
Diculik Untuk Menjadi Ibu
Bab 2
Alina duduk terdiam di ranjang yang terasa terlalu luas untuknya. Ruangan yang terletak di lantai atas sebuah gedung mewah itu terasa asing. Kamar tidur yang tampak seperti sesuatu yang keluar dari majalah desain interior itu semakin membuatnya merasa kecil dan terasing. Ia melirik sekeliling, menyadari bahwa tidak ada jejak yang familiar. Tidak ada benda yang dikenalnya, tidak ada petunjuk tentang bagaimana ia bisa sampai di tempat ini.
Tubuhnya masih terasa lelah, dan rasa pusing akibat kecelakaan tadi belum sepenuhnya hilang. Ia mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian yang membawanya ke titik ini. Hujan lebat, kemacetan, truk yang menabrak mobilnya-semua itu berputar-putar di pikirannya, seperti mimpi buruk yang tak bisa dia hentikan. Namun, satu hal yang pasti: Ia terbangun di sini, di tempat yang tidak dikenalnya, dengan seorang pria yang mengaku sebagai suaminya yang kedua.
"Ivan Vasiliev," gumam Alina pelan, mencoba mengingat nama pria yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya. Seorang konglomerat kaya raya yang ia tahu hanya melalui berita dan gosip bisnis. Tiba-tiba, dia merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak. Apa yang membuat pria ini memilihnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dia-seorang wanita biasa-terjebak dalam permainan yang begitu besar dan penuh dengan misteri ini?
Alina menggigit bibirnya. Hatinya penuh dengan kebingungan dan rasa marah yang mendalam. Ia merasa seperti boneka yang dipermainkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan jauh di atasnya.
Ivan, yang kini menjadi bagian dari kehidupan yang begitu kacau ini, telah menjelaskan bahwa dia dan istrinya yang pertama, Anastasia, membutuhkan seorang ibu pengganti. Mereka tidak bisa memiliki anak sendiri dan membutuhkan seorang wanita yang bersedia mengorbankan dirinya untuk membantu mereka. Mereka akan memberi imbalan, tentu saja-sebuah janji yang menggiurkan. Tetapi apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Alina merasa ada lebih banyak yang disembunyikan dari dirinya.
Setelah beberapa saat, pintu kamar terbuka dengan suara pelan. Alina menoleh, melihat seorang pelayan wanita muda masuk dengan membawa nampan berisi makanan. Pelayan itu meletakkan nampan di meja dekat ranjang, lalu menatap Alina dengan tatapan yang penuh rasa kasihan.
"Anda belum makan," ujar pelayan itu lembut, matanya penuh empati. "Makanlah dulu, Nona. Anda membutuhkan energi setelah kejadian malam itu."
Alina merasa tidak lapar sama sekali, perutnya terasa kosong bukan karena kelaparan, tetapi karena perasaan bingung dan marah yang melanda dirinya. Namun, dia tahu bahwa dia harus menjaga penampilannya, jika hanya untuk menyembunyikan kekacauan emosional yang dia rasakan.
"Terima kasih," jawab Alina dengan suara pelan. Pelayan itu tersenyum lembut dan berjalan keluar, meninggalkan Alina dengan berbagai pertanyaan yang tak terjawab.
Alina menatap nampan di meja, makanan yang ada di sana tampak lezat-beberapa potong daging panggang, sayuran segar, dan sepotong kue cokelat yang tampaknya baru dipanggang. Namun, semua itu terasa tidak nyata. Ia merasa terjebak dalam hidup orang lain, terjerat dalam janji yang tidak pernah dia buat.
Dia menghela napas panjang. "Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku?" pikirnya dalam hati. "Dan siapa sebenarnya Ivan Vasiliev ini?"
