Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIKIRA MISKIN

DIKIRA MISKIN

Yudi dan Antika kerap menjadi sasaran cemoohan para kakak ipar yang memandang rendah kondisi ekonomi mereka. Di balik hinaan tersebut, pasangan ini sebenarnya telah meraih kesuksesan besar selama menetap di kota. Begitu fakta kekayaan mereka terungkap, sikap sinis keluarga besar seketika berubah menjadi upaya untuk mendekat demi keuntungan pribadi. Akankah Yudi dan Antika menerima perubahan sikap yang mendadak ini setelah sekian lama diremehkan?
Bab
Bagikan

Bab 2

DIKIRA MISKIN 3

Mbak Wiwid terus saja memohon agar aku mau membantunya. Mungkin sudah saatnya aku mengatakan yang sebenarnya agar mereka tidak merendahkanku lagi. Namun, sepertinya aku harus minta izin dulu pada Mas Yudi. Apakah ia mengizinkan atau tidak kalau aku bilang tentang kesuksesan kami pada mereka.

"Ada apa ini, Wid?" Tiba-tiba Mbak Ranti datang dengan tergopoh-gopoh. Ia adalah anak sulung dari keluarga Mas Yudi.

Rumah Mbak Ranti hanya berjarak dua rumah dari rumah Mbak Wiwid. Sungguh beruntungnya ibu mertuaku, punya anak-anak yang punya tempat tinggal dekat dengan dirinya. Jadi, setiap hari bisa bertemu dengan para anak perempuannya.

"Aku punya hutang, Mbak, mereka ini para penagih hutang yang memberi peringatan kalau utangku sudah jatuh tempo seminggu lagi," ucap Mbak Wiwid lirih namun masih bisa kudengar suaranya.

"Terus?"

"Ya, seminggu lagi duitnya harus ada padahal aku belum punya uang dan aku mau pinjam sama Antika," jawab Mbak Wiwid lagi seraya memainkan jari tangannya.

"Apa? Mau pinjam ke Antika? Yang benar saja kamu ini? Antika mana ada duit?" ucap Mbak Ranti dengan nada tinggi. Aku tahu, Mbak Ranti juga sering menghinaku, mereka memang tidak ada bedanya, itulah yang membuat kami tidak betah tinggal di kampung ini.

Mbak Wiwid menunduk sambil memainkan jari tangannya, ia tidak berani melihat ke arah kakaknya yang berdiri dengan berkacak pinggang.

"Ya, mau gimana lagi, Antika, kan saudara kita juga," jawab Mbak Wiwid.

"Saudara, ya saudara. Kalau kamu sakit atau pegal-pegal karena kecapekan, boleh lah kamu minta bantuan untuk minta dipijit atau kerokin, intinya kita bisa minta bantuan dia kalau yang nggak ada hubungannya dengan uang." Ucap Mbak Ranti terus saja merendahkanku. Terus saja, Mbak, nanti kamu akan pingsan saat mengetahui yang sebenarnya kalau adik lelakimu yang selalu kamu hina sudah sukses.

"Benar juga, ya, kenapa aku malah minta bantuan ke Antika yang jelas-jelas tidak punya uang, bisa-bisa dia minjamin aku uang berupa daun," ujar Mbak Wiwid sinis.

Aku hanya bisa menghela napas perlahan, tadi ia merengek minta bantuan dan dalam sekejap berubah menghina seperti ini.

"Kalau kamu butuh bantuan, bilang ke Mbak dong, jangan ke Antika, pasti akan mbak bantu. Kamu, kan adik perempuanku satu-satunya," ucap Mbak Ranti dengan menepuk dada penuh kesombongan.

"Iya, Mbak, aku akan pinjam ke Mbak Ranti saja. Tik, nggak usah kege-eran ya, aku nggak jadi pinjam uang ke kamu yang sudah jelas tidak akan kasih pinjam karena tidak punya uang," ucap Mbak Wiwid lagi.

