Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dikhianati Saat Hati Masih Percaya

Dikhianati Saat Hati Masih Percaya

Arkan Ravendra kehilangan pengantinnya, Nayara, yang terpaksa menikah siri dengan Darryl Adraya akibat penebusan utang. Arkan bersumpah merebutnya kembali, sementara istri sah Darryl, Laras, merasa dikhianati hingga terjebak hubungan gelap dengan pria lain. Nayara kini terhimpit di antara keluarga Arkan yang obsesif dan keluarga Darryl yang merendahkannya. Akankah cinta tumbuh dari keterpaksaan ini, atau semua hancur saat masa lalu menuntut balas?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sinar matahari pagi menyelinap melalui jendela kamar Nayara, namun hatinya tetap gelap oleh rasa bingung dan cemas. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap secangkir teh yang mulai mendingin. Aroma harum teh tak mampu menenangkan pikirannya. Hari-hari terakhir terasa seperti badai yang tiada ujung; setiap langkahnya selalu dibayangi pilihan-pilihan yang sulit.

Sejak pernikahan siri itu, Nayara merasa seperti boneka yang digerakkan oleh tangan tak terlihat. Darryl adalah suaminya secara resmi, tapi hatinya tidak pernah menyerah pada pria itu. Sementara Arkan, meski jauh, tetap menjadi bayangan yang menghantui setiap detik kehidupannya.

Di luar, hujan semalam meninggalkan genangan air yang berkilauan di jalanan kota. Nayara menatap itu, membayangkan bagaimana semua hal tampak tenang di luar, sementara kehidupannya penuh kekacauan.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Arkan: "Aku akan menemuimu malam ini. Siapkan dirimu."

Jantung Nayara berdegup kencang. Ia menelan ludah, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, pertemuan ini bisa mengubah segalanya-atau menghancurkan sisa ketenangannya.

Sementara itu, Darryl duduk di ruang kerjanya, menandatangani dokumen proyek perkebunan. Ia menerima telepon dari ayahnya, yang menekankan pentingnya pengawasan proyek. Namun pikirannya melayang pada Nayara. Ia tahu, wanita itu tidak nyaman dalam pernikahan mereka. Ia pun merasakan ketegangan yang sama, yang mungkin Nayara rasakan-perasaan campur aduk antara tanggung jawab, kebingungan, dan sesuatu yang lebih dalam.

"Darryl," suara Laras terdengar di belakang, lembut tapi tegas. "Aku ingin bicara."

Darryl menoleh, melihat istrinya yang sah berdiri di ambang pintu. Laras menatapnya, matanya berbicara lebih dari kata-kata. Ada ketegangan, rasa bersalah, sekaligus ketertarikan yang tak bisa disembunyikan.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Darryl, menutup dokumen, matanya menatap serius.

"Ini tentang pernikahan sirimu... Nayara," Laras memulai. "Aku tahu ini bukan cinta darimu, tapi aku juga tidak bisa berpura-pura. Aku... aku merasa terjebak di antara apa yang benar dan apa yang kuinginkan."

Darryl diam, menahan napas. Ia tahu, Laras mulai menunjukkan sisi rentan yang selama ini tersembunyi. Namun ia juga tahu, mereka harus hati-hati. Semua ini terlalu rumit untuk diselesaikan hanya dengan percakapan sederhana.

Di sisi lain kota, Arkan sudah berada di depan rumah Nayara. Hujan gerimis mulai turun, namun ia tidak peduli. Hatanya dipenuhi tekad dan kemarahan yang sama: ia tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya tetap dalam pernikahan yang salah.

Nayara membuka pintu ketika ia mendengar ketukan. Arkan berdiri di sana, jasnya basah, rambutnya menempel di dahi, tapi sorot matanya tajam dan penuh tekad.

"Arkan... apa yang kau lakukan di sini?" Nayara bertanya, suaranya gemetar.

"Aku tidak bisa diam. Aku harus melihatmu, berbicara denganmu," jawab Arkan. "Aku tahu kau sudah menikah siri... tapi aku tidak peduli. Aku akan mendapatkannya kembali."

Nayara menunduk, menahan air mata. "Ini tidak seharusnya terjadi, Arkan... tapi aku tidak punya pilihan."

Arkan melangkah masuk, mengabaikan hujan yang menetes di jasnya. Ia menatap Nayara dengan intensitas yang membuatnya hampir gemetar. "Aku tidak peduli. Aku akan membuatmu melihat... hatimu tidak pernah meninggalkanku."

