Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua

Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua

Tujuh tahun lamanya Alena bersembunyi demi melindungi putranya dari jangkauan Keluarga Whitmore. Namun, ketenangannya hancur saat ia diculik dan dibawa ke kastil tua yang terisolasi. Di sana, Dorian Whitmore sang mantan suami menuduhnya menyembunyikan anak laki-laki lain. Alena bersikeras bahwa ia hanya melahirkan Julian Ezra Callahan, sementara kembaran Julian telah tiada saat persalinan. Kini, ia harus menghadapi konfrontasi dingin Dorian di tengah misteri masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Kabut tipis menyelimuti jalanan berbatu kota saat fajar merayap perlahan dari ufuk timur. Alena memacu mobil tuanya melintasi gang-gang sempit, matanya nyaris tak pernah meninggalkan kaca spion. Setiap kilatan lampu, setiap bayangan mobil hitam di kejauhan membuat jantungnya meloncat panik.

Di kursi belakang, Julian duduk diam, memeluk tas ranselnya erat. Biasanya bocah itu akan berceloteh tentang bintang, dinosaurus, atau proyek sains kecilnya, tapi pagi ini dia hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.

Alena menoleh sekilas. "Kita hampir sampai ke rumah Aunt Moira," katanya lembut, mencoba menghapus ketegangan.

Julian tidak menjawab. Hanya menggenggam erat boneka singa kecil dari kain lusuh - satu-satunya benda yang selalu menemaninya sejak kecil.

Sementara itu, ratusan kilometer dari sana, berdiri di balkon batu kastilnya, memandangi laut yang menghantam tebing dengan buih putih. Matanya menyipit, menatap layar tablet di tangannya: tampak rekaman CCTV buram yang menunjukkan Alena menyeret Julian keluar dari ruang bawah tanah kastil malam dua hari lalu, lalu melarikan diri melalui saluran pembuangan tua di bawah gudang anggur.

"Dia mencuri anakku," suara Dorian serak, hampir seperti auman binatang.

"Anak itu masih perlu diverifikasi, Tuan," ujar , kepala keamanan keluarga Whitmore, yang berdiri di belakangnya. "Kami bisa menunggu hasil tes DNA."

Dorian membalikkan badan, matanya membeku. "Tidak ada waktu. Alena sudah menyembunyikannya tujuh tahun. Jika dia lolos lagi, aku mungkin tidak akan pernah menemukannya." Ia berhenti sejenak, suaranya menurun menjadi dingin dan terukur. "Kirimkan tim. Lacak semua jaringan Alena. Semua rekening, semua kontak lamanya, semua kota tempat dia pernah tinggal. Temukan mereka."

Victor menunduk. "Baik, Tuan."

Dorian menatap laut lagi. Dalam benaknya, berkelebat bayangan mata biru seorang bocah di rekaman CCTV itu - mata yang sama seperti miliknya. Ia ingin menyangkal, tapi hatinya tahu: darah Whitmore mengalir dalam diri anak itu.

Dan ia tidak akan membiarkan pewaris darah Whitmore tumbuh di luar kendalinya.

Di rumah panggung tua milik di pinggiran Ravencourt, Alena menutup semua tirai dan mematikan ponselnya. Moira, kakak sepupunya yang berprofesi sebagai dokter hewan, menatapnya dengan dahi berkerut.

"Kau tidak bisa terus lari, Lena," ujar Moira lirih sambil menuang teh hangat ke cangkir. "Mereka akan menemukanmu cepat atau lambat."

"Aku tahu," bisik Alena, memeluk lutut di kursi kayu. "Tapi aku harus mencoba."

Moira menatap Julian yang sedang duduk di tangga beranda, memandangi cakrawala. "Dia mulai bertanya, ya?"

Alena mengangguk lemah. "Semalam... dia bertanya kenapa ada orang yang ingin memisahkan kami. Aku tidak tahu harus jawab apa."

Julian menatap langit kelabu. Sejak malam mereka kabur dari kastil, banyak hal terasa berubah. Ia masih bisa merasakan tangan ibunya yang dingin mencengkeram tangannya saat mereka merangkak di lorong bawah tanah yang gelap dan pengap, suara anjing penjaga menggonggong di atas kepala, dan deru helikopter di kejauhan.

Dan ada hal lain... bayangan wajah pria tinggi berjas hitam yang sempat dilihatnya dari balik jeruji. Mata biru tajam yang sama seperti miliknya.

