
Dikhianati Saudara Tiri
Bab 2
Kiana berdiri mematung di pintu, menatap bayangan Alif yang menghilang di malam yang gelap. Hujan yang deras di luar jendela seolah mengerti kegelisahan yang dirasakannya, mendesir seperti bisikan yang mengingatkan pada malam-malam buruk yang pernah ia alami. Kiana menutup pintu dengan perlahan, menarik napas dalam-dalam seakan ingin menahan semua rasa yang mulai membanjiri hatinya. Ia merasa seolah waktu berhenti berputar, membiarkan dirinya terjebak dalam kebimbangan yang tidak berujung.
Keheningan malam kembali menyelimuti rumah, hanya diiringi suara hujan yang mengetuk jendela. Kiana berjalan kembali ke meja kerjanya, menatap desain-desain perhiasan yang semula ia anggap penting. Semua itu kini tampak tak berarti. Di tengah dunia yang penuh dengan kemewahan dan kesuksesan, hatinya yang hancur justru mengingatkan bahwa ada hal yang jauh lebih penting: Haidar. Anak laki-lakinya yang tertidur di kamar, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan hingga sekarang.
Kiana merasakan getaran di dadanya. Ia tahu keputusan ini bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang Haidar. Ia ingin anak itu tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih, bukan dalam kebingungan dan pertengkaran. Tetapi di sisi lain, ada rasa takut yang melanda, takut jika membiarkan Alif kembali berarti membuka pintu bagi luka lama yang mungkin tak akan pernah sembuh.
Suara langkah kaki kecil membuat Kiana terjaga dari lamunannya. Ia berpaling dan melihat Haidar berdiri di ambang pintu, mata cokelatnya yang bulat memancarkan kebingungan. "Ibu, kenapa ibu duduk sendirian? Hujan, kan, ibu?" kata Haidar dengan suara kecilnya.
Kiana tersenyum lemah, merasakan hatinya mencair melihat anak itu. "Tidak apa-apa, sayang. Ibu hanya sedang berpikir," jawabnya, mencoba terdengar tenang. Ia mempersilakan Haidar mendekat, memeluknya erat, seolah ingin melindungi anak itu dari segala keburukan yang mungkin datang.
"Tadi aku mendengar suara orang di luar, Ibu," Haidar berkata sambil memeluk Kiana. "Apakah itu suara pahlawan yang datang menyelamatkan Ibu?"
Kiana menahan tangis, menatap mata anaknya yang penuh harapan. "Kamu tahu, Haidar, pahlawan itu bukan hanya orang yang datang untuk menyelamatkan, tapi juga orang yang tetap ada ketika kamu membutuhkan mereka."
"Aku ingin pahlawan yang selalu ada untuk Ibu dan aku," kata Haidar, menatap Kiana dengan penuh percaya. "Aku ingin kita selalu bahagia, Ibu."
Kiana menutup matanya, merasakan seolah beban dunia ada di bahunya. Di sinilah ia, seorang ibu yang harus memutuskan apakah ia akan mengizinkan masa lalu menghantui mereka atau memberanikan diri untuk menerima kemungkinan yang belum jelas. Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Haidar bahwa orang yang berdiri di hadapannya malam ini bukan hanya sosok asing, tetapi juga bagian dari darahnya?
Setelah beberapa saat, Haidar kembali ke kamarnya, meninggalkan Kiana yang masih terdiam, terperangkap dalam pusaran perasaan yang tak bisa dijelaskan. Ia memandang ke arah amplop yang ditinggalkan Alif di meja, tak mampu menahan rasa penasaran yang membara di dalam dirinya. Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu dan menarik selembar kertas putih. Tulisan tangan di kertas itu terasa familiar, seperti suara yang dulu sering melantunkan kata-kata penuh cinta padanya.
Kiana membaca setiap kata yang tertulis, mencoba memahami maksudnya. Di dalam surat itu, Alif mengungkapkan penyesalan yang begitu dalam, bercerita tentang bagaimana ia menyesal meninggalkan Kiana dan Haidar lima tahun lalu. Ia mengakui kesalahan besar yang telah dibuatnya dan mengungkapkan keinginannya untuk hadir dalam hidup Haidar, untuk menjadi ayah yang seharusnya. Kata-kata itu begitu tulus, membuat Kiana terhenyak, antara ingin percaya dan takut terjebak dalam mimpi yang akan menghancurkan segalanya.
