Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Diary Istri CEO

Diary Istri CEO

Aisyah, lulusan Manajemen Pendidikan Islam, merantau ke Jakarta demi berdakwah. Namun, ia justru dihina saat melamar kerja di perusahaan milik Rahman. Rahman adalah CEO sukses yang berubah nakal setelah batal menikah dengan Cindy akibat masalah kesuburan. Takdir membawa Aisyah mendengar rahasia Rahman hingga ia bersedia menikah demi kehormatan. Meski ragu akan kondisinya, Rahman mencoba menerima syarat Aisyah untuk berikhtiar bersama demi masa depan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Rahman pulang dipapah oleh supir pribadinya yaitu Pak Darto. Bukan pertama kali Rahman pulang dalam keadaan mabuk. Bahkan hampir setiap malam. Kondisi Rahman seperti itu sangat membahayakan posisinya sebagai CEO namun seolah dia tidak mau peduli. Pak Darto dan Mbok Darsih sering menasihati Rahman tapi selalu dianggap angin lalu.

Meskipun Pak Darto dan Mbok Darsih hanya pembantu dan supir pribadinya tapi Rahman masih menghormati mereka berdua karena sejak kecil sudah diasuh dengan baik. Orangtuanya tinggal di Singapura, bersama adik perempuan Rahman yang sedang kuliah di NUS.

Perbaduan blesteran antara Jawa dan Amerika, itulah yang membuat paras Rahman mempunyai ciri khas. Pria yang berbadan six pack itu seakan tidak mempunyai kecacatan fisik. Namun entah kenapa, keluarga Cindy tiba-tiba membatalkan pernikahan yang sudah matang disiapkan. Malam itu saat Rahman berkunjung ke rumah Cindy, orangtua Cindy tiba-tiba meminta Rahman dan Cindy untuk test kesuburan terlebih dahulu sebelum menikah. Alasannya, orangtua Cindy tidak mau jika mempunyai menantu yang mandul, karena sama saja mematikan garis keturunan.

Rahman terpaksa harus menuruti permintaan orangtua Cindy. Mereka harus test kesuburan di klinik yang sudah ditunjuk oleh orangtua Cindy. Satu jam kemudian dokter memanggil mereka dan melihatkan hasil test kesuburan.

Dokter mengatakan kalau sperma Rahman kurang subur dan kemungkinan tidak bisa mempunyai anak. Cindy merasa kaget, terlebih lagi ayahnya. Sejak itu, ayah Cindy memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka. Remuk redam hati Rahman. Cindy tidak bisa berbuat apa-apa hanya patuh terhadap perintah orangtuanya.

Rahman langsung menjadi seperti orang gila dan mudah marah. Di kamar dia hanya bisa mengamuk, membanting dan menendang barang se-kenanya. Pecahan vase bunga dan meja kaca berserakan di lantai. Bahkan tangan Rahman mengeluarkan darah, namun dia tidak peduli, rasa sakit tidak dirasakan.

“Tuan, ada apa?” Mbok Darsih merasa bingung melihat Tuannya pulang-pulang sudah dipenuhi amarah.

Rahman tidak menjawab, dia naik ke atas. Darah menetes di antara anak tangga. Bunyi dentuman pintu tertutup membuat jantung Mbok Darsih merasa kaget. Pak Darto membantu istrinya untuk membersihkan pecahan beling di lantai. Jika suaminya belum bercerita Mbok Darsih pun tidak berani memulai bertanya.

Praknnnn!!!!

Terdengar bunyi pecahan. Pak Darto menahan tangan istrinya supaya tidak masuk ke kamar Rahman. Saat ini Rahman butuh waktu untuk sendiri.

Setelah puas melampiaskan amarahnya, Rahman terbaring lemas di atas kasur. Matanya pun tidak ingin melihat dunia, saat itu juga ingin dia mati saja.

***

Tubuh Rahman direbahkan ke atas kasur. Aisyah masih diam membisu. Padahal jika mau, dia bisa kabur saat itu juga. Pintu kamar terbuka dan dia bisa berlari sekencang mungkin, tidak peduli malam sudah sangat gelap.

“Mbok, dia kenapa?” Aisyah nongol di pintu.

“Beginilah Non, setiap malam selalu pulang mabuk.”

“Mbok, saya…”

“Hei jangan pergi kamu!”

Tiba-tiba Rahman bangun sambil menunjukkan jari telunjuk membuat Aisyah merasa kaget dan mengurungkan niatnya untuk izin pergi. Rahman kembali ambruk di atas kasur.

“Non, mari ikut saya…”

Aisyah mengikuti Mbok Darsih, seharian ini dia juga belum mandi. Tubuhnya terasa lengket. Mbok Darsih membawa Aisyah ke kamar tamu. Di dalam sudah lengkap dengan kamar mandi.

