Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dijodohkan Hantu

Dijodohkan Hantu

Erina, yatim piatu yang selamat dari tragedi kebakaran, memiliki kemampuan melihat hantu. Selama seminggu, sesosok arwah wanita terus menguntitnya demi sebuah permintaan ganjil: menghibur suaminya yang berduka. Meski sempat menolak, Erina akhirnya luluh dan menemui Eldrick Damiano. Pertemuan itu justru menumbuhkan benih cinta di hati Erina. Namun, Eldrick telah menutup rapat hatinya dan bersumpah hanya akan mencintai mendiang istrinya selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Seperti yang sudah hantu wanita itu katakan, kalau dia akan terus mengikuti Erina ke mana pun Erina pergi. Dan dia benar-benar melakukannya seperti sekarang ini, Erina sedang berbelanja bulanan di supermarket dan hantu wanita itu berada begitu dekat dengannya. Sesekali Erina merinding karena hawa dingin yang diciptakan wanita itu.

Setelah mendapatkan semua barang dan bahan makanan yang Erina perlukan, dia berjalan menuju kasir. Membayar belanjaannya.

Erina menoleh kesal ketika dia sudah tiba di rumah. Hantu wanita itu menatapnya tenang. Erina berjalan ke dapurnya dan mengambil kotak garam. "Aku benar-benar akan melempari kamu dengan ini jika kamu masih mengikutiku," ancam Erina.

"Maaf kalau kehadiranku mengganggumu, Erina. Tapi aku tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi. Hanya kamu satu-satunya harapanku," ucap hantu cantik itu lirih. Erina mendesah pelan. Dia kesal dengan rasa kemanusiaannya yang tinggi.

"Kamu berjanji pergi kalau aku sudah menemui suamimu?" tanya Erina yang di balas anggukan senang dari wanita berwajah pucat itu.

"Di mana aku harus menemuinya?" tanya Erina lagi. Dia akan melakukannya dengan cepat. Setelah itu dia akan kembali dengan dunia ter-nyamannya.

"Di kantornya. Aku lupa alamatnya, tapi aku bisa menuntun mu sampai ke sana." Erina mengangguk kecil.

"Sebelum itu, aku harus tahu dulu nama kamu semasa masih hidup." Erina harus memiliki rencana yang matang untuk bertemu dengan pria itu. Jika dia tiba-tiba datang dan meminta pria itu untuk tidak bersedih, bisa-bisa dia kira gila.

"Sera. Mutia Seraphine," jawab hantu wanita itu setelah dia terdiam cukup lama. Semakin lama, ingatan semasa dia hidup semakin memudar. Jadi sebelum dia melupakan semuanya, dia harus meninggalkan dunia manusia.

"Nama suami kamu?"

"Eldrick Damiano." Kali ini dia menjawab dengan lancar.

"Aku tidak asing dengan nama itu," kata Erina pelan. Dia berusaha mengingat di mana dia pernah mendengar nama itu. Namun seberapa keras pun usahanya, tetap dia tidak mengingatnya. Mungkin dia hanya pernah mendengar nama itu sekilas.

"Besok aku kerja masuk siang. Jadi, pagi kita bisa pergi ke kantor tempat dia bekerja."

***

"Apa masih jauh?" tanya Erina ketika dia berhenti karena lampu lalu lintas berganti merah. Saat ini mereka sudah berada di tengah jalan raya menuju kantor Eldrick.

"Mbak ngomong sama saya?" Seorang pengendara pria yang berhenti tepat di samping Erina bertanya dengan raut bingung.

Erina tersenyum kikuk lalu menunjuk headset bluetooth yang menempel di telinganya. Beruntung dia memakainya tadi. Erina membenarkan helm nya lalu mulai melajukan motornya karena lampu lalu lintas sudah berubah hijau.

"Tidak, sudah dekat," Jawab Sera datar.

"Di sana." Sera menunjuk gedung pencakar langit yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.

"Kamu yakin?"

"Iya."

Erina kemudian mencari tempat parkir untuk motor. Sedikit kesulitan karena memang tempat parkir motor cukup jauh dari gedung utama. Erina mengipasi wajahnya menggunakan tangan kanannya, cuaca hari ini cukup terik membuat dia berkeringat dan kepanasan.

