
Dibuang Suami Saat Hamil
Bab 3
Hari-hari pertama Azura di rumah Revan Aksara terasa seperti hidup dalam dimensi lain. Kemewahan yang luar biasa, keheningan yang mencekam, dan kehadiran Revan yang sporadis namun selalu mengintimidasi, membentuk sebuah sangkar emas yang begitu indah sekaligus menyiksa. Rumah sebesar istana itu terasa begitu kosong, seolah-olah gema kesepian memantul dari setiap dinding marmer yang mengkilap.
Azura terbangun di ranjang empuk setiap pagi, namun bukannya semangat, yang ia rasakan hanyalah hampa. Tidak ada lagi suara riuh anak-anak panti, canda tawa Mbak Siti di dapur, atau bisikan doa Ibu Asih yang menenangkan. Yang ada hanya suara derit lantai marmer saat Nyonya Ida masuk membawa sarapan, atau suara jangkrik di malam hari yang seolah mengolok-olok kesendiriannya.
Revan Aksara adalah bayangan yang sulit ditangkap. Ia jarang terlihat di rumah. Ketika ia ada, biasanya hanya di pagi hari saat sarapan atau di malam hari sebelum tidur. Itupun, percakapan mereka nyaris tidak ada. Revan akan duduk di seberang meja makan yang panjang, membaca koran bisnis atau memeriksa tabletnya, sesekali melirik Azura dengan tatapan tak terbaca. Azura akan makan dalam diam, merasakan setiap gigitan makanan mewah itu terasa hambar di lidahnya.
"Sudah nyaman?" Revan pernah bertanya suatu pagi, suaranya datar, tanpa ekspresi.
Azura hampir menjatuhkan sendoknya. Ia mendongak, menatap Revan yang masih fokus pada korannya. "Ya, Tuan." Ia masih merasa canggung memanggilnya "Revan."
Revan tidak merespons. Ia hanya membalik halaman koran. Azura menghela napas dalam hati. Inilah kehidupan pernikahannya. Dingin dan sunyi.
Sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam rumah. Azura mencoba menyesuaikan diri. Nyonya Ida, wanita paruh baya yang bertugas sebagai kepala pelayan, adalah satu-satunya orang yang Azura bisa ajak bicara. Nyonya Ida ramah, meski selalu menjaga jarak dan terlihat sedikit takut pada Revan. Ia mengajari Azura tentang seluk-beluk rumah besar itu, di mana letak dapur, ruang perpustakaan yang luas, hingga taman belakang yang terawat sempurna.
"Tuan Revan suka ketenangan, Nona Azura," Nyonya Ida menjelaskan suatu sore saat mereka menyiram tanaman di taman. "Beliau tidak suka keributan. Jadi, sebisa mungkin, jangan buat beliau marah."
Azura hanya mengangguk. Pesan itu sudah tertanam kuat di benaknya sejak ia mendengar tentang reputasi Revan.
Meski terjebak dalam sangkar emas, Azura tidak ingin menyerah pada keputusasaan. Ia mencoba mengisi hari-harinya. Ia membaca buku-buku di perpustakaan Revan, mempelajari berbagai genre yang belum pernah ia sentuh sebelumnya. Ia juga mulai menyibukkan diri di dapur bersama juru masak, mencoba resep-resep baru yang mewah, meski ia tahu Revan jarang makan di rumah. Ia juga menghabiskan banyak waktu di taman, merawat bunga-bunga, mengingatkannya pada hari-harinya di panti.
Suatu hari, Azura menemukan sebuah piano besar di salah satu ruangan di lantai dasar. Jarinya yang lentik menyentuh tuts-tuts gading itu, mengeluarkan melodi sumbang. Ia teringat pelajaran piano singkat yang pernah ia dapatkan dari seorang sukarelawan di panti. Perlahan, ia mulai mencoba memainkan kembali lagu-lagu lama yang ia ingat, melodi-melodi sederhana yang dulu memberinya hiburan. Suara piano itu mengisi keheningan rumah, memberikan sedikit kehidupan pada bangunan yang terasa mati itu. Azura bermain dengan hati-hati, takut suaranya akan mengganggu Revan jika ia sedang berada di rumah.
Hari-hari berlalu, minggu demi minggu menjadi bulan. Revan masih sama. Dingin, misterius, dan jarang berbicara. Terkadang, ia akan pulang larut malam, dengan wajah lebih lelah dan tatapan lebih tajam. Azura tahu, ia tidak boleh bertanya, tidak boleh ikut campur dalam urusan Revan. Ia adalah istrinya, tapi juga seperti tamu asing di rumahnya sendiri.
Meskipun begitu, ada momen-momen kecil yang membuat Azura bertanya-tanya. Terkadang, Revan akan menatapnya lebih lama dari biasanya saat sarapan, seolah memindai sesuatu dari dirinya. Pernah suatu malam, Azura terbangun di tengah malam karena haus. Ia turun ke dapur dan mendapati Revan duduk sendirian di ruang keluarga, memandangi api di perapian. Ketika Azura terlihat, Revan hanya menoleh sekilas, lalu kembali pada pandangannya. Tidak ada kata, tidak ada pertanyaan, namun ada keheningan yang sedikit berbeda, tidak sedingin biasanya.
