Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DOKTER FORENSIK

DOKTER FORENSIK

Randa adalah dokter forensik yang terjebak di antara realitas dan imajinasi akibat penyakitnya. Kondisi ini membuatnya merasa mampu berkomunikasi dengan jenazah. Dilema muncul saat ia mencintai dua wanita, Evlyn dan Avita. Randa akhirnya memilih Evlyn, namun ia tersadar bahwa Evlyn sebenarnya telah tiada sejak tujuh bulan lalu. Di tengah upaya Avita menyadarkannya, Randa harus memilih antara terus bersembunyi dalam halusinasinya atau kembali menghadapi kenyataan pahit.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebuah berkas, menumpuk di meja kerja Randa. Seorang mahasiswi, jurusan ilmu hukum berkewarganegaraan Rusia menemuinya di ruang kerja Randa.

"Permisi." wanita bule, berambut pirang dengan mata biru namun fasih dan cakap berbahasa Indonesia.

"Dokter Randa?"

"Iya betul, silakan masuk."

Randa berdiri, menyambut kedatangan wanita bule itu.

Setelah dipersilakan duduk, wanita itu membuka percakapan.

"Saya membaca tulisan anda, tentang wanita yang terbunuh dengan kemaluan yang tertancap cangkul?"

Tersenyum Randa. Bibirnya yang merah muda, cukup membuat wanita Rusia itu mencuri pandang pada wajahnya.

"Jika tidak salah, kejadian itu terjadi di tahun 2016." Wanita Rusia itu, lalu membuka amplop dan mengeluarkan foto-foto lama hasil penyelidikan tim INAFIS polisi.

Randa, mengambil sebagian foto lalu dia mengingat kembali kejadian lama itu saat dia membantu tim laboratorium forensik polisi. Demi menuntaskan kejanggalan, dari kasus pemerkosaan terhadap wanita berumur 19 tahun. Salah satu karyawan yang tinggal di sebuah mess milik pabrik.

EMPAT TAHUN YANG LALU

Dering bunyi telpon berbunyi nyaring. Waktu, menunjukkan pukul 03.30 WIB. Randa yang ketika itu bertugas di kepolisian, mau tak mau harus terjaga dan bangun karena telpon itu sepertinya mendesak dan penting.

"Assalamualaikum.."

"Waalaikumsalam, Dokter Randa. Bisa, ke kantor malam ini juga?."

"Mendesak?"

"Sangat mendesak, Dok."

"Baiklah."Dokter muda itu pun bergegas memakai pakaiannya. Semua barang-barangnya, sudah dikemas dalam tasnya segera dia bawa. Jarak, kantor polisi dan rumah dinasnya tidaklah begitu jauh. Hanya perjalanan 6 menit saja, dengan berjalan kaki.

Selama perjalanan menuju ke kantor polisi, suasana gelap dan cuaca yang kurang bersahabat tetap tidak mengurungkan niatnya. Dia, tetap berangkat memenuhi panggilan tugas. Hawa dingin, terasa begitu kuat menghinggap di tengkuk belakang lehernya. Rasa ingin menoleh ke belakang, namun Randa mengurungkan niatnya dan terus saja melangkah tidak memperdulikan apa yang terjadi di belakangnya.

Sesampainya di kantor, beberapa kawannya sudah standby di dalam mobil berwarna orange.

"Semua personel, lengkap?"

"Lengkap, Komandan!" sahut prajurit yang mendampingi perjalanan mereka ke TKP.

"Mari berangkat."

Mobil pun, terus melaju membelah gelapnya malam. Cahaya lampu sirene dihidupkan, sebagai tanda bahwa mobil berjalan dalam keadaan cepat.

Satu jam, setelah adzan subuh mereka sampai di lokasi. Beberapa orang yang tergabung dalam satu tim mulai bekerja. Mereka dibuat kaget, ternyata ada jasad wanita muda ditemukan di atas kasur berwarna merah muda tanpa seprai di salah satu mess karyawan pabrik. Tubuh mayat, ditumpuki baju kotor dan sprei yang penuh dengan bercak darah. Rumahnya terlihat acak-acakan. Beberapa pakaian, sengaja ditumpuk untuk menutupi tubuh mayat yang tubuhnya sudah mulai dirasa dingin.