Kiana tahu, tak ada yang bisa menggantikan perasaan cinta dan kebencian yang bercampur dalam hatinya. Setiap kali ia mengingat malam itu, ia merasakan seolah ada pisau yang menembus jantungnya, mengingatkan bahwa kepercayaan pernah dihancurkan begitu saja. Tetapi di sisi lain, ada Harapan-sebuah janji bahwa mungkin, hanya mungkin, ada ruang bagi cinta yang bisa tumbuh kembali.
Hari-hari berikutnya berlalu dalam keheningan yang mencekam. Kiana kembali bekerja, tetapi pikirannya tak pernah lepas dari wajah Alif dan kata-kata dalam surat itu. Haidar, dengan keceriaan dan tawa kecilnya, menjadi penyeimbang dalam hidupnya, namun Kiana tak bisa mengabaikan bagaimana sosok Alif, ayah Haidar, telah kembali hadir di ambang pintu mereka.
Sementara itu, Alif berada di kantornya, terjebak dalam kesibukan yang tak mampu mengusir bayangan Kiana dan Haidar dari pikirannya. Ia tak tahu bagaimana cara Kiana akan merespon niatnya, tetapi ia tahu satu hal: ia tak bisa menyerah. Ia harus berjuang untuk mendapatkan kesempatan itu, untuk menebus segala kesalahan yang pernah dibuatnya.
Alif mengingat bagaimana ia memutuskan untuk meninggalkan Kiana lima tahun lalu, sebuah keputusan yang ia anggap benar pada saat itu, namun kini menjadi penyesalan seumur hidup. Kiana adalah wanita yang tak pernah berhenti mencintainya, dan Haidar adalah anak yang ia miliki tetapi tak pernah mengenalnya. Kini, ia ingin semua itu berubah.
Pagi berikutnya, Kiana membuka pintu rumah dan menemukan Alif berdiri di depan pintu dengan ekspresi serius. "Aku tahu ini sulit untukmu, Kiana. Tapi aku tidak bisa terus berdiri di luar, menunggu tanpa tahu apa yang akan terjadi. Aku ingin berbicara tentang Haidar. Aku ingin mencoba memperbaiki semuanya."
Kiana memandangnya dengan penuh kebimbangan, merasakan emosi yang bergolak di dalam dirinya. Apakah ia akan membuka hati untuk pria ini dan memberi Haidar kesempatan untuk mengenal ayahnya? Ataukah ia akan menutup pintu dan menjaga perlindungannya dari segala kemungkinan yang tak pasti?
Alif mendekat, matanya penuh dengan kejujuran yang membuat Kiana terdiam. "Aku tahu aku sudah salah, Kiana. Tapi aku ingin memperbaikinya. Aku ingin Haidar tahu bahwa dia punya ayah yang mencintainya. Aku ingin memberikan kesempatan pada keluarga kita, walau aku tahu tak ada yang bisa menghapus masa lalu."
Kiana menatap Alif, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tahu, ini bukan hanya tentang dirinya dan Alif, tetapi tentang Haidar yang layak mendapat kasih sayang dan perlindungan. "Jika aku memberi kesempatan ini, aku ingin kau tahu satu hal, Alif. Aku akan melindungi Haidar dengan segenap jiwa raga. Jika kau benar-benar ingin jadi bagian dari hidupnya, tunjukkan bahwa kau layak mendapatkannya."
Alif mengangguk, air mata juga menggenang di matanya. "Aku akan buktikan itu, Kiana. Aku berjanji."
Dan di tengah hujan yang masih mengguyur bumi, di ruang yang sunyi itu, sebuah babak baru dimulai, penuh harapan, kebingungan, dan janji yang sulit ditepati. Namun, di sana, di antara dua hati yang terluka, ada secercah harapan yang mulai tumbuh-meskipun perlahan dan rapuh.
Anda Mungkin Juga Suka





