Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua

Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua

Tujuh tahun lamanya Alena bersembunyi demi melindungi putranya dari jangkauan Keluarga Whitmore. Namun, ketenangannya hancur saat ia diculik dan dibawa ke kastil tua yang terisolasi. Di sana, Dorian Whitmore sang mantan suami menuduhnya menyembunyikan anak laki-laki lain. Alena bersikeras bahwa ia hanya melahirkan Julian Ezra Callahan, sementara kembaran Julian telah tiada saat persalinan. Kini, ia harus menghadapi konfrontasi dingin Dorian di tengah misteri masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara pintu besi berderit berat saat terbuka, diiringi derap langkah kaki para penjaga. Alena mengerjap, cahaya lampu gantung yang menyilaukan memaksa matanya menyesuaikan diri. Ruangan batu dingin tempat mereka mengurungnya berbau lembap, seperti tanah basah yang lama tak tersentuh cahaya matahari.

Sudah tiga hari ia berada di sini, sejak malam kelabu ketika segerombolan orang bertopeng menyeretnya dari apartemennya di Ravencourt. Mereka membawanya melintasi hutan, melewati gerbang besi hitam berukir lambang singa bersayap: lambang keluarga . Kastil Whitmore menjulang seperti bayangan raksasa dari masa lalu, berdiri di atas tebing batu kelabu menghadap laut yang selalu bergemuruh.

Hari pertama, Alena menolak bicara. Hari kedua, mereka mendatangkan Dorian.

Dorian Whitmore berdiri di ambang pintu ruang interogasi itu seperti sosok dari mimpi buruk yang menjelma nyata. Jas hitamnya terpotong sempurna, rambut hitamnya disisir rapi, dan mata biru esnya menatap tanpa emosi.

"Di mana anak itu?" suaranya dalam, tenang, dan berbahaya.

"Aku tidak tahu yang kau bicarakan," sahut Alena, berusaha agar suaranya tidak bergetar.

Dorian mencondongkan tubuh, meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Jangan bermain-main denganku, Alena. Kau pikir aku tidak tahu? Ada bocah laki-laki bersamamu malam itu. Usianya sekitar enam tahun. Mirip sekali denganku."

Jantung Alena mencelos, tetapi ia menatap balik pria itu dengan pandangan kosong. "Itu bukan anakmu."

"Kau pikir aku bodoh?" desis Dorian. "Tujuh tahun kau menghilang. Tujuh tahun tanpa jejak. Lalu tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang wajahnya... seperti cerminan masa kecilku."

Alena memalingkan wajah. "Aku hanya pernah melahirkan dua bayi. Satu meninggal. Satu lagi... bukan milikmu."

Kata-katanya menorehkan luka di dadanya sendiri, tapi ia harus bertahan. Ia harus melindungi Julian, apa pun caranya.

Sekarang, di hari ketiga, dua penjaga menariknya keluar dari ruang bawah tanah dan membawanya ke sayap timur kastil. Koridor panjang berlampu redup membentang di depan mata, dindingnya dihiasi lukisan para leluhur Whitmore dengan tatapan tajam yang mengawasi.

Mereka membawanya ke sebuah kamar luas beratap tinggi. Tirainya tebal dan gelap, karpet merah tua terhampar di lantai marmer hitam. Di ujung ruangan, berdiri seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul ketat: , ibu Dorian.

"Alena," ucapnya dingin, seperti mengucap nama seorang buronan. "Kau telah mencoreng darah keluarga kami. Tapi kami akan memberimu kesempatan. Serahkan anak itu, dan kami akan membiarkanmu pergi."

Alena menatap tajam, menggigit bibirnya hingga terasa darah. "Tidak akan pernah."

Margarethe menghela napas, lalu memberi isyarat pada penjaga. "Kunci dia di kamar atas. Pastikan dia tidak keluar. Dorian akan memutuskan apa yang harus dilakukan dengannya."

Mereka mengurung Alena di kamar di menara timur, ruangan yang tampaknya dulunya kamar tamu mewah: ranjang kanopi, perapian, dan satu jendela tinggi menghadap tebing dan laut. Tapi tidak ada kunci di dalam, tidak ada telepon, tidak ada jalan keluar-kecuali jendela itu.

Dan dari jendela itulah Alena melihatnya: sebuah jalan setapak menurun di balik taman, menuju gerbang samping yang tampaknya jarang dijaga. Di luar tembok, terlihat atap rumah-rumah kecil di desa bawah tebing.

Di suatu tempat di luar sana... Julian.

Dia tidak tahu bagaimana anak itu sekarang, setelah malam penculikan itu. Mereka diseret terpisah. Teriakan Julian masih terngiang di kepalanya. "Mommy! Mommy jangan pergi!"

Air mata panas mengalir, tapi Alena menyekanya dengan kasar. Tidak ada waktu untuk hancur. Dia harus keluar dari sini. Dia harus menemukan anaknya.

