Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA

Reza berniat menepati janji pada sahabatnya dengan menjodohkan putranya, Krisna, dengan Vivi. Namun, Krisna justru mengkhianati Vivi dengan melamar wanita lain di hari ulang tahun gadis itu. Demi melindungi Vivi dan membalaskan rasa sakit hatinya, Reza mengambil langkah drastis yang mengejutkan seluruh keluarga. Ia melamar Vivi, mantan calon menantunya sendiri, agar wanita itu bisa merebut kembali martabat serta hak yang seharusnya ia miliki selama ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Vivi membuka kedua mata perlahan, kepalanya pusing dan ia berusaha bangun dari tempat tidur dengan susah payah.

"Ini dimana?" Vivi berusaha mengingat kejadian semalam dengan kepala sakit.

Semalam ia mengunjungi kakek tunangan di rumah sakit setelah menghadiri meeting manajemen di hotel. Saat itu ia bertemu dengan Krisna, tunangannya bersama seorang wanita dewasa yang cantik seperti model di luar ruangan.

Vivi menghela napas melihat tangan tunangan memegang tangan wanita itu, ia sudah bisa menebak kalau wanita itu salah satu kekasih tunangannya. Selama masih bertunangan, Vivi tidak akan keberatan. Itulah yang diajarkan keluarga tunangan.

Semua orang di dalam ruangan terdiam begitu Vivi, Krisna dan wanita itu masuk ke dalam ruangan bersamaan.

"Kakek, Vivi sudah membuatkan sup kesukaan Kakek." Senyum Vivi sambil meletakan isi tas yang dibawanya ke atas nakas tempat tidur rumah sakit.

"Hari ini kamu sudah kerja keras, para manajer tadi memuji hasil kerjamu," puji ibu Krisna.

Vivi terkejut, selama ini ibu Krisna selalu menatap sinis dirinya dan sekarang memuji? apakah hasil kerja kerasnya selama ini diakui?

"Terima kasih."

Entah kenapa semua orang tersenyum sinis menatap dirinya. Ah, tak apa. selama diakui calon ibu mertua maka-

"Sudah berapa tahun ya kamu tinggal di rumah kami?" tanya Ibu Krisna.

"Sepuluh tahun," jawab Vivi. Ia mengingat tanggal kecelakaan kedua orang tua yang menyebabkan dirinya dititipkan di rumah keluarga Aditama hari itu juga.

Ibu Krisna tersenyum dan menepuk tangan Vivi. "Berarti sudah saatnya kamu keluar dari rumah kami."

Senyum Vivi lenyap.

"Sekarang kondisi kakek sudah stabil, nenek juga sudah bisa mendapatkan perawatan terbaik, hotel-hotel keluarga kami sudah bisa menghasilkan pendapatan bersih lalu kami akan memberikan kompensasi yang sesuai untuk kamu."

Kami?

"Ah, coba minum ini dulu." Wanita yang dibawa Krisna memberikan secara paksa sebuah gelas ke Vivi. "Ini untuk merayakan kemenangan kami makanya kami berkumpul disini."

Vivi menundukan kepala dan menatap gelas di tangan dengan mata berkaca-kaca.

"Minum, bersulang."

Vivi menarik napas panjang, lalu meminum sampai habis.

Ibu Krisna dan Krisna tersenyum puas melihatnya.

Tak lama, entah kenapa Vivi merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi entah kenapa tidak bisa mengacaukan suasana bahagia di tempat ini, karena tidak mau mengganggu ia memutuskan pamit pulang dan terburu-buru keluar.

Setelah berusaha keras mencapai parkir mobil, ia tidak menemukan satupun mobilnya.

Vivi menelepon sopir, tidak diangkat. Telepon rumah pun tidak ada yang mengangkat. Di tengah guyuran hujan dan susah payah melangkah dengan mata berkabut berusaha menahan air mata, ia mencari mobil.

Vivi melihat seluruh tangan membengkak dan ia juga merasakannya di wajah. Vivi melihat spion kaca mobil orang lain, seluruh wajah bengkak memerah. Rasa mual menghampiri.