Apakah dia pikir aku akan meminjamkan yang aku begitu saja pada orang sombong seperti dia meskipun aku ada uang?

"Iya, Mbak , aku juga nggak akan pinjamin uang, kok, meski sebenarnya aku punya uang," aku tersenyum, terpaksa, meski hati ini sebenarnya rasanya bergemuruh setiap kali mendengar hinaan dari kakak suamiku itu.

"Nggak usah mimpi punya uang kamu, Tik, uang dari mana, Yudi saja kerjanya nggak jelas," ucap Mbak Ranti ketus.

Cara pandang Mbak Wiwid tidak pernah berubah, ia menganggap hanya orang yang bekerja dengan pakaian rapi saja yang bisa punya uang.

"Oh, ya, lupakan soal aku yang tadi sempat ingin pinjam uang ke kamu, anggap saja aku tidak pernah ngomong kaya gitu, memalukan, masa seorang Wiwid yang suaminya seorang pegawai mau pinjam uang sama Antika yang hanya punya suami dengan pekerjaan yang tidak jelas," ucap Mbak Wiwid masih dengan nada sinis dan tangan bersedekap.

"Jadi, bagaimana, Bu, uangnya sudah ada, kan sekarang?" tanya salah seorang lelaki berwajah garang yang memakai anting di telinganya.

"Iya, Pak, katanya masih seminggu lagi jatuh temponya," jawab Mbak Wiwid.

"Nggak usah khawatir, Pak, saya jamin Adik saya ini pasti bisa membayar semua utangnya tapi tidak sekarang karena uangnya masih ada di bank dan yang bisa mengambil uangnya hanya suami saya karena kartu ATM dia yang pegang. Pokoknya Mas nggak usah khawatir, seminggu lagi datang ke sini, pasti uangnya sudah siap," ujar Mbak Ranti dengan percaya diri. Kalau dalam penglihatanku sih, bukan percaya diri lagi tapi lebih ke arah sombong.

"Baik, Bu, saya pegang janji Ibu, seminggu lagi saya akan datang lagi dan uang itu sudah Ibu persiapkan sebelum saya datang, saya tidak mau menunggu lama apalagi kalau sampai dibohongi," ucap lelaki penagih utang itu.

Orang yang menagih utang itu ada dua orang, yang satu berperawakan tinggi besar dengan kumis lebat di wajahnya sedangkan yang satunya lagi bertubuh gempal dan berambut botak.

"Beres, kalau masalah itu tidak usah khawatir," kata Mbak Ranti dengan menjentikkan jarinya.

"Kalau begitu kami permisi ya, Bu." Kedua orang itu lalu pergi meninggalkan kami bertiga.

"Memangnya kamu punya utang berapa sama rentenir itu, nanti biar aku bilang sama suamiku," tanya Mbak Ranti setelah penagih itu pergi.

Mbak Wiwid yang tadinya menunduk mendadak semringah mendengar ucapan kakaknya.

"Nggak banyak kok, Mbak?" jawab Mbak Wiwid.

"Nggak banyak itu berapa?" tanya Mbak Ranti dengan nada tinggi.

Dada Mbak Ranti terlihat naik turun, sepertinya emosi sedang menguasai dirinya. Yang punya utang adiknya, tetapi malah dia yang seperti kebakaran jenggot.

"Cuma tiga puluh juta, kok," jawab Mbak Wiwid santai.

"Tiga puluh juta kamu bilang cuma? Itu gaji suamiku selama beberapa bulan?" kata Mbak Ranti dengan nada tinggi.

"Ya, memang cuma, kan nggak nyampe lima puluh juta, pojoknya kalau belum ada lima puluh juta itu masih sedikit. Mbak sudah janji lho untuk minjamin aku uang," kata Mbak Wiwid santai.

Mbak Wiwid melirik kakak perempuannya yang tadi sudah berjanji akan membayar utangnya.