Randa dan tim langsung bekerja. Ke-4 petugas itu, dalam waktu singkat mengeluarkan perbagai piranti, mulai dari kamera, mistar, kantong plastik, hingga pinset. Mereka semua, mengikuti prosedur terutama sarung tangan khusus. Beberapa polisi, langsung memasang garis kuning. Selama bekerja, mereka tergolong sangat irit bicara. Mereka, bekerja tanpa diperintah dan langsung mengambil tugasnya masing-masing. Randa sebagai tim forensik bagian visum, memeriksa denyut nadi dari jasad wanita itu. Dia, menggeleng kepala karena merasa kasihan melihat kondisi wanita muda yang saat ditemukan sangat mengenaskan. Tubuhnya, berada dalam posisi telentang dan di bagian kemaluannya tertancap gagang cangkul. Di sekitar lantai, banyak dipenuhi oleh darah yang tercecer di mana-mana.

Satu persatu, pakaian yang menindih tubuh mayat mulai dipindahkan. Randa, mulai memeriksa bagian tubuh korban yang ditemukan tanpa memakai sehelai benangpun. Pada bagian wajah, terdapat banyak sekali garis bersusun tiga dan lebam di bagian dahi kiri.

"Mereka, menggaris wajahku dengan garpu." mayat wanita yang ditemukan itu mengadu."

Randa yang mendengar penuturan dari sang mayat, hanya diam saja. Tidak mungkin, dia berbicara langsung kepada mayat di hadapan rekanannya.

Sebuah pulpen, dituliskan pada kertas. Randa, menulis seperti apa yang dikatakan mayat itu.

Setelah selesai memeriksa bagian kepala dan leher, Randa mulai menyelidiki bagian antara bawah leher sampai pusat.

"Mereka, menggigitku! Entah apa yang ada di pikiran mereka. Mereka, benar-benar kejam menyiksaku."

"Frenz, kemari! Coba, kamu ambil sampel bekas gigitan ini. Sepertinya, ada sedikit air liur pelaku yang tertinggal."

Rekannya, tengah mengikis sampel darah yang sudah mulai mengering di lantai beralih berdiri dan mengambil sampel luka pada tubuh korban.

Setelah selesai, rekannya berpindah mengambil sampel yang lain.

Randa, melanjutkan penyelidikan luka di tubuh korban. Setelah bersih bagian bawah leher sampai pusar, hati Randa menjadi pilu mendengar penuturan si mayat itu. Bahwa ketika gagang cangkul yang dimasukkan ke dalam kemaluannya, dia masih dalam kondisi hidup.

"Sakitnya, luar biasa. Aku, merasakan benar bagaimana gagang cangkul itu masuk. Mereka, memegang tangan kanan dan kiri juga memegangi dua buah kakiku. Sedangkan, kakinya mendorong gagang cangkul. Aku, benar-benar merasakan bagaimana gagang itu merobek rahim dan menumbuk lambung hingga merusak susunan usus besar dan usus kecil. Tidak sampai di situ saja, organ hatiku rasanya ikut hancur."

Setiap bercak dan tanda apa saja diambil oleh petugas. Bercak darah, diambil menggunakan kapas dan pinset. Semua barang dan benda, sekecil apapun yang diduga ada hubungannya dengan kasus itu langsung mereka masukkan ke dalam kantong plastik. Begitu pula, dengan gagang cangkul yang masih menancap pada korban ditarik. Dan bisa dibayangkan, betapa sakitnya saat benda tumpul itu masuk ke dalam organ tubuh.

Perhatian para petugas polisi lainnya, tertuju pada sebuah objek bekas telapak tangan berlumur darah di lantai. Bentuk dan ukuran telapak tangan, sama sekali tidak sama dengan ruas tangan mayat wanita yang tergeletak di atas kasur itu. Bagi mereka petugas INAFIS, ini adalah petunjuk paling berharga sebagai petunjuk mereka menindak lanjuti siapa sebenarnya pelaku.

Setelah merasa cukup, para petugas lalu menghubungi ambulance dan membawa mayat wanita yang diketahui bernama Una. Usianya, masih sekitar 19 tahun.

