Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dinikahi Ceo Angkuh

Dinikahi Ceo Angkuh

Nadia harus mengubur impiannya menjadi pramugari setelah sang ayah, yang terobsesi pada uang, memaksanya menikah. Ia kini terikat dengan Allard, pemuda kaya yang sangat angkuh dan dingin. Hidup Nadia berubah menjadi penuh tekanan karena Allard selalu mengekang kebebasannya dan menuntut kepatuhan mutlak. Di tengah ketidaknyamanan dan sikap sombong suaminya, mampukah Nadia bertahan dalam pernikahan ini, ataukah ia akan memilih untuk pergi demi kebahagiaannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Cepat kemasi barang-barangmu. Kita pergi sekarang!"

Seketika Nadia membelalakkan bola matanya. Tak ada kesepakatan untuk pergi dari rumahnya, sebelum menikah dengan Allard.

Bahkan orang tuanya, tidak pernah bilang, kalau ia akan pindah rumah, setelah menikah.

"Hah! Pergi? Emangnya kita harus pergi dari sini, sekarang? Tapi bukannya kita akan tinggal di rumahnya Papa?" tanya Nadia.

"Tinggal di rumah orang tuamu? Jangan mimpi. Aku juga punya rumah sendiri. Mana mungkin aku hidup menumpang pada mertua," jawab Allard dengan mengganti pakaiannya.

Tak ada penjelasan apapun dari Allard dan juga orang tuanya. Bahkan pernikahannya saja masih belum genap sehari. Ia harus pergi meninggalkan rumah dan ikut tinggal di rumah suaminya.

Rasa kecewa begitu mendalam dirasakan oleh Nadia. Orang tuanya benar-benar sangat tega. Tidak peduli lagi dengan perasaannya.

"Bisakah satu hari lagi kita tinggal di sini. Aku belum siap untuk pergi dari rumah ini. Aku masih harus bicara sama Papa."

Allard berdecak menoleh pada Nadia yang nampak gelisah duduk di ranjangnya. "Ck! Kau pikir aku tidak memiliki pekerjaan lain apa! Aku masih punya banyak pekerjaan yang aku tinggalkan. Dan aku tidak bisa menunda-nunda waktu untuk tetap tinggal di sini. Dalam hidupku ... Aku tidak mau menumpang sama mertua, atau siapapun. Mendingan sekarang cepat kemasi barang-barangmu ... Dan ayo? Kita pergi dari sini."

Nadia hanya bisa pasrah, tidak bisa lagi menolak keinginan dari suaminya. Tidak punya banyak waktu lagi untuk bersantai di rumah orang tuanya.

"Ck! Yaudah. Tunggu sebentar. Aku mau kemasi barang-barangku dulu. Kamu tunggu aja di depan," jawab Nadia.

Nadia langsung mengambil koper yang ditaruhnya di atas lemari, ia pun segera mengemasi barang-barangnya.

"Kalau aku menunggumu di depan ... Sudah pasti, kau akan berlama-lama di dalam kamar. Lebih baik kemasi saja barangmu, sekarang. Aku akan menunggumu di sini."

Allard menuju sofa dan memangku laptop. Ia mulai bekerja, sembari menunggu Nadia mengemasi barang-barangnya.

"Jangan terlalu lama. Sebentar lagi aku ada meeting," tutur Allard.

"Hah! Meeting? Ini hari pertama kalinya kita menikah, dan kau masih juga memikirkan pekerjaan. Kau bener-bener keterlaluan, ya? Kau bahkan tidak bisa menghormati dirimu sendiri," tegur Nadia menoleh pada suaminya.

"Maksudmu?" Allard menoleh pada Nadia dengan menaikkan satu alisnya.

Nadia berdecak kesal pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya hari itu.

Bahkan di hari sakralnya, Allard masih menyibukkan diri untuk bekerja.

"Ya ... Maksud aku ... Bisakah kau menghormati pernikahan kita. Ya. Walaupun kita nikah karena terpaksa ... Tapi tidaklah pantas kalau kau mengabaikan hari sakral ini. Aku cuman ingin ... Kau peduli pada hari ini saja. Untuk besok ... Terserah!"

Allard tersenyum miring meremehkan ucapan Nadia. Baginya, tak ada hari yang sakral.

Ia tidak pernah percaya dengan mitos, seperti larangan yang didongengkankan oleh nenek moyangnya.

Yang paling penting baginya, bekerja dengan baik, akan mendapatkan hasil yang baik pula.

