
Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun
Bab 6
: Malam Pertama
“Pak ini saya tidur di mana?” tanya Ryn pada Kylar yang baru selesai mandi.
Pria itu keluar dari kamar mandi hanya dengan kaus putih polos yang menempel sempurna di badan berototnya. Rambutnya masih sedikit basah, menetes pelan di leher, dan untuk sesaat Ryn lupa caranya berkedip normal.
Hanya perempuan yang tidak normal yang tidak akan menelan ludah melihat pemandangan itu.
Kylar melirik ke arah Ryn yang masih duduk kaku di kursi dekat meja sudut kamar. “Terserah kamu. Mau di sofa, oke. Mau di karpet, oke.”
Serius? Tidak ada opsi kasur?
Pria ini bisa beli rumah seperti beli kopi, tapi tidak bisa menawarkan satu tempat tidur untuk istrinya, meski hanya istri kontrak?
Namun, meminta tidur di kasur sementara Kylar di sofa rasanya juga keterlaluan.
“Baik, Pak. Saya–”
“Ryn.” Kylar memotong, suaranya datar, tapi tidak kasar. Dia berjalan ke tepi ranjang, duduk santai. “Stop panggil ‘Pak’. Kamu kayak lagi presentasi, bukan tinggal bareng suami.”
Ryn menelan ludah. Lagi-lagi, dia dikomentari. “Terus saya harus panggil apa?”
“Nama aja.”
Ryn ragu sebentar, lalu mencoba. “Kylar?”
“Hm.” Kylar mengangguk tipis.
“Oke, P–” Ryn nyaris kebiasaan, lalu buru-buru membenahi, “Kylar.”
Kylar tidak menatapnya, tapi ada sesuatu seperti senyum kecil di sudut bibirnya. Tipis, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat Ryn makin kesal karena rasanya seperti dia baru saja kalah satu poin.
Ryn bangkit, berjalan menuju walk-in closet untuk membuka kopernya.
Lima belas menit kemudian, Ryn keluar dari kamar mandi. Rambutnya setengah kering, wajahnya bersih tanpa riasan.
Saat dia kembali ke kamar, Kylar sudah berbaring di ranjang. Satu tangan memegang tablet. Satu kaki sedikit tertekuk santai. Lampu tidur menyala hangat, membuat sudut wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya.
Ryn menelan ludah lagi, kali ini karena bingung harus bersikap seperti apa.
“Serius kamu pakai baju begitu?” tanya Kylar sambil melirik sekilas.
Ryn menunduk, menatap outfit-nya sendiri. Sweater tebal kebesaran yang menutupi setengah pahanya, dipasangkan dengan celana piyama panjang. Kombinasi yang membuatnya terlihat seperti orang yang siap tidur hibernasi sampai gajian berikutnya.
“Memang ada yang salah?” jawab Ryn.
“Maksudku, kamu kelihatan kayak mau ke kutub,” komentar Kylar sarkas.
“Dingin, Ky. Aku nggak biasa pakai AC di rumah,” kilah Ryn sambil mendengus kecil. Dia berjalan ke sofa. Di sana sudah ada bantal dan selimut baru yang ditata rapi. Dia duduk di ujung sofa, lalu menarik selimut sampai dada.
Kylar menatap Ryn sebentar. Seperti sedang menilai kenapa istri kontraknya tidur dengan mode darurat bencana.
“Kamu takut aku apa-apain?” tebak Kylar, suaranya datar, tapi menyebalkan.
Ryn langsung menoleh. “Bukan begitu.”
Kylar meletakkan tablet di atas dadanya sebentar, menatap Ryn lurus. “Tenang. Aku nggak ada niat nidurin kamu. Nggak usah kepedean.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan, tapi entah kenapa justru membuat Ryn semakin yakin pada rumor tentang Kylar yang tidak menyukai perempuan itu mungkin tidak sepenuhnya salah.
Ryn memilih untuk mengabaikan, lalu berbaring. Dia memunggungi Kylar, menarik selimut sampai dagu, dan memejamkan mata.