"Kamu baik-baik saja?"

Vivi mengangkat kepala. Ia melihat seorang pria tinggi yang sedang memegang payung menutupi mereka berdua dari hujan.

Perlahan kesadaran mulai memudar. Dan sekarang, entah berapa lama ia terbangun di sebuah kamar yang tidak dikenalnya.

"Itu-"

Pria itu berdiri di samping tempat tidur dan menatap Vivi. "Kamu pingsan di parkir rumah sakit. Dokter sudah periksa dan mengobatimu, kamu menunjukan gejala keracunan."

Vivi tertawa. Tentu saja.

"Ini."

Vivi menatap sebuah kotak besar di tangan pria itu. "Apa ini?"

"Hadiah ulang tahun kamu."

"Bagaimana-"

"Saya melihat id card."

Vivi menerima kotak itu dan membukanya. "Gaun?"

"Selamat ulang tahun."

Vivi kembali menatap pria itu, matanya berkaca-kaca. Tidak ada yang mengucapkan ulang tahun setelah kedua orang tua meninggal. "Terima... kasih..," ucapnya dengan lirih.

"Pulanglah, keluargamu pasti khawatir. Saya akan menyuruh sopir-"

"Tidak perlu!" tolak Vivi, "Saya bisa pulang sendiri."

Pria itu balik badan dan menelepon seseorang.

Vivi buru-buru bangun dari tempat tidur dan lari mencari kamar mandi. Ketemu! ia segera memuntahkan seluruh isi di dalam perut ke toilet.

"Saya sudah memanggil taxi." Pria itu sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.

Vivi mengangguk dan buru-buru membersihkan toilet.

Setelah selesai, Vivi mengucapkan terima kasih ke pria itu dan keluar ruangan. Ia terkejut, ternyata ini bukan hotel ataupun apartemen tapi Villa. Ia membaca petunjuk jalan sambil melihat sekeliling, masing-masing kamar terlihat seperti rumah biasa tapi dalam ruangan pasti mewah seperti yang dilihat di ruangan tadi.

Vivi menghela napas panjang. Selama ini dia hanya dididik menangani budget hotel atau city hotel. Mungkin menangani villa tidak terlalu berbeda.

Vivi menghentikan langkahnya. Tidak, ini bukan sekedar villa tapi juga resort. Ada lapangan golf tidak jauh dari sini. Terbesit keinginan kecil Vivi untuk belajar di tempat ini.

"Apa pria tadi tamu disini? sayang sekali aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya." Gumam Vivi sambil melihat kotak di tangan.

Begitu mencapai lobby, ia disapa bellboy dengan ramah. "Taxi sudah datang dan sudah dibayar, jadi anda bisa diantar kemanapun."

Vivi mengangguk, mengikuti arahan bellboy. Begitu masuk ke dalam taxi dan memberitahu alamat rumah, Vivi segera menghubungi rumah untuk melaporkan kondisi. Lagi-lagi tidak diangkat.

Vivi menelepon sekali lagi. Nihil. Dia menatap luar jendela mobil. Sudah lama pingsan, ini sudah hampir jam 7 malam.

Beberapa menit kemudian, dia sampai ke rumah. Vivi terkejut melihat mobil-mobil mewah diparkir di sekitar rumah.

Vivi tersenyum, menutup mulut karena tidak percaya. Dia keluar dari mobil dan lari kecil ke dalam rumah dengan antusias.

"Saya ingin mengumumkan sesuatu yang spesial disini."

Terdengar pengumuman bersamaan dengan masuknya Vivi, jantung Vivi berdebar keras. Hari ini ulang tahunnya, apakah ini kejutan dari tunangan setelah berhasil menstabilkan hotel keluarga?

"Saya akan menikahi seorang perempuan cantik."

Senyum Vivi lenyap setelah melihat pemandangan di atas panggung.

"Almira, setelah perjuanganmu selama ini menemaniku dari bawah. Maukah kamu menikahiku?"

