Sampul Novel Satu Malam Bersama CEO Duda

Satu Malam Bersama CEO Duda

7.8 / 10.0
Dalam novel Satu Malam Bersama CEO Duda, Azka terjebak skandal yang mengancam reputasinya sebagai pebisnis. Ia terpaksa menikahi Zia untuk menjaga nama baik. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti perjuangan Azka melindungi Zia di webnovel modern yang penuh intrik keluarga.
Ringkasan Satu Malam Bersama CEO Duda
Azka, seorang CEO duda, terjebak dalam skandal setelah seseorang membiusnya di sebuah pesta. Ia terbangun di ranjang yang sama dengan Zia, wanita asing yang tak ia kenal. Akibat desakan keluarga Zia dan ancaman lapor polisi yang bisa merusak reputasinya, Azka terpaksa menikahi Zia. Meski awalnya menolak, rasa iba muncul saat melihat Zia diperlakukan buruk oleh keluarganya sendiri. Mampukah pernikahan paksa ini berbuah manis atau justru penuh luka?
Baca Selengkapnya

Satu Malam Bersama CEO Duda Bab 1

"Huwaaa!" Seorang perempuan berumur 25 tahun berteriak setelah melihat ada seorang laki-laki yang tidur di sampingnya. Ia pun lantas duduk, dan memeriksa pakaiannya. Napas lega ia hembuskan saat melihat pakaian di tubuhnya masih utuh. Kemudian ia mengamati laki-laki itu yang kini mulai mengerjapkan matanya, karena terganggu dengan suara teriakan tadi.

Membuka mata, Azka pun sontak bangun dari posisinya berbaring saat melihat ada seorang perempuan yang tengah memperhatikannya. Sama dengan perempuan itu tadi, Azka pun lantas memeriksa tubuhnya, dan bersyukur pakaiannya masih membungkus tubuhnya. Artinya, di antara mereka tidak terjadi apa-apa.

"Siapa kamu?" tanya Azka dingin.

"Harusnya aku yang tanya siapa kamu," balas perempuan itu dengan ketus, tetapi matanya seperti menyiratkan kekaguman pada Azka.

Azka sontak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang tampak asing. Ia bingung, kenapa bisa berada di sini, dan tiba-tiba bangun dengan mendengar teriakan seorang perempuan asing yang berada di ranjang yang sama dengannya.

"Bisakah kamu memberitahu saya, di mana ini?" ujar Azka.

Perempuan itu menghela napas, lalu menatap Azka. "Kalau aku ingat-ingat, sebelum aku kehilangan kesadaran, aku sempat menghadiri sebuah pesta rekan bisnis papaku di sebuah hotel mewah."

Pesta?

Azka pun sontak teringat, bahwa dirinya pun sempat menghadiri sebuah pesta.

Memejamkan mata, Azka mencoba mengingat apa yang telah terjadi, sebelum akhirnya ia berakhir di kamar ini.

Azka ingat sekarang. Tadi malam ia menghadiri pesta kolega bisnisnya. Berbincang dengan beberapa orang yang dikenalnya di acara itu, lalu bertemu dengan seorang teman lama. Temannya itu menyodorkan sebuah minuman. Tadinya Azka menolak, karena mengira jika minuman itu mengandung alkohol. Tapi setelah temannya mengatakan bahwa minuman itu tak beralkohol, Azka pun lantas menerima, dan meminumnya.

Setelah beberapa menit, kepala Azka terasa pusing, pun matanya yang terasa berat. Entah apa yang terjadi setelah itu, hingga akhirnya pagi ini Azka dikejutkan dengan adanya seorang perempuan di ranjang yang sama dengannya.

"Apakah ini di hotel tempat dilaksanakannya pesta pak Bram?" Azka bertanya dengan menyebutkan nama orang yang mengadakan pesta tadi malam. Perempuan yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan kagum itu pun tersentak, dan salah tingkah.

"Ya, sepertinya sih," jawab gadis itu.

Kamar tempat Azka, dan perempuan itu berada terbilang cukup luas, dan mewah. Entah siapa yang membawanya ke mari tadi malam, apakah temannya atau bukan, Azka sungguh penasaran.

"Saya sepertinya pingsan setelah minum sesuatu saat pesta tadi malam," ujar Azka. "Bagaimana denganmu, Nona?"

Perempuan itu mulai mengingat apa yang terjadi semalam.