Dengan rasa bingung yang semakin dalam, Alina memutuskan untuk mencari jawaban sendiri. Meskipun dia tahu bahwa situasi ini sangat berbahaya, sesuatu dalam dirinya memaksa untuk mencari kebenaran. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terus terjebak dalam ketidakpastian ini. Dia tidak bisa membiarkan orang-orang ini mengontrol hidupnya begitu saja.
Beberapa jam kemudian, Alina sudah berada di ruang tamu besar yang terlihat semakin menakutkan saat semakin malam. Kursi-kursi kulit hitam yang elegan dan lampu kristal yang memancarkan cahaya redup hanya membuat suasana semakin suram. Pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni terbuka, dan Ivan masuk ke dalam dengan langkah besar dan penuh kekuasaan. Wajahnya yang tampan kini terlihat lebih serius dari biasanya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang penting.
"Alina," Ivan memulai dengan suara berat, "sudahkah kamu mencerna apa yang aku katakan tadi?"
Alina berdiri, menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi, Ivan? Mengapa aku di sini? Apa yang kalian inginkan dariku?" suara Alina penuh dengan ketegasan, meskipun di dalam hatinya, dia merasa cemas.
Ivan berjalan mendekat, matanya menyiratkan ketegasan dan sedikit kekhawatiran. "Aku tahu ini bukanlah keadaan yang kamu inginkan, tetapi aku menjamin bahwa kamu akan diperlakukan dengan baik di sini. Kami hanya membutuhkan kamu untuk menjadi ibu pengganti kami, untuk membantu Anastasia dan aku memiliki anak."
"Dan kau kira aku begitu saja akan menerima semua ini?" tanya Alina dengan nada tinggi. "Kau pikir aku hanya akan mengorbankan hidupku begitu saja? Menjadi ibu pengganti untuk pasangan yang bahkan aku tidak kenal?"
Ivan terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Alina, aku tahu ini sulit. Tapi ada lebih banyak yang terjadi di balik layar ini daripada yang kamu kira. Aku tidak bisa memberitahumu semuanya sekarang, tapi aku berjanji kamu akan memahami keputusan ini."
Alina merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya, sesuatu yang lebih besar dari apa yang Ivan katakan. "Apa yang kau sembunyikan dariku, Ivan?" tanya Alina, nadanya semakin mendalam.
Ivan tidak menjawab. Sebaliknya, dia menatap Alina dengan tatapan yang penuh arti. "Kamu akan tahu waktunya nanti," jawabnya pelan.
Alina merasa marah dan frustasi. "Aku tidak ingin terjebak dalam permainan yang tidak aku pilih," katanya, suara penuh ketegasan.
Namun, Ivan hanya menggelengkan kepala, seperti seseorang yang sudah terlalu lama berada dalam dunia yang keras ini. "Kamu tidak punya pilihan, Alina," jawabnya dengan suara datar, "Kamu sudah terjebak dalam permainan ini. Yang bisa kamu lakukan sekarang hanyalah memilih bagaimana kamu akan memainkan peranmu."
Perkataan Ivan terasa seperti pukulan yang menghantam hatinya. Alina merasa terhimpit, terperangkap dalam dunia yang dia sendiri tidak pilih. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Setiap pilihan yang ada di hadapannya terasa salah.
"Tapi aku akan menemukan jalan keluar dari ini," pikir Alina dalam hati, meskipun keraguan menggerogoti pikirannya. "Aku tidak akan membiarkan diriku terperangkap di dalam permainan ini selamanya."
Malam itu, Alina tidur dengan pikiran yang penuh. Di satu sisi, dia merasa sangat terjebak, tetapi di sisi lain, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mencari jalan keluar. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini begitu saja. Jika hidupnya harus berubah, dia akan memastikan bahwa dia adalah orang yang memegang kendali atas hidupnya sendiri, bukan orang lain.
Namun, malam itu, di luar jendela kamar, hujan kembali turun dengan derasnya. Dan Alina tahu, bahwa malam itu hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
Anda Mungkin Juga Suka





