
Dinikahi Ceo Angkuh
Bab 3
Setibanya di kediaman Allard, Nadia mendapatkan sambutan baik dari para pelayan di rumah megah itu.
Allard yang tinggal sendirian jauh dari keluarganya, ia sengaja mengerjakan banyak pembantu untuk mengurus rumahnya yang hampir setara dengan istana.
"Ayo masuk! Biarkan kopermu dibawa oleh pelayan." Dengan berjalan angkuh, Allard memasuki rumahnya dan langsung menuju ruangan tengah.
Nadia mengekor dibelakangnya, diikuti oleh pelayan yang membawakan kopernya.
Nadia mengamati ruangan yang sangat besar dengan perabotan yang mewah, bahkan jauh lebih mewah dibandingkan rumah orang tuanya.
"Kau tinggal dengan siapa di sini?" tanya Nadia dengan menghenyakkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
"Dengan nyamuk. Tapi sekarang dengan macan betina," jawab Allard tanpa menoleh.
"Hah! Maksudnya, aku?" tanya Nadia dengan tatapan melotot.
"Pikir saja sendiri."
Allard kembali berkutat dengan laptopnya. Sebelum ia pergi menuju tempat meeting, ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu.
"Tuan! Ini kopernya ... Mau ditaruh di mana?" tanya pelayan.
"Terserah! Mau kalian taruh di gudang, atau kalian taruh di halaman rumah ... Terserah," jawab Allard dingin.
Sudah berapa lama ia mempekerjakan orang, tapi tidak juga peka dengan apa yang seharusnya mereka lakukan. Dan itu membuatnya sangat kesal.
Nadia langsung melotot ikut emosi dengan sikap Arogan Allard terhadap pembantunya.
Tak bisakah suaminya bersikap baik terhadap sesama. Walaupun memiliki segalanya, Allard harus tetap menghormati orang yang ada di sekitarnya. Termasuk pembantu di rumahnya, yang sudah setia melayaninya.
"Hey! Apa yang kau katakan. Mereka bertanya padamu baik-baik, dan kau menjawabnya begitu buruk. Apakah ini yang dinamakan pemimpin yang baik? Jangan bersikap sombong seperti ini, Tuan. Mereka hanya bertanya padamu. Dan kau harus menjawabnya dengan baik. Mereka juga punya perasaan."
Allard diam tidak menggubris ucapan istrinya. Ia membiarkan Nadia mengomelinya sampai puas. Setelah beberapa detik kemudian, ia menoleh pada Nadia dengan tatapan dingin.
"Sudah puas, ngomongnya? Kalau sudah puas bicara ... Sekarang giliranku yang bicara."
Nadia membuang mukanya, tak suka ditatap buruk oleh suaminya.
Ia tidak boleh sampai terlihat lemah di depan suaminya. Jika ia lemah, maka suaminya akan semakin gencar untuk menindasnya.
"Sudah berapa tahun mereka bekerja padaku. Mereka sudah sangat lama tinggal di sini. Dan mereka selalu bertindak bodoh didepanku. Setiap aku perintah mereka untuk menaruh barang-barang milikku ... Mereka selalu saja bertanya. Mau ditaruh di mana barangnya, Tuan? Dan itu membuatku sangat kesal, tau nggak!"
Kembali Nadia menoleh dengan tatapan gemasnya. "Loh! Bukannya memang harus seperti itu? Mereka tidak salah bertanya dulu padamu. Jika mereka menaruh barang-barang secara asal, dan barang-barangmu hilang ... Sudah pasti, merekalah yang akan kau tuduh. Mereka bekerja untuk mendapatkan gaji. Dan mereka juga minta untuk dihargai. Kau memang terlalu berlebihan. Sikapmu sangat Arogan, kau angkuh!"
Nadia membenarkan apa yang sudah dilakukan oleh pembantunya.
Pembantu bekerja dengan sangat teliti dan baik-baik. Jika saja mereka bertindak semaunya sendiri, maka mereka akan mendapatkan masalah dari majikannya.
Ia paling tidak suka dengan sikap Allard yang sombong. Selalu menganggap dirinya paling benar, dan menganggap orang lain selalu salah di matanya.
"Ngaco! Omonganmu itu memang ngawur. Pemikiran orang-orang yang bodoh. Mereka dipekerjakan di sini untuk menjadi orang yang berguna. Aku tidak suka dengan orang-orang yang bodoh. Setiap melakukan pekerjaan, harus bertanya dulu pada majikannya. Aku rasa mereka nggak ada bedanya sama kamu. Mereka bodoh! Kau pun juga bodoh."
Tak mau kalah dan disalahkan, Allard memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya.
"Sudahlah! Aku capek ngomong sama orang-orang seperti kalian. Aku tegaskan sekali lagi, bi! Letakkan koper itu di kamarku. Aku juga minta ... Ganti semua barang-barang yang ada di kamarku. Sprei, gorden, apa saja yang masih melekat di sana. Ingat! Aku minta ... Ganti yang baru. Oke!"
