Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Kakak Ipar (Cinta Yang Semu)

Dosa Terindah Bersama Kakak Ipar (Cinta Yang Semu)

Queenza Mikayla Anya terjebak dalam pernikahan balas budi yang menghancurkan keceriaannya. Setiap hari ia harus menanggung luka fisik dan mental akibat kekerasan yang ia alami. Di tengah penderitaan tersebut, sebuah insiden tak terduga membawanya bermalam dengan sang kakak ipar. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, memicu dilema besar bagi Queenza. Akankah ia tetap bertahan di pernikahan beracun ini atau memilih berpaling pada kakak iparnya yang selalu ada?
Bab
Bagikan

Bab 3

Queenza terdiam membeku kala mendengar ucapan Dimas yang ambigu.

Dimas lalu menjauhan wajahnya dari wajah Queenza dan tersenyum tipis saat melihat Queenza yang kini hanya diam menatapnya.

"Pake ini, jangan biarkan luka di tangan dan pipimu itu merusak tubuh cantikmu." Dimas lalu membawa tangan Queenza dan menyimpan sesuatu di telapak tangannya. Dan setelahnya ia pergi begitu saja dari hadapan Queenza.

Queenza yang masih terkejut hanya diam saja. Ia lalu menatap salep yang kini ada di tangannya. Tanpa Queenza sadari sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Walaupun tipis dan nyaris tak terlihat.

"Queen," teriakan Ervan membuyarkan lamunan Queenza.

Queenza pun dengan cepat menghampiri Ervan yang sedari tadi terus memanggilnya.

"Ada apa Mas?" tanya Queenza saat ia sudah tiba di kamar.

"Kamu dari mana aja?" tanya Ervan dengan nada yang dingin.

"Abis beresin dapur Mas," ucap Queenza bohong. Ia tak mungkin memberitahukan jika ia baru saja berbicang dengan kakak iparnya.

"Pijitin aku, badanku pegal semua" titah Ervan.

Queenza pun dengan cepat menuruti kemauan sang suami dan ia dengan segera memijit tubuh Ervan. Matanya tanpa sengaja melihat beberapa bercak merah di leher sang suami.

"Mas, kamu semalam dari mana?" tanya Queenza mencoba memancing Ervan.

Namun, bukan Ervan namanya jika ia akan menjawab pertanyaan Queenza.

"Mas kamu habis main sama perempuan ya? Ini kenapa ada banyak bercak merak di leher kamu?" ujar Queenza yang sudah tak bisa memendam rasa penasarannya lagi.

"Brisik!" Ervan lalu membalikan badannya. Yang semula tengkurap kini terlentang dan memandang Queenza dengan tajam.

Queenza yang menyadari kesalahannya pun terdiam dengan tubuh yang bergetar.

"Aku itu pulang buat istirahat, bukan mau dengar ocehanmu itu, dan satu lagi, jangan pernah kamu ingin tau urusanku. Karena kamu itu hanya istri di atas kertas. Jangan pernah berpikir kamu bisa jadi istriku yang sesungguhnya." Ervan lalu bangkit dari baringnya dan kemudian dia duduk di sofa yang ada di sana.

Queenza menghela napas panjang.

"Ambilin aku roti tawar di bawah," ucap Ervan sambil mengeluarkan sebatang rokok dan korek api. Ia lalu menyalakan rokok itu.

"Mas, apa bisa kamu jangan merokok di dalam kamar? Aku lagi hamil Mas," ucap Queenza yang masih duduk di atas kasur.

Ervan menatap nyalang Queenza.

Queenza yang tau arti dari tatapan Ervan pun dengan segera turun dari atas ranjang dan bergegas ke dapur untuk mengambil roti tawar yang diminta sang suami. Tak lupa juga ia menyeduhkan kopi kesukaan suaminya.

Setelah selesai ia segera membawa kopi dan roti itu ke kamar. Dan langsung menyajikan pada sang suami.

Queenza tak berani beranjak dari tempatnya karena tak ada perintah dari sang suami. Ia lalu menatap Ervan yang kini tengah menikmati roti tawar itu dengan nikmat. Queenza beberapa kali menelan ludah.

Ervan menoleh sekilas ke arah Queenza dan tersenyum menyeringai.

