
Dijebak Dipelaminan
Bab 3
Adeline menatap bayangannya di cermin besar di dalam kamar tamu yang kini menjadi miliknya. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya terasa seperti belenggu yang mencekiknya perlahan. Setiap helaian kain putih itu terasa seperti simbol penghinaan, bukan kebahagiaan.
Tangannya terangkat, perlahan melepaskan tiara yang sejak tadi terasa berat di kepalanya. Rambut panjangnya yang semula ditata rapi kini berantakan, sama seperti hidupnya yang porak-poranda dalam satu malam.
Terlalu banyak hal yang terjadi. Terlalu cepat.
Dia datang sebagai tamu, tapi pulang sebagai istri dari pria yang bahkan tidak menginginkannya.
Tidak, bukan hanya tidak menginginkan. Alaric Mahendra membencinya.
Adeline mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Matanya terarah ke jari manisnya, di mana cincin pernikahan berkilau dalam redupnya cahaya kamar. Tangannya terkepal. Jika dia bisa, dia ingin melepasnya, membuangnya jauh-jauh-tetapi dia tahu itu tidak mungkin.
Di luar sana, dunia melihatnya sebagai Nyonya Mahendra. Seorang istri dari pewaris paling berpengaruh di negeri ini.
Tapi di dalam rumah ini, dia tidak lebih dari seorang penyusup yang dipaksa masuk dalam hidup seorang pria yang tidak menginginkannya.
Dan dia harus bertahan.
Pagi pertama sebagai Nyonya Mahendra dimulai dengan cara yang jauh dari kata nyaman.
Ketika Adeline turun ke lantai bawah, aroma kopi yang pahit memenuhi udara. Dia menemukan Alaric duduk di meja makan, membaca koran dengan ekspresi serius.
Pria itu tampak sempurna dalam balutan kemeja putih dengan lengan tergulung, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kokoh. Bahkan dalam sikap santainya, Alaric tetap terlihat seperti seseorang yang terbiasa memiliki kendali atas segalanya.
Termasuk kendali atas hidupnya.
Tanpa menoleh sedikit pun, Alaric berbicara. "Kita perlu membuat sesuatu menjadi jelas."
Adeline melangkah mendekat, duduk di kursi di seberangnya. "Apa lagi?"
Alaric melipat korannya, menatapnya dengan dingin. "Aku tidak ingin ada yang berubah dalam hidupku hanya karena kita terjebak dalam pernikahan ini. Jangan mengusik ruang pribadiku, jangan ikut campur dalam bisnis atau urusan pribadiku."
Adeline menyilangkan tangan di dada. "Itu sudah jelas."
"Dan satu hal lagi," lanjut Alaric, suaranya semakin tajam. "Di depan publik, kita harus berperan sebagai pasangan yang harmonis. Keluargaku, para media, dan para pemegang saham tidak boleh tahu bahwa pernikahan ini hanyalah omong kosong."
Adeline terkekeh sinis. "Jadi, aku hanya harus menjadi istri pura-pura di depan orang lain?"
Alaric tersenyum dingin. "Kau cukup pintar untuk memahami konsepnya."
Adeline mengangguk, lalu bersandar ke belakang. "Kalau begitu, aku juga punya aturan sendiri."
Alaric mengangkat alis. "Oh? Aku penasaran."
Adeline menatapnya tajam. "Aku tidak akan menjadi istri yang patuh dan tunduk padamu hanya karena kita menikah. Aku tidak akan mengikuti perintahmu, dan aku tidak akan membiarkanmu mengendalikan hidupku."
Alaric tertawa rendah. "Dan kau pikir aku peduli dengan apa yang kau lakukan dalam hidupmu?"
Adeline tersenyum sinis. "Bagus. Maka kita sudah sepakat."
Mata mereka bertemu dalam tatapan penuh tantangan. Mereka mungkin telah diikat oleh sebuah pernikahan yang tidak mereka inginkan, tetapi tidak ada yang akan tunduk begitu saja.
Pernikahan ini bukan tentang cinta.
Ini adalah perang.
Dan hanya waktu yang akan menentukan siapa yang akan memenangkan pertempuran pertama.
Anda Mungkin Juga Suka