Namun, kantuk tidak datang. Mungkin karena dia tidak terbiasa tidur di tempat baru.
Ryn menggeliat, mengubah posisi. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dia tetap terjaga.
Di ranjang, Kylar sudah diam. Entah masih sibuk atau sudah tidur, Ryn tidak berani menoleh. Karena kalau dia menoleh, dia takut malah makin sulit tidur.
Tiba-tiba saja sebuah tangan menyentuh bahunya. Ryn tersentak. Napasnya tercekat. Tubuhnya kaku seketika. Dia menoleh cepat.
Kylar berdiri di samping sofa. Rambutnya sedikit berantakan, matanya redup. “Kamu nggak bisa tidur?” tanyanya pelan.
Ryn menelan ludah, masih tegang. “A-aku …”
Kylar menghela napas pendek, lalu mengusap wajahnya sebentar seperti orang yang kesal pada sesuatu.
“Tidur di kasur,” titah Kylar.
Ryn membeku. “Hah?”
Ini ajakan tidur satu ranjang atau bagaimana?
“Aku yang tidur di sofa,” lanjut Kylar datar.
Ryn langsung mengembuskan napas lega. “Nggak usah, Ky. Aku bisa–”
“Ryn,” potong Kylar. Nadanya tidak keras, tapi tidak memberi pilihan. “Kalau besok kamu telat masuk kerja, aku potong gaji kamu.”
Nah, ‘kan? Selalu itu ancamannya.
“Oke,” jawab Ryn pasrah. Dia bangkit pelan dan berjalan ke ranjang dengan langkah hati-hati, lalu merangkak masuk ke bawah selimut.
__
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit ketika Ryn sudah siap dengan pakaian kerja. Blouse putih, blazer warna abu, dan celana bahan senada.
Ryn keluar dari walk-in closet dengan tas kerja di tangan, lalu berhenti karena melihat Kylar masih tidur di sofa.
Ryn mengernyit. Ini pemandangan aneh. Kylar biasanya seperti jam dinding: tepat waktu, tegang, tidak pernah terlihat lengah.
Namun, membangunkan juga bukan ide bagus. Mengingat hubungan mereka masih sangat canggung.
Akhirnya Ryn memilih untuk turun lebih dulu.
Di ruang makan sudah ada Ratna. Begitu melihat Ryn, Ratna menatap rambutnya yang masih sedikit lembap, lalu berdecak pelan.
“Aduh, Nyonya. Kalau habis keramas, dikeringkan dulu rambutnya. Nanti pusing,” ujar Ratna, ambigu tapi terdengar seperti perhatian.
Ryn berhenti sepersekian detik. Lalu membenarkan rambutnya, berusaha terlihat biasa saja. “Oh. Iya, Bu.”
“Duduk dulu, Nyonya. Sarapan,” sambung Ratna.
Ryn yang tadinya berniat langsung berangkat kerja, akhirnya duduk. Di depannya sudah ada segelas air dan semangkuk salad.
Sarapan orang kaya memang begini, ya?
Lima belas menit kemudian, Kylar turun dengan langkah tergesa. Rambutnya masih setengah basah, jas abunya masih belum sempurna, tapi wajahnya tetap punya aura CEO yang siap memotong anggaran.
Kylar baru menarik kursi ketika Ratna datang membawa piring tambahan. Dia meletakkannya di meja, lalu menatap Kylar dengan senyum yang terlalu paham.
“Wah. Tuan Kylar tumben baru turun jam segini,” komentar Ratna ringan.
Kylar hanya melirik sebentar. “Saya sedikit terlambat bangun.”
Ratna mengangguk paham, dia menaruh sendok, merapikan posisi piring, lalu menambahkan dengan nada yang terlalu santai untuk dampaknya, “Malam pertamanya sukses ya, Tuan? Pantas tidurnya nyenyak.”
Anda Mungkin Juga Suka





