
Diminta Menjadi Madu
Bab 3
Setelah kepergian Bram dari rumah.
Ningroem menghirup oksigen dari luar sebanyak-banyaknya,l untuk menghilangkan rasa sesak yang sedari tadi terasa menghimpit paru-parunya. Ia pun menutupi gurat sedih di wajahnya dengan tetap tersenyum supaya anak-anaknya tidak bertanya tentang ayahnya.
"Mah..., mah..., Aa, mau makan!"
Fahmi memegang tangan Ningroem mengguncangkannya. Wanita berlesung pipi itu menoleh ke arah anak sulungnya.
"Sebentar, ya."
Ningroem menaruh Denis di lantai membiarkannya untuk bermain. Anak kecil berambut ikal merangkak sesukanya. Ningroem berdiri mematung termenung di lantai memperhatikan Denis bermain untuk sesaat.
Anaknya minta makan sedangkan Bram tidak memberikannya uang sepeserpun untuk hari ini. Sebetulnya Ningroem bingung tetapi ia tetap bersikap biasa saja demi untuk menjaga kewarasan kedua anaknya.
Ningroem melangkahkan kakinya gontai menuju lemari baju. Ia hendak mencari celengan yang disembunyikannya di balik tumpukkan baju. Supaya tidak diketahui oleh Bram.
Wanita lesung pipi ternyata masih punya celengan walaupun isinya tidak banyak karena hanya menyisihkan sedikit dari sisa uang belanja dan juga sisa uang jajan dari kedua anaknya jika sore harinya tidak jajan.
Ningroem melangkah ke dapur mengambil pisau untuk merobek celengan plastik. Kemudian wanita berlesung pipi mengeluarkan isi celengannya hingga isinya bertebaran di lantai.
Ningroem mengambil uang yang berceceran di lantai, menghitungnya. Tak disangka jumlahnya ternyata ada delapan ratus lima puluh rupiah. Dengan uang ini dirinya bisa membeli lauk matang di Mbak Wiwi. Selarik senyum tersungging di wajahnya manisnya.
Wanita berlesung pipi merapikan uang hasil dari celengannya. memasukan ke dalam dompet beberapa lembar, seperlunya saja. Kemudian sisanya ia sembunyikan lagi untuk berjaga-jaga seumpama Bram tidak pulang lagi hari ini.
Wanita berlesung pipi berdiri di pintu memanggil Denis
Putra bungsunya merangkak menghampiri dan berdiri dengan berpegangan pada kaki Ningroem. Wanita berlesung pipi meraih tubuh mungilnya kemudian menggendongnya.
"Aa, ayo mau ikut gak?" tanya Ningroem pada anak sulungnya yang sedang asyik menonton tv.
"Mama mau kemana?" anak sulungnya malah balik bertanya.
"Mama, mau beli lauk untuk makan kita."
"Aa, di rumah saja, gak mau ikut," sahut Fahmi
"Ya udah. Mama, pergi dulu sebentar. Jangan kemana-mana?" pesan Ningroem pada Fahmi putra sulungnya.
Ningroem menggendong Denis dengan kain gendongan, keluar dari rumah untuk membeli lauk matang di Mbak Wiwi tetangganya.
Biasanya Ningroem masak. Namun, karena suaminya tidak memberikan uang belanja berhari-hari. untuk menghemat pengeluaran terpaksa Ningroem sengaja membeli makanan jadi di warung nasi. Supaya pengeluarannya lebih hemat tinggal langsung makan. Tidak perlu ribet oleh segala tetek bergerak bumbu yang dibutuhkan untuk memasak.
Ningroem berjaga-jaga jika suaminya--- Bram pulang beranggapan jika anak istrinya belum makan. Bukankah berbohong sedikit untuk kebaikan tidak ada salahnya?
Wanita berlesung pipi membeli sayur sop, sambal, tahu dan nasi jadi total makanan yang harus di bayarannya senilai lima belas ribu rupiah.
Setelah selesai Ningroem buru-buru pulang.
"Dari mana Ning," tanya Mbak Maya tetangganya menyapa Ningroem ketika melintas melewati rumahnya.
"Habis beli lauk Mbak," sahut Ningroem menoleh menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Tumben kamu nggak masak?"
"Bagaimana mau masak Mbak, wong suamiku nggak ngasih-ngasih uang sudah beberapa hari ini," sahut Ningroem kesal terlihat dari raut wajahnya yang masam.
"Yang sabar Ning, ini ujian," tipal Maya.
"Bukannya nggak sabar Mbak, hanya saja jika tidak dikasih uang dari mana kami bisa makan. ini saja Aku bobol celengan," jelas Ningroem kesal seolah ingin meluapkan kekesalannya pada Maya.
Maya yang merasa di omelin oleh Ningroem diam saja tidak membalas ucapan tetangganya.
Sesaat kemudian Ningroem menyadari jika ucapannya telah melukai hati Maya. Sehingga ia sedikit tersinggung dengan ucapan Ningroem. Kemudian wanita berlesung Pipi segera minta maaf atas ucapannya tadi.
