
DOKTER FORENSIK
Bab 2
dr. Randa Razimal Aktaf sp.FM.
Berumur 34 tahun, anak tunggal dari pengusaha kaya raya di Kota Batu. Randa kecil, sejak berumur 6 tahun memiliki keunikan sendiri. Di usianya yang masih kecil itu, orang tuanya sering mendapatinya berbicara sendiri dengan mayat.
Suatu hari, ibunya membawa Randa kecil ke rumah saudara bungsunya, yang meninggal karena tenggelam di dasar sungai besar. Beruntung, mayatnya segera ditemukan oleh beberapa warga yang kebetulan melihat kejadian tenggelamnya sebuah kelotok (Perahu kecil bermesin kecil). Ketika itu, pamannya sedang memancing bersama tiga orang teman lainnya. Saat mereka sedang memancing, tiba-tiba seorang pengemudi perahu marah karena uang yang dia terima dirasa kurang. Hingga, terjadilah cekcok di perahu kecil itu. Ketiga orang pemancing yang tidak bisa berenang itu, didorong ke sungai hingga jatuh dan mati tenggelam akibat lemas karena cairan yang memenuhi paru-paru.
Semua orang, menangisi pamannya yang terbujur kaku di lantai dengan keadaan tertutup kain. Randa lah, satu-satunya orang yang masih bisa mendengar suara dari pamannya yang sudah meninggal.
"Paman?"
"Randa kamu mendengar Paman, Nak?"
"Iya, Paman," sahut Randa.
"Nak, bantu Paman. Tolong katakan pada tantemu, Paman beserta kawan-kawan dibunuh oleh pengemudi speed boat itu."
"Apa yang harus Randa katakan?"
"Beritahu saja pada tantemu, seperti itu?"
Orang-orang yang sedang membaca surat yasin di sekitar jenazah pamannya, terheran menyaksikan Randa berbicara sendiri kepada mayat pamannya. Di antara mereka, bahkan saling bertatapan dan berbisik-bisik.
"Randa.." Ibunya memanggil setengah berbisik, mengingat banyaknya orang di sekitar jenazah.
"Randa... Randa..."
Bocah itu, tetap saja tidak memperdulikan panggilan ibunya dan terus saja berbicara kepada si mayat. Orang-orang yang menyaksikan itu merasa heran. Sebagian dari mereka tertawa, mengingat si Randa seorang anak yang aneh. Sejak kecil mereka memvonis Randa, seorang anak pengidap autis. Sampai akhirnya di usia Randa ke-14 tahun, mereka sadar bahwa Randa pengidap penyakit 'Psikosis.'
Randa, sama sekali tidak mengindahkan panggilan ibunya. Selesai dia berbicara dengan pamannya, dia pun beranjak pergi dan mendatangi tantenya. Dia, menceritakan semua pesan almarhum pamannya.
"Tante, Paman memberi wasiat. Bahwa kematiannya, bukan kecelakaan tetapi dibunuh. Dan Paman juga berkata, baju yang Tante beli untuk hadiah ulang tahun perkawinan Tante dan Paman terlalu kecil. Pergelangan tangannya, membuat Paman susah bergerak karena terlalu sempit."
Mendengar perkataan itu, tantenya menjadi kaget setengah mati. Bagaimana Randa bisa tahu, padahal baju yang baru dibeli kemarin belum sempat dipakai oleh suaminya karena pegelangan tangannya yang terlalu sempit. Suaminya, kurang nyaman memakainya dan ketika mencoba memakainya di kamar tidak seorang pun mengetahuinya, bahkan anak mereka sendiri.
Tantenya pun, bergegas membawa Randa keluar dan menjadi perantara pembicaraan antara ia dan suaminya yang sudah meninggal dunia.
