
Dokter Tampan dan Pasien
Bab 2
"Sialan, kenapa dokternya tampan sekali. Malu sekali kalau sampai harus buka-bukaan di hadapannya. Sepertinya aku harus cari rumah sakit lain. Iya, sekarang juga aku langsung kabur," gumam Ae Jin.
"Siapa orang tuanya? Bisa-bisanya melahirkan anak yang begitu tampan," gerutu Ae Jin sambil mengenakan pakaiannya.
Setelah berpakaian, Ae Jin berburu-buru meninggalkan rumah sakit.
Ae Jin berjalan dengan langkah yang cepat, perasaan khawatir dan gugup menyelimuti dirinya. "Seharusnya dia sudah pergi, dia tidak akan mengenalku. Karena tadi aku menutup wajahku," gumam Ae Jin sambil sesekali melirik ke belakang untuk memastikan tidak ada sosok Dokter yang di sana.
Namun, Ae Jin terlalu fokus pada kekhawatirannya hingga tidak menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di depannya.
Dalam sekejap, tubuhnya menabrak orang tersebut, dan kepalanya terbentur dada pria itu. "Maaf!" ucap Ae Jin dengan wajah memerah, ia menoleh ke atas untuk melihat siapa orang yang ia tabrak. Matanya membelalak melihat wajah pria tampan yang menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Sejenak, Ae Jin lupa akan rasa khawatirnya tadi dan terpaku pada tatapan pria tersebut.
"Nona, kamu baik-baik saja?" tanya pria itu yang adalah Dokter Han. Senyuman pria itu membuat jantung gadis itu berdegup dengan kencang.
"Sebenarnya kamu berasal dari planet mana?" tanya Ae Jin yang tanpa sadar dengan ucapannya.
"Apa?" tanya Dokter Han.
Ae Jin berusaha tidak gugup di hadapan pria tampan itu," Ah...Maksudku aku harus pergi! Sampai jumpa!" ucap Ae Jin yang melangkah pergi.
Dokter itu teringat suara gadis itu yang tidak asing, Lalu, memanggilnya," Nona."
Ae Jin menghentikan langkahnya sambil menepuk kepalanya dan takut dikenali oleh Dokter itu. Dengan terpaksa senyum ia menoleh ke arah pria itu sambil bertanya," Iya, ada apa?"
"Nona Kim Ae Jin, bukan?" tanya Dokter Han.
"Bu-bukan, Bukan aku!" jawab Ae Jin yang berusaha menyangkal.
"Apakah aku salah orang," gumam Dokter Han.
"Pasti salah orang, Aku pergi dulu!" pamit Ae Jin yang kemudian melangkah dengan cepat.
"Bukankah dia ingin pergi? Kenapa menuju ke arah sana?" gumam Dokter Han yang melihat gadis itu berjalan ke arah lain.
Beberapa saat kemudian.
Ae Jin berjalan dengan langkah ragu di koridor rumah sakit, mencari jalan keluar setelah berhasil menghindari Dokter tampan yang sempat membuatnya gugup. Tiba-tiba, ia berhenti di depan sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar mayat. Wajahnya pucat seketika, tak menyangka akan sampai ke tempat seperti ini.
"Bukankah aku ingin pulang, kenapa malah menyasar ke sini? Kalau bukan karena menghindar Dokter tampan itu, tidak mungkin aku bisa menyasar," keluh Ae Jin dalam hati, matanya memandang pintu kamar mayat dengan rasa takut dan gemetar.
Sementara itu, di ruangan kantor Profesor Dokter Han, Dokter Han sedang membaca data pasien Kim Ae Jin yang diberikan padanya. Dia melihat foto Ae Jin di berkas tersebut dan mulai merasa penasaran.
"Bukankah gadis tadi itu? Kenapa dia tidak mengaku dan pergi dengan terburu-buru?" gumam Dokter Han, seraya menggaruk dagunya yang mulai gatal karena kebingungan.
"Dokter Han," sapa seorang suster yang memasuki ruangannya.
"Apakah pasien Kim Ae Jin sudah mengambil obatnya?" tanya Dokter Han sambil fokus pada berkas yang di tangannya.
"Belum! Pasien itu pergi begitu saja. Padahal sebelumnya dia yang mengatakan kalau badannya merasa tidak nyaman. Hasil laporan dari pihak rumah sakit lain mengatakan dia mengidap tumor jinak di bagian dadanya. Tidak tahu apa alasanya kenapa dia tidak melanjutkan pengobatan di sana," jawab Suster.
"Apakah dia tidak peduli dengan kesehatan sendiri," gumam Dokter Han.
"Hubungi dia dan minta datang besok, Dia harus diperiksa sebelum terlambat," perintah Dokter Han.