"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya resepsionis begitu Erina berdiri di sana.

"Saya ingin bertemu dengan Eldrick Damiano," jawab Erina lugas. Resepsionis itu lalu mengamati penampilan Erina.

"Sudah buat janji?"

"Belum, tapi saya ingin menyampaikan pesan penting dari mendiang istrinya," kata Erina. Dia mencari keberadaan Sera yang sejak di parkiran tadi menghilang. Dasar hantu tidak bertanggung jawab!

"Baik, di tunggu sebentar, saya akan menghubungi beliau." Erina tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.

Si resepsionis itu berbicara sambil sesekali mengamati Erina dari bawah ke atas. Erina sampai risih di buatnya.

"Maaf, dengan Mbak siapa?" Resepsionis itu bertanya seraya menjauhkan gagang telepon dari telinganya.

"Erina," jawab Erina cepat. Kemudian si resepsionis yang bernama Dini itu kembali berbicara di telepon. Lalu tidak lama dia meletakkan kembali gagang telepon setelah pembicaraannya berakhir

"Boleh minta kartu identitasnya, Mbak?" Erina mengeluarkan kartu identitasnya dari dalam tas lalu memberikannya pada si resepsionis. Resepsionis itu kemudian memberikan Erina kartu tamu sebagai kartu akses untuk masuk ke dalam.

"Sementara kartu identitasnya saya pegang iya, Mbak. Nanti setelah keluar dari ruangan Pak Eldrick bisa ambil lagi kartu identitasnya di saya," ucap si resepsionis itu dengan sopan.

"Oh iya, ruangan Pak Eldrick ada di lantai lima puluh iya, Mbak," tambah si resepsionis bernama Dini itu.

"Makasih, Mbak," ucap Erina sebelum dia meninggalkan lobby.

Erina menempelkan kartu tamu miliknya untuk membuka lift yang akan mengantarkannya ke ruangan Eldrick. Erina kemudian menekan tombol angka limapuluh. Dia dalam kotak besi itu hanya ada dirinya seorang. Mungkin karena jam kantor sudah mulai sejak dua jam yang lalu jadi, tidak ada karyawan yang berlalu lalang. Menunggu selama beberapa saat Erina akhirnya tiba di lantai limapuluh. Dia disambut oleh seorang wanita dengan penampilannya yang sangat rapi.

"Perkenalkan, saya Rinda sekretaris Pak Eldrick. Mari saya akan mengantar Anda ke ruangan beliau," sapa wanita itu datar. Erina mengikuti wanita bernama Rinda itu dengan jantung berdebar gugup. Dia yakin kalau suami Sera bukan pria sembarangan, dia mulai ragu dengan langkah yang dia pilih. Namun, dia sudah terlanjur berada di sini.

"Baiklah, Erina mari lakukan dengan cepat," bisik Erina pada dirinya sendiri.

"Silakan masuk, beliau sudah menunggu," kata sekretaris Eldrick lagi.

"Terima kasih,Mbak," ucap Erina tulus. Wanita itu hanya mengangguk. Erina lalu memasuki ruangan bernuansa hitam putih tersebut. Matanya langsung menangkap keberadaan seorang pria di balik meja kerja. Erina menggigit bagian dalam pipinya untuk mengurangi rasa takut karena tatapan tajam dan menusuk yang dilayangkan pria itu untuknya.

"Dari mana kau mengenal istriku?" pertanyaan dengan sarat nada mengancam itu masuk ke telinga Erina.

"Saya sebenarnya tidak terlalu mengenalnya," jawab Erina jujur.

"Lalu pesan apa yang kau sampaikan?" Eldrick kembali bertanya dan kali dengan sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum sinis. Sejak istrinya meninggal empat bulan yang lalu ada banyak murahan yang melemparkan diri padanya. Mereka melakukan berbagai cara bahkan dengan cara paling rendahan dan menjijikkan. Dan wanita di depannya ini ada yang bernyali karena berani menyebut mendiang istrinya. Eldrick mengepalkan tangan erat, rasanya dia ingin sekali meninju wajah sok polos wanita itu.