"Seingat aku, tadi malam aku meminum beberapa gelas anggur, hingga membuatku pusing. Lalu, adikku datang, memapah, dan sepertinya membawaku ke kamar ini," tutur perempuan itu.

Azka diam, sembari mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelum ia pingsan, apakah ada yang terlewat atau tidak.

Jika ia pingsan setelah meminum minuman yang diberikan oleh temannya, Azka jadi bertanya-tanya, apa motif dari temannya itu. Sengaja menjebaknya kah? Atau temannya itu juga tidak tahu bahwa di minuman itu ada sesuatu?

Di saat Azka tengah berpikir, perempuan itu justru mengamati Azka. Wajah Azka yang rupawan khas orang Asia timur, dengan warna kulit yang putih bersih, membuat perempuan itu tidak bisa untuk tidak memujanya di dalam hati.

"Mmm ... ngomong-ngomong, namaku Zia, Tuan. Nama Anda siapa?"

Azka menoleh ke arah perempuan itu yang kini sudah mengulurkan tangan kepadanya.

Maksudnya mengajak berkenalan begitu? Azka tidak habis pikir, di situasi seperti ini, perempuan itu justru mengajaknya berkenalan.

Merasa malu karena uluran tangannya tak bersambut, perempuan yang mengaku bernama Zia pun akhirnya menurunkan tangannya. "Ah, tidak apa-apa kalau Tuan tidak mau menyebutkan nama Tuan. Oh ya, mungkin semalam Anda mabuk, Tuan, sama seperti aku yang kebanyakan minum anggur."

"Saya tidak mabuk, karena kata teman saya yang memberikan minuman, minuman itu tidak mengandung alkohol," kata Azka.

"Masa sih? Anda yakin?" Zia tampak tidak percaya. "Zaman sekarang, mana ada laki-laki yang nggak minum minuman beralkohol, apalagi di acara pesta."

Azka berdecak sebal. "Nyatanya memang ada, dan itu saya."

Tidak tahu, apakah yang membuatnya tadi malam pingsan itu alkohol atau sejenis obat yang ditaruh di minumannya, tapi Azka benar-benar tidak pernah meminum minuman beralkohol.

Dirinya memang bukan orang baik, Azka menyadari itu. Namun, sebrengsek-brengseknya Azka, ia tak pernah sekalipun mencicipi minuman haram itu.

Di masa lalu, Azka memang sempat jauh dari Tuhan. Sering meninggalkan sholat sebagai kewajibannya yang seorang muslim, sering tidak ikut puasa Ramadhan, dan sering mengabaikan kewajiban yang lainnya. Meski demikian, bukan berarti Azka suka mengkonsumsi barang haram.

"Terus, kenapa Anda bisa ada di sini, dan tidur di ranjang yang sama dengan saya, Tuan?"

"Sekarang bagaimana kalau pertanyaan itu dibalik, kenapa kamu bisa berada di sini?" Azka membalikkan pertanyaan kepada Zia.

"Ya kalau aku sih, mungkin aja adikku tadi malam mesenin kamar ini buatku yang udah mabuk berat, dan tidak mungkin dibawa pulang. Kalau Tuan gimana?" kata Zia.

"Sama saja. Mungkin teman saya tadi malam yang membawa saya ke sini."

"Tapi masa kita bisa berada di kamar yang sama sih? Kalau adikku atau temennya Anda mesenin kamar, tidak mungkin sengaja mesenin kamar yang sama kan, kecuali kalau mereka udah merencanakan sesuatu?"

Azka mengangguk-angguk, membenarkan perkataan Zia. Keduanya lantas tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan belum ada yang beranjak dari ranjang itu.

Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dari luar, dan masuklah beberapa orang.

"Astaga! Zia! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang laki-laki paruh baya dengan raut terkejut. Di belakangnya ada seorang wanita paruh baya, dan seorang gadis yang umurnya tidak jauh dari Zia. "Dan siapa laki-laki bre***ek ini? Jangan bilang kalian telah melakukan tindakan asusila!"

Zia lantas melompat dari ranjang, lalu mendekati laki-laki paruh baya itu. "Pah, ini tidak seperti yang Papah lihat. Aku dijebak, Pah."

"Benar, Pak, kami dijebak," timpal Azka. Dirinya tentu tidak mau dituduh yang tidak-tidak.

"Halah, omong kosong! Udah ketauan sama-sama di kamar yang sama, di ranjang yang sama pula, masih berani-beraninya ngaku dijebak. Apa kalian tidak tahu malu?" Wanita paruh baya di belakang ayah Zia itu, seperti sengaja membuat suasana semakin tegang.

