
Dibuang Suami Saat Hamil
Bab 2
Panti Asuhan Harapan yang dulunya adalah satu-satunya benteng keamanan bagi Azura, kini terasa seperti medan perang batin. Setiap senja, ketika awan-awan jingga merias langit, Azura akan duduk di teras panti, tempat favoritnya. Dulu, ia menemukan kedamaian di sana, membiarkan pikirannya berkelana bebas, membangun istana impian tentang masa depan yang cerah. Sekarang, setiap hembusan angin membawa bisikan ketakutan, setiap bintang yang berkelip di langit malam terasa seperti mata Revan Aksara yang mengawasi.
Keputusan itu sudah bulat. Azura akan menikah dengan Revan. Bukan karena cinta, apalagi sukarela, tapi karena paksaan tak kasat mata yang mencekik. Ia telah melihat keputusasaan di mata Ibu Asih, ketakutan akan nasib panti jika tawaran Revan ditolak. Azura adalah anak yang cerdas, ia tahu betul Revan Aksara bukanlah tipe pria yang bisa ditolak. Kekuasaan Revan adalah bayangan raksasa yang menutupi segalanya, mengancam untuk menelan siapa pun yang berani membangkang. Jadi, dengan air mata yang ia telan pahit-pahit, Azura mengangguk. Demi Ibu Asih, demi adik-adiknya di panti, demi masa depan Panti Harapan.
Beberapa hari setelah keputusan itu dibuat, persiapan pernikahan segera dimulai. Persiapan yang aneh, sepi, dan tanpa kehangatan. Tidak ada gelak tawa teman-teman, tidak ada riasan wajah yang ceria, atau pilihan gaun pengantin yang penuh sukacita. Semuanya dilakukan oleh orang-orang suruhan Revan. Desainer terkemuka datang ke panti, membawa gaun pengantin sutra putih yang indah, namun Azura memakainya dengan perasaan hampa. Perhiasan mewah, yang kilaunya bisa membuat mata siapa pun terpesona, terasa dingin dan berat di kulitnya. Semuanya terasa seperti sebuah sandiwara, di mana ia adalah pemeran utama yang tak punya pilihan.
Revan sendiri tidak pernah muncul. Hanya utusan-utusannya yang selalu datang membawa berbagai kebutuhan dan dokumen. Hal itu sedikit melegakan Azura, karena ia tidak harus berhadapan langsung dengan tatapan tajam Revan. Namun, di sisi lain, ketidakhadiran Revan justru menambah misteri dan ketakutan. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa ia menginginkan Azura, seorang gadis biasa dari panti asuhan, untuk menjadi istrinya? Hanya karena suaranya yang lembut? Azura merasa skeptis. Pasti ada sesuatu yang lebih dari itu.
Malam sebelum pernikahan, Azura tidak bisa tidur. Ia berbaring di kasur panti yang sederhana, menatap langit-langit kamar yang familier. Besok, ia tidak akan lagi tidur di sana. Besok, ia akan menjadi Nyonya Aksara, istri dari seorang pria yang tidak ia kenal, bahkan ia takuti. Air mata menetes tanpa suara, membasahi bantalnya. Ia merindukan orang tuanya, seolah-olah mereka masih hidup dan bisa melindunginya dari takdir kejam ini. Ia merindukan kebebasan, kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Ibu Asih masuk ke kamar Azura, duduk di tepi ranjang, dan mengusap rambut Azura lembut. "Jangan menangis, Nak. Ibu yakin, semuanya akan baik-baik saja."
Azura berbalik, memeluk Ibu Asih erat. "Ibu... aku takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku."
"Revan Aksara mungkin terlihat menakutkan, tapi ia juga seorang pria terhormat di mata masyarakat. Pasti ada alasan mengapa ia memilihmu. Mungkin... ia melihat kebaikan dalam dirimu, Nak. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya, seiring waktu." Ibu Asih berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri sedikit bergetar. Ia tahu betapa besar pengorbanan yang dilakukan Azura.
Azura tidak yakin dengan kata-kata Ibu Asih. Bagaimana mungkin kebahagiaan datang dari pernikahan yang didasari paksaan? Namun, ia tidak punya pilihan lain selain percaya. Ia harus percaya, jika tidak, ia akan gila.