Julian menggigit bibir. Ia selalu tahu ada yang berbeda dari dirinya. Ia lebih tinggi dari anak-anak seusianya, lebih cepat memahami pelajaran, dan sering merasa... seolah tidak benar-benar "milik" dunia kecil yang ibunya bangun.

Dan sekarang, ia mulai curiga.

"Mereka... siapa aku sebenarnya?" bisiknya lirih pada boneka singa kecilnya.

Malam itu, saat Alena memeriksa jendela untuk memastikan semuanya terkunci, Julian datang menghampiri dengan mata basah. "Mommy," suaranya pecah, "itu pria di kastil... dia ayahku, ya?"

Pertanyaan itu menghantam dada Alena seperti batu. Ia menatap putranya lama, nyaris tak mampu bicara. Lalu ia berlutut, memeluk bocah itu erat.

"Ya," bisiknya akhirnya. "Dia ayahmu. Tapi dia bukan orang yang bisa menjagamu."

Julian diam lama. Lalu bertanya lirih, "Kalau dia ayahku... kenapa dia ingin mengambilku dari Mommy?"

Air mata mengalir di pipi Alena. "Karena dia tidak tahu cara mencintai orang lain tanpa menguasainya."

Julian menunduk. "Apakah... aku seperti dia?"

Alena mengangkat wajah putranya, menatap dalam ke mata biru itu. "Tidak, Sayang. Kau jauh lebih baik. Kau bukan dia. Kau adalah Julian Ezra Callahan. Kau anakku."

Namun, bahkan saat ia mengucapkannya, Alena tahu waktu mereka menipis. Dorian semakin dekat - ia bisa merasakannya seperti bayangan dingin yang menjalar dari masa lalu.

Dan di sudut hati kecil Julian yang masih polos, benih konflik telah tumbuh: antara ingin tetap bersama ibunya... atau menemukan siapa dirinya sebenarnya.

Hujan turun deras membasahi atap rumah kayu tua di pinggiran . Malam itu, udara terasa menegang seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang. Alena duduk di dekat jendela, menatap jalan berlumpur di luar dengan mata tak berkedip. Di tangannya, secarik peta lusuh bergetar ringan karena jemarinya yang menggigil.

Julian sudah tertidur di sofa, tubuh mungilnya meringkuk dalam selimut wol, boneka singanya terjepit di dada. Tapi Alena tahu, tidur anak itu tak pernah nyenyak sejak mereka kabur dari kastil. Setiap malam, Julian terbangun, berkeringat, berbisik ketakutan bahwa "mereka" akan menemukan mereka.

Alena memejamkan mata, menahan desakan air mata. Ia tak bisa lagi hanya bersembunyi. Ia harus membawa Julian pergi sejauh mungkin, bahkan jika itu berarti keluar dari negeri ini. Besok pagi mereka harus bergerak.

Tiba-tiba, suara mesin mobil meraung dari kejauhan. Satu... dua... lalu banyak. Cahaya lampu menembus kegelapan pepohonan. Alena menegakkan tubuh, napasnya tercekat.

Mereka sudah datang.

Konvoi hitam melaju menembus hutan pinus. Di mobil terdepan, duduk tegak di kursi penumpang, matanya menatap layar GPS dengan dingin. Hujan menetes di kaca depan, tapi pandangannya tak terganggu.

"Tim pengepung di sisi timur dan selatan sudah siap, Tuan," lapor melalui radio. "Kami memotong semua jalur keluar. Tidak ada jalan keluar bagi mereka."

Dorian hanya mengangguk. "Tangkap anak itu hidup-hidup. Jangan sakiti Alena... kecuali dia melawan."

Suara perintah itu menggema seperti baja.

Dalam dadanya, badai berkecamuk. Setiap detik yang berlalu tanpa melihat anak itu membuat dadanya sesak. Ia berusaha menganggap ini murni soal garis keturunan, tentang darah Whitmore yang harus dijaga... tapi bayangan mata biru bocah itu terus muncul dalam benaknya, memecah pertahanannya sedikit demi sedikit.

Di dalam rumah, Alena membangunkan Julian dengan lembut. "Sayang, kita harus pergi sekarang," bisiknya.

Julian mengucek mata, mendengar suara deru mobil mendekat, lalu menatap ibunya dengan mata melebar. "Mereka sudah di sini?"

Alena mengangguk. "Dengarkan Mommy baik-baik. Ambil tasmu. Kita lari lewat hutan belakang. Ikuti jalan setapak ke arah sungai. Jangan berhenti."