Malam itu, setelah para penjaga berganti giliran dan kastil tenggelam dalam keheningan, Alena mulai bergerak. Ia merobek seprai ranjang menjadi beberapa helai panjang, mengikatnya menjadi tali darurat. Jantungnya berdebar setiap kali kain itu berderit pelan.

Ia membuka jendela pelan-pelan. Angin laut malam menerpa wajahnya, dingin dan tajam seperti pisau. Ia mengikat salah satu ujung seprai pada tiang ranjang besi, mengujinya dengan berat tubuhnya.

"Demi Julian," bisiknya. Lalu ia mulai menuruni dinding batu kastil setinggi hampir lima lantai.

Tangannya lecet, jarinya nyaris beku. Setiap gerakan terasa seperti menarik tubuhnya melewati silet. Tapi ia tidak berhenti. Ia tidak boleh jatuh. Ia harus hidup. Untuk Julian.

Akhirnya, kakinya menyentuh tanah berumput basah. Ia menahan napas, menunggu. Tak ada alarm. Tak ada teriakan. Ia merayap melewati taman, bersembunyi di balik semak mawar yang tajam, menunggu saat dua penjaga di gerbang samping berpapasan dan berjalan ke arah berlawanan. Saat celah itu terbuka, ia berlari.

Kakinya melangkah di atas kerikil, napasnya memburu. Ia melewati gerbang samping sebelum sempat dipahami siapa pun. Lalu, jalan berbatu menurun membawanya menuju hutan kecil di kaki tebing.

Ketika kastil Whitmore menghilang di balik pepohonan, Alena hampir tak percaya bahwa ia berhasil lolos.

Namun pelarian itu belum berakhir.

Ia tidak tahu di mana Julian. Satu-satunya petunjuk adalah bahwa pria yang membawa Julian malam itu mengenakan lencana berbentuk elang hitam - lambang unit keamanan pribadi Whitmore. Itu berarti Julian kemungkinan besar masih ada di dalam lingkaran kekuasaan keluarga itu, mungkin disembunyikan di salah satu rumah persembunyian mereka.

Alena menumpang truk pengangkut hasil laut hingga kota pelabuhan terdekat. Dari sana, ia menyelinap ke sebuah penginapan tua dan menukar anting peraknya dengan satu malam kamar dan pakaian kering. Di dalam kamar pengap itu, ia duduk memandangi peta butut yang digantung di dinding.

Ada lima properti milik Whitmore di sekitar wilayah ini. Tapi hanya satu yang terpencil dan cukup aman untuk menyembunyikan anak: rumah kaca di tepi danau Blackmere.

Alena menggambar rute di secarik kertas. Ia tahu itu berbahaya. Ia tidak punya senjata, tidak punya uang, tidak ada sekutu. Tapi ia punya satu hal yang lebih kuat: naluri seorang ibu.

Perjalanan menuju danau memakan waktu dua hari berjalan kaki. Ia bergerak di malam hari, tidur di siang hari di lumbung kosong atau bawah jembatan. Ia makan roti kering yang ia curi dari pasar desa. Setiap kali rasa takut mulai melumpuhkannya, ia memikirkan Julian - senyum cerahnya, tawa kecilnya, cara anak itu selalu menggenggam tangannya saat mereka menyeberang jalan.

Pada malam kedua, ia sampai di bukit menghadap danau Blackmere. Di seberang permukaan air yang gelap, tampak rumah kaca batu abu-abu berdiri sunyi, lampu temaram menyala di dalamnya. Ada pagar kawat tinggi mengelilinginya, dan dua pria bersenjata berjaga di gerbang.

Alena berjongkok di balik pohon pinus, mengamati pola patroli mereka. Ia menunggu hingga salah satu penjaga pergi ke pos jaga, lalu menyelinap ke sisi pagar, merangkak melewati celah kecil di bawahnya. Bajunya robek, kulitnya tergores kawat, tapi ia tidak peduli.

Ia merayap ke dinding samping rumah, mengintip lewat jendela kecil. Ruangan dalamnya hangat, penuh mainan berserakan di lantai. Dan di sana - di atas sofa - duduk seorang anak kecil dengan rambut cokelat kusut dan mata biru cerah, sedang menggambar dengan krayon.

"Julian..." bisik Alena, air matanya menggenang.

Ia menunggu sampai penjaga di dalam mengantuk di kursinya. Lalu, dengan secepat kilat, ia memecahkan kaca kecil jendela itu menggunakan batu, menyelinap masuk. Potongan kaca melukai lengannya, tapi ia menahan rintih. Ia berlari pelan ke arah anak itu.

Julian menoleh. Matanya membesar. "Mommy...?"

"Shh," Alena menaruh jari di bibirnya, menahan isak. "Sayang, kita harus pergi."

Anak itu merangkul lehernya erat-erat, tubuh mungilnya bergetar. "Aku takut..."

"Aku tahu. Tapi Mommy di sini sekarang. Kita pulang."