"Kau masih juga percaya dengan mitos, Nadia? Memangnya kau terlahir tahun berapa? Di zaman sekarang ... Mitos itu sudah tidak ada. Jangan terlalu percaya dengan tahayul. Kalau orang selalu berpikir dengan cara yang bodoh, maka selamanya orang itu tidak akan pernah maju."

"Aku tidak percaya dengan hari sakral. Semua hari itu baik. Dan semua yang kita kerjakan dengan baik, maka hasilnya juga akan baik. Jadi aku minta padamu ... Jangan terlalu bodoh. Jika kau masih berpikiran bodoh seperti ini ... Kau akan kehilangan apa yang seharusnya kau dapatkan."

Nadia mengumpat dalam hatinya. Benar-benar sangat menyebalkan suaminya itu. Selain sombong, angkuh dan selalu ingin menangnya sendiri.

Kini dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya, ia juga tidak rela.

Walaupun pernikahannya tidak didasari oleh cinta, mau tidak mau, ia harus bisa belajar untuk menerimanya dengan ikhlas. Hubungannya dengan Allard sudah digariskan oleh takdir. Dan ia tidak bisa menolak kehendaknya.

"Ya sudah! Terserah kau saja. Tapi kalau ada apa-apa ... Jangan pernah salahkan siapapun. Aku sudah mengingatkanmu, jadi berhati-hatilah."

Nadia kembali mengemasi pakaiannya yang masih lumayan banyak di dalam lemari.

"Ck! Kau itu terlalu kuno. Ini sudah orde baru. Berpikirlah secara normal. Jangan pernah mengait-ngaitkan pemikiranku dengan pikiran tahayulmu itu. Tidak akan pernah terjadi apa-apa padaku, selama aku berhati-hati."

"Sudahlah. Berdebat denganmu itu hanya membuatku kesal. Lebih baik sekarang ayo, kita pergi dari sini."

Nadia menghembuskan nafasnya pasrah. Ia hanya berharap tidak ada keburukan yang menimpa keluarganya. Suaminya memang bermental baja. Tidak bisa dinasehati oleh siapapun.

"Aku masih cukup lama untuk menyelesaikan kemas-kemas ini. Pakaianku terlalu banyak. Aku hanya punya dua tangan untuk mengemasinya. Jika kau mau ... Bantu saja aku mengemasinya," jawab Nadia menggerutu.

"Ck! Apa kau bilang tadi? Aku kau minta untuk mengemasi barang-barangmu? Ogah! Kau pikir ... Aku ini pembantumu apa! Lagian untuk apa kau kemasi semua barang-barangmu yang ada di sini. Di sana kau akan mendapatkan barang-barang yang baru dariku," omel Allard.

Allard mematikan laptop dan menaruhnya di atas meja.

Ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Nadia yang tengah memasukkan pakaian dalamnya ke dalam koper.

"Barang apa itu? Bisa kau tunjukkan padaku?"

Mendapati pakaian dalam Nadia, ia langsung mengejeknya.

"Ck! Ngapain sih. Kau berdiri di sini. Udah! Sono! Pergilah! Tunggu aku di luar. Sebentar lagi aku juga selesai," tegur Nadia.

"Kuminta .... Bersikap baik pada suamimu. Di sini aku bukan pembantumu ya, Nona! Jadi jangan bersikap jutek padaku. Aku sedang bertanya padamu. Aku penasaran dengan apa yang kau masukkan ke dalam kopermu tadi. Bisa kau tunjukkan padaku?"

Seketika Nadia mengeluarkan pakaian dalamnya dan melemparkannya pada Allard.

Sebenarnya ia sangat malu. Tetapi lelaki itu memang sangat menyebalkan.

"Ini yang kau minta. Apa kau ingin memakainya, juga?"

Allard menangkapnya dan mengamatinya sebentar. Lalu memasukkannya kembali ke dalam koper.

"Terlalu kecil. Aku tidak menyukainya," jawab Allard.

Allard menahan tawanya dan segera berdiri tegap menuju sofa.

"Aku juga tidak memintamu untuk menyukainya? Jangan berpikir ... Aku menunjukkan barang-barang milikku ini agar kau menyukaiku. Tidak! Tuan Allard."

Nadia ingin sekali mengumpat. Begitu kesalnya memiliki suami yang begitu dingin.

Angan-angannya ingin memiliki suami yang humoris, kini malah berbanding terbalik. Suaminya sangat dingin, dan juga sombong.