"Kamu mau?" tawar Ervan sambil menyodorkan selembar roti tawar pada Queenza.

Queenza dengan semangat menganggukan kepalanya.

Namun Ervan dengan sengaja menjatuhkan roti yang ia pegang saat Queenza hendak mengambil roti itu dari tangan Ervan.

"Upss! Kamu sih kelamaan ambilnya, tanganku kan jadi pegal," ucap Ervan.

Queenza tak berkata apa-apa, ia segera berjongkok dan akan mengambil roti itu. Namun lagi-lagi dengan tega, Ervan menginjak roti itu.

"Yah ... keinjak ya? Mana gak ada lagi rotinya, tinggal sisa itu aja. Kalau kamu masih mau, makan aja yang itu," ujar Ervan dengan seringai di wajahnya.

Dengan tangan yang bergetar Queenza membawa roti itu dan dengan ragu-ragu ia mendekatkan roti itu pada mulutnya.

"Aish kelamaan." Ervan dengan cepat merebut roti di tangan Queenza dan menyuapi Queenza roti kotor itu dengan kasar.

"Makan. Tadi katanya mau roti itu," ucap Ervan tak berperasaan.

Queenza mengunyah roti itu dengan air mata mengalir di pipinya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingin rasanya ia menghajar lelaki di hadapannya ini. Namun, ia sadar jika ia melawan. Nyawa ibu dan adiknya akan terancam. Ia pun menatap Ervan dengan tajam.

Ervan yang melihat tatapan Queenza pun dengan cepat mencengkram wajahnya.

"Kenapa? Kamu mau marah? Marah aja. Silakan! Tapi kamu harus ingat! Kamu hidup itu berkat siapa! Dan kamu harus ingat. Jika kamu berani macam-macam sama aku! Aku gak akan segan-segan menghabisi nyawa ibu dan adikmu!" ucap Ervan dengan tersenyum sinis.

Queenza hanya diam menatap Ervan dengan sorot mata yang penuh amarah. Ingin rasanya ia mencekik lelaki yang kini ada di hadapannya ini.

Ervan kembali duduk di kursinya dan menatap tajam pada Queenza yang kini menatapnya.

"Apa? Pergi sana!" usir Ervan pada Queenza.

Queenza pun dengan segera bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamarnya itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Sore harinya.

Queenza kini tengah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu kendaraan umum. Ini adalah kesempatan emas untuknya keluar. Karena sang suami tidak ada di rumah dan sudah pasti akan pulang larut malam. Ia akan memakai waktu ini untuk pergi ke klinik. Ia akan memeriksakan kehamilannya.

Saat Queenza tengah asyik mengelus-elus perutnya, ia dikejutkan dengan seorang pengendara motor yang menghentikan motornya tepat di depannya.

Dengan cepat Queenza bergeser. Namun pengendara itu malah ikut bergeser. Queenza yang takut dan heran mencoba memberanikan diri untuk berbicara pada pengendara motor itu, "Maaf Masnya menghalangi saya."

Pengendara motor itu tak menjawab dan sedetik kemudian ia membuka helm full facenya. Ia lalu membenarkan rambutnya yang berantakan dan menatap Queenza dengan sorot matanya yang tajam.

Queenza tertegun kala melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Ia terdiam menatap orang yang kini tengah menatapnya itu.

"Kamu mau ke mana?" tanya orang itu dengan nada yang dingin dan wajahnya yang datar.

Queenza tak menjawab karena masih terkejut dengan kehadiran orang yang kini ada di depannya.

"Heii," tegur orang itu sambil menjentikan jari di depan wajah Queenza.

Seketikan lamunan Queenza buyar dan dia menjadi gugup saat tatapan matanya dan orang itu bertemu.

"Ah ... Ma-maaf! Kenapa Mas?" tanya Queenza sambil menetralkan degub jantungnya yang entah kenapa berdetak lebih cepat saat ia melihat dan bersama orang tersebut.

"Kamu mau ke mana?" tanya orang itu lagi.

"Oh ... itu, saya mau ke klinik Mas!" jawab Queenza jujur.

"Klinik? Kamu sakit?"

Queenza menggelengkan kepalanya.

"Terus kamu mau ngapain ke klinik?" tanyanya lagi dengan alis yang terangkat sebelah.