Julian menggigit bibirnya, lalu mengangguk. Tapi ketika Alena menoleh untuk mengambil tas mereka, Julian menatapnya lama... lalu membuat keputusan yang akan mengubah segalanya.

Mereka menerobos pintu belakang, berlari menembus guyuran hujan. Hutan pinus menyambut dengan kegelapan pekat dan tanah licin. Alena menggenggam tangan Julian erat, napas mereka memburu. Suara anjing pelacak menggema di kejauhan, semakin dekat.

"Cepat, Sayang! Sedikit lagi ke sungai," seru Alena.

Namun tiba-tiba, Julian melepaskan genggaman ibunya. "Mommy, aku akan memancing mereka menjauh!"

"Julian, jangan!" Alena hampir menjerit, tapi anak itu sudah berbalik dan berlari ke arah lain, melambai. "Aku akan baik-baik saja, Mommy! Sembunyi dulu!"

"Julian!!"

Teriakan Alena tenggelam dalam hujan dan lolongan anjing. Ia berlari mengejar, tapi suara langkah kaki para pemburu sudah mendekat dari dua arah. Ia harus membuat keputusan: mengejar Julian, atau menyelamatkan diri agar bisa kembali menjemputnya nanti.

Air mata panas bercampur hujan di wajahnya saat ia berbalik, menyelinap ke celah tebing berbatu untuk bersembunyi.

Julian berlari menembus semak belukar, paru-parunya terasa terbakar. Ia mendengar suara orang dewasa berteriak-teriak dan suara anjing menggonggong liar di belakangnya. Tapi ia terus berlari. Dalam benaknya, hanya ada satu hal: lindungi Mommy.

"Kalau mereka mengejarku, mereka tak akan menemukan Mommy..." desisnya lirih di antara deru napas.

Ia menyeberangi jembatan kayu kecil, lalu menjatuhkan boneka singanya di tengah jalan - sengaja, sebagai umpan. Ia tahu mereka akan mengenali benda itu. Ia ingin membawa pengejar sejauh mungkin dari tempat persembunyian ibunya.

Di belakang, cahaya senter menari-nari di antara pepohonan.

"Target kecil bergerak ke utara!" suara seorang pria menggema melalui radio.

Julian menahan tangis, menembus hutan lebih dalam, sampai tanah di bawah kakinya berubah jadi lumpur yang menelan langkahnya. Ia tergelincir, lututnya tergores batu, tapi ia bangkit lagi. Ia tidak akan tertangkap. Ia tidak boleh.

Sementara itu, Dorian turun dari mobil ketika Victor menunjukkan boneka singa yang ditemukan di jalan.

"Ini milik anak itu," kata Victor.

Dorian menatap benda lusuh itu lama, jemarinya mengeras di sekelilingnya. Ia ingat pernah memiliki boneka serupa ketika kecil - lalu dibakar oleh ayahnya karena dianggap kelemahan.

"Jangan sakiti dia," perintah Dorian datar, tapi matanya berkilat. "Tangkap dia hidup-hidup."

Kemudian, Dorian sendiri yang masuk ke dalam hutan, menyusuri jejak-jejak kecil di tanah becek. Dalam diam, sesuatu yang asing mulai tumbuh dalam dadanya - rasa takut.

Bukan takut kehilangan pewaris... tapi takut kehilangan anaknya.

Julian akhirnya sampai ke tepi sungai. Airnya deras dan hitam, berkilau oleh cahaya bulan. Ia menatap arus deras itu, menelan ludah. Ia tahu berenang, tapi arus ini ganas.

Di belakangnya, suara anjing dan orang dewasa semakin dekat.

"Aku harus melakukannya..." bisiknya.

Ia menarik napas dalam-dalam - lalu melompat ke dalam sungai.

Air es menyergap tubuh mungilnya. Arus menghantamnya, memutar tubuhnya seperti daun. Ia menendang dan mengayuh, berusaha mengambang, tetapi air terus menenggelamkannya. Di sela gelembung dan lumpur, ia sempat melihat cahaya senter berkelebat di atas tebing, lalu hilang.

"Julian!!" terdengar samar, jauh... suara yang berat, asing... dan entah kenapa terasa mengenalinya.

Dorian berlari ke tepi sungai, melihat sekilas tubuh kecil itu terseret arus sebelum lenyap di tikungan gelap.

"Tidak...!"