Suatu sore, saat Azura sedang membaca di perpustakaan, Revan masuk. Azura kaget, ia segera menutup buku dan berdiri. "Tuan Revan."
"Duduk saja," Revan berucap, lalu berjalan menuju rak buku. Ia mengambil sebuah buku tebal dan duduk di kursi berlengan yang berlawanan dengan Azura. Keduanya membaca dalam keheningan. Azura merasakan jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kali pertama mereka berada dalam satu ruangan untuk waktu yang cukup lama, bukan di meja makan. Kehadiran Revan begitu kuat, menguasai seluruh ruangan.
Revan sesekali membalik halaman, dan Azura bisa merasakan tatapan Revan sesekali meliriknya dari balik buku. Azura berpura-pura fokus membaca, padahal pikirannya melayang kemana-mana. Ia merasa canggung dan gelisah. Hingga akhirnya, Revan berdiri.
"Aku akan pergi ke luar kota beberapa hari," katanya, suaranya memecah keheningan. "Urus semua keperluanmu dengan Nyonya Ida."
"Baik, Tuan," jawab Azura.
Revan kemudian pergi, dan keheningan kembali meraja. Azura menghela napas lega, namun di saat yang sama, ia merasakan sedikit kekecewaan yang aneh. Ia tidak tahu mengapa.
Selama Revan pergi, Azura merasa sedikit lebih bebas. Ia bisa berjalan-jalan di taman lebih lama, bermain piano tanpa takut mengganggu, atau bahkan sesekali menyapa para penjaga yang berjaga di luar gerbang, meski mereka selalu membalas dengan senyum tipis dan profesional. Ia sempat menelepon Ibu Asih, berbagi cerita tentang panti dan adik-adiknya, namun ia tak berani menceritakan detail pernikahannya yang hampa. Ia hanya mengatakan bahwa ia baik-baik saja, dan Revan memperlakukannya dengan hormat. Kebohongan kecil yang ia paksakan demi menenangkan hati Ibu Asih.
Ketika Revan kembali, ia membawa aura yang lebih gelap dari biasanya. Wajahnya terlihat lebih tegang, matanya lebih tajam. Azura merasakan atmosfer tegang di rumah. Bahkan Nyonya Ida pun terlihat lebih berhati-hati. Azura tidak tahu apa yang terjadi, namun ia tahu lebih baik tidak bertanya.
Malam itu, Revan masuk ke kamar Azura. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan itu. Azura sedang duduk di meja rias, menyisir rambutnya. Ia terlonjak kaget saat melihat pantulan Revan di cermin.
"Tuan Revan?" Azura berdiri, membalikkan badan.
Revan tidak menjawab. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Azura dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang gelap dan dalam. Azura merasa merinding.
"Kita sudah menikah," Revan akhirnya berkata, suaranya rendah dan serak. "Sebagai istriku, ada kewajiban yang harus kau penuhi."
Jantung Azura berdegup kencang. Ia mengerti maksud Revan. Ketakutan itu mencengkeramnya. Selama ini, ia berasumsi Revan tidak akan menyentuhnya, mengingat sikap dinginnya. Ia berharap pernikahan ini hanya formalitas. Tapi, ia salah.
Revan melangkah masuk ke kamar, perlahan, seperti predator yang mendekati mangsanya. Azura mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya menabrak meja rias. Ia merasa terpojok, terperangkap.
"A-apa yang Tuan inginkan?" suara Azura bergetar.
Revan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Azura, tatapan itu menelanjangi Azura hingga ke relung jiwanya. Kemudian, Revan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Azura dengan jari-jari dinginnya. Sentuhan itu membuat Azura merinding, namun ia tidak bisa bergerak.
"Aku menginginkan seorang pewaris," kata Revan, suaranya tetap tanpa emosi, namun ada kekuatan yang tak terbantahkan di dalamnya. "Dan kau yang akan memberikannya padaku."
Azura terpaku. Pewaris? Jadi, ini alasan sebenarnya Revan menikahinya? Bukan hanya karena suaranya, tapi karena ia membutuhkan seorang istri yang bisa memberinya anak? Kenyataan itu terasa seperti pukulan telak. Ia adalah alat, bukan seorang istri.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Azura. "Tapi... aku tidak mencintaimu," bisik Azura, suaranya pecah.
Revan menarik tangannya dari pipi Azura. Wajahnya semakin beku. "Cinta tidak penting dalam pernikahan ini, Azura. Yang penting adalah kewajiban dan kesepakatan."
Ia tidak menunggu jawaban Azura. Revan mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Azura merasakan aura gelap Revan semakin pekat, mengelilinginya, menenggelamkannya. Ia menutup mata, membiarkan takdir yang ia pilih sendiri, yang ia korbankan demi orang-orang yang ia cintai, menelannya bulat-bulat. Malam itu, di dalam sangkar emas kemewahan, Azura merasakan kehampaan yang sempurna, dinginnya sebuah "bulan madu" yang didasari paksaan dan kebutuhan, bukan cinta. Ia tahu, mulai sekarang, hidupnya akan semakin terikat, semakin jauh dari harapan dan impian.
Anda Mungkin Juga Suka