"Mau check up aja Mas, Mas Dimas sendiri ngapain berhenti di sini?" tanya Queenza pada Dimas. Ya, orang itu adalah Dimas. Kakak iparnya Queenza.

"Aku tadi gak sengaja lihat kamu yang lagi bengong sendiri di sini, ya udah aku samperin aja. Siapa tau aja kan kamu butuh teman buat ngobrol," ucap Dimas.

"Gak usah Mas. Saya gak butuh teman ngobrol. Lebih baik sekarang Mas pulang aja. Saya gak butuh di temani," jawab Queenza.

Dimas turun dari atas motornya dan menghampiri Queenza dengan cepat ia memegang tangan Queenza dan menariknya sambil berucap, "Ya udah aku anterin kamu!"

"Gak usah Mas," sahut Queenza sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas.

"Diam." Dimas membawa Queenza ke dekat motornya, lalu ia memakaikan helm pada Queenza.

Blush.

Queenza merasakan pipinya panas dan jantungnya jedag jedug kala Dimas mamakaikannya helm. Ia menatap wajah yang kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya itu dengan intens. Tangannya lalu terulur memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang, 'Kenapa dengan jantungku? Apa penyakit jantungku kumat?' batinnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Sang Pewaris Genius
9.7
Yuvina kembali ke keluarganya sebagai pewaris sah yang terabaikan. Meski telah menyerahkan identitas dan karyanya demi saudari angkatnya, ia justru dibalas dengan pengabaian. Kecewa, Yuvina memutus ikatan emosional dan bangkit sebagai sosok jenius. Kini ia menguasai bela diri, medis, desain, serta delapan bahasa. Dengan kekuatan barunya, ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun di keluarga itu meremehkannya lagi. Dendam sang pewaris kini dimulai.
Sampul Novel Gairah Sang Bodyguard
8.7
Venus Harristian, penyanyi pop ternama, terancam bahaya setelah menyaksikan kejahatan besar. Demi melindunginya hingga hari kesaksian di pengadilan, Dion Elang Juliandra, seorang polisi, direkrut menjadi pengawal pribadinya. Namun, kedekatan intens menumbuhkan perasaan terlarang di antara mereka. Padahal, baik Venus maupun Dion telah memiliki pasangan dan terikat janji pernikahan masing-masing. Di tengah teror, mereka terjebak antara kesetiaan dan gairah cinta yang sulit tertahan.
Sampul Novel I Choose The Villain Crown Prince
8.6
Pembunuh bayaran bereinkarnasi sebagai Athea Dominic, putri bangsawan yang dibenci karena darah Klan Api. Di kehidupan lalu, ia tewas tragis akibat cinta buta pada Pangeran Alexander. Kini, ia bangkit menjadi prajurit elite demi membalas dendam saat keluarganya dibantai. Athea kemudian bersekutu dengan Azrael, pria misterius yang ternyata Putra Mahkota Klan Api. Bersama-sama, mereka berjuang menggulingkan takhta sang pangeran jahat dan menuntut keadilan bagi klan mereka.
Sampul Novel KEBANGKITAN HADES BAKER
9.1
Hades, seorang pemuda rupawan, mendapatkan kesempatan langka untuk bangkit kembali demi menuntaskan dendam atas kematian orang tuanya. Ia terlempar melintasi waktu menuju tahun 2001. Di masa lalu tersebut, Hades tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada. Ia menyusun strategi cerdik guna mengumpulkan kekayaan melimpah dan memperkuat dirinya. Perjalanan lintas zaman ini menjadi awal bagi Hades untuk mengubah nasib serta membalas semua ketidakadilan.
Sampul Novel Ketua Geng Itu Suamiku
8.0
Ayu, siswi beasiswa berprestasi di SMA Garuda, harus menjalani pernikahan dini dengan Arbinata alias Bin, pemimpin geng motor Garuda Steel yang bermasalah. Hidupnya berubah drastis setelah menyaksikan konfrontasi maut sang suami. Di tengah perjuangan lulus sekolah, Ayu terjebak dilema karena perhatian Iky, sahabat Bin. Mereka harus menghadapi musuh bersama serta kerumitan cinta segitiga demi meraih masa depan yang tenang di tengah kekacauan dunia geng motor.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.