
Diselingkuhi Suami Dinikahi Brondong Tajir
Bab 2
Keyla berlari dengan cepat dan berhasil naik ke atas motor kang gojek yang sedang bersiap-siap untuk berangkat. Dengan napas terengah-engah, Keyla meminta tolong kepada kang gojek tersebut untuk mengantarnya pergi ke jalan Artabahana.
"Saya akan membayar dua kali lipat, sekarang!" pekik Keyla dengan suara lantang, membuat kang gojek itu segera menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.
Sementara itu, Jean yang berada di dalam mobil merasa kesal. Matanya terasa perih karena bedak tabur yang dilemparkan oleh Keyla ke wajahnya.
"Awas kau, cewek tengik. Gue akan buat penghitungan sama Lo," ucap Jean dalam hati, sambil merasakan rasa kesal yang memuncak.
30 menit kemudian, Keyla tiba di jalan Artabahana dan meminta untuk berhenti tepat di dekat pos satpam. Dengan hati-hati, Keyla membayar kang gojek tersebut sebagai tanda terima kasih atas bantuan mengantarnya.
Setelah membayar, Keyla berjalan menuju rumah yang bercat hijau. Sesampainya di depan pintu, Keyla mengetuk dan mengucapkan salam. Pintu pun terbuka, dan tampak seorang wanita berparas cantik mengenakan hijab keluar dari dalam.
"Onty Ca," lirih Keyla sambil langsung memeluk wanita itu dengan erat.
"Ya Allah, kenapa sayang?" tanya wanita yang dipanggil Caca dengan penuh kekhawatiran.
Keyla semakin histeris, hingga akhirnya Caca mengurai pelukannya dan meminta Keyla untuk masuk terlebih dahulu.
Caca membawa Keyla menuju ruang tamu, tempat di mana keduanya bisa duduk dan berbincang dengan lebih tenang.
Keyla duduk di hadapan Caca, menceritakan segalanya tentang perselingkuhan antara Fahri dengan Rena, adik tirinya, yang terjadi di apartemen Rena. Caca terkejut mendengar pengakuan ini, tanpa ragu ia memeluk Keyla dengan penuh kehangatan, mencoba menenangkan keponakannya yang sedang dilanda kegelisahan.
Setelah beberapa saat, Keyla mulai merasa lebih tenang. Caca pun bertanya kepada Keyla mengenai langkah apa yang akan diambil setelah ini. Keyla menatap tantenya dengan tegas dan mengungkapkan bahwa dia akan segera mengurus surat perceraian, karena Keyla sudah memiliki bukti yang cukup.
"Baguslah, Key. Lebih cepat lebih baik," ucap Caca dengan penuh dukungan.
Keyla kemudian bertanya kepada Caca apakah ada kenalan atau informasi mengenai lowongan kerja. Caca mengingat bahwa Keyla mengambil jurusan Geografi saat kuliah, dan mengusulkan agar Keyla mencoba melamar sebagai guru pengganti di sekolah senior Caca yang akan segera pensiun.
"Serius, Tante?" tanya Keyla dengan penuh harap.
"Ya, besok pagi kita akan ke rumahmu untuk mengambil semua berkas penting dan baju-bajumu, lalu langsung menuju ke sekolah," ajak Caca dengan senyum hangat.
Keyla tersenyum bahagia, "Terima kasih banyak, Tante."
"Sama-sama sayang. Sudah makan?" tanya Caca dengan penuh perhatian.
"Alhamdulillah, sudah Tante," jawab Keyla.
"Ya sudah kamu istirahat gih," ucap Caca sambil mengusap lembut punggung Keyla, memberikan kehangatan dan dukungan dalam situasi sulit yang sedang dihadapi Keyla.
Keyla penasaran dan bertanya kepada Caca tentang keberadaan om Danu, suami Tantenya, dan keponakannya, kenapa rumah terasa begitu sepi. Caca menjawab dengan senyum, menjelaskan bahwa suami dan anaknya sedang pergi ke supermarket karena Cica, putrinya, menginginkan ice cream dan stok di rumah habis.
"Walah begitu, ya sudah Tante. Keyla akan istirahat dulu ya. Selamat malam, Tante," ucap Keyla dengan lembut.
"Selamat malam juga, Key. Semangat," balas Caca sambil memberikan senyuman hangat.
Keyla mengangguk sebagai tanda pengertian, lalu berjalan menuju kamar tamu untuk istirahat. Suasana tenang dan hangat terasa hadir di dalam rumah Caca, membawa sedikit ketenangan bagi Keyla setelah peristiwa yang mengguncangnya.
***
***
Keesokan harinya, Caca dan Keyla sudah siap untuk pergi ke sekolah. Danu, suami Caca, telah berangkat pagi buta untuk meninjau proyek di luar kota.
Cica, putri Caca, masih tertidur pulas di kamar. Caca dan Keyla bersiap-siap dengan tenang, kemudian sarapan bersama di meja makan sambil menunggu suster pengasuh Ica datang.
Tidak butuh waktu lama, sekitar 15 menit kemudian, Suster Ira tiba di rumah. Caca berbicara sebentar dengan suster Ira, memberikan instruksi dan informasi terkait perawatan Cica selama kepergian mereka.
Setelah semua persiapan selesai, Caca dan Keyla pun berangkat menuju sekolah. Mereka meninggalkan rumah dengan harapan dan semangat baru.
Keyla dan Caca tiba di kediaman Keyla, dimana keberuntungan kembali berpihak pada Keyla. Suaminya tidak pulang ke rumah, memudahkan Keyla untuk mengumpulkan semua barang pribadinya tanpa hambatan.
Tidak butuh waktu lama, sekitar 30 menit kemudian, Keyla turun dengan membawa satu koper besar. Caca bertanya, "Sudah, Key?"
Keyla menjawab, "Sudah, Tante."
Namun, saat Keyla hendak pergi, Bi Sumi, ibu dari Keyla, meminta agar Keyla tidak pergi. "Non, jangan pergi," ucap Bi Sumi dengan suara penuh kekhawatiran.
Keyla memberikan penjelasan dengan lembut, "Maaf ya, Bi. Keyla harus pergi. Bi Sumi, jaga kesehatan ya. Nanti kita bertemu lagi."
"Non," ucap Bi Sumi dengan suara sedih.
"Bi, Keyla titip mama Nata ya. Keyla pergi. Assalamualaikum, Bi," ucap Keyla dengan penuh rasa sayang.
"Waalaikumsalam, hati-hati, Non," balas Bi Sumi dengan suara yang terharu.
Keyla dan Caca kemudian berjalan keluar dari rumah, menuju mobil Caca. Sesampainya di dekat mobil, Keyla memasukan koper ke bahagia mobil. Setelah memasukan koper Keyla berjalan ke kursi sebelah Caca.
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Qadafi.
'Selamat tinggal mama, papa, BI Sumi. maafkan Keyla.' batin Keyla menangis melihat rumah yang sudah satu tahun ini memberinya warna, cinta dan kasih sayang.
Anda Mungkin Juga Suka





