
DINIKAHI CEO TAMPAN
Bab 3
"Nak, kemariah. Ayah ingin bicara denganmu"
"Ada apa ayah.?"
"Nak, kamu sayang dengan ayah.?"
"Tentu saja. Kenapa ayah bertanya seperti itu.? Ada apa ayah katakan lah."
"Begini, minggu depan akan ada rombongan keluarga hartawan yang akan kemari, ia akan melamar mu nak."
"Bagaimana mungkin bisa ayah.? Sedangkan aku saja tidak mengenal mereka, bahkan aku tidak tau akan di lamar oleh siapa.?"
"Kamu akan di lamar untuk putra hartawan, yaitu damar hartawan, terimalah lamaran itu nak. Bantu ayah, jangan malukan ayah kita sudah hidup miskin seperti ini."
"Tapi ayah..."
"Dengar kan permintaan ayah nak, anggap saja ini permintaan terakhir ayah di sisa hidup ayah. Jika kamu sayang ayah, maka terimalah lamaran itu dan jangan buat kecewa ayahmu ini, layani suamimu, berbaktilah padanya nak."
"Biarkan aku berpiki dulu ayah, berikan aku waktu."
"Baiklah nak."
Maafkan ayah luna, ayah tak ada pilihan lain. Ayah tak mau melihat mu terus menerus hidup susah, dan di hina oleh orang lain. Kamu mewarisi watak ibumu, yang baik hati.
Semoga kamu tidak membuatku malu luna.
"Mas. Bagaimana mungkin kita menikah kan putri kita satu satunya, dengan lelaki yang kita tidak kenal.?"
"Kita mengenalnya bu, ia putra dari hartawan sahabat ayah dulu."
"Tapi putri kita bagaimana.? Jangan karena ayah sudah bersahabat lama dengan nya, jadi ayah mengorbankan putri kita satu satunya."
"Ayah tetap akan menikahkannya. Dengan atau tidak persetujuan dari ibu."
"Terserah ayah lah."
Bagaimana pun caranya, mereka harus tetap menikah karena aku sudah bosan hidup miskin seperti ini. Bahkan aku sudah sangat muak dengan kehidupan ku di kampung, kehidupan ku di kampung sangat berbeda jauh. Dengan kehidupan ku di kota.
Andai saja dulu aku tidak tergiur dengan judi online, dan para wanita jalang, mungkin sampai saat ini aku masih menjadi orang kaya.
Beruntung
Tak ada satu orang pun teman yang mau menoleh ke arahku, beruntung hartawan mau menolong ku, dan kami pun memang sejak awal sudah mengsepakati untuk menikahkan kedua anak kami.
Terlalu banyak orang orang yang menghina ku di kampung ini. Mereka menganggap keluarga ku sangatlah miskin, bahkan tak jarang para lelaki di kampung ingin melecehkan putriku.
Setiap kali aku mengancam akan melaporkan mereka. Mereka selalu mencemooh dan menghina ku habis habisan.
"Hey, kapan kamu melunasi hutang mu itu.?"
"Nanti aku lunasi, sekarang aku belum pegang uang."
"Alah kamu ini, alasan saja bisanya."
"Tunggu putriku menikah, dan akan aku bayar semua hutang ku."
"Baiklah awas bohong ya."
Inilah yang aku tidak suka tinggal disini, orang orang nya tidak sabaran, dan pastinya.
Kalau bukan karena aku yang menolong hartawan dulu, mungkin aku tidak akan bisa menikahkan putriku, dengan orang kaya sepertinya.
Yang ku dengar, ia sekarang sudah menjadi orang terkaya nomor satu di kota ini, semakin beruntung aku jika putriku menikah dengan putranya.
Malam hari tiba...
"Ayah. Aku sudah memutuskan keputusannya."
"Ya nak. Katakan lah."
"Aku bersedia untuk menikah dengan putra sahabat ayah. Tapi ayah, apa ia bisa menerima ku.? Sama hal nya aku menerima dia."
"Ia pasti akan sangat senang nak. Jika seperti itu, ayah akan hubungi hartawan, untuk mempercepat proses nya."
"Terimakasih banyak nak, lihat bu. Anak kita akan menikah dengan orang kaya, dan kita tidak akan hidup miskin lagi."
"Terserah ayah saja."
Senang rasanya putriku sudah mau di jodohkan, sesudah mendengar kan kabar itu, aku langsung menghubungi hartawan, untuk memberitahu kannya. Dan ternyata damar pun mau menerima putriku.
Aku sudah tidak sabar, menunggu pertemuan itu. Pasti semua warga di sini akan kaget, saat melihat mobil mewah datang ke rumah ku yang gubug ini.
