
Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun
Bab 3
: Kita Menikah Hari Ini!
Ryn bergeming. Dia bingung harus mengikuti pemikiran gilanya, atau tetap pura-pura waras dan bekerja seperti biasa.
“Jangan buang waktu saya. Kalau kamu cuma mau bilang ‘tidak’, bilang sekarang,” gertak Kylar.
Namun, Ryn tetap duduk tanpa bicara apapun.
Kylar menghela napas pendek, tipis. Bukan kesal besar, tapi cukup untuk membuat Ryn merasa seperti anak magang yang salah memasukkan angka.
“Keluar, kemasi juga barang-barangmu,” putus Kylar akhirnya.
Dadanya Ryn mengencang, matanya membulat. Jadi, dia akan langsung dipecat?
“Tidak, se–sebentar,” kata Ryn cepat. “Kalau saya minta waktu untuk berpikir, boleh, Pak?”
Kylar menatap Ryn seperti menilai apakah permintaan itu layak diberi. Namun, belum sempat Kylar bicara, ponsel Ryn bergetar dua kali.
Ryn sedikit terkejut.
“Maaf, Pak, boleh saya lihat dulu ponsel saya, Pak?” tanya Ryn hati-hati.
Ryn tahu Kylar tidak suka diinterupsi. Tapi, dia pikir mungkin itu panggilan soal pekerjaannya mengingat ini masih jam kerja. Atau mungkin itu HRD?!
Kylar berdecak pelan, lalu berkata dengan malas, “Jadi, kamu minta waktu untuk berpikir atau cek ponselmu?”
Ryn menelan ludahnya, lalu menjawab, “Saya cek ponsel saja, Pak.”
Kalau dia memilih itu, artinya dia juga bisa punya sedikit waktu tambahan untuk menata pikirannya sendiri, kan?
Bagus, ide yang bagus, Ryn!
Kylar menatap jam tangan mahalnya. “Tiga menit.”
Ryn mengangguk cepat. Dia merogoh ponsel dari saku blazer dengan gerakan secepat kilat.
Namun, ternyata itu bukan panggilan atau pesan soal pekerjaan. Melainkan pesan haram yang bisa membuat nyawa Ryn berkurang satu bar.
Pesan pertama dari Acha, lengkap dengan foto.
[Gaun pengantin ini ternyata lebih cocok buat aku daripada kamu.]
Ryn menatap layar itu beberapa detik terlalu lama. Dia tahu gaun itu. Dia memilihnya untuk pernikahannya dengan Andy. Dan sekarang gaun itu dipakai Acha dengan bangga, lalu dijadikan bahan ejekan.
Ryn mengembuskan napas kasar lewat hidung. Kepalanya panas, tapi menahan mulutnya untuk tidak mengumpat.
Pesan kedua dari Dini, ibu angkatnya.
[Ryn. Kamu itu gimana sih?! Cicilan pinjol telat. Kamu sengaja ya bikin Mama malu?! Tetangga pada ngelihatin debt collector datang ke rumah kita. Nggak tahu diri memang kamu!]
Napas Ryn tercekat.
Ini bukan sekadar marah. Ini ancaman yang dibungkus rasa malu, rasa bersalah, dan kebiasaan lama mereka. Melempar semua beban ke Ryn, lalu menyuruhnya bersyukur karena masih dianggap keluarga.
Selama ini, Ryn memang tinggal dengan keluarga angkat yang tidak pernah benar-benar menganggapnya keluarga. Dia tidak hanya diberi atap dan piring makan, tapi juga diberi beban, tuntutan, dan rasa bersalah tiap kali dia tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka.
Ryn menatap pesan itu tanpa berkedip.
Kalau saja Ryn menikah dengan Andy, mungkin dia tidak perlu lagi tinggal di rumah itu. Cicilan memang tidak otomatis hilang, tapi setidaknya dia tidak harus menghadapi kemarahan keluarga angkatnya setiap hari.
Ryn menelan ludah. Tangannya mengencang menggenggam ponsel. Tahu begitu, dia tidak perlu cek ponselnya saja tadi.
“Selesai.” Suara Kylar dingin, tidak sabar. “Silakan keluar.”