Percakapan itu terhenti sejenak saat suara Darryl terdengar dari ponsel Nayara, menandakan ada panggilan masuk dari rumah. Nayara menatap Arkan, merasa seperti terjebak di antara dua dunia.

"Maaf... aku harus menjawab ini," katanya, suaranya lirih.

Arkan menatapnya dengan mata penuh kemarahan yang terkontrol. "Aku mengerti... tapi jangan lupa, Nayara. Aku tidak akan menyerah."

Saat Nayara mengangkat telepon, suara Darryl terdengar di ujung sana, hangat namun tegas. "Nayara, aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Kita perlu bicara malam ini."

Malam itu, Nayara duduk di kamar, pikirannya kacau. Ia tahu pertemuan malam ini akan menentukan segalanya. Hatinya terasa berat, dilematis antara dua pria yang kini menjadi bagian hidupnya dengan cara yang berbeda.

Di saat yang sama, Arkan merencanakan langkahnya. Ia tahu, menghadapi Darryl bukan hanya soal perasaan. Ini juga soal strategi, perhitungan, dan risiko yang bisa menghancurkan semuanya. Ia menatap foto-foto mereka berdua, mengingat kenangan yang tak bisa dihapus begitu saja.

"Ini bukan hanya tentang aku... ini tentang kita, Nayara. Aku tidak akan membiarkanmu tersiksa oleh pernikahan yang salah," gumam Arkan, menutup kotak berisi surat-surat dan foto lama mereka.

Di tempat lain, Darryl menyiapkan dirinya untuk pembicaraan malam itu dengan Nayara. Ia tahu, mereka perlu membicarakan perasaan, batasan, dan tanggung jawab. Namun hatinya juga berat; ia menyadari bahwa mencintai Nayara tidak semudah yang ia kira.

Sementara Laras, duduk di ruang tamu, menatap cermin. Ia menyisir rambutnya, menenangkan diri, tapi pikirannya tetap pada Darryl. Ia tahu, suaminya kini terikat dengan Nayara, namun hatinya sendiri mulai tergoda oleh seseorang yang memberinya perhatian lebih.

Malam pun tiba. Nayara duduk di ruang tamu rumahnya, menunggu Arkan. Ia merasa campur aduk: takut, rindu, dan bersalah sekaligus.

Ketika Arkan muncul di depan pintu, ia langsung menghampiri Nayara. "Aku tidak bisa menunggu lagi," katanya, suaranya tegas.

"Arkan... ini sulit," Nayara berbisik. "Aku tidak bisa... dan aku juga harus mempertimbangkan keluargaku."

"Apakah itu berarti kau menyerah padaku?" tanya Arkan, suaranya berat, matanya menatap tajam.

Nayara menunduk, menahan tangis. "Bukan... tapi aku takut. Aku takut kehilangan semuanya-hatiku, keluargaku, dan hidupku sendiri."

Arkan meraih tangannya, menggenggamnya dengan lembut namun tegas. "Nayara, dengarkan aku. Tidak ada yang lebih penting daripada hatimu. Jika kau bersamaku... kita bisa melewati semua ini bersama."

Tiba-tiba ponsel Nayara bergetar lagi. Ini panggilan dari Darryl. Nayara menatap Arkan, hatinya hancur karena harus memilih.

Arkan menghela napas, melepaskan genggaman tangannya. "Jawablah. Aku akan menunggu."

Nayara mengangkat telepon. "Darryl... aku mendengarkan."

Darryl terdengar tenang namun ada ketegangan di balik suaranya. "Nayara... aku tahu ini sulit, tapi kita perlu bicara. Tentang kita... dan tentang pernikahan ini."

Percakapan itu berlangsung panjang, penuh pertanyaan, pengakuan, dan kejujuran. Nayara merasa berat hatinya terbagi dua: di satu sisi ada Arkan, yang selalu mencintainya tanpa syarat; di sisi lain ada Darryl, yang mulai menunjukkan sisi lembut dan perhatian yang selama ini ia lewatkan.

Hari-hari berikutnya, dinamika semakin rumit. Arkan mulai muncul lebih sering, membuat Nayara merasa bersalah sekaligus terhibur. Darryl mencoba mendekati Nayara dengan cara yang berbeda, menunjukkan bahwa ia bisa menjadi suami yang baik, meskipun hubungan mereka lahir dari pernikahan yang salah.

Laras, di sisi lain, semakin terjebak dalam dilema cintanya sendiri. Ia tahu, hubungannya dengan Darryl bisa berisiko, namun ia tidak bisa menahan perasaannya.