“Non bisa mandi dulu. Maaf, untuk sementara pakai baju saya dulu yah, Non.”

“Mbok, jangan panggil saya Non, cukup panggil Aisyah saja.”

“Tidak apa-apa Non. Sebentar saya ambilkan bajunya.

Mbok Darsih pergi ke kamarnya. Dia mencari baju yang layak dipakai Aisyah. Meski tubuh Aisyah lebih kecil, tapi masih ada gamis yang muat untuk Aisyah walau kedodoran sedikit.

Aisyah melihat-lihat kamar tamu yang cukup besar juga. Kamar mandinya juga sangat bersih dan wangi. Shower yang tentunya sudah otomatis hangat bisa membersihkan tubuhnya yang seharian belum mandi.

“Ini, Non… kebesaran sedikit nggak apa-apa yah.”

“Terima kasih yah, Mbok.”

Aisyah menyalakan shower dan mengetes airnya sudah hangat atau belum. Keluar dari penjara suci dan mencoba mengadu nasib ke ibukota, tidak disangka dia akan mengalami kejadian seperti ini. Berada di rumah istana namun bagaikan neraka.

***

Saat Rahman menuruni anak tangga, dia merasa bingung dengan penampilan Aisyah yang sedang menyiapkan sarapan. Bahkan Rahman seperti tidak ingat kepada dirinya.

“Kamu siapa?” tanya Rahman memastikan.

“Kamu pikun yah!”

“Hei, jaga ucapanmu yah!” gertak Rahman, hingga membuat Aisyah sadar kalau pria yang dihadapannya itu merupakan sosok aneh dan menyebalkan.

“Kamu yang bawa aku ke sini, sekarang tanya aku siapa?”

Rahman mencoba untuk mengingat kembali. Dia memukul-mukul pelan kepalanya, efek mabuk berat semalam mungkin sudah membuatnya amnesia. Barulah Rahman sadar dan tertawa.

“Dasar aneh!” gerutu Aisyah.

“Ha ha ha…” Rahman masih tertawa dan ingin menyentuh kepala Aisyah namun dia urungkan.

Aisyah melihat tangan Rahman yang diturunkan sendiri hanya bisa membatin.

“Punya malu juga tidak jadi menyentuhku.”

Rahman menarik kursi dan siap untuk sarapan. Aisyah membalikkan badan. Rahman langsung bersuara lantang. Dia meminta Aisyah untuk duduk di sebelahnya dan menemani sarapan. Siapa yang sudi menemani pria aneh dan menyebalkan, Aisyah menolak dan tidak mau.

Prankkk!

Rahman membanting gelas yang sudah diisi air putih. Aisyah merasa kaget sampai dia merasa takut untuk membalikkan badan. Mbok Darsih berlari dari dapur.

“Tuan, kenapa, apa sarapannya tidak enak?”

Rahman berdiri dan merapikan jasnya. Aisyah masih merasa gemetar. Rahman menarik tangan Aisyah dan menyeretnya masuk ke kamarnya. Meski Aisyah meronta meminta untuk dilepaskan namun Rahman tidak mempedulikan.

Dhummm!

Suara pintu dibanting dengan kuat. Rahman berteriak hingga terdengar penghuni rumah. Bahkan Pak Darto yang sedang memanaskan mobil bisa mendengarnya.

“Jangan berikan dia makan, Mbok! Itu hukuman untuknya yang sudah berani melawanku!”

Rahman merapikan jasnya kembali dan turun menaiki anak tangga. Mbok Darsih masih mematung sambil memandang pecahan gelas.

“Jangan ada yang buka kamar saya.”

“Baik Tuan.”

Mbok Darsih selalu mematuhi perintah Tuannya, tapi tidak memberikan makan kepada Aisyah, hatinya juga tidak tega. Pak Darto membukakan pintu mobil. Dengan kharismanya sebagai CEO yang banyak saingannya, Rahman tidak peduli akan perangai sikapnya itu bisa digunakan lawan untuk menghancurkannya.

Aisyah memijat-mijat pergelangan tangannya. Amukan Rahman, sangat gila. Baru kali ini Aisyah diperlakukan seperti budak. Sejenak dia berpikir ke belakang. Jika saja dia mau menemani Rahman sarapan mungkin dia tidak akan dihukum di kamar ini.

Pak Darto melihat wajah Rahman yang masih menyisakan amarahnya. Membunuh jenuh di dalam mobil, Rahman membuka handphone dan melihat ada jadwal meeting siang ini di restoran.

“Tuan. Apa tidak kasihan dengan Non Aisyah?”

“Jangan ikut campur Pak Darto.”

“Kalau orangtua Aisyah mencarinya bagaimana Tuan, dan melaporkan ke polisi?”

“Sampai sekarang tidak ada polisi yang datang, kan?”

“Tapi Tuan…, kelihatannya Aisyah perempuan baik-baik.”