Allard langsung mengemasi laptopnya dan dimasukkan ke dalam tas kerja, hendak pergi meeting.
Nadia menatapnya malas. Segitu sombongnya laki-laki yang kini sudah menjadi pasangan hidupnya.
'Apa tidak salah aku menikah dengan laki-laki seperti ini. Apa dia bisa berubah menjadi orang yang lebih baik? Oh! Ya Tuhan ... Ternyata bukan Andi yang menjadi jodohku. Andai saja dia tahu aku sudah dinikahi oleh laki-laki lain ... Bagaimana tanggapannya. Dia pasti akan sangat kecewa padaku.'
Allard berdecak menatap Nadia yang terlihat tengah melamun. Yang ada di otaknya, berfikir Nadia telah memikirkan orang lain.
"Apa yang kau lamunkan, Nadia? Jangan bilang ... Kau lagi ngelamunin pacarmu. Awas aja kalau sampai kau membuat ulah denganku. Kau bahkan tidak tahu siapa aku," seru Allard.
"Ck! Apaan sih. Siapa juga yang lagi ngelamun. Jangan asal tuduh, kalau tuduhanmu itu tak benar, bisa menimbulkan fitnah."
Nadia menggerutu dengan mukanya manyun menatap Allard.
Allard sendiri yang mengatakan, menikahinya karena terpaksa. Bahkan dia mengatakan, kalau dirinya bukanlah wanita pilihannya. Tapi kenapa rasa curiga selalu saja ia tuduhkan padanya.
Benar-benar laki-laki yang menyebalkan. "Kau ini aneh! Bukannya kau yang bilang sendiri, kalau aku ini bukanlah wanita pilihanmu. Kau menikahiku karena terpaksa. Hanya karena bujukan orang tuaku, kau menikahiku. Kita nggak ada cinta! Jadi lupakan kecurigaanmu itu. Atau jangan-jangan ..."
"Jangan-jangan apa?" Allard menyahut dengan cepat.
Nadia kelepasan. Malu sendiri dengan ucapannya. Allard semakin mendesaknya.
"Kenapa diam! Ayo cepat katakan. Kau tadi mau bilang apa?"
"Nggak! Nggak ada apa-apa," jawab Nadia.
"NADIA! CEPAT KATAKAN!"
Tatapan garang suaminya mampu membuatnya menegang ketakutan.
Tak ingin memancing emosi Allard, akhirnya Nadia mengakuinya.
"Baiklah-baiklah. Akan kukatakan!"
"Jangan-jangan kau cemburu padaku. Kau tidak punya hak untuk cemburu padaku. Kita menikah bukan karena keinginan, tapi paksaan. Jadi jangan berlebihan memperlakukanku ..."
Brak!!
Allard langsung membanting tas kerjanya ke sofa. Tak peduli jika laptop yang ada di dalamnya rusak, dengan harganya yang tentu saja lumayan mahal.
Sedari ijab kabul, sampai membawa Nadia pulang ke rumahnya, ia tak pernah mendapati Nadia diam, menurut padanya.
"Ya! Kita menikah bukan karena cinta. Tapi aku tak suka caramu bicara. Aku tak cemburu padamu. Aku hanya tak ingin kau membodohiku!"
Allard marah hanya karena ucapan yang sepele menurut Nadia.
"Aku menikahimu karena papamu yang minta. Jika aku tak kasihan padanya ... Aku bahkan tidak sudi untuk menikahimu."
"Dengar! Nadia. Aku paling tidak suka dibantah. Aku bukan laki-laki yang lemah dan harus tunduk pada perempuan. Jika aku sudah menikahimu ... Itu berarti kau harus patuh padaku."
Allard berjalan mendekati Nadia yang masih duduk di sofa. Ia memegang kedua bahunya dengan cengkramannya cukup keras.
Seketika raut wajah Nadia berubah menjadi menciut. Keringat dingin, tiba-tiba saja keluar dari tubuhnya.
"Maaf ... Aku minta maaf. Aku tadi hanya ..."
"Di sini ... Aku adalah kepala rumah tangga. Apapun yang menjadi keputusanku. Terima atas tidak! Kau harus tetap menerimanya. Berhenti untuk menceramahiku."
Allard mendorong bahu Nadia hingga terjatuh di sofa. Setelah itu memperbaiki pakaiannya.
"Aku ingatkan sekali lagi. Kau ... Jangan coba-coba untuk melanggar peraturan yang telah kuterapkan. Kau tak punya hak apapun di rumah ini. Kau hanya boleh patuh padaku saja. Apa yang kulakukan ... Kau tidak punya hak untuk mengatur-ngaturku. Jika kau masih memiliki kebiasaan yang buruk ... Bersiap-siaplah untuk menerima hukumanku. Kuperingatan sekali lagi padamu. Bersikaplah baik padaku, sebelum menyesal!"
Anda Mungkin Juga Suka