"Aku pikir utang kamu satu atau dua juta, paling mentok lima juta ternyata tiga puluh juta, emangnya kamu punya utang sebanyak itu buat apa, Wid? Ah." Mbak Ranti yang tadi sombong mendadak gemetar dan lunglai, tubuhnya ambruk ke tanah, sepertinya ia shock mendengar adiknya punya utang sebanyak itu. Bukan hanya shock, ia bahkan pingsan.

Alamak, gayanya aja sok selangit, mendengar tiga puluh juta saja sudah pingsan. aku jadi ragu apakah Mbak Ranti benar-benar mau meminjamkan uangnya yang hanya tiga puluh juta itu. Kalau aku, uang segitu sudah pasti punya, restoran yang kami miliki di kota memiliki omset sebulan lebih dari itu.

Masa sih, beli kulkas sama mesin cuci sampai punya utang sebesar itu? Kulkasnya itu seperti apa? Mungkinkah kulkas yang dimiliki Mbak Wiwid seperti miliknya para Sultan? Apa mungkin ada keperluan yang lain? Hm, satu pertanyaan yang mungkin sama dengan Mbak Ranti hingga membuat ia pingsan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku
9.3
Vyora Arabelle merelakan impian demi cinta, namun pernikahan tanpa restu itu justru berujung pengkhianatan. Suaminya yang tergiur harta tega meninggalkannya akibat hasutan keluarga. Di tengah kehancuran, seorang pria misterius hadir menawarkan bantuan untuk membalas dendam pada sang mantan. Terluka oleh hinaan, Vyora menerima tawaran itu. Akankah misi ini menumbuhkan benih cinta baru bagi Vyora, atau ia justru akan tetap terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Bos Mencuri Ciuman dari Istrinya yang Hamil Setelah Bercerai
8.3
Penderitaan akibat keluarga memaksa Kayshila Zena menikahi Zenith Edsel, pria paling berpengaruh di Jakarta. Namun, tuduhan mencederai kesetiaan di hari pernikahan membuat hubungan mereka hancur. Usai melahirkan dan menandatangani perceraian, Kayshila menghilang. Bertahun-tahun berlalu, ia kembali membawa sang buah hati dan melamar sebagai dokter pribadi Zenith. Sang miliarder yang dingin justru dengan sengaja menerima kehadirannya, bahkan menyayangi anak misterius tersebut seperti darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Hello Wife The Tyran CEO!
8.5
Ellina tewas mengenaskan akibat pengkhianatan keluarga dan kekejaman suami dinginnya. Dipenuhi dendam atas takdir pahit tersebut, ia mendadak bangkit kembali ke masa sebelum pertunangan dimulai. Ellina bertekad memutus hubungan dengan keluarga angkatnya dan menjauhi pria yang dulu menghancurkannya. Namun, sang CEO tirani justru terobsesi padanya. Meski Ellina mencoba lari, pria itu siap melakukan segala cara demi mengurung dan mengikatnya selamanya dalam genggaman.
Sampul Novel Hubungan Sebatas Ranjang
8.1
Jonathan Prawira Maulana adalah CEO Maulana Grup yang jenius dalam bisnis namun buta soal asmara. Kesibukannya membuat orang tua Jo khawatir hingga mereka berencana menjodohkannya dengan anak rekan bisnis. Jo menolak keras rencana tersebut, namun ia justru terjebak syarat berat. Ia hanya punya waktu satu bulan untuk memperkenalkan calon istri pilihannya sendiri. Jika gagal, ia harus menerima perjodohan itu tanpa syarat. Mampukah Jo menemukan cinta dalam waktu singkat?
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Menceraikan Suamiku yang Menghamili Wanita Lain
8.5
Memasuki bulan keempat perjuangan menjalani program bayi tabung, seorang istri justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Tetangga sebelah rumah yang merupakan teman masa kecil suaminya mengunggah foto kehamilan dengan takarir menyakitkan tentang keluarga bahagia mereka. Di dalam foto tersebut, tampak jelas tangan sang suami yang membentuk simbol hati bersama wanita itu, lengkap dengan cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya, mengonfirmasi pengkhianatan yang tak termaafkan.