Konflik keluarga pun mulai menumpuk. Keluarga Arkan menuntut agar Nayara kembali, sedangkan keluarga Darryl menekankan pentingnya menyesuaikan diri dengan status barunya. Tekanan sosial juga mulai muncul: tetangga, teman lama, dan kolega bisnis memperhatikan pernikahan siri ini, menambah ketegangan.

Di tengah semua itu, Nayara mulai belajar tentang dirinya sendiri. Ia menyadari, meskipun hidup memaksanya mengambil jalan yang salah, ia memiliki kekuatan untuk memilih-untuk cinta, untuk keluarga, dan untuk dirinya sendiri.

Malam itu, setelah semua ketegangan dan pertemuan panjang, Nayara duduk di balkon rumahnya. Angin malam membawa aroma hujan yang tersisa, menenangkan pikirannya yang kacau. Ia menutup mata, membiarkan bayangan Arkan dan Darryl bergantian hadir di kepalanya.

Hatinya berbisik: Aku harus memilih... tapi aku tidak tahu siapa yang benar-benar dimiliki hatiku.

Di tempat yang berbeda, Arkan menatap bintang-bintang, meneguhkan tekadnya. "Aku tidak akan menyerah. Suatu hari, Nayara akan kembali padaku," gumamnya.

Sementara Darryl menatap dokumen di ruang kerjanya, menyadari bahwa menjaga pernikahan siri ini bukan hanya soal formalitas, tapi soal hati-dan itu jauh lebih rumit daripada yang ia kira.

Laras, menatap cermin di kamarnya, menyadari satu hal: cinta, meski terlarang, selalu memiliki konsekuensi yang harus dibayar.

Pagi itu, udara terasa berat di rumah keluarga Ramadhani. Nayara duduk di meja makan, menatap secangkir teh yang belum ia sentuh. Sarapan sudah tersaji, tapi perutnya terasa kosong. Pikirannya masih berkutat pada malam-malam penuh ketegangan dan percakapan panjang dengan Arkan dan Darryl.

Ayahnya, Rachman Ramadhani, duduk di seberangnya dengan wajah serius, menatap Nayara seolah ingin membaca setiap pikiran yang tersembunyi.

"Nayara," kata ayahnya perlahan, "aku tahu ini sulit bagimu. Tapi kau harus mengerti... keputusan ini bukan hanya soal hatimu. Ini soal keluarga, tanggung jawab, dan masa depan kita."

Nayara menunduk, menahan napas. "Aku mengerti, Bapak. Aku hanya... tidak ingin menyakiti siapapun."

Rachman menghela napas panjang. "Kadang, kita tidak bisa menghindari rasa sakit. Tapi kau harus kuat. Dan ingat, ini bukan akhir dari segalanya."

Di sisi lain kota, Arkan Ravendra Mahesa duduk di kantor ayahnya, menatap layar komputer yang menampilkan proyek-proyek bisnis keluarga. Namun pikirannya jauh dari angka dan laporan. Hatinya dipenuhi bayangan Nayara-senyumnya, tatapannya, dan setiap momen yang pernah mereka lewati bersama.

"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilnya begitu saja," gumam Arkan. "Aku akan membuatnya melihat... hatinya selalu milikku."

Hari itu, Arkan memutuskan untuk mengambil langkah berani. Ia menghubungi beberapa sahabat dekatnya untuk merencanakan strategi-bukan untuk konfrontasi langsung, tapi untuk membuka jalan agar Nayara bisa melihat pilihan lain, pilihan yang sebenarnya ia inginkan.

Sementara itu, Darryl Adraya Kesuma tengah menghadiri rapat penting di kantor cabang perkebunan. Ia menerima laporan dari manajer proyek, namun pikirannya tetap melayang pada Nayara. Ia sadar, pernikahan siri ini bukan sekadar formalitas-ada hati yang harus dijaga, ada perasaan yang mulai tumbuh, meski awalnya tak diinginkan.

Di rumah, Laras Anindya mulai merasa ketegangan antara dirinya dan Darryl semakin meningkat. Ia tahu, suaminya kini terikat dengan Nayara, namun hatinya sendiri mulai tergoda oleh perhatian seorang pria lain yang selama ini membuatnya merasa hidup kembali.

"Apakah aku salah?" Laras bertanya pada dirinya sendiri di depan cermin. "Atau ini hanyalah jalan hidup yang terlalu rumit?"

Malam harinya, Nayara menerima pesan dari Arkan. "Aku di depan rumahmu. Jangan berpikir panjang."

