Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikhianati Saudara Tiri

Dikhianati Saudara Tiri

Dunia Kiana Putri hancur saat Salsabila, saudara tirinya, dan sahabatnya sendiri, Dara, mengkhianatinya. Terusir dari rumah penuh kenangan, ia bangkit dan sukses menjadi desainer perhiasan setelah lima tahun berjuang. Meski mandiri membesarkan putranya, Haidar, hati Kiana tetap tertutup rapat. Tiba-tiba, Alif muncul membawa tawaran mengejutkan: pernikahan dan janji untuk menjaga Haidar. Di tengah keraguan akibat luka lama, Kiana harus menghadapi kehadiran pria misterius ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam itu, angin berhembus kencang, menghantam jendela-jendela rumah yang hampir sepi. Kiana Putri, duduk sendirian di ruang kerjanya, memandang ke luar dengan mata yang menatap kosong pada kegelapan malam. Desain-desain perhiasan yang tak selesai berserakan di meja, namun malam itu, jari-jarinya tak bergerak. Semuanya tak berarti-seolah dunia luar memisahkan dirinya dari kehidupan yang ia bangun dengan susah payah. Di belakangnya, dinding yang dipenuhi gambar-gambar potongan batu permata dan sketsa berlian itu seolah menciptakan batas antara dirinya dan kenyataan.

Seluruh perasaan yang terkubur di dalam diri Kiana, seperti arus bawah laut yang datang dan pergi, muncul kembali. Malam itu mengingatkan pada saat-saat gelap yang pernah menjemputnya dengan kejam lima tahun lalu. Kiana mengusap wajahnya, mencoba menepis air mata yang hampir jatuh. Namun, kenangan itu tetap menguasai pikirannya-kenangan tentang malam di mana ia ditusuk oleh kepercayaan yang telah lama ia miliki, oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Kiana menarik napas dalam-dalam, matanya beralih ke foto hitam-putih yang terletak di meja. Potret itu menunjukkan dirinya, berusia dua puluh tahun, dengan senyuman ceria di wajah, mengelilingi Haidar, anak laki-lakinya yang masih berusia satu tahun saat itu. Haidar, dengan bola mata cokelat gelap dan rambut hitam legam seperti ibunya, adalah satu-satunya alasan mengapa Kiana tetap hidup. Ia menyentuh foto itu, seolah ingin merasakan kehangatan dari masa lalu yang tak pernah kembali.

"Haidar," bisiknya, suara yang bergetar. "Aku harus kuat untukmu."

Di luar, hujan mulai turun, tetesan airnya membentuk pola di kaca jendela. Suara gerimis itu seperti bisikan kenangan yang berulang, mengingatkan pada malam ketika hujan pertama kali menyaksikan kejatuhannya. Waktu itu, rumah besar yang kini kosong dan sunyi terasa seperti penjara yang menjebaknya, di mana kata-kata menyakitkan dan janji-janji kosong bersatu membentuk dinding yang tidak bisa ditembus.

"Kenapa aku di sini, dan bukan di sana?" Kiana bertanya pada bayangannya sendiri. Di ruang sunyi itu, hanya suara deru angin dan hujan yang menjawab.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki di depan pintu membangunkan Kiana dari lamunannya. Ia merasakan sesuatu yang aneh, seolah dunia di sekelilingnya terhenti sejenak. Jantungnya berdegup kencang. Mungkinkah Haidar sudah terjaga? Tapi tidak, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kiana menahan napas dan berjalan perlahan menuju pintu, mencoba memahami apakah itu hanya imajinasinya atau sesuatu yang lebih nyata.

"Pasti hanya angin," gumamnya, tapi suara di luar semakin jelas-ada ketukan lembut, diikuti dengan suara serak yang mengenalinya.

"Kiana...," panggilan itu penuh dengan kebingungan dan rasa cemas. Suara itu-itu suara Alif.

Kiana merasa tubuhnya kaku, seolah ada tangan yang membekap mulutnya, mencegahnya untuk berbicara. Sejenak, ia merasa dunia seperti berputar, dan semua ingatan buruk itu kembali mengguncangnya. Alif, pria yang telah lama hilang, kembali muncul setelah lima tahun. Setiap potongan kenangan yang berkaitan dengannya terasa seperti pisau yang menusuk.