Beberapa tetangga yang sama-sama penghuni kost-kostan mess karyawan, merasa terpukul atas kematian Una. Mereka, tidak menyangka bahwa wanita itu akan menjadi korban pemerkosaan. Padahal, gerbang mess itu termasuk tinggi dan selalu terkunci. Kuat dugaan, pelaku pemerkosaan adalah penghuni kompleks mess karyawan itu juga.

Sesampainya jenazah Una di rumah sakit, Randa langsung bekerja menyelidiki sebab kematian wanita muda itu.

"Beri aku waktu sendiri, 15 menit bersama jenazah. Kamu, tunggu saja diluar. Setelah selesai, nanti aku panggil."

"Baik, Dok." Perawat yang hendak mendampingi, keluar dan duduk di kursi di pinggir lorong jalan rumah sakit menunggu panggilan dari Randa

"Sejak tadi, aku mendengar aduanmu. Bicaralah, supaya kami bisa menuntaskan kasusmu."

Mayat yang merasa dokter sedang berbicara padanya, merasa kaget.

"Dokter, berbicara pada saya?"

"Iya," ucap Randa yang duduk di samping jenazah.

"Bukankah, saya sudah mati?"

"Itu, tidak penting. Kenyataannya, saya memang bisa berbicara dengan orang yang sudah mati. Tolong beritahu saya, kronologi serta pelaku yang telah membunuhmu? Sebelum tubuhmu, 5 jam lagi rusak dan kamu tidak bisa lagi berbicara menceritakannya semuanya padaku."

Mendengar perkataan Randa, jenazah itu mengeluarkan air mata.

"Pembunuhku, adalah pacarku sendiri. Kami, sejak awal pacaran lebih sering melalui telpon dan SMS saja karena mess ini dijaga ketat jadi tidak sembarang orang boleh masuk."

"Bagaimana, dia bisa masuk?"

"Aku, membuka engsel gerbang dari dalam. Aku yang menyuruhnya masuk."

"Lalu?"

"Tidak ada yang kami lakukan. Hanya, berbincang saja dan bercanda. Tidak lama kemudian, kami berdua berciuman tetapi pacarku memaksaku membuka baju. Dia, ingin mengajakku bersenggama dan aku menolak dengan alasan takut hamil."

"Dia, langsung memperkosamu?" tanya Randa yang penasaran dengan cerita mayat perempuan itu.

"Tidak! Karena kutolak, sepertinya dia sedikit meraju dan duduk di depan teras mess. Aku panggil-panggil, dia tidak perduli. Sampai beberapa menit kemudian, dia masuk. Anehnya, dia masuk bersama Arif dan Ilham."

"Siapa, Arif dan Ilham?"

"Temanku bekerja di pabrik, sama-sama satu mess."

Randa yang memegang pulpen dan kertas, langsung menulis nama dua orang tadi.

"Setelah itu?"

"Pacarku dan Ilham, langsung membekap mukaku dengan bantal hingga membuatku tidak bisa berteriak. Arif, mendorong badanku dan memaksa melucuti semua pakaianku. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa pusing. Sampai, aku pun pingsan dan tidak sadar sama sekali."

"Lalu, mereka memperkosamu saat kamu tidak sadarkan diri?"

"Iya, saat aku sadar ternyata pacarku sudah menyetubuhiku. Melihat aku sadar, Arif memukulkan ganggang cangkul ke dahi kiri."

Randa, melirik dahi kiri si mayat yang lebam hitam kebiru-biruan.

"Selesai pacarku, bergantian Arif yang memperkosaku.

"Lalu siapa yang menggigit, maaf payudaramu?"

"Arif!" ucap sang mayat. Matanya, kembali mengeluarkan air mata.

"Gagang cangkul?"

"Pacarku, Aar."

"Bagaimana, dia melakukannya?"

"Dia, mendorong gagang itu ke dalam kemaluanku menggunakan kakinya. Aku, merasakan sakit luar biasa saat itu.

Seluruh organ tubuhku rasanya rontok, setelah itu gelap dan aku rasa, aku sudah mati."

Miris sekali nasib wanita itu. Entah bagaimana sakitnya, tapi yang jelas hampir 90 persen gagang itu masuk ke dalam tubuhnya dan ujung gagang masuk berada persis di bawah lehernya.

"Dengan modal, informasi dari mayat itu lalu anda melapor pada tim?"