Jantung Nayara berdegup kencang. Ia tahu pertemuan ini bisa menjadi titik balik-atau membuatnya semakin bingung. Hujan turun lagi, menambah suasana dramatis malam itu.

Ketika Arkan tiba, Nayara membukakan pintu. Mereka berdua berdiri berhadapan, suasana tegang, hujan menetes di jas Arkan.

"Nayara, aku tidak bisa menunggu lagi," kata Arkan, menatapnya dengan intensitas yang membuat jantung Nayara hampir berhenti.

"Aku... aku tidak bisa, Arkan. Aku sudah menikah," Nayara berbisik, suaranya hampir hilang ditelan hujan.

"Dan itu membuatmu tidak bahagia, kan?" tanya Arkan, suaranya pelan tapi penuh kemarahan yang terkontrol. "Aku tahu hatimu tetap untukku. Kau tidak bisa membohongi diri sendiri."

Nayara menunduk, air matanya jatuh pelan. "Arkan... aku takut. Aku takut salah langkah, takut melukai semua orang..."

Arkan melangkah lebih dekat, menatapnya. "Nayara, dengarkan aku. Tidak ada yang lebih penting daripada hatimu. Jika kau bersamaku... kita bisa melewati semua ini bersama. Aku janji, tidak ada yang akan menyakiti kita jika kita bersama."

Percakapan mereka terhenti saat telepon Nayara bergetar. Panggilan masuk dari Darryl. Hatinya hancur, terjebak di antara dua dunia: Arkan yang selalu mencintainya, dan Darryl yang mulai menunjukkan sisi lembut yang menenangkan.

"Aku harus menjawabnya," Nayara berbisik, suaranya lirih.

Arkan menatapnya dengan mata penuh perasaan. "Jawablah. Aku akan menunggu."

Di sisi lain, Darryl duduk di ruang kerjanya, menunggu panggilan Nayara. Ia tahu ini bukan sekadar percakapan biasa. Ia ingin memastikan bahwa hubungan mereka tetap berjalan, meski tahu hati Nayara tidak sepenuhnya miliknya.

Percakapan itu berlangsung lama, penuh pertanyaan, pengakuan, dan kejujuran. Nayara merasa berat hatinya terbagi dua: di satu sisi ada Arkan, cinta pertamanya; di sisi lain ada Darryl, yang kini mulai menunjukkan sisi lembut dan perhatian yang membuatnya bingung.

Hari-hari berikutnya, konflik semakin memuncak. Arkan mulai muncul lebih sering, membuat Nayara merasa bersalah sekaligus terhibur. Darryl mencoba mendekati Nayara dengan cara yang berbeda, menunjukkan bahwa ia bisa menjadi suami yang baik, meski hubungan mereka lahir dari pernikahan yang salah.

Laras, di sisi lain, semakin terjebak dalam dilema cintanya sendiri. Ia tahu, hubungannya dengan Darryl bisa berisiko, namun ia tidak bisa menahan perasaannya.

Keluarga Arkan mulai menekan Nayara secara halus, mengingatkannya tentang tanggung jawab terhadap masa lalu dan janji yang pernah dibuat. Sementara keluarga Darryl menuntut agar Nayara menyesuaikan diri dengan status barunya, menimbulkan tekanan sosial dan tatapan heran dari teman-teman lama dan tetangga.

Nayara mulai menyadari satu hal: hidupnya kini penuh jebakan. Setiap keputusan yang diambil memiliki konsekuensi besar. Ia harus menyeimbangkan cinta, tanggung jawab keluarga, dan keinginan hatinya sendiri.

Suatu sore, Arkan datang lagi ke rumah Nayara, membawa setangkai mawar merah basah karena hujan. Ia menatap Nayara dengan serius.

"Kau harus memilih, Nayara. Tidak ada waktu lagi untuk ragu. Hatimu tidak bisa dibagi. Kau harus memutuskan siapa yang sebenarnya kau cintai," kata Arkan, suaranya tegas.

Nayara terdiam. Ia menunduk, menahan air mata. "Aku... aku tidak tahu. Aku takut menyakiti mereka semua."

Arkan mendekat, menggenggam tangannya dengan lembut. "Kau tidak akan menyakiti siapa pun jika kau jujur pada hatimu sendiri. Ingat itu."

Malam itu, Nayara duduk sendiri di balkon, menatap langit gelap bertabur bintang. Angin membawa aroma hujan yang tersisa, menenangkan pikirannya yang kacau. Ia menutup mata, membiarkan bayangan Arkan dan Darryl bergantian hadir di kepalanya.