Ryn mengangkat kepala. Ketika bertemu iris hitam Kylar yang stabil, Ryn tiba-tiba sadar, mungkin pernikahan kontrak ini bukan ide gila.
Mungkin ini satu-satunya jalan keluar yang masuk akal dari hidupnya yang belakangan terasa seperti kubangan.
Ryn menarik napas dalam.
Lalu, dengan sopan yang tetap terjaga walau hidupnya sudah hampir runtuh, Ryn berkata, “Boleh saya lihat kontraknya dulu, Pak?”
Kylar mengangguk. Tidak terkejut. Seolah dia sudah tahu Ryn akan sampai ke titik ini. Dia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu dengan kecepatan yang menyebalkan.
“Cek e-mail kamu,” suruhnya.
Ryn mengerjap, cepat sekali pria ini bertindak. Dia membuka ponsel, lalu membacanya pelan.
Pernikahan kontrak selama dua tahun. Kompensasinya bonus dan kenaikan gaji 20%. Ryn harus tampil sebagai istri Kylar di depan keluarga dan publik kalau dibutuhkan. Satu atap tanpa perasaan. Dan kalau ada yang melanggar, dendanya 200 juta rupiah.
Ryn menatap angka itu agak lama. Bukan karena terharu, tapi karena sadar ini bukan lagi kesepakatan main-main. Ini kontrak yang kalau dilanggar bisa mengubah hidupnya jadi cicilan tanpa ujung.
Secara garis besar, Ryn sebenarnya tidak dirugikan. Dia mendapat bonus dan kenaikan gaji. Dia punya alasan legal untuk keluar dari rumah keluarga angkatnya tanpa drama panjang.
Lalu, secara tidak langsung, dia juga bisa balas dendam pada Acha dan Andy. Secara, suaminya adalah bos mereka semua.
Soal perasaan? Itu tidak sulit.
Ryn tidak mungkin jatuh cinta pada bos yang menyebalkan, suka mengatur, dan bicaranya setajam silet.
Lagipula, bukankah memang ada kabar bahwa Kylar tidak tertarik pada perempuan?
Kalau rumor itu benar, kontrak ini justru aman.
Selesai membaca, Ryn mengangkat kepala.
Ryn menghela napas, lalu berkata dengan nada tenang yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, “Saya setuju.”
Kylar tidak terlihat lega. Dia hanya mengangguk kecil, seperti baru saja menyelesaikan rapat vendor.
“Tanda tangani sekarang,” perintah Kylar lugas.
Ryn menurut. Dia membubuhkan tanda tangan digital di dokumen itu dengan jemari yang sedikit gemetar, tapi dia memaksa tetap stabil.
Begitu selesai, Kylar berkata tiba-tiba, tanpa transisi, “Kita menikah hari ini.”
Ryn mendongak cepat. “Hari ini?! Saya kira minggu depan?”
“Kalau bisa diselesaikan hari ini, kenapa harus ditunda?” ucap Kylar tenang, tapi terdengar seperti menegur staf yang salah input angka.
Ryn menatap jam di dinding. “Pak, ini sudah sore. KUA rasanya sudah tutup.”
Kylar bersandar lagi. “Gampang.”
Tanpa menunggu reaksi Ryn, Kylar berdiri dan menekan tombol interkom di mejanya untuk memanggil asisten pribadinya.
Pintu terbuka. Naufal muncul dengan tablet di tangan dan wajah profesional yang selalu berhasil membuat ruangan terasa seperti ruang sidang.
“Ada apa, Pak?” tanya Naufal sopan.
Kylar duduk kembali dengan tenang, lalu berkata seolah sedang memesan makan malam. “Siapkan dokumen pernikahan saya. Hari ini.”
Naufal berkedip. Satu kali. Dua kali. Wajahnya tetap profesional, tapi matanya jelas baru saja mengalami benturan kenyataan.
“… Dokumen pernikahan? Untuk siapa, Pak?”
“Saya.”
Naufal menelan ludah. “Dengan siapa, Pak?”
Kylar melirik ke arah Ryn sebentar, lalu kembali ke Naufal. Suaranya tetap datar, seolah ini instruksi paling normal sedunia.
“Dengan wanita di depanmu itu.”
Anda Mungkin Juga Suka





