
DICERAI SUAMI, DIPINANG CEO
Bab 3
"Kamu sudah berhasil menemukan orang yang menyelamatkanku?" tanya Gavriel.
Pria itu tengah terbaring di ranjang rumah sakit, kamar VVIP pesanannya. Di sisi ranjang, terlihat seorang pria berbadan tegap yang menghadap ke arahnya.
"Belum, Tuan," jawab pria itu, "Kami telah menghubunginya, tetapi dia bilang dia tidak bisa menenemui Anda karena ada urusan mendesak," jawab Benny, sekretaris Gavriel.
Gavriel Ivander Naratama. Dia adalah seorang konglomerat yang baru saja diselamatkan dari kematian. Dia masih muda, bahkan umurnya belum menyentuh kepala tiga, tetapi kesuksesannya sudah terkenal di Asia.
Beberapa hari lalu, Gavriel nyaris kehilangan nyawanya karena tersedak sekaligus kehabisan oksigen. Beruntung, ada seorang wanita yang mengaku dokter yang berhasil memberikan pertolongan pertama dengan tepat.
Dia mencoba menemui wanita itu, tetapi para anak buahnya justru tidak bisa mengabulkan keinginannya.
"Prioritas seorang dokter adalah pasiennya!" Gavriel bersikeras. "Urusan apa yang lebih penting dari nyawa manusia? Cepat, temukan dia sesegera mungkin!" titah Gavriel dengan tegas.
Benny langsung mengangguk patuh. "Baik, Tuan," jawabnya, kemudian langsung beranjak pergi.
Gavriel masih terdiam di ranjangnya. Ia ingin sekali bertemu dengan sosok yang telah menyelamatkan dirinya. Dia harus membuat wanita itu membayar semuanya!
***
"Dengan ini, saudara Robby Wijaya dan saudari Felicia Hera resmi tidak memiliki ikatan apa pun di mata hukum."
Tok tok tok
Hakim telah mengumumkan dan mengetuk palunya tiga kali. Tanda bawah sidang hari itu telah berakhir.
Felicia masih terduduk di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka jika kehidupan rumah tangganya akan berakhir di meja hijau. Terlebih, sidang perceraian yang dilakukan secara tertutup itu hanya dihadiri oleh keluarga dekat Robby.
Tidak ada satu pun keluarga Felicia yang datang karena gadis itu hanya memiliki seorang ibu yang sudah tua dan Felicia tidak mau membuatnya khawatir. Sebagai gantinya, Inara yang menjadi saksi dari pihak Felicia.
Sahabatnya itu menepuk bahu Felicia dua kali. "Aku akan menunggu di luar," katanya, kemudian beranjak pergi.
Felicia mengangguk satu kali. Dia menoleh ke arah Robby dan pria itu pun tengah memandang ke arahnya.
Namun, Robby yang ada di hadapannya terlihat amat berbeda dengan sosok yang telah dia nikahi. Kini, pria itu terlihat dingin dan tidak terjangkau.
"Akhirnya, kamu menceraikan putraku juga." Suara Maura terdengar menyambut Felicia di pintu keluar.
Felicia mengangkat wajahnya yang telah ia poles agar terlihat lebih cantik hari ini. Di hadapannya, sudah ada Maura yang terlihat jelas menunggu dirinya.
"Aku sudah menunggu-nunggu momen ini. Sejak awal, aku tidak pernah menyukaimu. Dan benar saja. Kau benar-benar gadis pembawa sial. Jika bukan karenamu, Robby pasti sudah mendapatkan karir yang lebih bagus dan sudah memiliki keturunan!" cecar Maura.
Wanita itu tidak peduli pada orang yang berlalu lalang. Tanpa ragu, dia mencerca Felicia yang berdiri seorang diri.
"Aku benar-benar bersyukur karena pada akhirnya dia bercerai dengan gadis tidak beruntung sepertimu. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau berharap bisa menjadi seorang dokter lagi? Jangan bermimpi. Hidupmu akan menjadi semakin buruk. Dan itu semua salahmu yang tidak bisa memberikan kebahagiaan apa pun kepada Robby, dasar gadis pembawa sial!" sergah Maura.
