
DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
Bab 2
"Apakah hari ini kau lembur untuk berjaga di rumah sakit?" Felicia bertanya seraya menyiapkan keperluan suaminya dan memasukkannya ke dalam tas.
Tak jauh darinya, tepat di depan cermin, Robby tengah mengatur kemejanya.
"Tentu saja. Seorang dokter bekerja di rumah sakit, memang di mana lagi?" jawab Robby.
'Jadi, Mas Robby tidak ingin menceritakannya?' batin Felicia, masih teringat pada struk pemesanan kamar itu.
Felicia tersenyum getir. Setengah bagian dari dirinya berharap suaminya itu memesan untuk orang lain. Namun, tidak ada yang bisa menjamin itu adalah kebenarannya. Felicia harus memeriksanya sendiri.
"Hari ini, aku akan tetap ikut Inara untuk berlibur. Apakah tidak masalah? Aku akan usahakan agar pulang sebelum Mas pulang," ucap Felicia seraya menyerahkan tas itu kepada sang suami yang tampak sudah rapi.
Robby mengambil tasnya dan langsung menatap pada arloji di tangannya. Entah mengapa, pria itu amat jarang menatap langsung kepada Felicia. Meski mereka berdiri berhadapan seperti ini, tatapan Robby selalu tertuju pada hal lain.
Pria itu mengangguk. "Lakukan semaumu," ujarnya, seolah acuh tak acuh.
Sikap Robby memang semakin dingin dari hari ke hari. Setiap kali ditanya alasannya, pria itu akan menyebutkan hal yang sama, yaitu karena Felicia tidak kunjung memberinya keturunan. Dia kecewa.
"Aku berangkat," ucap pria itu seraya berjalan pergi. Tidak ada kecupan ringan dan usapan penuh kasih sayang. Dia langsung melenggang keluar kamar.
Felicia mengembuskan napas panjang, kemudian mulai merapikan handuk dan baju bekas Robby bersiap-siap.
Namun, selang sepuluh menit, gadis itu pun tampak sudah siap untuk pergi. Tujuannya bukan ke bandara ataupun rumah Inara, melainkan ke hotel Avery.
"Maaf, aku jadi mengganggu rencanamu untuk berlibur keluar kota," ucap Felicia kepada Inara. Mereka sedang terhubung melalui sambungan telepon genggam.
"Tidak masalah. Aku dan suamiku bisa melakukannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah dirimu," ujar Inara dengan yakin.
"Terima kasih, Inara. Kamu satu-satunya yang aku miliki," ucap Felicia dengan tulus. Setiap kali dia merasa kosong, Inara selalu menghiburnya dengan segudang kisah konyol dirinya.
"Apa-apaan itu?" protes Inara, "Jangan lupa, kamu masih memiliki Robby. Walau dia mungkin sibuk, tapi dia pasti menyayangimu," katanya.
Felicia hanya tersenyum getir mendengarnya.
Entahlah. Ia tidak tahu reaksi yang tepat untuk kata-kata itu, apakah ia harus memercayainya atau tidak? Satu yang pasti, dia bisa menemukan jawabannya hari ini.
Kalau Felicia tidak salah ingat, nomor kamar itu adalah 504. Wanita itu berjalan dengan hati-hati menelusuri koridor hotel. Hingga kakinya berhenti tepat di depan kamar nomor 504.
Jantungnya berdegup cepat. Tangannya sudah berada di kenop pintu, tetapi ia justru gemetaran. Terlalu takut untuk mengetahui kebenarannya.
Namun, tentu saja Felicia harus tahu. Tanpa berpikir panjang, dia membuka pintu tersebut dan berjalan masuk.
Awalnya, Felicia tidak melihat apa-apa, tetapi dia menemukan sepatu pria dan wanita di depan. Sepatu itu jelas milik Robby.
"Akh, lebih cepat, sayangh--"
Desahan wanita terdengar dari kamar itu. Kekuatan Felicia seakan luruh seluruhnya. Dia berjalan tertatih ke arah sumber suara dan tubuhnya nyaris limbung saat ia benar-benar menemukan suaminya. Tengah menggagahi seorang wanita yang tidak lain adalah Audrey, teman satu angkatan mereka.
"Apa-apaan ini?" Felicia bersuara.
Dia berharap suaranya terdengar tegas. Namun, ia justru bergetar. Akan tetapi, suara gemetar itu mampu mengejutkan keduanya.
Robby langsung cepat-cepat menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut, begitu pula Audrey yang terlihat syok.
"Fe--feli...." Robby bersuara. Terlihat kaget. "Bagaimana bisa kamu berada di sini?" tanyanya.
"Seharusnya aku yang bertanya demikian," ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca, "Seharusnya kamu berada di rumah sakit. Mengapa kamu justru ada di sini bersama.... bersama wanita jalang ini?!" sergah Felicia.
Tubuh dan tangannya gemetar karena menahan emosi. Ia ingin meledakkan semuanya seketika, tetapi yang keluar justru air mata yang membasahi pipinya.