"Mbak maaf kok Aku jadi ngomelin Mbak, habis aku sedang emosi banget."
"Gak apa-apa Ning, Mbak mengerti kamu lagi banyak pikiran sehingga tak sengaja meluapkannya padaku," sahut Maya yang masih memegang sapu hendak menyapu lantai tetapi tidak diteruskan ketika melihat Ningroem lewat jadi malah mengobrol.
Wanita berlesung pipit merasa lega karena ternyata tetangganya tidak marah padanya.
"Ning," sapa Yesi tetangga kontrakan juga.
"Ada apa?"
"Bisa ikut aku, sekarang?" tanyanya.
"Kemana? Ngapain?" Ningroem balik bertanya.
"Karyawan di tempat Aku bekerja sakit. Aku sama si bos di suruh cari gantinya, kamu mau gak? gajinya harian lima puluh ribu, jika ingin diambil bulanan juga bisa," jelas Mbak Yesi.
"Aku mau lah kalau gaji segitu, tapi bagaimana dengan Denis?" Ningroem menatap Denis yang berada dalam gendongannya.
"Titipkan saja dulu sama Mbak Ratna, dia 'kan belum punya anak nanti upahin, bagaimana? Jadi kamu bisa kerja untuk membiayai hidupmu juga kedua anakmu."
Yesi memberikan saran pada Ningroem supaya dia tetap menghasilkan uang, anaknya juga ada yang menjaga.
"Hem betul juga, Aku tanya Mbak Ratna dulu deh? moga-moga dia mau Aku titipin Denis."
Ningroem bergegas pergi meninggalkan Yesi dan Maya yang sedang duduk di depan kontrakan.
Wanita berlesung Pipi melangkah menuju kontrakan sebelah rumahnya, tepatnya Rumah Mbak Ratna.
Mengetuk pintu, memanggil namanya.
"Mbak."
"Masuk saja, aku lagi di dapur. Lagi goreng ikan nanggung takut gosong!" teriak Ratna dari arah dapur
Ningroem yang sudah mendapatkan izin untuk masuk. Segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Ratna. Tercium bau harum ikan yang di goreng dari arah dapur memenuhi ruangan. Membuat perut Ningroem keroncongan karena sedari tadi belum diisi nasi. Namun, Ningroem tidak menghiraukannya karena ia menemui Rara bukan untuk menumpang makan.
Akan tetapi ada keperluan lain, ingin menitipkan anaknya beberapa jam saja pada Ratna. Supaya ia bisa mencari uang untuk menghidupi keluarganya sendiri. Ningroem mencoba untuk hidup mandiri tanpa bergantung pada Bram lagi. Mulai detik ini.
"Ada apa, Ning?" tanya Ratna setelah Mirna sampai di dapur.
Tangannya sibuk membolak balik ikan mujair yang berada di dalam wajan.
"Mbak, Aku mau minta tolong tapi bisa nggak, ya?" tanya Ningroem sedikit ragu ingin mengungkapkan keperluannya pada Ratna.
"Memang ada apa? kalau mau pinjaman uang? jujur Aku lagi nggak punya, Ning."
Ratna langsung menduga jika Ningroem ingin meminjam uang seperti hari-hari sebelumnya.
"Bukan, bukan itu maksudku, Aku hanya ingin titip Denis satu atau dua jam saja bisa enggak ya? nanti Mbak aku beri upah jagain nya."
Ningroem menjelaskan keperluannya pada Ratna.
"Boleh kalau hanya sebentar, Mbak, mau kerja lagi, ya?"
"Iya Mbak, aku jarang di kasih uang sama Mas Bram, kalau nggak nyari kami makan dari mana?" sahut Ningroem lirih.
"Mbak, percaya Denis sama Aku 'kan?" tanya Ratna meyakinkan Ningroem sekali lagi atas keputusannya menitipkan anaknya ke padanya.
"Tentu setahu Aku, Mbak orang baik jadi Aku percaya sepenuhnya sama, Mbak!" Jelas Ningroem mantap.
"Titip anakku ya Mbak, kalau Mbak lagi repot bisa taruh di roda saja. Dia anaknya anteng kok tidak rewel."
Ningroem melepaskan kain gendongan, menyerahkan Denis pada Ratna.
"Denis sama ibu dulu ya? mama pergi sebentar cari uang buat Dede.
Denis yang belum paham pada ucapan Ratna menangis.
Setelah mencium Denis yang masih menangis dalam gendongan Ratna. Ningroem menghampiri Yesi, yang telah menunggunya dari tadi di teras rumah Ningroem.
Kemudian Ningroem menghampiri Fahmi Setelah berpamitan pada anak sulungnya wanita berlesung pipi kembali menemui Mbak Yesi yang sedang menunggunya.
Ningroem yang masih merasa tak tega meninggalkan anaknya, berpesan sambil berjalan menghampiri Mbak Yesi.
Anda Mungkin Juga Suka





