
Ditinggal Kekasih Mafia
Bab 3
Dante berjalan keluar dari ruangannya, langkahnya cepat dan pasti. Setiap inci dari langkahnya dipenuhi dengan amarah yang semakin membesar. Benar apa yang Julian katakan-ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi, dan Seraphina mungkin hanyalah pion dalam permainan yang lebih rumit daripada yang bisa ia bayangkan. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya lebih dari semuanya-Valentina. Kehadirannya di dunia ini kembali, dan entah mengapa, dia merasa seperti kembali terperangkap dalam perasaan yang sudah ia kubur begitu dalam.
Dante berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke kota, matanya menatap tanpa melihat. Angin malam yang dingin menyentuh wajahnya, dan meskipun udara itu menenangkan, hatinya tetap panas. Ini bukan tentang Seraphina atau pengkhianatan yang dia rasakan. Ini lebih dalam. Ini tentang Valentina. Keinginan untuk tahu kenapa dia muncul kembali, kenapa dia membiarkan waktu berlalu begitu saja sebelum akhirnya mengungkapkan rasa bersalah yang terbakar di matanya. Rasa sakit yang seharusnya tidak ia rasakan lagi.
"Dante."
Suara itu membuatnya tersentak. Valentina. Dia berbalik, melihat sosok itu berdiri di pintu, wajahnya lebih serius dari yang ia ingat. Tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia lihat di masa lalu. Yang ada hanya kecemasan yang jelas terlihat di matanya.
"Kamu tahu aku di sini karena tidak ada pilihan lain, bukan?" Valentina berkata, suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu aku salah. Tapi... Aku harus memberitahumu sesuatu."
Dante tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang ingin Valentina katakan, tapi dia tidak yakin dia siap mendengarnya. Apa pun yang dia katakan, itu tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Apa pun yang dia katakan, itu tidak akan menghapus pengkhianatannya.
"Tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Valentina," kata Dante akhirnya, suaranya serak. "Kamu pergi. Kamu menikah dengan orang lain. Aku tidak punya tempat untuk rasa bersalahmu sekarang."
Valentina berjalan mendekat, matanya memohon. "Dante, aku tidak menikah dengan dia karena aku tidak mencintaimu lagi. Aku menikah dengan dia karena... karena aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Aku terjebak, dan aku pikir itu adalah pilihan terbaik."
Dante merasakan hatinya berdegup lebih cepat. Kalimat itu, penuh dengan penyesalan, membuat rasa sakit di dalam dirinya semakin tajam. "Lalu kenapa sekarang?" katanya dengan nada yang sedikit terputus. "Kenapa datang kembali setelah semuanya berakhir?"
Valentina menunduk. "Karena aku sadar, aku tidak pernah bisa melupakanmu. Dan sekarang, melihatmu seperti ini-dengan dia-aku merasa semuanya salah. Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan lagi."
Dante memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Valentina. Cinta itu, meskipun sudah lama terkubur, masih ada-masih membara dalam dirinya. Namun, dia tidak bisa begitu saja menerima apa yang Valentina katakan. Terlalu banyak yang telah rusak. Terlalu banyak yang telah hilang.
"Semuanya sudah berubah," jawab Dante dengan suara dingin. "Kamu dan aku, Valentina, kita sudah menjadi masa lalu. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Namun, Valentina tidak menyerah. "Aku tahu. Tapi tolong, Dante. Dengarkan aku sekali ini saja. Aku tahu ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi. Aku tahu kamu terjebak dalam permainan yang lebih gelap dari yang bisa kamu bayangkan. Kamu sedang terjebak, dan aku ingin membantumu."
Dante berhenti sejenak, mencerna kata-kata Valentina. Apa yang dimaksudnya dengan permainan yang lebih besar? Apa yang dia tahu tentang Seraphina dan para pengusaha yang mengendalikan dunia ini?
"Jangan coba memanfaatkan kelemahan yang kamu tahu tentang aku," kata Dante dengan suara berat, meskipun dia tahu dia sedang berbohong pada dirinya sendiri. "Aku bisa menghadapinya sendiri."
Valentina menatapnya dengan tatapan yang dalam, seolah melihat ke dalam dirinya. "Kamu mungkin bisa, Dante. Tapi aku tidak yakin kamu tahu siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini. Seraphina, orang-orang yang ada di dekatnya, mereka tidak datang tanpa alasan. Ada kekuatan yang bekerja di belakang layar, dan aku takut kamu sedang jatuh ke dalam perangkap yang tidak bisa kamu keluar dari."
Dante terdiam, suara hati yang ingin ia abaikan kini semakin keras. Ada sesuatu yang tidak beres dengan semuanya. Benar kata Valentina, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Seraphina bukanlah gadis biasa, dan dunia ini bukanlah tempat untuk rasa sesal atau keraguan. Ini adalah dunia yang kejam, dan hanya yang kuat yang bertahan.
"Tunggu," kata Dante, mendekati Valentina dengan tatapan yang lebih serius. "Katakan apa yang kamu tahu, sekarang."
Valentina menghela napas, tampaknya menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mengungkapkan segalanya. "Ada pertemuan rahasia yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Aku mendengar mereka merencanakan sesuatu yang besar, dan aku khawatir Seraphina terlibat lebih dalam dari yang kamu kira."
Dante merasa ketegangan semakin meningkat. Ini bukan sekadar masalah pribadi. Ini lebih dari itu. Ini adalah perang yang belum dimulai, dan dia baru saja dipaksa menjadi bagian darinya.
"Saya ingin tahu semua yang kamu tahu tentang mereka, Valentina," kata Dante, tatapannya tajam dan penuh tekad. "Jika kamu benar-benar ingin menebus semuanya, ini adalah kesempatanmu. Beritahukan aku segalanya, atau kita berakhir di sini."
Valentina mengangguk pelan. "Aku akan memberitahumu, Dante. Tapi kamu harus siap menghadapi kenyataan yang lebih gelap dari yang kamu bayangkan."
Dante menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Sebuah jalan yang lebih berbahaya baru saja terbuka, dan dia harus memilih-apakah dia akan terus maju, atau berbalik dan membiarkan semua ini hancur begitu saja. Namun, satu hal yang pasti: Dante tidak pernah mundur dari pertempuran.
Anda Mungkin Juga Suka