Vivi menjatuhkan kotak di tangan. Jadi ini alasan dirinya diberi minuman? supaya mendapatkan perawatan dan tidak bisa masuk kesini lalu mengganggu acara ini di hari ulang tahun? Wanita itu yang semalam di rumah sakitkan?

Orang-orang di dekat Vivi menatap jijik Vivi sambil menutup hidungnya. Vivi merasa malu.

Menyadari atmosfer suasana mulai berubah, Krisna dan ibu di atas panggung melihat Vivi berdiri di tengah ruangan sambil menundukan kepalanya.

Almira yang melihat itu, menatap tidak suka Krisna. "Sayang-"

"Apa yang kamu lakukan disini?"

Vivi mengangkat kepalanya dan menatap terkejut Krisna. "Aku-"

"Hari ini adalah hari istimewa aku, kamu yang hanya anak angkat tidak berhak masuk ke dalam sini," tegur Krisna.

Vivi lupa kalau dia diperkenalkan sebagai anak angkat keluarga Aditama, pertunangannya dengan Krisna hanya diketahui pihak keluarga atau orang tertentu dengan alasan Krisna dan Vivi masih terlalu kecil.

"Aku- aku sudah berusaha keras melakukan yang terbaik, kita sudah bertunangan-" ucap Vivi.

Ibu Krisna turun dari panggung, berjalan mendekati Vivi dan menamparnya. "Apa yang kamu katakan tentang kakakmu, saya mengangkat kamu sebagai anak, adik Krisna bukan tunangan!"

Vivi menyentuh pipi yang ditampar. "Tapi-"

"Semalam kamu habis darimana?" tanya Almira.

Vivi hendak menjawab.

"Kamu pasti berkeliaran lagi, setiap malam pulang dengan alasan kuliah malam tapi pada kenyataannya kamu bersenang-senang dengan pria lainkan?" tuduh ibu Krisna.

Vivi bingung dengan perkataan ibu Krisna, ia menatap Krisna untuk meminta tolong. Krisna harusnya tahu kemana saja ia pulang malam.

Krisna mengalihkan tatapan dan tersenyum ke Almira.

Hati Vivi berdenyut sakit.

Ibu Krisna menjambak rambut Vivi hingga Vivi jatuh ke depan tepat di bawah sepatu ibu Krisna. "Ambilkan sapu! selama ini ternyata aku mendidik anak liar!"

Vivi merasa malu, ia mendengar bisikan dan tatapan tajam para tamu mengelilingi dirinya.

Alih-alih sapu, pelayan menyerahkan pukulan rotan. Ibu Krisna memukul Vivi tanpa ampun.

"Selama ini aku menjadikan kamu anak supaya bisa menjadi perempuan baik-baik dan menikah dengan laki-laki baik. Tapi apa- kamu malah mempermalukan keluarga!" teriaknya tanpa memperdulikan tamu yang hadir.

Krisna memijat kening sementara Almira mengerutkan kening. Ibu Krisna memang dikenal temperamen di rumah tapi bukan berarti sampai bersikap seperti ini di acara penting.

Almira turun dari panggung dan menghampiri ibu mertua berusaha menghentikan apa yang dilakukan beliau.

"Nona Almira, jangan dihentikan! itu memang pantas untuk dia, hukuman seperti ini masih ringan," tegur salah satu tamu wanita setengah baya

"Hanya seorang anak angkat, harusnya bisa berterima kasih. Bukannya melakukan hal yang mempermalukan nama baik keluarga ini."

"Benar-benar mengecewakan."

"Anak liar tetap saja anak liar."

Krisna yang mengejar Almira, merangkul pundaknya. "Tidak apa, ibu hanya mendidik. Tamu yang hadir disini adalah kenalan keluarga kami."

Almira masih tidak puas.

Krisna tersenyum bangga. "Kamu masih memiliki hati malaikat ya."

Vivi tidak menjerit, ia menerima semua pukulan ibu Krisna sambil menelan kesakitan. Ia mendengar apa yang dikatakan Krisna.

"KAMU MASIH TIDAK MAU MENGAKU!"