Pagi harinya, hari pernikahan tiba. Udara terasa dingin dan lembap, seolah ikut merasakan suasana hati Azura. Revan tidak datang ke panti. Pernikahan akan dilangsungkan di sebuah ruang pertemuan mewah di pusat kota, milik Revan Aksara. Azura diantar oleh Ibu Asih dan beberapa staf panti. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap sudah menunggu di depan gerbang, siap membawa Azura menuju takdirnya.
Saat tiba di lokasi, Azura terpaku. Ruangan itu begitu besar dan megah, dihiasi bunga-bunga mahal dan kain sutra yang menjuntai. Cahaya lampu kristal memantul indah, menciptakan gemerlap yang memusingkan. Beberapa orang berjas rapi sudah duduk di kursi tamu, wajah mereka tanpa ekspresi, seperti patung-patung hidup. Azura tahu, mereka adalah orang-orang kepercayaan Revan, para petinggi di kerajaan bisnisnya yang gelap. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan, hanya aura kekuasaan yang terasa dingin menusuk tulang.
Di ujung ruangan, di samping meja akad nikah yang berhias rangkaian bunga putih, Revan Aksara sudah menunggu. Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuh tegapnya, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya tetap beku seperti patung marmer. Matanya yang tajam menatap Azura saat ia melangkah masuk, tatapan itu membuat lutut Azura terasa lemas. Ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan ketakutannya, menjaga langkahnya tetap tegak, meski hatinya berdebar tak karuan.
Ibu Asih menyerahkan tangan Azura kepada Revan. Sentuhan tangan Revan terasa dingin, kuat, dan posesif. Azura merasa seperti boneka yang diserahkan dari satu pemilik ke pemilik lain. Revan tidak tersenyum, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Azura dalam-dalam, seolah mencoba menembus pertahanan terakhir Azura.
Upacara pernikahan berjalan dengan singkat dan formal. Seorang penghulu membacakan ayat-ayat suci, Revan mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang dan tegas, tanpa sedikit pun keraguan. Azura hanya bisa mengangguk, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia mengucapkan "Ya, saya terima." Ia merasa seolah menjual jiwanya, menukarkan kebebasannya dengan janji keselamatan untuk panti. Ikrar suci yang seharusnya penuh cinta, kini terasa seperti sumpah serapah yang mengikatnya dalam sangkar besi.
Setelah upacara selesai, para tamu bertepuk tangan dengan tenang, tanpa sorak-sorai meriah yang biasanya mengiringi pernikahan. Revan mengajak Azura ke sebuah meja bundar kecil untuk menandatangani dokumen pernikahan. Azura menandatangani namanya dengan tangan gemetar, di bawah nama Revan Aksara yang tertulis tegas dan penuh kuasa. Mulai saat ini, ia adalah Nyonya Azura Aksara.
Resepsi pernikahan tidak ada. Setelah penandatanganan, Revan langsung mengajak Azura pulang. Ibu Asih memeluk Azura erat, air matanya tumpah. "Jaga dirimu baik-baik, Nak. Jangan lupakan Ibu."
"Tidak akan, Ibu," bisik Azura, menahan tangis. "Aku akan sering menjenguk Ibu dan anak-anak."
Revan berdiri diam, menunggu dengan sabar. Ia tidak menunjukkan emosi apa pun. Setelah Azura mengucapkan selamat tinggal kepada Ibu Asih, Revan menggenggam tangan Azura, mengantarnya keluar dari gedung menuju mobil mewahnya.
Mobil itu melaju dalam keheningan yang mencekam. Azura duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela, melihat pemandangan kota yang bergerak cepat. Ia merasa terasing, seolah-olah ia sudah berada di dunia yang berbeda. Revan duduk di sampingnya, fokus pada jalanan, tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Perjalanan itu terasa sangat panjang, meskipun sebenarnya tidak. Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang megah, dijaga oleh beberapa pria berbadan besar. Gerbang itu terbuka otomatis, menampakkan sebuah jalan panjang yang dikelilingi taman terawat, menuju sebuah rumah besar, lebih mirip istana. Rumah itu tampak megah, modern, dan sedikit menyeramkan dengan dinding-dinding tinggi dan jendela-jendela gelap. Inilah rumah Revan Aksara, dan mulai sekarang, ini juga akan menjadi rumahnya.
