
Diculik Untuk Menjadi Ibu
Bab 3
Keheningan malam menyelimuti gedung mewah tempat Alina terkurung. Hujan yang tak kunjung reda memercikkan suara gemericik dari jendela kamar yang terbuka sedikit, memberi sedikit kedamaian yang kontras dengan kegelisahan di dalam hati Alina. Ia tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi oleh begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan kecemasan yang tak terhindarkan tentang masa depan.
Ia bisa merasakan angin dingin yang masuk ke dalam kamar, tetapi tidak bisa mengabaikan perasaan terjebak yang lebih menusuk dari hawa malam itu. Alina menggerakkan tubuhnya dan duduk di tepi ranjang, menatap cermin besar di dinding yang memantulkan bayangannya. Wajahnya terlihat kelelahan, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang semakin menonjol.
"Kenapa aku bisa sampai di sini?" pikir Alina dalam hati. "Apa yang mereka inginkan dariku, dan mengapa aku harus menjadi bagian dari permainan mereka?"
Saat itulah pintu kamar terbuka lagi, kali ini lebih pelan. Alina menoleh, dan melihat seorang pria dengan wajah yang tak asing baginya-Ivan Vasiliev. Ia berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam yang sempurna, rambutnya yang gelap disisir rapi, dan matanya yang tajam menatapnya dengan intensitas yang membuat Alina merasa tercekik.
"Alina," suara Ivan terdengar lebih lembut dari biasanya. "Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tapi aku ingin kau tahu, tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Semua ini... ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi bersama."
Alina memandangnya dengan tajam, marah dan bingung. "Kenapa aku? Kenapa harus aku yang terjebak dalam permainan kalian? Apa yang kau pikirkan, Ivan?" katanya, suara gemetar tapi tegas.
Ivan melangkah masuk lebih dekat, dan untuk sesaat, Alina merasakan sebuah aura yang kuat mengelilinginya. Ada sesuatu yang mengintimidasi dalam dirinya, sesuatu yang menyiratkan bahwa ia tak hanya kaya, tetapi juga sangat berbahaya. Sepertinya ia telah terlalu lama berada dalam dunia yang penuh dengan manipulasi dan tipu daya.
"Kami hanya melakukan apa yang perlu dilakukan," jawab Ivan dengan nada datar, tetapi ada sedikit keraguan di matanya. "Kami ingin anak, Alina. Itu saja. Tetapi ada banyak hal yang lebih besar dari sekadar keinginan pribadi, ada pengaruh dan kekuatan yang lebih besar yang terlibat di sini. Keluarga kami... mereka tidak memberiku pilihan."
"Pilihan?" tanya Alina dengan cemas. "Apa yang kau bicarakan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Ivan menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. Ia terlihat lelah, namun tetap tegas. "Aku tidak ingin kau merasa seperti ini, Alina. Tapi kamu harus mengerti, keluarga kami terikat dalam banyak hal yang tak bisa kamu bayangkan. Kami semua memainkan peran, dan ini adalah peranmu. Aku ingin kamu tahu, kamu tidak sendirian dalam hal ini."
Alina tidak bisa menahan perasaan frustrasinya lagi. "Aku tidak bisa menerima ini, Ivan. Aku tidak ingin menjadi bagian dari permainanmu. Aku tidak ingin menjadi bagian dari dunia yang tidak aku pilih."
Ivan menatapnya dengan mata penuh rasa empati, tetapi juga dengan kesedihan yang mendalam. "Aku tahu kau merasa seperti ini, tapi percayalah, semua ini lebih rumit daripada yang bisa kau pahami sekarang. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan, semua yang bisa aku lakukan untuk membuatmu merasa nyaman. Tapi ada batasan yang harus kita hadapi."
Alina terdiam sejenak, mencoba menyaring kata-kata itu dalam pikirannya. "Batasan?" ucapnya akhirnya dengan suara yang lebih rendah. "Batasan apa yang kau maksud, Ivan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Ivan menarik napas dalam-dalam, seperti mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi yang lebih besar dari sekadar pernikahan yang terpaksa ini. "Ada banyak hal yang melibatkan perusahaan, keluarga, dan bahkan politik yang tidak bisa kamu bayangkan. Kami tidak hanya berurusan dengan urusan pribadi kami, tetapi dengan kepentingan yang lebih besar, lebih kuat, yang jika tidak dilaksanakan dengan hati-hati, bisa mengancam semuanya."
Alina merasa seperti sebuah batu besar menjatuhi hatinya. "Jadi aku hanya pion dalam permainan besar ini? Keluargamu menginginkan aku sebagai ibu pengganti hanya karena kalian ingin memiliki anak, tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang lebih besar yang tidak aku tahu?"
Ivan mengangguk perlahan, wajahnya menjadi lebih serius. "Ya, Alina. Tapi kau tidak sendirian. Aku akan ada di sini untukmu. Aku tidak ingin kau merasa seperti ini. Aku tahu kau tidak ingin bagian dari permainan ini, tapi percayalah, ada cara untuk mengatasi semuanya. Kami akan mencari jalan keluar bersama."
Namun, meskipun kata-kata Ivan terdengar seperti janji, Alina merasa bahwa semakin banyak ia tahu, semakin ia merasa dirinya terjebak dalam dunia yang sangat gelap. Ivan mungkin bisa mencoba meyakinkannya dengan kata-kata manis, tetapi hatinya sudah mendalam merasakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam pernikahan ini. Ia bukan hanya sekadar ibu pengganti; ia dipilih dengan alasan yang jauh lebih rumit dan gelap.
"Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah bertahan," pikir Alina. "Aku harus mengetahui lebih banyak, mengungkap setiap rahasia yang mereka sembunyikan dariku."
Dengan keputusan itu, ia merasa lebih tegas. "Aku akan tetap di sini, Ivan. Tapi kau harus memberiku lebih dari sekadar kata-kata manis. Aku ingin tahu lebih banyak, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Ivan menghela napas, seolah tahu bahwa tidak ada lagi jalan mundur. "Baiklah, Alina. Aku akan memberitahumu apa yang perlu kamu tahu. Tapi ingat, ada banyak yang harus kamu pertimbangkan sebelum mengambil langkah lebih jauh."
Alina menatapnya dengan tegas. "Aku siap untuk itu."
Ivan akhirnya berdiri dan berjalan menuju pintu, sebelum berhenti sejenak dan menatap Alina dengan tatapan yang penuh makna. "Kamu harus mengerti, Alina, apa yang terjadi di sini jauh lebih besar dari sekadar pernikahan atau keinginan untuk memiliki anak. Ini adalah bagian dari dunia yang tak akan pernah kau pahami sepenuhnya. Tapi aku berjanji, jika kamu tetap di sini, aku akan membantumu memahami segala sesuatu."
Setelah itu, Ivan meninggalkan kamar dengan langkah tegas. Alina tetap berdiri di sana, terpaku oleh kata-kata yang baru saja didengarnya. Ia merasa seperti berada di persimpangan jalan yang penuh bahaya. Setiap pilihan yang ia ambil dapat mengarah ke sesuatu yang lebih besar dari apa yang ia bisa bayangkan. Namun, ada satu hal yang pasti dalam pikirannya: ia harus bertahan. Tidak peduli berapa banyak rahasia yang tersembunyi, ia akan mengungkapkan semuanya.
Namun, dia tahu, semakin dalam ia menggali, semakin berbahaya pula dunia ini baginya. Dan yang lebih menakutkan lagi, mungkin sudah terlambat untuk keluar dari permainan ini.
Anda Mungkin Juga Suka