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, nada panik meretakkan suara Dorian Whitmore.

Alena bersembunyi di gua sempit di bawah tebing, menggigil basah kuyup. Ia menunggu selama berjam-jam, hingga suara anjing dan manusia menghilang, sebelum keluar.

Tapi saat ia tiba di tepi sungai, yang ia temukan hanyalah boneka singa Julian yang terdampar di bebatuan, basah kuyup dan compang-camping.

"Julian..." suaranya pecah, lututnya ambruk ke tanah.

Di kejauhan, lolongan anjing menggema lagi - pengejaran belum berakhir.

Dan sekarang, Julian hilang entah ke mana... sendirian.

Kabut pagi menggantung rendah di atas sungai kecil yang meliuk di antara hutan cemara, saat terbangun di atas tanah lembap berselimut lumut. Kepala dan lututnya berdenyut, pakaiannya basah kuyup oleh hujan semalam. Ia tak tahu berapa lama ia pingsan-yang ia tahu, malam tadi ia berlari, menyeberangi jembatan kayu tua, lalu terpeleset ke dalam arus sungai yang deras.

Sekarang, ia sendirian.

Tidak ada suara ibunya. Tidak ada suara anjing pelacak. Hanya dentingan tetes air dari dahan ke tanah, dan desir samar burung pagi.

Julian duduk perlahan, menggigil. Ia masih memeluk boneka singa lusuhnya, satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan rumah. Rumah yang kini terasa jauh, seperti mimpi samar.

"Mommy..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Puluhan kilometer ke barat laut, berlari di sepanjang tepian sungai yang sama, suaranya parau memanggil. "Julian! Sayang, jawab Mommy!"

Sepatu botnya terbenam dalam lumpur, tapi ia tak peduli. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, tubuhnya penuh goresan ranting. Sejak malam kemarin ia terus mencari, menelusuri setiap jejak kaki mungil yang memudar di tanah basah. Tapi jejak itu hilang di tepi sungai, dan setelah itu... hanya air yang membawa anaknya entah ke mana.

Moira, yang ikut mencarinya dengan perahu kecil, memanggil dari kejauhan, "Alena, kita harus istirahat. Air sungainya deras. Dia bisa terseret jauh."

Alena menggeleng keras, menolak menyerah. "Aku akan menemukannya. Aku harus menemukannya."

Setiap menit tanpa Julian adalah neraka yang menggerogoti kewarasannya.

Sementara itu, di ruang komando darurat yang didirikan di kastil , menatap peta elektronik di dinding. Puluhan titik merah menandai wilayah pencarian. Ia berdiri tegak seperti patung, tangannya terkepal di belakang punggung.

"Tim Delta menyisir sepanjang garis timur. Tim Bravo memeriksa jalur hutan utara," lapor , kepala keamanannya. "Belum ada tanda-tanda anak itu."

Dorian tak menjawab. Matanya menatap layar lain: foto close-up Julian dari rekaman CCTV - rambut coklat kusut, mata biru tajam, ekspresi keras kepala seperti dirinya sendiri dulu.

Dia mengingat saat pertama kali melihat foto itu. Ada sesuatu yang menusuk dadanya, rasa yang asing, liar, dan tak terkendali.

Bukan sekadar warisan darah. Tapi seperti... kehilangan sesuatu yang seharusnya selalu ada bersamanya.

"Teruskan pencarian. Gandakan radius," ucapnya akhirnya. "Aku tidak akan membiarkan anak itu menghilang begitu saja."

Julian berjalan tertatih menembus hutan, mengikuti suara gemericik air. Perutnya melilit lapar, tenggorokannya kering. Ia menemukan beberapa buah beri kecil merah keunguan, ragu-ragu sebelum memakannya. Rasanya asam, tapi mengusir lapar sejenak.

Ia menemukan gua kecil di balik semak, cukup dalam untuk berlindung dari angin. Di dalamnya ia menyalakan api kecil dari ranting kering yang ia gosokkan dengan batu tajam-trik yang pernah diajarkan ibunya saat berkemah dulu. Api kecil itu menari-nari, mengusir dingin yang membekukan.

Saat malam turun lagi, Julian menggigil, menatap api sambil memeluk lutut. Ia mulai berpikir tentang hal-hal yang membuat kepalanya pening:

Jika pria itu benar ayahnya... mengapa Mommy membencinya begitu?