"Sudah tiga minggu kamu tidak pernah libur, Mas. Apakah kamu membohongiku? Apakah ini yang kamu lakukan di belakangku?" tutur Felicia dengan terisak.
Dia berusaha menahan tangisnya dan bersikap tegas. Namun, hal itu justru membuat suara dan napasnya tersendat. Seluruh harapan dan ekspektasinya seakan hancur seketika.
Selama ini, Felicia hanya berusaha mengerti dan mengerti, tetapi apa yang ia dapatkan justru pengkhianatan.
"Jangan bersikap seperti ini, Feli," ujar Robby dengan tidak tahu malu, "Walaupun aku menghabiskan waktu liburan bersamamu pun tidak akan bisa membuatmu hamil, bukan?" tembaknya, mengena tepat pada perasaan Felicia.
Jantungnya berdenyut nyeri dan dia merasa berat tiap bernapas. Namun, Felicia berusaha menguatkan diri.
"Seharusnya aku yang berada di sini," katanya, "Seharusnya, aku yang menghabiskan waktu liburan bersamamu." Dia berjalan maju dan mencoba menarik selimut yang menutupi keduanya.
"Pergi!" katanya, "Pergi sekarang!" ujarnya dengan terisak.
Audrey berusaha keras menahan selimut itu. Robby pun bangkit dan menghampiri istrinya itu.
Plaakkk
Tanpa berpikir panjang, dia mendaratkan sebuah pukulan tepat pada pipi Felicia.
"Hentikan ini, Feli!" sergah Robby, "Aku sudah merasa terbebani karena harus menafkahimu yang bahkan tidak bisa memberiku keturunan. Setidaknya, kamu harus membiarkanku bersenang-senang dan menikmati liburan ini!" tutur pria itu.
Pipi Felicia terasa panas. Tangan Robby hanya menamparnya satu kali, tetapi Felicia merasakan rasa sakit yang hebat di hatinya.
"Terbebani?" Dia memandang ke arah Robby dengan tidak percaya. "Jadi, selama ini kamu merasa terbebani olehku, Mas?"
"Ya!" jawab Robby tanpa ragu, "Setiap hari, aku harus pulang dan melihat wajahmu yang menyebalkan itu. Bahkan jus dan masakan buatanmu tidak ada yang enak! Dan kamu tidak bisa memberiku keturunan. Apakah kamu tidak tahu jika aku sangat tersiksa dengan keadaan ini?" ujar Robby dengan setengah membentak.
Felicia hampir semakin terisak mendengar semua perjuangannya sama sekali tak berharga di mata sang suami, tetapi dia mengatur napasnya dan berusaha memandang ke arah Robby meski dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik," ujar Felicia, "Maaf karena aku sudah menyulitkanmu selama ini, Mas. Mulai sekarang, aku akan berhenti. Aku akan menceraikanmu!" ucapnya dengan setengah membentak.
***
Benar-benar tidak bisa dipercaya. Robby, suami yang selalu Felicia puja dan elu-elukan langsung menyetujui ucapan Felicia. Tidak hanya itu, dia bahkan mengusir Felicia keluar dari kamar itu.
Sebelumnya, Felicia memang sempat memaksa dan mengancam petugas hotel agar memberinya akses ke kamar itu. Ia tidak menyangka jika tindakan itu akan menjadi akhir dari hubungan rumah tangga yang telah ia bangun selama lebih dari lima tahun.
Kini, wanita itu berjalan lunglai di trotoar. Tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan ke mana dia harus pergi.
Selama ini, dia menggantungkan seluruh hidupnya kepada Robby, suaminya. Felicia menjadi istri yang patuh, tetapi hubungan itu diputus seketika. Membuat Felicia terombang-ambing dalam kebingungan.
Tiba-tiba Felicia menggelengkan kepala. Tidak, ia tidak boleh seperti ini. Ia tidak boleh menjadi gadis lemah yang menerimanya begitu saja. Dia pasti bisa bertahan sendiri.
Setidaknya, hal pertama yang harus ia siapkan adalah pemasukan. Ya, Felicia harus bekerja.
***
Felicia selalu rapi dalam menyimpan sesuatu. Karena itu, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyiapkan dokumen yang diperlukan untuk mendaftar sebagai dokter.
Nilai-nilainya saat kuliah dan sepak terjangnya pun cukup bagus. Seharusnya itu semua cukup untuk membuatnya dapat diterima kembali.
"Kamu berhenti menjadi dokter lima tahun lalu, kenapa?" Seorang dokter mewawancarai Felicia saat wanita itu mencoba mendaftar pada salah satu rumah sakit.
"Saat itu, aku memutuskan untuk menikah dan mengabdikan diri sebagai seorang istri," jawab Felicia dengan jujur.
Mendengarnya, dokter itu mendecih tidak percaya.