"Sera meminta agar Anda tidak bersedih lagi, dia mengatakan supaya Anda merelakan kepergiannya," ucap Erina pelan.

"Berapa uang yang kau inginkan?" Lagi-lagi pertanyaan dilontarkan Eldrick. Dan kali ini pertanyaan yang dia ajukan membuat kerutan yang cukup dalam di kening perempuan itu. Erina menoleh bingung, dia merasa tidak menyinggung soal uang sejak tiba di ruangan itu.

"Saya tidak ingin menginginkan uang." Erina menjawab pelan. Dia kemudian menunduk karena tidak berani beradu pandang dengan Eldrick. Tatapan pria itu seolah-olah mengulitinya.

Eldrick mengamati penampilan wanita itu dari atas hingga bawah, tidak ada yang terlewat sedikit pun dari pengamatannya. Penampilannya sangat sederhana dan itu mengingatkannya dengan awal-awal kebersamaannya dengan Sera dulu. Eldrick mendengus sinis, bakan wanita itu meniru Sera untuk menarik perhatiannya.

"Lalu apa yang kau inginkan? Tubuhku?" Erina menggeleng, dia semakin bingung dengan topik pembicaraan pria itu.

"Tidak perlu munafik! Kau bahkan berdandan seperti Sera, kalau bukan untuk menarik perhatianku memangnya untuk apa lagi?"

"Maaf, tapi saya memang tidak bermaksud untuk melakukan hal Anda tuduhkan. Kedatangan saya ke sini murni karena saya ingin membantu Sera."

"Apa kau pikir aku percaya? Aku mengenal Sera, aku juga mengenal siapa saja yang berteman dengannya." Eldrick menggebrak meja di depannya. Dia benar-benar emosi melihat wanita di depannya itu.

"Keluar dari ruangan ku sekarang! Dan jangan pernah tunjukkan wajah munafik kamu di hadapanku lagi. Menjijikkan!" ucap Eldrick sinis.

Erina berdiri dengan tubuh gemetar, dia menangkap keberadaan Sera di ruangan itu dengan wajah pucat-nya. Erina berbalik lalu keluar dari ruangan itu dengan kekesalan yang sempurna. Dia memaki-maki Eldrick dalam hati menyumpahi pria itu kesepian seumur hidup.

"Laki-laki sialan!" kesal Erina begitu dia tiba di parkiran.

"Kamu pikir aku dengan suka rela datang dan bertemu orang sombong sepertimu? Dasar tidak punya hati!" teriak Erina, tidak peduli pada beberapa orang yang lewat menatapnya dengan tatapan penasaran. Erina mengeluarkan kunci motornya lalu meninggalkan tempat itu. Dia berjanji tidak akan mau lagi bertemu dengan Eldrick.

Erina berkendara menuju Nine Market, jam kerja tiga puluh menit lagi. Dia memacu motornya dengan kecepatan sedang, dia tidak terlalu terburu-buru. Moodnya sedang tidak baik, takutnya dia malah membuat celaka dirinya sendiri.

"Erina?"

Erina menoleh lalu tersenyum tipis pada pria yang memanggil namanya itu. Raditya Erlangga, merupakan Pimpinan Lokasi di Nine Market. Pria itu adalah atasan Erina dan tiga orang lagi yang bekerja di Nine Market. Total pekerja yang ada di sana memang hanya mereka berlima dan Raditya biasanya hanya berkujung tiga kali dalam seminggu karena dia juga memegang Nine Market cabang lainnya.

"Siang, Mas," sapa Erina. Saat ini dia sudah berada di parkiran Nine Market.

"Kamu libur?" Raditya sembari berjalan semakin dekat dengan Erina.

"Oh, enggak, Mas."

"Lalu?" Raditya melihat baju yang Erina kenakan.

"Eh, aku bawa ganti, Mas." Erina membuka bagasi motornya lalu mengeluarkan seragamnya yang terbungkus rapi menggunakan plastik berwarna merah. Raditya mengangguk paham.

"Izin ke dalam duluan, Mas."