Jika darahnya benar-benar darah Whitmore... apa artinya dia akan menjadi seperti pria itu? Dingin, tajam, menakutkan?

Air mata menetes di pipinya. Ia menghapusnya cepat-cepat. "Aku harus kuat," gumamnya pada boneka singanya. "Aku harus lindungi Mommy."

Pagi berikutnya, Dorian berdiri di tepi jurang batu, angin dingin menerpa wajahnya. Di bawah sana, sungai menderu deras, membawa serpihan ranting dan dedaunan. Victor melapor bahwa satu tim menemukan jejak kecil kaki anak-anak di sisi hilir - baru, belum lebih dari sehari.

Untuk pertama kalinya, dada Dorian terasa sesak bukan karena kemarahan, melainkan ketakutan.

"Dia sendirian di luar sana," gumamnya nyaris tak terdengar.

"Ya, Tuan," jawab Victor. "Tapi kita akan menemukannya."

Dorian menatap hutan luas membentang seperti lautan hijau. Di suatu tempat di sana, anaknya yang keras kepala sedang melawan dunia sendirian. Dan Alena, dari arah berlawanan, pasti juga sedang berjuang menuju ke sana.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dorian sadar... mereka bertiga kini terikat oleh garis tipis antara cinta dan kehancuran.

Dan hanya waktu yang akan menentukan siapa yang akan lebih dulu menemukan Julian-dan siapa yang akan kehilangannya selamanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asisten Pribadi CEO yang Terlalu Mempesona
8.2
Demi membalas budi sahabat yang membiayai pengobatan anaknya, Wilona Anastasia bertahan menjadi asisten Marten Dewangga Yanuardi. Meski Marten adalah CEO muda yang arogan dan keras kepala, pesona Wilona perlahan melunakkan sifat kekanakannya hingga ia terobsesi pada asistennya itu. Namun, sebuah rahasia besar membayangi hubungan mereka yang kian intens. Akankah cinta Marten tetap bertahan saat mengetahui bahwa Wilona sebenarnya adalah seorang janda beranak satu?
Sampul Novel Baby Daddy
8.2
Bastian Cokro, CEO F&B berusia 30 tahun, diterpa isu miring mengenai kemandulan yang membuatnya tetap melajang. Sementara itu, Eva Sania adalah penyiar berita sukses yang menikmati hidup bebas bersama pasangan FWB-nya. Namun, dunianya jungkir balik saat sang ibu memberikan perintah tak terduga. Alih-alih mendesak Eva untuk menikah, ibunya justru meminta Eva segera memiliki anak tanpa perlu mencari suami. Kini, pencarian pria sehat untuk membuahinya pun dimulai.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Ceraikan Suami, Nikahi Adiknya
9.8
Setelah sepuluh tahun, Chloe Carlson memutuskan bercerai dari suaminya yang tidak setia, Vincent. Meski dituduh mengincar harta, Chloe pergi hanya demi membawa putri mereka, Mackenzie. Menjadi ibu tunggal tanpa kualifikasi membuatnya sulit mencari kerja. Terdesak, Chloe meminta bantuan adik iparnya, CEO muda Vernon Phoenix Gray. Namun, Vernon menawarkan posisi asisten pribadi dengan syarat pemuasan hasrat di ranjang. Kini Chloe terjebak antara rayuan Vernon atau kembali pada Vincent.
Sampul Novel Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
9.6
Elyse terkejut saat melihat pria berkuasa di televisi yang sangat mirip dengan Adrian, suami yang ia nikahi lewat perjanjian satu tahun. Meski awalnya berencana cerai, kedekatan harian membuat Adrian meminta pernikahan mereka menjadi nyata. Namun, segalanya berubah saat identitas asli Adrian sebagai taipan terungkap. Konflik memuncak ketika rahasia tentang anak mereka terbongkar, memicu konfrontasi besar tentang kejujuran dan masa depan cinta mereka.
Sampul Novel Forced Marriage
9.2
Joan Arkan Rivenno, CEO sukses yang jatuh hati pada pandangan pertama, dijodohkan dengan aktris jelita Liza Nathalia Hope. Sayangnya, Liza menolak karena menganggap Joan hanya kakak dan ia sudah memiliki kekasih. Meski Liza terang-terangan menentang, obsesi Joan justru makin menguat. Suatu malam, Joan melakukan tindakan nekat yang merenggut kesucian Liza hingga ia hamil. Pernikahan paksa pun terjadi, meski hati Liza penuh dengan penolakan dan rasa benci.