"Memang semua yang kumiliki serba kecil. Dan itu tidak akan pernah bisa memuaskanku. Jadi kau hanya akan menyesal karena sudah menikahi perempuan yang tidak bisa memuaskanmu."

Nadia langsung beranjak dari lemari dan menutup kopernya.

Ia bergegas menuju kamar mandi dan menutupnya cukup kencang.

'Kasar sekali wanita itu. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani melawanku. Tidak! Aku tidak akan membiarkannya untuk berani bersikap kasar padaku.'

'Nadia ... Nadia. Kau pikir ... Kau bisa mengalahkanku. Bahkan apapun yang sudah menjadi milikku ... Akan sangat sulit untuk bisa lepas dariku. Termasuk kau. Jika kau pikir aku tidak bisa membuatmu tunduk padaku ... Jangan pernah panggil aku Allard.'

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh
8.1
Pasca wafatnya Mbah Tini, Amara merantau dari Solo ke Jakarta demi mencari ayah kandung dan menepis stigma anak haram. Ia akhirnya bekerja sebagai pengasuh Arya, cucu konglomerat Hadi Pratama yang terabaikan oleh keluarganya. Di sana, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang hancur karena pengkhianatan istri. Sambil berjuang mengurus bayi dan menenangkan luka hati Fathir, Amara tetap teguh mencari identitas aslinya di tengah keluarga yang hampir runtuh tersebut.
Sampul Novel Cinta yang Kupikir Abadi, Ternyata Bohong
8.0
Aldric dan Keira terikat pernikahan kontrak demi kepentingan finansial keluarga. Setelah dua tahun penuh kepura-puraan, Aldric memilih bercerai demi mantan kekasihnya, tanpa tahu Keira pergi dalam keadaan mengandung. Lima tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali di sebuah kota kecil. Aldric terkejut melihat anak laki-laki yang sangat mirip dengannya. Kini, ia harus memilih antara menebus kesalahan masa lalu atau kehilangan keluarga kecilnya selamanya.
Sampul Novel Dosa Dalam Pelukan Brondong
7.9
Sheana, istri pengusaha kaya berusia 35 tahun, terjebak dalam pernikahan dingin yang hampa. Kesepian membawanya bertemu Ellandra, pemuda 23 tahun yang memikat di sebuah klub malam. Meski awalnya hanya pelarian, Sheana mulai mempertaruhkan rumah tangganya demi pesona Ellandra yang menggoda. Namun, hubungan ini terancam oleh rahasia besar sang suami, kehadiran kekasih Ellandra, serta masa lalu kelam. Di tengah gairah terlarang, Sheana harus memilih sosok yang benar-benar menghidupkan jiwanya.
Sampul Novel ISTRI SIMPANAN CEO
8.0
Almaira, wanita cantik yang masih lajang, mengambil keputusan berisiko dengan menjadi istri simpanan Daffa, seorang CEO tambang yang sangat berpengaruh. Meski Daffa bergelimang harta, ia merasa hampa karena belum memiliki keturunan dari istri sahnya. Demi jaminan ekonomi, Almaira bersedia memenuhi keinginan Daffa. Namun, ia kini terjebak dalam dilema moral dan batin, mempertanyakan kebahagiaannya saat hanya dianggap sebagai pemuas hasrat pria beristri.
Sampul Novel JandA
9.4
Aline Anderson memimpin penerbitan terbesar di kotanya, namun ketidakhadirannya membuat kestabilan perusahaan goyah. Saat ia kembali memegang kendali, ancaman muncul dari penulis emasnya yang ingin menarik karya secara mendadak. Keputusan ini membawa bisnis Aline ke jurang kebangkrutan. Kini, Aline harus menghadapi kerugian besar sekaligus fakta mengejutkan mengenai identitas asli sang penulis di tengah badai konflik yang mulai bermunculan satu per satu.
Sampul Novel Keluar dari Kepompong
8.7
Emma Fowler kembali ke tanah air setelah tiga tahun, namun ia justru berakhir di ranjang Nathan Tate sebagai pendamping. Nathan terpesona tanpa menyadari identitas asli Emma. Saat Emma menagih janji pernikahan lama mereka, Nathan menolak dingin dan menganggapnya hanya saudara. Kecewa, Emma memutuskan hubungan sepuluh tahun itu. Namun, saat ia hendak pergi selamanya, Nathan justru berlutut memohon agar Emma tidak meninggalkannya dan menepati janji lama mereka.