“Cuku Pak Darto.”

Rahman juga merasa gelisah. Bagaimana jika apa yang dikatakan Pak Darto itu benar. Sudah semalaman Aisyah tidak pulang. Orangtuanya pasti sangat khawatir. Pak Darto melirik wajah Rahman dari kaca, lalu tersenyum.

Sampai di kantor, Rahman meminta Pak Darto untuk segera pulang ke rumah saja dan mengecek keadaan Aisyah. Receptionis tersenyum dan menyapa Rahman. Baju yang dipakai membuat Rahman teringat akan Aisyah yang sangat berbeda. Belahan dada wanita itu kelihatan.

“Melisa.” Rahman membaca name tagnya.

“Iya, Pak.”

“Besok bajunya lebih sopan.”

Melisa pun merasa kaget, tiba-tiba bossnya mendadak menjadi aneh. Padahal Melisa sudah biasa memakai baju yang sering membentuk buah dadanya menonjol. Sebelum masuk ke ruang kerjanya, Rahman memperhatikan pegawai perempuan. Merasa ada yang aneh dengan sikap bossnya, Rahman pun menjadi bahan obrolan.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel akan ku tuju sampai ke ujung
9.6
Siera adalah wanita menawan yang merasa cukup hidup sendiri tanpa kekasih. Ia memiliki Roma, sahabat masa kecil setia yang selalu siap melakukan apa pun demi dirinya. Namun, prinsip Siera diuji saat bos besarnya yang bernama Xavier muncul di kantor. Meski dikenal sebagai pria angkuh, dingin, dan egois, Xavier perlahan luluh menghadapi kesabaran Siera. Di antara kesetiaan sahabat dan pesona sang atasan, dinamika hidup Siera mulai berubah drastis.
Sampul Novel Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
9.8
Pasca menjebak Bara di malam pengantin, Ayla diusir dan mengasingkan diri ke luar negeri. Di sana, ia memulai hidup baru yang mapan dan membesarkan buah hatinya tanpa sepengetahuan sang suami. Namun, takdir memaksa Ayla pulang untuk menghadapi pria yang seharusnya ia benci itu. Kepulangannya membawa misi rahasia yang berisiko menghancurkan reputasinya. Meski dicap sebagai wanita murahan, ia tetap maju demi tujuan yang sangat krusial bagi hidupnya.
Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
8.6
Pernikahan aliansi di kalangan elite memiliki aturan unik: suami boleh memiliki kekasih asal memberi kompensasi setara kepada istri sah. Dean Ramosh memegang teguh prinsip ini dengan memberi Calista Syahrina nafkah seratus kali lipat dari selingkuhannya, bahkan setelah keluarga Calista bangkrut. Saat sang kekasih mendapat rumah murah, Calista dihadiahi Vila Northcoast No. 1 yang mewah. Di tengah desakan sosial agar ia bersyukur, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Cinta yang Kukira Abadi, Ternyata Ilusi
8.0
Tiga belas tahun membina hubungan sejak masa sekolah hingga pernikahan, Valen rela menentang keluarganya sendiri demi memberikan sebuah perusahaan publik kepada sang suami. Namun, ilusi pernikahan bahagia itu hancur saat sebuah buku catatan usang jatuh dari laci rahasia. Di dalamnya tertulis kalimat menyakitkan bahwa suaminya sangat muak dengannya. Valen akhirnya menyadari cinta sejati yang ia percayai hanyalah dusta. Kini, ia mulai mempertanyakan ketulusan suaminya, termasuk motif di balik kepemilikan perusahaan tersebut.
Sampul Novel Dinodai Mantan Majikan
8.3
Demi biaya operasi ibunya, Anjani Aswari terpaksa menjual kesucian kepada majikannya, Barata Yudha. Konglomerat itu justru terus mengeksploitasi Anjani sebagai pemuas nafsu rekan bisnisnya di bawah ancaman maut. Saat Anjani hamil demi menghidupi adik-adiknya, Barata menolak bertanggung jawab dan menuduh bayi itu milik pria lain. Konflik memuncak ketika istri Barata, Ayudya, mengetahui skandal ini. Anjani yang menderita pun harus mengungkap kebenaran di tengah pengusiran.
Sampul Novel Gadis Kesayangan Tuan Muda
9.2
Syaqila Ayu Purnama terpaksa menjadi tunangan Aditya Garrett setelah ayahnya menjualnya demi melunasi utang. Meski benci dengan situasi ini, gadis remaja itu kini hidup bergelimang harta di rumah mewah dan sekolah elit. Di sisi lain, Aditya yang berusia 23 tahun sengaja memanfaatkan keadaan karena telah lama menyukai Syaqila. Ia terus memanjakan sang gadis, namun tantangan muncul dari pria-pria muda yang lebih tampan. Mampukah Aditya memenangkan hati Syaqila?