Dengan langkah goyah, Kiana membuka pintu dan menemukan Alif berdiri di sana, wajahnya basah oleh hujan, dan mata itu memancarkan keputusasaan. Ia terlihat lelah, dan di tangannya, ada sebuah amplop cokelat tua yang terlipat rapi.

"Kiana, aku tahu ini tidak tepat, dan aku tidak seharusnya datang di malam seperti ini, tapi... aku harus berbicara denganmu," kata Alif, suaranya berat, penuh penyesalan.

Kiana menatapnya, ingin mengabaikan semua perasaan itu, ingin menutup pintu dan mengusirnya, tapi ada sesuatu di matanya yang membuatnya ragu. Kiana menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya. "Kau tidak punya hak untuk datang ke sini, Alif. Sudah lima tahun. Apa yang kamu inginkan?"

Alif mengangkat amplop itu, matanya tetap menatap Kiana. "Aku ingin berbicara tentang Haidar."

Nama itu, seperti mantra yang memiliki kekuatan untuk menarik Kiana dari semua kenyataan pahit, membuat jantungnya terhenti. Haidar. Anak yang ia jaga sendirian, yang ia besarkan tanpa bantuan siapa pun. Anak yang bahkan tak pernah tahu siapa ayahnya.

"Tidak ada yang bisa kamu katakan tentang Haidar. Dia bukan urusanmu," kata Kiana dengan suara yang tegas, meskipun ia bisa merasakan getaran di dalam dadanya.

Alif menghela napas panjang. "Haidar adalah anakku juga, Kiana. Aku tahu aku salah. Aku meninggalkanmu, dan aku meninggalkan dia. Tapi sekarang, aku ingin memperbaikinya. Aku ingin mengakui dia sebagai anakku."

Tangan Kiana gemetar, ingin meraih amplop itu, namun hatinya menolak. Mengapa sekarang? Mengapa baru sekarang dia muncul, setelah semua penderitaan yang ia alami? "Apa yang membuatmu berpikir aku akan mempercayaimu, Alif?" tanyanya, matanya basah.

"Karena aku tahu aku salah. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa jadi ayah yang baik untuknya. Aku ingin memperbaiki semuanya, walau aku tahu tidak ada yang bisa menghapus apa yang telah terjadi."

Mata Kiana berkaca-kaca, tetapi ia berusaha keras menahan air mata itu. Apa yang harus ia lakukan? Ia memandang Alif, pria yang dahulu menjadi segalanya bagi Kiana, sebelum pengkhianatan itu menghancurkan segalanya. Sekarang, di hadapannya, ada pria yang meminta kesempatan untuk kembali. Namun, apakah permintaan itu hanya kebohongan yang dibalut penyesalan? Atau apakah ini kesempatan untuk memberikan Haidar seorang ayah, walau ia sendiri masih belum siap?

"Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kamu datang dan mengatakan semua ini?" Kiana menatap Alif dengan tatapan penuh pertanyaan.

Alif menunduk, sejenak terdiam. "Karena aku sadar bahwa aku tidak bisa terus menghindar dari kenyataan. Aku melihat Haidar di suatu tempat, di gambar yang kau unggah. Dia tumbuh menjadi anak yang luar biasa, dan aku ingin ada di sana untuknya. Aku tahu aku tidak berhak meminta maaf atau mendapatkan kesempatan kedua, tapi aku ingin kau tahu, Kiana... aku ingin mengakui Haidar sebagai anakku."

Suasana di ruang itu terasa berat. Angin yang bertiup kencang membawa suara hujan yang semakin deras, menambah ketegangan. Kiana memandang Alif, mencari kejujuran di matanya, tetapi hatinya terpecah antara amarah dan harapan. Akankah ia memberi pria itu kesempatan untuk menebus semua kesalahan? Ataukah ia akan mengusirnya dan tetap menjaga jarak, menghindari luka lama yang mungkin terbuka kembali?

"Alif," kata Kiana, suaranya penuh kebimbangan. "Kau harus tahu, tidak ada jaminan bahwa aku akan memaafkanmu. Haidar adalah hidupku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengancam kebahagiaannya."

Alif mengangguk, air matanya hampir tumpah, tetapi ia menahannya. "Aku tidak ingin mengancam kebahagiaannya. Aku hanya ingin menjadi bagian dari hidupnya, jika kau membiarkanku."

Kiana memejamkan mata, mencoba mencerna kata-kata itu. Lima tahun lalu, ia mungkin akan jatuh dalam pelukan Alif, berharap segalanya bisa diperbaiki. Namun, kini, ia hanya ingin melindungi Haidar-anak yang ia rawat dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan.