Akan ku beli semua omongan mereka, awas saja mereka, yang sudah menghina ku. Jangan sampai menyesal.
Aku tidur dengan nyenyak, bahkan sebelum tidur aku meminta jatah pada sita istriku.
"Sayang. Aku sedang ingin, dan layani aku."
"Tapi mas. Aku sedang datang bulan."
"Layani aku cepat."
Sita langsung, melayaniku dengan semangat. Tak lupa aku memakai pengaman, karena sita sedang datang bulan. Kebetulan biarpun rumah ku gubug, dan sederhana tapi semua kamar di dalam sini kedap suara, jadi mau berteriak sekencang apapun tidak akan terdengar keluar.
"Ahhhhh ahhh... Sayang... Ayok hisap trus sayang..."
"Ahhh..."
Ku tarik sita, sampai ia terlentang, lalu aku masukkan rudal ku kedalamnya, dengan sekali hentakan.
"Ahhhh...... Mas sakit...... Sudah mas... Aku tidak kuat sakit..."
Tapi aku tidak mengindahkan perkataan nya, dan terus melanjutkan aktifitas ku.
Plok.. plok... Plok....
Suara tubuh kami menyatu, hampir dua jam aku dan sita bermain. Sepertinya sudah lama aku tidak senafsu ini, dan baru kali ini aku nafsu kembali.
Ku lirik sita, ia menangis menahan sakit akibat aktivitas ku tadi. Biar lah ia menangis, aku tak peduli. Banyak bercak darah di seprai kami.
Aku sudah tidak sabar, untuk pertemuan itu, dan menurut hartawan. Ia akan memajukan pertemuan kami. Mungkin lusa ia dan keluarganya akan datang kemari. Semakin cepat maka semakin baik.
Hari pertemuan pun tiba.
Aku menyuruh luna, untuk berdandan dengan sangat cantik, aku tak ingin membuat kesan pertama ini brantakan.
Sedangkan sita, aku suruh ia juga berdandan dengan cantik, aku tak ingin ia kalah cantiknya dengan rosa istri dari hartawan.
Tepat pukul sembilan pagi, rombongan hartawan tiba di rumah ku, kami menyambut nya dengan sangat baik. Bahkan terlihat para tetangga lainnya terheran heran melihat mobil mewah terparkir di halamanku.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam, hartawan. Sahabat lamaku, apa kabarmu kawan.?"
"Roy. Kabarku baik, bagaimana denganmu.? Mana calon menantuku.? Dan ini kenalkan, damar putraku."
"Ada di dalam. ayok mari masuk."
"Sita, ajak Luna kemari. Tamu kita sudah datang."
"Baik mas."
"Tampan sekali calon menantuku ini. Sama seperti ayah nya hahahaha."
"Hahaha ada ada saja kamu ini Roy. Oh ya apa pekerjaan mu sekarang.?"
"Aku tidak ada pekerjaan, bahkan hutang ku banyak di warung warung."
"Kalau begitu, ikut lah kami ke kota. Bekerjalah di perusahaan ku, tidak usah sungkan karena kita sebentar lagi akan menjadi keluarga."
Tak lama kemudian luna dan sita pun bergabung dengan kami, sungguh cantik sekali dua bidadari ku ini.
"Akan ku bicarakan dulu dengan istriku, nah itu mereka sudah muncul, kenalkan ini putriku luna."
"Luna om, Tante."
"Ayah. Cantik sekali calon menantu kita. Aku sudah tidak sabar, untuk mempersunting nya."
"Kamu benar bu, tidak salah bukan aku memilih nya untuk menjadi menantu kita."
Sungguh senang sekali rasanya aku mendengar pujian mereka, tidak aku menyuruh luna untuk berdandan cantik.
Acara kami lanjutkan, dengan makan makan bersama, setelah makan makan. Terlihat damar mengajak luna, untuk berbicara. Aku biarkan mereka saling mengenal, karena sebentar lagi mereka akan satu atap. Bahkan satu rumah.
Setelah beberapa saat, mereka kembali bergabung dengan kami, damar memberikan syarat pada kami, bahwa setelah ijab Kabul. Kami tidak di perbolehkan ikut campur, dalam urusan rumah tangga mereka, meskipun mereka tinggal satu rumah dengan hartawa dan rosa.
Bagi kami itu bukan masalah yang besar, selagi tidak ada kata perceraian, kami mendukung apapun itu. Yang penting anakku tidak di ceraikan, olehnya.
Anda Mungkin Juga Suka