"Oh iya, silakan," balas Raditya memberikan jalan pada perempuan itu. Raditya terus menatap Erina hingga perempuan itu menghilang di balik pintu karyawan. Gadis itu telah mencuri hatinya sejak pertama kali Erina bekerja di sana tiga tahun lalu. Raditya ingin sekali mengungkapkan perasaannya namun, melihat sikap Erina dia urung mengatakannya. Gadis itu sangat tertutup, tidak satu pun dari tiga karyawan lainnya yang dekat dengannya. Erina selalu menjaga jarak, dia tahu itu.

Tapi kali ini Raditya sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaannya. Dia sudah terlalu lama memendamnya dan Erina harus jadi miliknya. Karena Raditya begitu mencintai gadis pendiam itu.

Raditya masuk ke dalam Nine Market dan menemukan Erina sedang duduk di ruangan khusus karyawan. Perempuan itu sedang memoles wajahnya dengan riasan tipis kemudian menyatukan rambut panjangnya dan ikat kuat membentuk ekor kuda.

"Erina."

"Iya, Mas," jawab Erina cepat.

"Kamu tetap cantik walaupun tanpa riasan wajah," kata Raditya kemudian berlalu meninggalkan Erina dengan wajah kaku.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 15 + (Lima Belas Tahun Ke Atas)
8.5
Kehidupan masa SMA di sekolah 15 penuh dengan momen kocak dan tingkah konyol. Tiga orang sahabat menjalani hari-hari mereka dengan tawa serta berbagai kejadian absurd yang mewarnai dunia remaja. Menariknya, rangkaian peristiwa unik ini diangkat dari pengalaman nyata seorang pemuda bernama Vlomontleus. Pembaca akan dibawa menyelami dinamika persahabatan yang autentik, penuh kejutan, serta sangat relevan dengan realitas kehidupan anak muda masa kini.
Sampul Novel Luna Baru Alfa-ku: Hidup yang Dirampas, Pasangan yang Ditelantarkan
9.6
Terbangun dari tidur terkutuk selama lima tahun, aku mendapati Kaelan, Alpha-ku, telah menggantikanku dengan seorang Omega. Keluargaku sendiri menyatakan aku mati secara hukum demi melantik Luna baru. Bahkan anakku lebih memilih wanita itu dan mengharapkan kematianku. Saat aku sekarat setelah dicelakai, Kaelan justru menguras darahku demi menyelamatkan kekasihnya. Melihat pengkhianatan mereka, aku sadar keberadaanku hanyalah beban bagi kebahagiaan mereka.
Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel I Choose The Villain Crown Prince
8.6
Pembunuh bayaran bereinkarnasi sebagai Athea Dominic, putri bangsawan yang dibenci karena darah Klan Api. Di kehidupan lalu, ia tewas tragis akibat cinta buta pada Pangeran Alexander. Kini, ia bangkit menjadi prajurit elite demi membalas dendam saat keluarganya dibantai. Athea kemudian bersekutu dengan Azrael, pria misterius yang ternyata Putra Mahkota Klan Api. Bersama-sama, mereka berjuang menggulingkan takhta sang pangeran jahat dan menuntut keadilan bagi klan mereka.
Sampul Novel Istri Tetanggaku Kuntilanak
8.1
Alif kembali ke Kampung Menyan dan langsung terjebak di antara Lisa dan Ning. Namun, desa itu dicekam teror hilangnya bayi serta janin secara misterius. Perhatian Alif teralihkan oleh Kumara, istri tetangga yang cantik namun dituduh sebagai kuntilanak karena tabiat anehnya. Kumara mengaku memiliki masa lalu dengan Alif yang telah ia lupakan. Di tengah misteri dan pesona mistis tersebut, Alif harus mengungkap kebenaran di balik sosok Kumara dan anomali di desanya.
Sampul Novel Kembalinya Pewaris yang Ditinggalkan
8.2
Tiga tahun pengabdian Chelsea berakhir pahit saat sang kekasih mencampakkannya di altar demi wanita lain. Namun, status gadis desa itu hanyalah kedok. Chelsea bangkit sebagai pewaris tunggal konglomerat terkaya dan menguasai kekayaan triliunan. Di tengah gempuran musuh yang iri akan kesuksesannya, ia justru menemukan sekutu tak terduga. Nicholas, pria yang dikenal dingin dan kejam, kini berdiri di sisinya untuk mendukung setiap langkah balas dendamnya.