Mereka menyelinap keluar melalui jendela yang sama, lalu berlari menembus hutan di tepi danau. Namun suara alarm meraung di belakang mereka - salah satu sensor gerak tertangkap. Lampu sorot menembus pepohonan. Teriakan para penjaga menggema: "Tangkap mereka!"

Alena menggendong Julian dan berlari sekuat tenaga, kaki mereka menabrak ranting, napas mereka berpacu dengan detik. Peluru menyalak di kejauhan, menumbangkan dahan pohon. Julian menangis tertahan di bahunya.

Sebuah perahu tua terikat di dermaga kayu kecil. Alena melompat ke dalamnya, memotong tali tambat, lalu mendayung sekuat tenaga menyeberangi danau gelap. Angin malam mencambuk wajah mereka, air muncrat membasahi pakaian. Di belakang, lampu-lampu senter menari di tepi hutan.

Akhirnya, mereka mencapai seberang. Alena mengangkat Julian ke darat, lalu menendang perahu menjauh agar tidak bisa digunakan untuk mengejar mereka. Mereka berlari ke dalam hutan, menyusuri jalan setapak sempit menuju rel kereta tua yang sudah tak dipakai.

Baru saat fajar menyingsing, mereka berhenti, terengah-engah dan basah kuyup, bersembunyi di bawah jembatan batu tua.

Julian menggigil di pelukannya. Alena membungkus anak itu dengan mantelnya, membiarkannya tertidur di dada. Ia menatap langit yang mulai terang, matanya kosong. Tubuhnya hancur, tangannya berdarah, tapi ia berhasil.

Untuk saat ini, mereka selamat.

Tapi ia tahu, perburuan baru saja dimulai.

Dorian tidak akan berhenti sampai mendapatkan mereka kembali.

Dan Alena bersumpah - ia tidak akan menyerahkan putranya. Tidak sekarang. Tidak pernah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asisten Pribadi CEO yang Terlalu Mempesona
8.2
Demi membalas budi sahabat yang membiayai pengobatan anaknya, Wilona Anastasia bertahan menjadi asisten Marten Dewangga Yanuardi. Meski Marten adalah CEO muda yang arogan dan keras kepala, pesona Wilona perlahan melunakkan sifat kekanakannya hingga ia terobsesi pada asistennya itu. Namun, sebuah rahasia besar membayangi hubungan mereka yang kian intens. Akankah cinta Marten tetap bertahan saat mengetahui bahwa Wilona sebenarnya adalah seorang janda beranak satu?
Sampul Novel Baby Daddy
8.2
Bastian Cokro, CEO F&B berusia 30 tahun, diterpa isu miring mengenai kemandulan yang membuatnya tetap melajang. Sementara itu, Eva Sania adalah penyiar berita sukses yang menikmati hidup bebas bersama pasangan FWB-nya. Namun, dunianya jungkir balik saat sang ibu memberikan perintah tak terduga. Alih-alih mendesak Eva untuk menikah, ibunya justru meminta Eva segera memiliki anak tanpa perlu mencari suami. Kini, pencarian pria sehat untuk membuahinya pun dimulai.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Ceraikan Suami, Nikahi Adiknya
9.8
Setelah sepuluh tahun, Chloe Carlson memutuskan bercerai dari suaminya yang tidak setia, Vincent. Meski dituduh mengincar harta, Chloe pergi hanya demi membawa putri mereka, Mackenzie. Menjadi ibu tunggal tanpa kualifikasi membuatnya sulit mencari kerja. Terdesak, Chloe meminta bantuan adik iparnya, CEO muda Vernon Phoenix Gray. Namun, Vernon menawarkan posisi asisten pribadi dengan syarat pemuasan hasrat di ranjang. Kini Chloe terjebak antara rayuan Vernon atau kembali pada Vincent.
Sampul Novel Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
9.6
Elyse terkejut saat melihat pria berkuasa di televisi yang sangat mirip dengan Adrian, suami yang ia nikahi lewat perjanjian satu tahun. Meski awalnya berencana cerai, kedekatan harian membuat Adrian meminta pernikahan mereka menjadi nyata. Namun, segalanya berubah saat identitas asli Adrian sebagai taipan terungkap. Konflik memuncak ketika rahasia tentang anak mereka terbongkar, memicu konfrontasi besar tentang kejujuran dan masa depan cinta mereka.
Sampul Novel Forced Marriage
9.2
Joan Arkan Rivenno, CEO sukses yang jatuh hati pada pandangan pertama, dijodohkan dengan aktris jelita Liza Nathalia Hope. Sayangnya, Liza menolak karena menganggap Joan hanya kakak dan ia sudah memiliki kekasih. Meski Liza terang-terangan menentang, obsesi Joan justru makin menguat. Suatu malam, Joan melakukan tindakan nekat yang merenggut kesucian Liza hingga ia hamil. Pernikahan paksa pun terjadi, meski hati Liza penuh dengan penolakan dan rasa benci.