
Ditinggal Kekasih Mafia
Bab 2
Dante kembali ke ruangannya, pintu berat itu menutup dengan keras di belakangnya, seakan dunia luar ingin masuk namun ia tidak akan membiarkannya. Matanya yang tajam memandang ke arah meja kerjanya, namun tidak ada satu pun hal yang bisa ia fokuskan. Semua yang ada di pikirannya hanya wajah Seraphina, gadis yang tiba-tiba muncul entah dari mana, dan pernyataan mengejutkan itu-bahwa mereka telah dijodohkan. Entah oleh siapa dan untuk apa.
Namun ada satu hal yang lebih mengguncangnya dari itu semua. Kehadiran Valentina, yang sepertinya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ada sesuatu yang berbeda di matanya, rasa penyesalan yang begitu kuat, yang seolah memanggilnya untuk kembali ke masa lalu yang penuh luka. Dante tahu, di dalam hatinya, Valentina tetap memiliki tempat-meskipun dia tak ingin mengakuinya.
Dante duduk di kursi besar yang menghadap jendela, menatap hujan yang masih turun dengan deras, seperti suasana hatinya. Semua hal yang ia anggap pasti kini terasa rapuh, dan semakin rumit. Dalam dunia gelap yang ia jalani, ia terbiasa mengontrol segalanya-namun kali ini, ia tidak bisa mengontrol perasaan yang datang begitu mendalam dan tak terduga.
Ponselnya bergetar di atas meja, memecah kesunyian. Dante menatap layar dengan enggan. Itu adalah pesan dari salah satu sekutunya, Marco. Pesan yang tak pernah bisa diabaikan.
"Dante, ada sesuatu yang perlu kamu tahu. Seseorang mencoba mengancam keluarga kita. Saya rasa ini lebih dekat dari yang kita kira."
Dante meremas ponselnya dengan tangan yang gemetar, amarah mulai mengalir ke seluruh tubuhnya. Tidak ada tempat untuk ancaman dalam dunia ini. Tidak ada yang bisa mengancam kekuasaan yang telah ia bangun, bahkan jika itu datang dari musuh di luar sana, atau-mungkin-dari dalam lingkarannya sendiri.
Namun sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, pintu ruangannya terbuka dengan perlahan. Seorang pria muda, berpenampilan rapi, masuk tanpa diundang. Namanya Julian-anak buah yang sudah lama bekerja untuk Dante. Julian membawa kabar buruk.
"Maaf, Dante, tapi saya rasa Anda perlu melihat ini."
Dante menatapnya dengan tatapan datar, tidak berkata apa-apa. Julian meletakkan sebuah amplop di atas meja. Itu tampak biasa saja, tetapi Dante tahu, di balik benda sederhana itu pasti ada sesuatu yang besar.
"Ini tentang Seraphina," Julian melanjutkan. "Saya menemukan sesuatu yang mungkin perlu Anda ketahui."
Dante membuka amplop itu dengan gerakan lambat, seolah ia tahu bahwa apa pun yang ada di dalamnya akan merubah segala sesuatunya. Ketika kertas itu terbuka, sebuah foto terjatuh. Itu adalah foto Seraphina-tapi yang mengejutkan adalah pria yang ada di sampingnya. Bukan hanya pria biasa. Itu adalah pria yang dikenal Dante, seorang pengusaha yang memiliki koneksi dengan dunia gelap. Seorang yang memiliki banyak pengaruh dan ambisi yang sangat besar.
"Ini..." Dante terdiam, mencerna setiap detail dalam foto itu. "Dia tahu lebih banyak daripada yang kita kira."
Julian mengangguk, wajahnya serius. "Sepertinya dia lebih dari sekadar gadis biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di balik pengakuannya. Saya rasa, ini bukan sekadar permainan untuknya."
Dante bisa merasakan ketegangan yang mulai membesar di dadanya. Ia tak ingin terjebak dalam permainan politik dan manipulasi, apalagi jika itu melibatkan Seraphina. Namun, kenyataannya adalah-mungkin dia sudah terjebak tanpa sadar.
"Jadi, dia terlibat dengan orang-orang ini?" Dante bertanya dengan nada dingin. "Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?"
Julian menggelengkan kepala. "Kami belum tahu pasti, tapi satu hal yang jelas-itu bukan kebetulan. Ini permainan yang lebih besar, Dante."
Dante menghela napas panjang. Permainan ini semakin dalam, dan dia semakin jauh dari kenyataan yang dia inginkan. Gadis itu-Seraphina-mungkin hanya catur dalam permainan yang lebih besar. Tapi apa sebenarnya peran Valentina dalam semua ini? Mengapa dia muncul lagi setelah bertahun-tahun, dengan penyesalan yang belum sempat dia ungkapkan?
Tanpa peringatan, pikirannya kembali ke momen ketika dia bertemu Valentina di acara itu. Wajahnya yang sedikit lebih tua, lebih matang, namun di matanya, Dante masih bisa melihat cinta yang tak pernah dia dapatkan kembali. Mengapa sekarang? Mengapa harus sekarang, saat semuanya sudah jauh berbeda?
Dengan langkah tegas, Dante berdiri. "Temukan lebih banyak tentang Seraphina. Dan tentang orang-orang yang ada di belakangnya. Aku ingin tahu siapa yang mencoba memainkan permainan ini dengan cara seperti ini."
Julian mengangguk, lalu berbalik untuk pergi. Dante kembali duduk, perasaan frustrasi menguasai dirinya. Dunia ini penuh dengan intrik, dan dia-Dante Alvarado-harus menjadi pemimpin yang tak terbantahkan. Tidak ada ruang untuk kelemahan, tidak ada tempat untuk perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.
Namun, di dalam hatinya yang terdalam, ada pertanyaan yang terus mengganggu. Apakah mungkin, dalam dunia yang penuh kebohongan dan pengkhianatan ini, ada seseorang yang benar-benar menginginkan kebaikannya? Atau apakah semua ini hanya permainan yang akan membawa lebih banyak luka bagi dirinya?
Satu hal yang pasti-Dante tidak akan membiarkan siapapun mengendalikan takdirnya. Tapi sekarang, dia harus memutuskan: apakah dia akan kembali menghadapi masa lalunya, ataukah dia akan menutup pintu itu selamanya?
Anda Mungkin Juga Suka