Kiana membuka matanya dan melihat Alif yang berdiri dengan ekspresi penuh penyesalan. Ia tahu, di balik permintaan ini, ada cinta yang tersembunyi. Namun, apakah cinta itu cukup untuk mengubah segalanya? Ia tak tahu. Yang jelas, hatinya tidak pernah begitu terombang-ambing seperti sekarang.

"Aku akan memikirkan ini, Alif," katanya akhirnya, suara yang lemah. "Tapi kau harus mengerti, ini bukan keputusan yang mudah."

Alif mengangguk dan menunduk, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan rumah tanpa berkata-kata lagi. Kiana menutup pintu dengan perlahan, merasa seolah sebuah babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bad Duda
9.2
Edeline dihantui trauma mendalam yang membuatnya takut bersentuhan dengan pria. Namun, takdir membawanya menjadi dokter magang di rumah sakit milik Elvis Dalton, seorang duda arogan yang dikenal kejam. Meski awalnya saling membenci, benih kebutuhan mulai tumbuh di antara mereka. Keduanya adalah jiwa yang terluka oleh masa lalu dan penyesalan. Akankah pertemuan ini menyatukan kepingan puzzle hidup mereka, ataukah semesta justru memisahkan dua insan yang penuh luka ini?
Sampul Novel Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
8.1
Marco menjanjikan piknik romantis di tebing, namun ia justru mendorong Clara ke jurang demi selingkuhannya, Chika. Meski tubuhnya hancur, Clara bertahan hidup dan mendengar rencana keji Marco untuk memalsukan kematiannya sebagai kecelakaan. Di tengah keputusasaan, api balas dendam mulai membara. Harapan muncul saat Julian Suryo, miliarder sekaligus musuh bebuyutan suaminya, datang menyelamatkannya. Kini, Clara siap menghancurkan pria yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Jerat Cinta Lelaki Muda
8.6
Rafka Mahendra, playboy kampus yang gemar menaklukkan wanita, menerima tantangan teman-temannya untuk memacari dosen baru yang dingin dan tegas, Sarah Adisty Mahira, dalam sebulan. Meski terus diabaikan, Rafka nekat melakukan segala cara, termasuk menyewa mata-mata demi menyelidiki rahasia masa lalu Sarah. Saat menemukan titik lemah sang dosen, Rafka memanfaatkannya sebagai ancaman. Akankah intrik ini memaksa Sarah tunduk, ataukah permainan cinta Rafka justru berujung di luar kendali?
Sampul Novel Kasih Sayang Yang Datang Terlambat
8.8
Murka karena anak dari wanita dambatannya pingsan akibat dehidrasi, seorang ayah tega menghukum putri kandungnya sendiri. Gadis itu diikat dan disekap di dalam bagasi mobil yang terparkir di garasi. Meski memohon ampun, sang ayah memberi perintah dingin agar tidak ada yang melepaskannya. Jeritannya tak pernah terdengar siapa pun. Saat sang ayah kembali setelah tujuh hari untuk membebaskannya, dia tidak menyadari bahwa putrinya telah tewas dalam kesunyian.
Sampul Novel Kisah Penyesalan Masa Lalu Yang Menusuk
9.7
Sepuluh tahun pernikahan dengan Pradipa hanya menyisakan luka pedih karena ia masih terobsesi pada cinta pertamanya. Puncaknya, Pradipa tega memaksaku mendonorkan darah demi wanita itu. Di ambang maut, sebuah penglihatan masa lalu mengungkap dosa besarku yang telah menghancurkan Adam, pria tulus yang mencintaiku. Kini aku terbangun dengan kesempatan kedua. Aku bertekad melepaskan Pradipa dan menebus kesalahan demi menemukan kedamaian sejati.
Sampul Novel Married by Accident
8.7
Hidup Clara hancur setelah dilecehkan oleh dosennya sendiri. Tragisnya, pelaku justru menimpakan kesalahan pada Dev, seorang mahasiswa hukum. Terjebak dalam situasi pelik, Clara terpaksa menikahi Dev meski ia masih memiliki kekasih. Benih cinta mulai muncul saat Dev berjanji menuntut keadilan secara hukum. Namun, pernikahan mereka diguncang rahasia besar yang disembunyikan Dev. Mampukah cinta Clara bertahan di tengah prahara dan misteri masa lalu suaminya?