"Baik," jawab susternya yang kemudian beranjak dari ruangan itu.
Ae Jin, gadis itu mencoba mengumpulkan keberanian untuk meninggalkan koridor kamar mayat dan mencari jalan keluar yang benar. Namun, langkahnya terasa berat dan ragu, takut salah jalan lagi dan menemukan tempat yang lebih menyeramkan.
"Lebih baik aku mencari seseorang untuk bertanya, Dari tadi aku keliling sampai lupa jalan. Ada apa dengan otakku.
***
Sebuah Cafee.
Ae Jin dan seorang wanita duduk berhadapan dan menikmati minuman hangat di malam hari.
"Kamu kabur lagi? Apa kamu sudah gila, ya? Bagaimana kalau bibi tahu kamu tidak menjalani pemeriksaan? Pasti bibi marah lagi." Teman Ae Jin berbicara tidak berhenti dan tidak setuju dengan perbuatan temannya itu.
"Apakah begitu sulit mencari seorang dokter wanita? Kenapa semua dokter pria yang mengobatiku?" keluhan Ae Jin murung.
"Sudah sampai tahap seperti ini, Kamu masih saja pilih-pilih, Bagaimana kalau tumorny semakin membesar? Jangan main-main! Utamakan kesehatan dan kasihan bibi!"
"Aku malu sekali, Dokternya....sangat tampan," ucap Ae Jin.
"Kamu ini benar-benar pemalu, Mereka adalah dokter Profesional. Tidak akan tertarik pada tubuhmu," kata wanita itu sedikit kesal karena mengkhawatirkan nya.
"Yuri, Jangan bicara seperti itu. Dokter Han membuat jantungku hampir melompat keluar. Rasanya sangat malu dan takut. Dia memiliki aura yang mempesona dan di satu sisi dia juga memiliki aura mematikan," ujar Ae Jin.
"Lebih baik kamu cari saja Dokter lain kalau begitu," ucap Yuri.
***
Mansion mewah milik Dokter Han Jang Woo terletak di kawasan elite, dikelilingi oleh taman-taman yang rimbun dan indah. Sebuah kolam renang besar menghiasi halaman belakang rumah, dengan pemandangan langit senja yang begitu mempesona. Langkah Dokter Han begitu tergesa-gesa saat memasuki mansion tersebut, terlihat jelas kelelahan di wajahnya setelah seharian beraktivitas di rumah sakit.
Dokter Han menghampiri pub mini yang terletak di sudut ruang keluarga, mengepakkan dasi dan melonggarkan kancing bajunya. Dengan tangan gemetar, ia menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas bening, lalu meminumnya sekaligus tanpa ragu. Setelah menghabiskan segelas minuman, pria itu menghela napas lega sebelum merogoh dompetnya. Dari dalam dompet tersebut, Dokter Han mengeluarkan selembar foto yang begitu berarti baginya.
Fotonya bersama seorang wanita cantik yang memiliki senyum manis dan tatapan mata yang hangat. Dokter Han menatap foto tersebut dengan tatapan fokus dan dalam, seolah-olah ia tengah berbicara dengan wanita dalam foto itu. Diiringi rasa rindu yang memenuhi hatinya, air mata mulai mengalir di pipi Dokter Han, mencoba merasakan kehadiran wanita itu meski hanya dalam kenangan.
"Aku akan membuatmu kembali, Walau apa pun yang terjadi," ucap Jang Woo yang menyentuh cincin yang melingkar jarinya.
Tempat tinggal Ae Jin.
Rumah sederhana yang terdapat dua kamar dan ruangan tidak begitu luas. Terlihat dua wanita sedang berdebat. Seorang wanita paruh baya adalah ibu dari Ae Jin.
Wanita itu tidak berhenti memukul putrinya karena melarikan diri dari rumah sakit.
"Mama, hentikan! Jangan pukul aku lagi! Nanti aku bisa cepat mati!" pinta Ae Jin yang berusaha menghindar pukulan ibunya.
"Kenapa kamu lari lagi, ha? Apakah harus aku sendiri yang mengantarmu ke ruangan operasi." Suara ibunya meninggi dan kesal.
"Ma, dia adalah dokter pria, Aku tidak mau," jelas putrinya yang mencoba menghentikan ibunya.
"Mama tidak peduli lagi, dia pria atau wanita. Yang penting tumormu segera dikeluarkan. Kalau tidak, percaya atau tidak kamu akan kehilangannya. Apa kamu mau kehilangan sebelah dadamu?" ucapan ibunya menakuti putrinya.
"Tentu saja aku tidak mau," jawab Ae Jin.
Anda Mungkin Juga Suka