Vivi menitikan air mata. Orang tuanya tidak pernah memukul, ia juga tidak pernah berbuat di luar batas, selalu menurut tapi kenapa justru ia dituduh hal seperti ini?

"Saya- sepulang kuliah, pergi ke hotel, belajar dan bekerja manajemen disana..." lirih Vivi.

"BOHONG!"

Teriak para tamu satu persatu.

'"Belajar manajemen hotel di malam hari? kamu kira kita buta?" Krisna tersenyum sinis.

"Lalu apa? pagi sampai sore aku merawat kakek dan nenek, setelah jam lima sore aku kuliah lalu jam sepuluh sampai jam dua pagi aku di hotel untuk belajar mencari tamu, menerima tamu bahkan perhitunga-"

"Mencari tamu dan menerima tamu?" potong Almira yang terkejut, "Sayang. Apa kamu mempekerjakan anak ini di malam hari?"

Para tamu yang mendengar sontak terkejut. Apa yang dilakukan anak perempuan keluar masuk hotel di malam hari? Tidak mungkin belajar bukan?

Wajah Krisna berubah merah karena marah begitu mendengar pertanyaan tersirat Almira. "Tidak ada yang seperti itu!"

"JANGAN MELONTARKAN KEBOHONGAN!" teriak Ibu Krisna.

Para manajer hotel yang bekerja di bawah naungan keluarga Aditama percaya dengan perkataan Vivi karena faktanya memang begitu. Tapi mereka tidak bisa mengucapkan apapun karena tidak mau dipecat, di masa pandemi dan kesulitan mencari pekerjaan aman benar-benar beresiko untuk dipecat.

Vivi yang memahami jalan pikiran para manajer, tidak menyentuh mereka.

"Ma-"

"Siapa mama kamu!" Ibu Krisna semakin membabi buta memukul Vivi. Ia lupa kalau mengakui Vivi sebagai anak angkat di depan umum.

Tidak ada yang menghentikannya sampai Ibu Krisna lelah memukul, Almira menepuk tangan ibu mertua.

"Bawa anak ini ke dalam kamarnya!" perintah Ibu Krisna.

Almira menyipitkan mata dan menatap kotak yang jatuh tidak jauh dari Almira. "Kotak itu-"

Krisna mengambil kotak dan melihat isi. "Gaun? ini gaun yang kamu inginkan bukan?"

Almira menutup mulut dengan terkejut. "Itu memang gaun yang aku inginkan, ini mahal dan harus menunggu berbulan-bulan. Kenapa bisa-"

Vivi yang kesakitan, sontak memeluk kaki Krisna. "Kembalikan padaku, itu punyaku."

Itu hadiah ulang tahun pertama setelah kedua orang tuanya meninggal. Selama tinggal di keluarga ini, ia diingatkan untuk bersikap dewasa dan tidak mengingat masalah kecil seperti ulang tahun sementara ia ingat kalau Krisna dan adik perempuannya merayakan ulang tahun setiap tahun.

"Tolong kembalikan."

Krisna menendang Vivi untuk menjauh, lalu menyerahkan kotak itu Almira.

Almira mengeluarkan gaun dan menatap kagum gaun itu.

"Itu harusnya milik kamu," ibu Krisna bahagia melihat senyum cantik menantu.

"Itu milikku." Vivi menepuk dada dengan keras. "Itu kado ulang tahunku."

"Kamu membelinya darimana? menggunakan uang apa? keluarga Aditama, kan?" senyum Ibu Krisna dengan sengaja mengeraskan suara. "Saya tidak pernah memberikanmu uang sebanyak gaun itu."

"Jangan-jangan-" Almira menatap putus asa Krisna.

Krisna mengangguk mengerti. "Kamu mencuri uang hotel."

Vivi menggeleng putus asa, para manajer menghela napas panjang melihat perilaku tidak bermoral keluarga Aditama.

"Kurung dia ke dalam kamar, jangan diberikan makanan sampai besok!" perintah Ibu Krisna.