Sejak saat itu, Randa sering dimintai oleh pihak keluarga. Jika ada keluarga yang meninggal, maka dia selalu diminta menjadi perantara. Orang tuanya yang mulai khawatir dengan kondisi Randa, mencari pengobatan kemana-mana. Menurut mereka apa yang diderita Randa, bukanlah sebuah kelebihan melainkan sebuah penyakit yang harus disembuhkan.
Sampai akhirnya di usia 14 tahun, orang tuanya menyerah. Ketika seorang dokter asal Singapura memvonis, bahwa Randa mengalami penyakit psikosis. Penyakit yang membuat Randa, tidak bisa membedakan dunia nyata dan tidak nyata. Mulai saat itu, Randa tidak pernah lagi diajak orang tuanya menemui keluarga atau saudara kerabat yang meninggal dunia. Sampai akhirnya, Randa memilih menjadi dokter ahli spesialis forensik. Dengan begitu, dia menjadi mahir dan jago dalam menganalisis penyebab kematian setiap jenazah yang ditanganinya. Dia pun sangat dikenal, sebagai seorang ahli forensik dengan julukan '99 persen' karena setiap analisanya 99 persen sangat akurat.
*****
Selepas pulang kerja, Randa menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Badannya terasa sangat lelah. Dia, mengambil cermin kecil di sebelah kasur dan memandangi matanya memerah akibat kelelahan.
Saat hampir saja terlelap tidur, Randa merasakan ada seorang perempuan duduk di kursi depan TV sembari memperhatikan Randa. Setengah sadar, Randa terkejut. Bagaimana bisa, ada seorang wanita di kamarnya. Dia ingat sekali, sebelum masuk rumah dia sudah mengunci semua ruangan. Mulai pagar depan, ruang tamu bahkan kamar tidurnya pun sudah dikuncinya.
"Siapa, kamu?"
Tidak ada, sepatah katapun yang keluar dari mulut wanita itu.
Wanita itu hanya berdiri, seraya menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada sembari membungkuk, memberi isyarat ucapan terimakasih lalu menghilang dari balik dinding
"Astagfirullah." Randa berdzikir. Lalu bersambung berdoa,“Alladziina yu’minuuna bil ghaib.” Randa mengingat isi Surat Al-Baqarah, ayat ke-3 surat ke 2. Tentang keyakinan pertama yang disandang oleh orang-orang beriman. Percaya dan yakin, pada sesuatu yang gaib yang semuanya kadang tidak bisa kita bahas dengan ilmu pengetahuan apapun kecuali dengan keyakinan iman dan agama.
Dia baru sadar, bukankah wanita itu adalah wanita yang dua hari lalu dia otopsi. Wanita itu, menceritakan semua kejadian pembunuhan terhadap dirinya kepada Randa.
Dengan bocoran cerita si mayat, Randa melaporkan kejadian semua kejadian tentang penyebab kematian si wanita kepada polisi. Berbekal bukti dan laporan hasil visum, akhirnya polisi pun membekuk tersangka di rumahnya yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri.
Randa, merasa kantuk yang luar biasa baru tersadar. Ternyata sejak dia pulang kerja, dia belum sempat salat isya. Dia pun, akhirnya bangkit mengambil wudhu ke kamar mandi dan kemudian salat memohon dan meminta perlindungan. Tidaklah mudah baginya, bekerja sebagai tim forensik. Pekerjaannya, bukan hanya soal mencari fakta penyebab kematian. Kadang dia harus menggergaji tulang mayat, membelah perut mayat hanya demi mencari kebenaran tentang bukti-bukti dari setiap kasus.
Pakaian seorang dokter forensik, bukanlah seperti pakaian dokter pada umumnya. Dokter biasanya rapi, menggunakan jas, memakai sepatu yang bersih dan licin dan bertemu dengan pasien-pasien yang minta disembuhkan. Pakaian Randa, lebih pada seperti seorang astronot, panas, pengap dan tertutup. Sepatu boot, handscoon kuning terang dan apron. Tidak ketinggalan, kacamata otopsi besar yang mirip kacamata renang.
Anda Mungkin Juga Suka