Hatinya berbisik: Aku harus memilih... tapi aku tidak tahu siapa yang benar-benar dimiliki hatiku.

Di sisi lain kota, Arkan menatap bintang-bintang, meneguhkan tekadnya. "Aku tidak akan menyerah. Suatu hari, Nayara akan kembali padaku," gumamnya.

Darryl, di ruang kerjanya, menyadari bahwa menjaga pernikahan siri ini bukan hanya soal formalitas. Ia harus memahami Nayara, menjaga hatinya, dan memastikan hubungan mereka tetap berjalan. Namun ia juga tahu, cinta bukan sekadar kewajiban-ia harus berjuang untuk mendapatkan hati Nayara sepenuhnya.

Laras menatap cermin di kamarnya, menyadari satu hal: cinta, meski terlarang, selalu memiliki konsekuensi. Dan setiap tindakan yang diambil akan menentukan arah hidupnya, antara kebahagiaan dan kesalahan yang sulit diperbaiki.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Fall For You
9.6
Arsenio Orlando Lazcano adalah CEO Lazcano's Corps yang kaya dan penuh kharisma. Di balik pesonanya, ia menyembunyikan sisi gelap sebagai pria yang tak segan membunuh. Namun, dunianya yang kelam berubah total setelah sebuah insiden mempertemukannya dengan seorang gadis lugu yang sangat baik hati. Perbedaan kepribadian yang kontras justru memicu rasa penasaran Arsen. Ketertarikan mendalam pun muncul saat ia mulai terobsesi pada gadis yang sangat polos tersebut.
Sampul Novel Bos Posesifku
9.5
Richard Lewis awalnya meremehkan Viola, sekretaris barunya yang cantik namun ternyata sangat cerdas dan tangguh. Terpikat oleh pesonanya, Richard berupaya keras memenangkan hati Viola meski sang wanita masih menutup diri akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Lewat sikap posesif dan aturan ketat, Richard mencoba membuktikan kesungguhannya. Namun, Viola tetap bergeming. Akankah Richard berhasil meluluhkan Viola di tengah persaingan dengan dua pria lainnya?
Sampul Novel CEO YANG MENKUJGKIRBALIKKAN DUNIAKU
8.3
Delia, mahasiswi sederhana, terjerat asmara dengan Arkan, sang pewaris konglomerat. Namun, kebahagiaan itu sirna saat tunangan Arkan muncul dan mempermalukan Delia. Sikap Arkan yang diam membisu meninggalkan luka dalam. Empat tahun berselang, takdir membawa Arkan kembali sebagai CEO di kantor baru Delia. Di tengah bayang masa lalu, Delia harus memilih antara mengundurkan diri, bertahan, atau menuntut balas atas rasa sakitnya yang belum usai.
Sampul Novel Dari Pion Milik Pria, Menjadi Ratu Milik Wanita
9.5
Kania Halim, jurnalis pemberontak, terjebak dalam hubungan rahasia dengan CEO Elang Solehudin. Ternyata, ia hanyalah alat bagi Elang untuk melindungi Clara. Pengkhianatan Elang mencapai puncaknya saat ia membiarkan Kania dipenjara hingga membiarkannya terluka dalam kecelakaan demi menyelamatkan Clara. Sadar hanya menjadi beban yang dikorbankan, Kania bangkit dari kehancuran. Ia menghancurkan dunia Elang dan memulai hidup baru melalui pernikahan dengan miliarder lain.
Sampul Novel Hello Love Sign
8.7
Sandhya Sheina Aninditha sangat membenci keluarga Levanchois, namun terpaksa bertahan demi sebuah misi rahasia di tengah intrik kantor yang toksik. Saat ingin balas dendam dan mengundurkan diri, ia justru bertemu Samuel Clark Levanchois, pria paling berkuasa di keluarga itu. Samuel menawarkan kontrak bisnis yang menggiurkan demi membebaskan Sheina dari bos lamanya. Terjebak dalam persaingan dominasi, mampukah Sheina lepas dari jerat cinta pria yang sangat ia benci tersebut?
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Sebagai istri miliarder teknologi bernama Kian, aku adalah penenang jiwanya. Namun, ia justru memberikan dana medis adikku kepada selingkuhannya demi suaka kucing. Saat kecelakaan tragis merenggut nyawa adikku, Kian membiarkanku terluka demi wanita itu. Puncak pengkhianatan terungkap saat aku ingin bercerai; pernikahan kami ternyata palsu dan penuh tipu daya. Kini, aku menghubungi pria dari masa laluku untuk membalas dendam dan menghancurkan kerajaan Kian.