"Apakah kau pikir menjadi dokter itu adalah pekerjaan main-main? Apakah kau pikir kau bisa berhenti dan bekerja sesuka hati? Menjadi dokter adalah tentang dedikasi! Dari keputusan itu, terlihat jelas kau tidak pernah serius. Maaf, tetapi rumah sakit kami tidak akan menerima dokter sepertimu!" ujarnya, berbalik mencerca Felicia.
"Kamu sudah tidak bekerja selama lima tahun. Apakah kamu yakin masih bisa melakukan dan mengingat semuanya?" Salah satu dokter yang menyeleksi bertanya saat Felicia mencoba mendaftar pada rumah sakit lain. "Bahkan orang yang menggambar pun bisa kehilangan kemampuannya jika tidak menggambar selama satu bulan. Kamu sudah cuti selama lima tahun. Ada banyak hal yang kamu lewatkan. Maaf, kami tidak bisa menerimamu."
Felicia tahu takdirnya akan berakhir seperti ini. Dia tahu dan sudah menyiapkan diri, tetapi rupanya semangatnya pun semakin surut seiring dengan penolakan yang ia dapatkan.
Sertifikat kelulusannya dari fakultas kedokteran seakan tidak bernilai apa-apa.
"Sudah cuti selama lima tahun?!" sergah salah satu dokter saat ia mencoba lagi. "Hah! Jangankan mendaftar menjadi dokter magang, lebih baik kamu mengulang kuliah dari awal!" cercanya.
Felicia benar-benar putus asa. Dia berjalan keluar dari rumah sakit itu dengan langkah lunglai. Di dalam tasnya, terdapat map cokelat berisi data diri dan CV-nya yang telah ditolak berulang kali.
Rupanya, Robby benar. Akan sangat sulit bagi dokter seperti dirinya untuk memulai lagi. Bahkan, sepak terjang Felicia seakan tidak berarti apa-apa setelah lima tahun.
Dia mengembuskan napas panjang dan memasuki salah satu restoran untuk mengisi perutnya.
Sebuah ide gila terbesit di pikirannya.
Mungkin, ia harus melupakan ijazah kedokterannya dan mendaftar menjadi seorang pelayan. Setidaknya, hal itu akan menjamin hidupnya selama beberapa bulan.
Felicia mulai melahap makan siangnya yang terasa hambar itu dengan pikiran melanglang buana.
Bukkk
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu jatuh. Felicia langsung menoleh ke arah sumber suara dan terkejut saat melihat seorang pria tergeletak di karpet dengan tidak sadarkan diri. Orang-orang mulai mengerumuninya dengan panik.
"Dokter! Apakah ada dokter di sini?! Kami membutuhkan seorang dokter!!" Seorang pria berjas hitam memanggil-manggil.
Felicia ikut panik. Dia melihat ke sekeliling seakan mencari seseorang yang mengajukan diri hingga sebuah pikiran terbesit di kepalanya.
Dia adalah seorang dokter.
Tanpa ragu, Felicia berjalan maju mendekati pria itu.
"Aku adalah dokter," ujarnya, dan semua orang seketika menyingkir.
Rasanya sudah sangat lama Felicia tidak memegang seorang pasien. Ia tidak yakin, tetapi mulai memeriksa tanda-tanda vital pasien.
"Sepertinya, napasnya terhambat," ujar Feli dengan tegas. "Cepat buka kancing bajunya dan angkat kakinya. Aku akan melakukan RJP!" titah wanita itu.
Dua oran pria melakukan sesuai perintahnya, sementara Felicia terus melakukan RJP. Tidak hanya itu, dia juga memeriksa hal lain dan langsung mengambil tindakan dengan cepat.
HIngga tidak lama, pria itu mulai bernapas. Jantungnya kembali berdetak dan semua orang menghela napas dengan lega.
"Segera bawa dia ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," titah Felicia. Tangannya masih bergetar. Bahkan, ia sendiri tidak percaya jika ia berhasil. Namun, untuk sesaat, dia melupakan kesedihannya.
Felicia pun mulai berdiri dan berniat kembali ke mejanya, tetapi tangannya dicekal oleh seseorang.
"Tunggu, boleh saya meminta nomor ponselmu?" tanya seorang pria.
Dia adalah pria yang membantu Felicia memberikan pertolongan pertama.
"A--ada apa?" tanya Felicia.
"Kamu adalah orang pertama yang menolong Tuan Gavriel. Kami harus memiliki nomormu untuk berjaga-jaga seandainya sesuatu terjadi pada Tuan Gavriel," ujar pria itu dengan suara dingin dan tatapan menelisik.
Felicia tidak langsung menjawab. Dia menoleh ke arah pria yang mulai dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Dari setelan bajunya, terlihat jelas dia bukan orang sembarangan.
Felicia telah berusaha menyelamatkannya, tetapi kini dia justru hampir dituduh.
Pada akhirnya, Felicia tidak punya pilihan selain memberikannya.
"Terima kasih. Jika sesuatu terjadi pada Tuan Gavriel, kami pastikan Anda akan menyesalinya."
Anda Mungkin Juga Suka