Felicia tidak menjawab. Tangannya mengepal menahan emosi yang nyaris meledak. Ia ingin mengeluarkan semuanya, tetapi apa gunanya? Mereka sudah berakhir dan Felicia pada akhirnya terlepas dari kungkungan mertua seperti Maura.
Sebuah rantai seakan baru saja dilepaskan dari lehernya.
"Hidup Robby akan terus meningkat. Sebaliknya, hidupmu pasti akan terus terpuruk!" Maura bersumpah, kemudian langsung berjalan pergi dengan angkuh. Langkah kakinya terdengar kesal. Padahal, Felicia adalah satu-satunya yang dirugikan di sini.
Wanita itu mengembuskan napas panjang. Ia telah bercerai dengan suaminya dan belum mendapat pekerjaan di mana pun. Sekarang, apa yang harus dia lakukan?
Felicia membalikkan tubuhnya dan berniat menghampiri Inara yang sedang menunggunya. Betapa terkejutnya wanita itu saat menemukan seorang pria yang duduk di kursi roda, tepat di hadapannya. Dia menatap lurus ke arah Felicia.
"S--siapa kau?" tanya wanita itu dengan gugup.
Gavriel menyeringai tipis, tidak menyangka jika Felicia justru melontarkan pertanyaan semacam itu.
Ya, dia sengaja datang kemari untuk menemui penyelamatnya secara langsung. Namun, Gavriel tidak menyangka dia justru harus menyaksikan pertengkaran itu.
Salah satu alis Gavriel terangkat naik. Tatapannya terlihat dingin dan tidak tersentuh.
"Jadi, ini adalah urusan mendesak yang membuatmu tidak bisa menemuiku?" Dia bertanya, mengabaikan pertanyaan Felicia.
Suaranya terdengar berat dan memiliki pengaruh yang kuat. Benak Felicia seakan diterpa angin beku mendengarnya, dan ia yakin suara itu begitu berpengaruh hingga mampu membuat siapa pun yang mendengarnya tunduk seketika.
Alis Felicia mengernyit dalam.
"Menemuimu?" gumamnya. Matanya langsung terbelalak saat menyadari sesuatu. "K--k--kau... kau adalah pria yang pingsan itu?!" sergah Felicia dengan tidak percaya.
Kemarin-kemarin, pada saat pertemuan pertama mereka, Felicia terlalu fokus pada pertolongan pertama yang harus diberikan sehingga tidak sempat mengamati wajah pria itu dengan saksama.
Dia sama sekali tidak menyangka jika pria yang telah dia selamatkan sangat tampan. Tidak hanya tampan, pria itu juga terlihat berwibawa meski wajahnya belum berumur. Dia duduk di kursi roda, tetapi Felicia bisa melihat tubuhnya yang tampak atletis dan tegap. Rahangnya terlihat tegas dan melekuk sempurna, sementara alis tebalnya amat mendukung iris hitamnya yang terlihat tajam.
Perlahan, Gavriel menggerakkan kursi rodanya mendekat.
"Bagaimana mungkin seorang dokter melupakan wajah pasiennya sendiri?" Pria itu bertanya. Suaranya terdengar datar dan sedingin es.
Felicia berkedip cepat, masih tidak menyangka jika dia telah berhasil menyelamatkan hidup seseorang.
"Maafkan aku," ucapnya, "Kemarin, aku terlalu fokus mencari cara untuk menolongmu dan tidak sempat mengamati wajahmu." Dia berkata jujur.
"Apakah kau benar-benar mandul?" Gavriel tiba-tiba bertanya.
Sebuah kilat penasaran terbit di mata hitam legamnya.
Felicia tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Hingga akhirnya wanita itu menggeleng.
"Tidak," katanya, "Tapi, aku tidak kunjung bisa memiliki keturunan dan keluargaku berpikir itu adalah kesalahanku."
Betapa tidak adil, pikir Gavriel.
Ia telah mendengar semua perkataan mertua wanita itu dan tidak mengerti bagaimana Felicia bisa bertahan tanpa memprotesnya.
"Kamu mau mencobanya denganku?" Pria itu bertanya.