Para pelayan menyeret Vivi tanpa rasa hormat, mengabaikan rasa sakit yang diderita Vivi.

Ibu Krisna dan Krisna bercakap-cakap dengan Almira, para tamu mendekati mereka dan melontarkan pujian karena masih mau menerima anak luar yang jelas merugikan keluarga mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin selalu dianggap sebagai itik buruk rupa yang diasingkan keluarga. Saat Paramita, saudari tirinya yang sempurna, hendak menikahi CEO Carlos, kejutan besar terjadi ketika Carlos justru memilih menikahi Evelin. Di tengah cemoohan publik, Evelin membongkar rahasia besarnya sebagai ahli keuangan, genius AI, hingga penyembuh ajaib. Saat para pembencinya bersujud memohon maaf, Carlos memamerkan kecantikan asli Evelin yang memukau dunia tanpa perlu persetujuan siapa pun.
Sampul Novel Bayiku dibunuh Pelakor, Suamiku Tak Peduli
9.2
Novel romantis miliarder bernuansa misteri ini mengisahkan akhir tragis seorang istri yang keguguran dan meregang nyawa di rumah sakit Grup Dariawan akibat didorong oleh cinta pertama suaminya. Di saat-saat terakhirnya, sang suami, Ridwan, justru bersikap dingin dan menuduhnya berpura-pura demi mencari perhatian. Ridwan bahkan mengabaikan tangisan putra mereka yang terluka, melarang dokter merawat istrinya, dan mengusir anak kandungnya demi melindungi Mariana. Kekejaman tanpa belas kasihan ini berakhir dengan kematian ibu dan anak yang tragis.
Sampul Novel Belenggu Mantan
9.6
Kehidupan Diandra berubah drastis saat ia terpaksa terikat dalam pernikahan dengan Dave Airlangga, sang pewaris tunggal Aerles Corporation. Sayangnya, hubungan mereka hancur akibat kesalahpahaman fatal yang berujung pada perceraian. Di tengah bayang-bayang masa lalu dan ego yang terluka, mampukah keduanya memperbaiki keretakan tersebut? Simak perjuangan mereka untuk membangun kembali puing-puing rumah tangga yang sempat runtuh dalam kisah penuh emosi ini.
Sampul Novel Candu Dekapan Kakak Ipar
8.9
Pernikahan dengan putra keluarga konglomerat justru menjadi penjara bagi Djiwa. Diperlakukan layaknya pelayan oleh ibu mertua tanpa pembelaan dari suaminya sendiri, ia hidup dalam tekanan. Namun, situasi berubah sejak Radja, sang kakak ipar tertua yang berwibawa dan dingin, mulai memperhatikannya. Di tengah keputusasaan, sentuhan dominan Radja menyalakan api asmara yang salah. Terjebak dalam hubungan terlarang yang penuh dosa manis, Djiwa kini tidak memiliki jalan untuk kembali.
Sampul Novel CINTA DI BALIK TOPENG
9.5
Seorang pebisnis ternama menyembunyikan identitas aslinya sebagai pemimpin dunia bawah yang ditakuti. Takdir mempertemukannya dengan wanita penuh teka-teki yang juga memendam rahasia kelam. Di tengah kemewahan dan bahaya, benih cinta mulai tumbuh, memaksa mereka menghadapi konflik batin yang hebat. Hubungan ini penuh godaan mematikan saat topeng masing-masing perlahan retak, mengancam keselamatan serta posisi kekuasaan yang selama ini mereka bangun.
Sampul Novel Kehidupan Istri Seorang Milyarder
8.4
Demi imbalan seratus juta, seorang wanita menyelamatkan pria yang ternyata miliarder paling berpengaruh di kota. Sang presiden kaya yang terobsesi mulai mengejarnya dan menawarkan mahar fantastis untuk menikah. Meski ditagih janji uangnya, sang wanita tegas menolak lamaran karena tidak tertarik pada sosoknya. Namun, pria dominan itu justru menaikkan tawaran menjadi satu miliar dan dengan berani mengajukan dirinya sendiri sebagai hadiah tambahan hadiah.