjawab ya!” Siska mendorong kasar kepala Vina dengan sendok beberapa kali. Tidak ada yang menghentikannya, bahkan Gerry sibuk mengunyah makanannya.
“Ma-maaf, ma ....” Vina hanya bisa terdiam dengan jemari yang saling bersentuhan. Menakutkan, apalagi yang akan mereka perbuat padanya.
Vina menelan ludah, dia tidak ingin semuanya menjadi lebih parah dari ini.
“Ibu!” panggil Crysta sambil memeluk kaki ibunya. Dia bermanja pada ibunya, laku mundur ketika mengetahu di depannya ada nenek yang tidak mencintai dirinya.
Menurut Crysta, Siska terlihat seperti monster. Dia tidak pernah memperlakukan Crysta dengan baik, bahkan beberapa kali, a Crysta di cubit olehnya hingga berbekas jelas.
“Anak ini juga sial!” hardik Siska, lalu meninggalkan mereka berdua.
Crysta memandang wajah ibunya yang sulit untuk dikenali. Tubuh mungilnya bergetar.
“Ibu jatuh di mana lagi?” Air mata terjatuh dari kedua bola mata jernih milik Crysta.
Vina tidak bisa mendiamkan ini, jadi dia memeluk Crysta untuk menenangkan dirinya.
“Ibu jatuh di kamar mandi. Ibu tidak apa, Crysta.” Vina mengecup pipinya sekali. Air mata itu tertahan, Crysta mencoba memahami ibunya.
“Ibu ... Crysta harap, ibu tidak terluka lagi.” Kali ini Crysta yang memeluknya.
Vina mengangguk, dia juga menginginkan hal tersebut. Tapi pria itu, yang menjadi suaminya seakan tidak peduli.
Hatinya sudah jelas tertutup.
Setelah Vina mengambil sarapan untuk dirinya dan Crysta, mereka duduk di tempat lain. Duduk bersama mereka adalah sesuatu yang sangat mewah, dan tidak akan mungkin terjadi.
Mereka berdua makan di dapur, duduk di kursi reot berwarna coklat. Setidaknya, Vina hari ini tidak menahan rasa laparnya, perubahan sikap Siska itu sangat ekstrem, terkadang dia tidak mengizinkan Runa untuk makan, terkadang lain dia memberikan makanan sisa untuknya.
“Anjing sudah sepantasnya memakan itu." Itulah yang sering dikatakan Siska sambil tertawa.
Tapi Vina tetap memakannya, dan memilah makanan yang lebih baik untuk Crysta. Ini adalah medan perangnya, dia harus membuat dirinya dan putrinya tetap hidup di tengah orang-orang yang kejam.
BERSAMBUNG••••
Anda Mungkin Juga Suka