Felicia mengerjap cepat. Wajahnya terlihat bingung. "A--apa maksudmu, Tuan?"
"Tidur denganku," Gavriel menjawab, "Kamu mau mencobanya? Aku tidak akan keberatan."
Jantung Felicia seakan jatuh dan tenggelam ke lambungnya.
...pria yang pernah selamatkan dari kematian, kini justru mengajaknya tidur bersama pada pertemuan kedua mereka. Bagaimana mungkin?
"Ti--tidak perlu," jawab Felicia seraya menggelengkan kepala dengan canggung. "Kau tidak perlu melakukan sampai sejauh itu."
"Jadi, kamu tidak ingin membuktikannya kepada mereka?" tembak Gavriel.
Ya, pria itu memang mudah terganggu dengan hal-hal kecil, dan ucapan wanita semena-mena itu benar-benar menganggu benaknya hingga Gavriel sendiri ingin sekali membalaskan dendamnya.
"Tidur denganku, dan kita akan membuktikan apakah kau benar-benar mandul atau mantan suamimu yang tidak bisa memberikan keturunan. Anggap saja, ini adalah bayaran atas jasamu menyelamatkan nyawaku." Gavriel menawarkan.
Felicia tidak langsung menjawab. Dia tidak mengenal pria di hadapannya, tetapi wajah dan kata-katanya terdengar menyakinkan.
Tidak hanya meyakinkan, tetapi perkataan Gavriel juga menawarkan pembelaan untuk Felicia yang lemah.
Sejak dahulu, Felicia memang sudah curiga jika Robby adalah satu-satunya yang tidak subur, sebab jadwal menstruasi Felicia selalu lancar setiap bulannya. Namun, Robby langsung merasa tersinggung jika Felicia menyarankannya untuk diperiksa, begitu juga Maura yang langsung mengecamnya.
Ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Felicia untuk membuktikannya.
Tidak diduga, gadis itu mengangguk satu kali. "Baiklah," katanya, "Ayo kita mencobanya."
***
Seakan telah ditakdirkan, semuanya berjalan dengan amat lancar. Dalam waktu kurang dari setengah jam, keduanya telah berada di sebuah kamar hotel mewah yang disewa oleh pria asing itu.
Kini, Felicia setengah menyesali keputusannya. Bagaimana mungkin dia menerima tawaran dari pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya?
Gavriel sudah cukup kuat untuk bangkit dari kursi rodanya. Pesona dan wibawanya kian terlihat menusuk dan berkuasa saat ia berdiri tegak.
"A--apakah kau yakin sudah cukup sehat untuk melakukannya?" Felicia bertanya dengan gugup.
Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal tersebut. Bahkan, meski saat ia masih bersama Robby, pria itu lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit dan membuat Felicia tidak mendapatkan nafkah batin darinya.
Gavriel menyeringai. "Sepertinya, kau meremehkan kemampuanku," ucap pria itu.
Dia mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, tepat di sisi Felicia dan jantung Felicia berdegup dua kali lebih cepat.
Ia benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa dia justru terjebak dengan seorang pria di kamar hotel ini?
Seolah sudah terbiasa melakukannya, Gavriel memulainya dengan menyingkapkan rambut panjang Felicia yang menutupi sebagian wajahnya.
Bahu Felicia seketika terangkat saat tangan dingin dan besar Gavriel menangkup rahangnya.
"Apakah... kau yakin akan melakukan ini denganku?" tanya Felicia, setengah berbisik, "Julukanku adalah gadis yang tidak beruntung. Kamu mungkin akan ikut terseret pada ketidakberuntungan jika membantuku."
Sudut bibir Gavriel tertarik ke samping membentuk seringai tipis. Pada saat seperti ini, wajah pria itu benar-benar terlihat tampan dan maskulin, melebihi top model yang pernah Felicia lihat di majalah.
"Jangan khawatir," katanya, "Aku akan membuatmu menjadi wanita paling beruntung hari ini." Dia berbisik seduktif, kemudian langsung menarik tengkuk wanita itu dalam ciumannya.
Anda Mungkin Juga Suka