Azura melangkah keluar dari mobil dengan langkah kaku. Udara malam terasa dingin, menusuk kulitnya. Revan tidak menawarkan tangannya, ia berjalan lebih dulu, membuka pintu utama yang besar. Azura mengikutinya masuk.
Interior rumah itu sungguh mewah. Lantai marmer mengkilap, lampu kristal bergantung di langit-langit tinggi, perabotan antik yang mahal, dan lukisan-lukisan berbingkai emas menghiasi dinding. Semuanya sempurna, tanpa cela, namun terasa dingin dan hampa, tidak ada kehangatan yang terpancar.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam pembantu, Nyonya Ida, menyambut mereka dengan hormat. "Selamat datang, Tuan Revan, Nuan Azura." Suaranya ramah, namun sorot matanya sedikit takut.
Revan hanya mengangguk, lalu berbalik menghadap Azura. "Ini rumahmu sekarang. Nyonya Ida akan membantumu jika kau butuh sesuatu."
Itu adalah kalimat terpanjang yang Revan ucapkan kepadanya sejak mereka menikah. Azura hanya bisa mengangguk pelan.
"Kau bisa istirahat," kata Revan lagi, suaranya masih datar. "Aku ada pekerjaan."
Tanpa menunggu jawaban Azura, Revan berbalik dan melangkah pergi, menghilang ke salah satu koridor rumah. Azura ditinggalkan sendirian di tengah kemewahan yang asing itu, ditemani oleh Nyonya Ida yang masih berdiri tegak.
Nyonya Ida akhirnya tersenyum tipis. "Mari, Nona Azura. Saya antar ke kamar Anda."
Azura mengikuti Nyonya Ida menyusuri koridor panjang dan menaiki tangga megah menuju lantai atas. Kamar yang ditunjukkan Nyonya Ida sungguh luar biasa. Ukurannya sangat luas, dilengkapi dengan ranjang ukuran king, lemari pakaian besar, meja rias, dan sofa empuk. Jendela besar menghadap ke taman belakang yang luas. Semuanya mewah, melebihi apa yang pernah Azura bayangkan.
"Jika Anda butuh sesuatu, panggil saja saya, Nona Azura," kata Nyonya Ida sebelum pergi, menutup pintu pelan.
Azura berdiri di tengah kamar, memandang sekeliling. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya terasa berat, mencekik. Ia mendekati cermin besar di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan senyum cerianya telah lenyap. Ia sama sekali tidak terlihat seperti pengantin wanita yang bahagia.
Dengan tangan gemetar, ia mulai melepas satu per satu perhiasan yang melingkari leher dan pergelangan tangannya. Batu-batu permata itu terasa dingin di kulitnya. Lalu, ia membuka ritsleting gaun pengantinnya, membiarkannya melorot ke lantai. Ia menggantinya dengan piyama katun sederhana yang dibawanya dari panti.
Ia naik ke atas ranjang, membenamkan dirinya di antara bantal-bantal empuk dan selimut sutra. Namun, kemewahan itu tidak memberinya ketenangan. Ranjang ini terasa terlalu besar, terlalu kosong. Ia merindukan kasur sederhananya di panti, yang terasa hangat dan aman.
Malam itu, Azura tidur dengan air mata yang terus mengalir. Ia memeluk lututnya, mencoba mencari kehangatan di tengah kekosongan. Ia adalah Nyonya Aksara, istri seorang mafia yang kejam. Ia telah menukar kebebasannya, kebahagiaannya, demi orang-orang yang ia cintai. Namun, apakah pengorbanan ini akan sepadan? Apakah ia akan menemukan kebahagiaan di balik tirai besi kemewahan ini? Atau apakah ia akan tenggelam dalam kesendirian dan ketakutan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai, dan Azura tahu, ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan penuh liku.
Anda Mungkin Juga Suka