"Mah, kami memang dijebak. Tadi malam aku mabuk, terus Gea yang memapah aku, dan juga yang bawa aku ke sini," ucap Zia sambil menunjuk gadis di belakang wanita paruh baya itu.

Ayah Zia sontak menoleh ke arah gadis yang bernama Gea, seakan meminta penjelasan.

"Pah, emang bener, tadi malam aku yang bawa kak Zia ke kamar ini. Aku juga kan, yang tadi ngasih tau Papah sama Mamah kalau kak Zia nginep di sini? Tapi aku nggak tau kalau ternyata ada laki-laki di kamar inap kak Zia," kata Gea.

Ayah Zia kembali menatap Zia sebentar, lalu beralih menatap Azka dengan tajam. "Jelaskan pada saya, apa yang telah kamu lakukan pada anak saya!"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Satu Malam Bersama CEO Duda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel BAHAGIA SETELAH DUKA
8.3
Hubungan asmara Gabriel dan Nadya terhalang tembok besar restu keluarga akibat perbedaan keyakinan. Demi meminang Nadya yang merupakan penganut agama yang taat, Gabriel rela berpindah keyakinan dan berkomitmen menjadi imam yang baik. Namun, pengorbanan besar tersebut harus dibayar mahal. Keputusannya membuat Gabriel kehilangan haknya sebagai ahli waris Indofarma Grup dan namanya pun resmi dicoret dari daftar keluarga besarnya.
Sampul Novel I Love You
8.7
Selama dua dekade, seorang CEO muda yang rupawan menghabiskan hidupnya demi mencari sosok cinta sejati yang ia idamkan. Penantian panjang tersebut akhirnya menemui titik terang saat takdir mempertemukannya dengan orang yang dicari melalui sebuah peristiwa yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah kemewahan dunianya, ia harus menghadapi momen tak terduga yang akan mengubah seluruh perjalanan asmara serta masa depan hidupnya.
Sampul Novel Janjinya, Kehancurannya
8.6
Malam puncak karier arsitekturku berubah menjadi kehancuran saat tunanganku, Baskara, memberikan hasil karyaku kepada cinta pertamanya. Aku dipaksa menjadi mentor wanita itu hingga mengalami kekerasan fisik yang berujung pada pemecatanku. Bahkan saat aku hamil anaknya, Baskara tega mencelakaiku di rumah sakit dan meninggalkanku berdarah. Muak dengan pengkhianatannya, aku memilih pergi jauh, mengganti identitas, dan menghilang bersama bayiku selama lima tahun.
Sampul Novel Menikah dengan Cinta Pertama
9.4
Setelah delapan tahun berpacaran tanpa kepastian, rahasia kelam James akhirnya terungkap. Di tengah acara reuni, dia dengan santai menunda pernikahan, tidak menyadari bahwa pasangannya telah mengetahui perselingkuhannya dengan wanita yang lebih muda. Alih-alih meratap, sang wanita dengan tegas mengumumkan tanggal pernikahannya sendiri di hadapan teman-teman mereka. Saat James menuntut penjelasan dengan amarah, dia menyadari bahwa pria yang akan bersanding di pelaminan bersamanya bukanlah James.
Sampul Novel Pernikahan tanpa cinta.
7.9
Intan, seorang anak tunggal, terpaksa hidup bagaikan boneka di bawah kendali orang tuanya. Ia dipaksa menjalani perjodohan yang hanya mendatangkan penderitaan serta luka batin mendalam. Diangkat dari kisah nyata, novel ini mengikuti perjuangan emosional Intan dalam menghadapi pernikahan tanpa rasa cinta. Akankah ia berhasil menemukan kebahagiaan dan cinta sejatinya? Ikuti terus perjalanan hidupnya yang penuh haru hingga akhir dalam narasi yang menyentuh hati.
Sampul Novel Tiga Miliar Untuk Semalam
8.1
Selena terjepit utang tiga miliar setelah ayahnya wafat dan ibunya sakit parah. Demi menyelamatkan rumah dan nyawa sang ibu, gadis berusia 22 tahun ini terpaksa menerima tawaran nekat untuk menjual diri. Di sebuah hotel mewah, ia bertemu pria berkuasa yang dingin dan misterius. Namun, satu malam itu bukan sekadar transaksi singkat, melainkan awal dari pusaran konflik cinta rumit dan rahasia kelam yang mengubah seluruh takdir hidupnya selamanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan