Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahkan Karena Hutang

Dinikahkan Karena Hutang

Iren terjebak dalam situasi pelik saat dipaksa menikah dengan pria asing pilihan orang tuanya. Pernikahan ini bukan didasari cinta, melainkan sebagai alat penebus hutang keluarga yang menumpuk. Ibu dan saudara tirinya sengaja bersekongkol menekan sang ayah agar mengorbankan Iren demi melunasi beban finansial mereka. Di balik paksaan itu, Iren menyimpan trauma mendalam terhadap laki-laki. Mampukah ia menjalani kehidupan barunya di tengah ketakutan masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pelaminan sudah di depan mata. Mas Daffin sudah duduk di kursi yang disediakan khusus untuk mengikrarkan janji pernikahan kami. Ya, ia sudah siap dihadapan bapak penghulu. Sejauh yang kutahu, Mas Daffin orang yang tidak banyak bicara. Saat beberapa kali bertemu, ia pun tak pernah mencoba untuk merayuku, apalagi berusaha memegangku.

Meski usianya lebih dewasa sepuluh tahun dariku, tetapi aku tak menyangkal jika dirinya memang laki-laki yang tampan. Postur tubuhnya pun bagus. Bandannya tinggi besar. Pasti banyak wanita yang mengidolakannya. Saat Melati melihat fotonya di undangan pernikahan kami, ia mengatakan jika wajahnya mirip seperti Kim Taehyung. Meski begitu, ketakutanku tetap muncul. Ia tetap saja laki-laki.

Aku melangkah semakin mendekatinya. Ada kursi kosong di sebelahnya. Kursi itu tentu saja disediakan untukku. Aku harus duduk bersanding sebagai calon mempelai wanita. Degupan jantungku mendadak terasa sangat kuat. Berdebar tak menentu. Bukan cemas tentang Mas Daffin yang nanti akan tidak lancar dan gagal saat mengucapkan ijab Kabul. Jika seperti itu, aku justru bahagia karena gagal nikah. Aku berdebar mengingat nanti setelah sah menjadi suami-istri pasti harus mencium tangannya. Apakah aku bisa melakukannya?

Kini aku sudah duduk di sampingnya. Mas Daffin sama sekali tidak melihatku. Saat awal memasuki ruangan ini pun, ia hanya melihatku sekilas. Tanpa senyuman atau ekspresi bahagia lainnya. Apakah ia sama sepertiku? Menikah karena orang tua yang menyuruh. Atau ia merasa sangat gugup? Entahlah. Aku harap setelah acara ini selesai, hidupku akan baik-baik saja.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Daffin Prawira bin Darma Prawira dengan anak saya yang bernama Iren Salsabila dengan maskawinnya berupa uang senilai 106 dollar dan seperangkat alat salat, tunai.”

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Iren Salsabila binti Handoko dengan maskawinnya berupa uang senilai 106 dollar dan separangkat alat salat, tunai.”

Tak kusangka, Mas Daffin sangat lancar mengucapkan ijab Kabul tersebut. Hanya satu tarikan napas saja. Jantungku semakin berdebar saat para saksi mengatakan sah secara serempak. Sebentar lagi, aku harus menggenggam tangannya dan mencium punggung tangannya itu sebagai ketakdzimanku sebagai seorang istri. Membayangkannya saja sudah merinding dan merasa takut.

Selain itu juga, statusku kini sudah berubah menjadi seorang istri dari Mas Daffin. Istri? Untuk berpegangan dengan laki-laki saja aku tidak sanggup. Apakah benar aku bisa menjadi istri yang baik dan bisa menunaikan tugas-tugasku? Terlebih tentang nafkah batin, khususnya masalah ranjang. Aku tidak bisa melakukannya.

“Untuk mempelai wanita dipersilakan mencium tangan suaminya, sebagai tanda ketakdzimannya kepada suami.”

Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi. Pembawa acara itu mempersilakanku agar bersalaman dengan Mas Daffin. Keringat dingin mendadak keluar dari badanku. Aku benar-benar tak sanggup. Papa melihatku yang semakin tak berdaya ini, justru diam saja. Entah orang tua macam apa papa itu.

“Biarkan dia melakukannya saat kami berdua saja. Maafkan atas kelancangan saya! Silakan dilanjutkan ke acara berikutnya.”

Entah mengapa, Mas Daffin seperti tahu kondisiku saat ini. Dengan suaranya yang berwibawa dan tegas, ia tidak memaksaku untuk bersalaman dan mencium tangannya. Kalimat yang terlontar dari lisannya pun, sama sekali tidak merendahkan posisiku.

Apa ia mengetahui semua tentang kondisiku? Ya, mungkin kedua orang tuaku sudah menceritakan segalanya. Lalu, mengapa ia masih tetap mau menerimaku sebagai istrinya? Bukankah akan merugikannya saja? Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala.

Tamu undangan yang hadir ada yang meneriaki dan bersiul menggoda kami. Mungkin bagi mereka, apa yang Mas Daffin lakukan sangat manis. Ia menginginkannya saat kami berdua saja. Ia seperti tidak ingin mengumbar kemesraan kami di depan umum. Padahal entah apa alasan sesungguhnya.

Untuk saat ini aku merasa sedikit lega. Namun, kembali muncul kekhawatiran saat nanti memasuki sesi pemotretan. Bagaimana jika kami diminta untuk berpelukan atau berpose mesra? Bisa-bisa aku pingsan di sana. Pikiran itu sebisa mungkin kutepis, agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Kini aku melangkah ke pelaminan.

“Terima kasih.” Aku mengucapkannya saat kami duduk di kursi panjang tak bersekat berwarna putih itu.

Meski ada rasa lega di dalam dada, tetapi jantungku masih berdebar dan belum normal seperti biasanya. Apalagi sekarang kami duduk di kursi yang sama. Dari awal sampai detik ini, aku sangat berusaha untuk menenangkan diri sendiri mengatasi trauma itu agar tidak mempermalukan keluargaku. Tadi saja, keringat dinginku sempat keluar. Namun, berkat perkataan Mas Daffin, aku bisa kembali mengontrolnya. Andai tidak ada yang bertindak, mungkin saja aku sudah tak sadarkan diri karena saking takutnya.

“Ya.” Ia menjawabnya singkat sambil menoleh sekilas ke arahku. Aku melihat ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya.

Benarkah ia mengetahui kondisiku? Kenapa ia tersenyum seperti tanpa beban? Padahal ia tak bisa menyentuhku. Aku pikir, laki-laki normal akan menolak saat mengetahui calon pengantinnya takut disentuh oleh tangan laki-laki. Seperti apa yang Mama Rita katakan. Aku mungkin bukan wanita normal, sedangkan hal utama yang diinginkan oleh seorang suami setelah menikah adalah memenuhi nafsu syahwatnya.

Meski duduk berdampingan, kami tidak bercengkrama layaknya dua insan yang sedang menikmati kebahagiaan. Tidak akrab seperti pengantin pada umumnya. Hanya akan berbicara saat ada hal penting saja. Itu pun dengan sangat berhati-hati, jangan sampai bersentuhan.

Mungkin tamu undangan yang benar-benar memperhatikan kami, pasti akan mempertanyakan tentang pernikahan ini. Kenapa pasangan pengantin itu tidak selayaknya pengantin baru? Biarlah, Mas Daffin pun sepertinya tidak mempermasalahkannya dan bibirku pun tetap mengembang meski perasaan ini tak menentu.

Setelah kami dipertontonkan di depan para tamu undangan dan mendapatkan ucapan selamat dari mereka, tibalah saatnya untuk sesi pemotretan. Sungguh aku tak berkutik. Sudah pasrah. Jika nanti seandainya akan pingsan, mereka bisa menduga karena aku kecapekan. Sudah tidak begitu mempermalukan keluargaku lagi.

Kenapa pula aku masih sempat-sempatnya mempertahankan kewibawaan keluargaku. Padahal mereka sendiri yang membuatku menjadi seperti ini. Dari awal pun, Mama Rita sudah mewanti-wanti agar diriku tidak mempermalukannya. Seharusnya aku tidak menurutinya, tetapi entahlah, rasanya sulit untuk berbuat jahat kepada mereka yang masih punya ikatan keluarga.

“Silakan kedua mempelai mempersiapkan diri untuk memasuki sesi pemotretan,” ucap pembawa acara memberitahukan kegiatan selanjutnya sesuai urutan acara.

Lagi-lagi keringat dinginku mulai bermunculan. Seandainya wajahku tidak dirias demikian rupa, pasti sudah terlihat pucat seperti orang yang akan pingsan. Napasku mulai tersengal dan perut terasa mual. Tanda-tanda ini hampir muncul semua. Ya, trauma itu kembali membayangiku. Jika saja keadaan ini terus berlanjut, mungkin aku akan benar-benar tidak sadarkan diri.

“Sekali lagi saya meminta maaf, mungkin sesi pemotretan ditiadakan saja. Saya merasa lelah. Atau mungkin Iren sendiri yang akan melakukannya. Saya lebih baik beristirahat saja. Maafkan kelancangan saya.”

Mas Daffin kembali melakukannya. Aku bergeming dan terkejut saat ia mengatakan hal yang tidak terduga seperti itu. Aku yang sudah hampir pingsan, kembali bisa mengontrol diri berkat apa yang ia lakukan. Benarkah ini hanya kebetulan saja? Atau Mas Daffin sengaja melakukannya?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada seorang istri pun di dunia ini yang rela berbagi cinta, termasuk aku. Situasi kian menyakitkan karena sosok madu tersebut adalah perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, camkan ini baik-baik: hingga embusan napas terakhirku, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku dan memastikan kau takkan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel Bukan Salah Jodoh (Si Kembar)
8.0
Claire terpaksa menghadapi kenyataan pahit saat ditinggalkan di hari pernikahannya. Demi menjaga martabat, ia akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan saudara kembar calon suaminya. Di tengah upaya menumbuhkan benih cinta dalam rumah tangga barunya, Claire harus menghadapi berbagai ujian berat. Gangguan terus datang dari mantan calon suaminya yang berkhianat, serta kehadiran mantan kekasih sang suami yang berusaha merusak hubungan mereka berdua.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana adalah CEO Maulana Grup yang jenius dalam bisnis namun buta soal asmara. Kesibukannya membuat orang tua Jo khawatir hingga mereka berencana menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Jo menolak keras rencana tersebut, namun ia justru terjebak syarat berat. Ia hanya punya waktu satu bulan untuk memperkenalkan calon istri pilihannya sendiri. Jika gagal, ia harus menerima perjodohan itu tanpa syarat. Mampukah Jo menemukan cinta dalam waktu singkat?
Sampul Novel Kencan Buta Salah Alamat
8.3
Cinta terjebak dalam friendzone selama tujuh tahun demi menjaga perasaannya pada Raka. Saat hatinya hancur karena Raka memilih wanita lain, ia terpaksa menggantikan sahabatnya dalam sebuah kencan buta. Namun, rencana itu berantakan saat Cinta salah menemui orang. Bukannya pasangan kencan yang dimaksud, ia justru berhadapan dengan calon bosnya sendiri. Meski berawal dari insiden memalukan, takdir tampaknya punya cara unik untuk mempertemukan jodoh yang sebenarnya.
Sampul Novel Mendadak Disuruh Nikah
8.8
Raihan terpaksa menggantikan posisi adik angkatnya untuk menikahi Nico dari keluarga Kuiper. Pernikahan mendadak ini hanya dipersiapkan dalam dua hari. Nico awalnya tak menduga bahwa istrinya sangat menawan, hingga pesona Raihan benar-benar memikatnya setelah sah menjadi suami istri. Meski Raihan memberikan izin penuh bagi Nico untuk menyentuhnya, ia sempat gemetar saat Nico memeluknya dengan agresif. Raihan pun meminta Nico memulai malam mereka dengan perlahan.