"Tidak, aku hanya merekayasa kasus dan mengarahkan penyidikan ke pelaku yang bernama Arif. Dengan begitu, mereka langsung tertangkap 24 jam kemudian."

"Apa, anda pernah menceritakan penyakit anda ke orang lain?"

"Iya, aku menceritakannya."

"Apa, respon mereka?"

"90 persen, mereka menganggap aku membual."

Entah berapa lama, mereka bercengkrama di dalam ruang kerja Randa tapi kedatangan wanita Rusia itu cukup membuat Evelyn gelisah dan cemburu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JLL" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JLL
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Menjadi Gila Setelah Mengurungku di Gudang Pendingin
9.4
Demi membalas penderitaan cinta pertamanya, William Yuardi tega mengunci istrinya di dalam gudang pendingin tua yang terbengkalai. Dia hanya meninggalkan semangkuk air agar istrinya merenungkan kesalahannya. Tanpa disadari, mesin pendingin tiba-tiba menyala otomatis setelah pintu dikunci. Di tengah suhu yang membekukan, sang istri terus berteriak meminta tolong hingga jari-jarinya berdarah. Saat pintu akhirnya dibuka tujuh hari kemudian, penyesalan William tidak lagi berarti karena ia hanya mendapati jasad yang telah membeku.
Sampul Novel Escape
8.1
Emily Watson, model cantik yang terancam bahaya, berada dalam lindungan Ethan Davis, pemilik perusahaan keamanan elite di London. Dr. Watson menyewa jasa Ethan demi menjaga rahasia besar putrinya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan tanpa kepala. Di tengah pelarian dan ancaman pembunuhan, Ethan dan Emily harus menghadapi trauma masa lalu mereka yang kelam. Akankah cinta yang lahir dari kegelapan ini mampu menyelamatkan mereka dari intrik mematikan yang mengintai di setiap sudut kota?
Sampul Novel Hamil Anak Ular
8.6
Anjani, seorang ketua komunitas pencinta reptil, menghadapi kenyataan medis yang mustahil saat dokter menyatakan dirinya tengah mengandung tiga belas minggu. Padahal, ia sama sekali belum pernah melakukan hubungan intim dengan pria mana pun. Tuduhan aneh pun muncul dari sang ayah tiri, yang meyakini bahwa janin di rahim Anjani adalah keturunan ular akibat kebiasaan tidurnya bersama Chiko, seekor piton peliharaan kesayangannya. Misteri gelap ini menuntut jawaban atas kebenaran kehamilannya.
Sampul Novel Korban Terakhir yang Digambar Ibu adalah Aku
8.9
Sebagai seniman forensik kepolisian yang andal, ibu Janice sangat membenci kejahatan. Namun, saat Janice menelepon dalam keadaan darurat, sang ibu mengira itu hanya trik kotor untuk merusak hari ulang tahun adiknya. Penolakan ibu untuk membantu membuat sketsa berujung pada kematian tragis Janice akibat siksaan penculik. Ketika hasil tes DNA keluar, sang ibu yang hancur mencoba menggambar wajah korban dari sisa tulang yang ditemukan. Berulang kali ia mencoba, hasil sketsanya selalu menunjukkan wajah Janice.
Sampul Novel KUNCI LATHI
8.7
Azalia mendadak kehilangan seluruh ingatannya tanpa jejak. Satu-satunya hal yang tersisa di benaknya hanyalah potongan mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Saat terbangun dalam kondisi linglung, dia menyadari bahwa kehidupannya telah berubah menjadi misteri yang mencekam. Kini, Aza harus berjuang mencari jawaban di tengah kegelapan yang mengepungnya. Mampukah ia melepaskan diri dari teror mimpi yang terus menghantui dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang?
Sampul Novel Shadow Under The Light
8.3
Bagi banyak orang, maut adalah teror, namun bagiku tidak. Pertemuanku dengan Axel, sang pembunuh berparas rupawan, menjadi awal dari nasib yang ironis. Meski hidup dalam ancaman, aku justru terpikat oleh pesonanya. Dia memuji keindahan mataku yang tak menunjukkan rasa takut akan ajal. Di balik kekejaman yang ia tunjukkan, Axel memberiku kasih sayang yang belum pernah kurasakan. Kini aku dihantui tanya, kapan giliranku tiba saat mataku tak lagi memikatnya?