
Dibunuh Demi Cinta Pertamanya
Bab 3
Saat terbangun, yang kulihat pertama adalah wajah ibu yang penuh kecemasan.
Tanganku reflek menyentuh perut, rasanya rata, seakan-akan kehidupan kecil itu tak pernah ada.
Di kehidupan sebelumnya, putriku lahir dalam kondisi lemah dan harus dirawat lama di inkubator.
Bahkan dokter sempat mengeluarkan surat pernyataan kondisi kritis.
Aku mengerahkan semua koneksi untuk memanggil dokter dari luar negeri dan berjaga tanpa tidur di luar ruang perawatan.
Satu-satunya kali Arthur datang ke rumah sakit, dia mengernyit dan menasihati,
“Bagaimana kalau ikhlaskan saja, begini hanya membuat ibu dan anak sama-sama menderita.”
Yang paling lucu adalah saat itu aku benar-benar mengira dia tulus memikirkan keadaanku.
Ambil positifnya saja, kalau memang tidak dicintai, tak perlu biarkan dia datang untuk menderita.
“Dorin, tadi dokter bilang….”
Ibu terlihat ragu, takut kata-katanya membuatku semakin terpuruk.
“Aku sudah nggak apa-apa, bu,” ujarku sambil menggenggam tangannya, lalu melanjutkan, “Batalkan saja pertunangan dengan Arthur.”
Selama aku dirawat di rumah sakit, Arthur bahkan tak pernah sekalipun muncul. Ibu pun akhirnya mengerti semuanya.
“Beraninya memperlakukanmu seperti ini, sepertinya Keluarga Joman memang sudah tak mau hidup tenang di Kota A!”Ibu langsung mengeluarkan ponselnya dan memerintahkan, “Batalkan semua proyek yang sebelumnya diberikan ke Grup Joman! Buka tender ulang!”
Hari aku keluar dari rumah sakit, Arthur muncul di depan gerbang rumah sakit.
Dia bersandar di samping mobil, wajah tampannya terlihat muram.
“Dorin, memang hebat sekali kamu. Kamu yang buat salah sendiri, tapi masih punya muka buat semua proyek Grup Binton dibuka tender ulang.”
“Kamu pikir tanpa Grup Binton, tanpa kamu, aku nggak bisa hidup?”
Seorang wanita paruh baya dengan riasan sempurna turun dari mobil. Begitu melihatku, dia langsung menepuk pundak Arthur.
“Dorin, jangan dengarkan omongan anak durhaka ini. Dia hanya lagi kesal. Tante minta maaf atas sikapnya.”
Sambil bicara, dia mendekat dengan ramah dan menggenggam tanganku.
“Sebentar lagi kita bakal jadi satu keluarga, jangan begitu asing. Tak peduli Grup Binton atau Grup Joman, nantinya semua ini juga jadi milikmu dan Arthur!”
Ibu langsung berdiri di depanku dan melindungiku,
“Nyonya Joman, sepertinya nggak perlu lagi. Putriku nggak pantas bersanding dengan tuan muda seperti putramu!”
“Kasihannya putriku, baru saja….”
“Ibu, nggak perlu banyak bicara dengan mereka,” ujarku memotong ibu yang baru saja mau bilang soal keguguranku.
Ekspresi Arthur semakin muram, tanpa peduli ada ibuku di sini, dia pun menyindir,
“Bagus Dorin, dikasih muka malah nggak tahu diri. Jangan sampai nanti kamu yang datang memohon padaku!”
Ibu Arthur cemas setengah mati, tapi Arthur langsung menariknya masuk ke mobil dan pergi begitu saja.
Ibu sampai terengah-engah karena kesal, aku buru-buru menenangkannya.
Arthur memang selalu angkuh. Dia pikir keluarga kami mendekatinya karena ingin memanfaatkan kemampuannya.
Setibanya di rumah, aku menyalakan televisi dan terlihat wajah Arthur di layar.
Wajahnya disorot lampu kamera tanpa henti.
“Pak Arthur, Bu Aiko itu duta merek terbaru yang kamu kontrak?”
Sejak terakhir kali pergi dengan marah dari rumah sakit, Arthur selalu tampil di depan umum bersama Aiko.
Dia tersenyum ke arah kamera dan menjawab,
“Aiko memang masih baru, tapi aku harap semua orang bisa melihat kerja keras dan potensinya.”
“Aiko merintis karirnya sendiri, selangkah demi selangkah. Bukan seperti mereka yang lahir sudah punya segalanya.”
Usai bicara, terlihat kilatan ejekan di matanya.
Anda Mungkin Juga Suka





