
Diam-Diam Kuserahkan Surat Cerai
Bab 5
Hari keberangkatan ke Norevia, aku menulis sebuah email untuk dosen pembimbingku.
Di dalamnya, aku menceritakan soal kehamilanku.
Tak lama, balasannya pun datang.
[Astaga, Isabel! Itu kabar luar biasa. Selamat! Aku akan menyiapkan segalanya untukmu. Tempat tinggal, pemeriksaan kehamilan, bahkan seseorang yang akan menjemputmu langsung di bandara dan mengantarmu ke rumah baru.]
Mataku memanas, hampir saja meneteskan air mata.
Aku sempat khawatir kabar ini akan membuat mereka mempertimbangkan ulang jadwal penelitian, tapi ternyata yang kudapat justru dukungan penuh.
Di saat aku hampir tak punya siapa pun untuk diandalkan, email singkat itu menjadi penghiburan paling berharga.
Hari itu, aku sengaja memilih baju longgar untuk menyembunyikan perut yang mulai sedikit menonjol.
Begitu tiba di bandara, seorang pria muda melambaikan tangan.
“Isabel!”
Dia berwajah bersih dengan senyum lembut.
“Hai, aku Owen.”
Dengan sopan, dia meraih koperku sembari tersenyum ramah.
“Akhirnya kita bertemu juga. Namamu sudah sering kudengar.”
Aku hanya bisa membalas senyumnya, meski hati masih dipenuhi was-was.
Ini pertama kalinya aku bepergian ke luar negeri seorang diri. Ditambah lagi aku sedang hamil.
Namun, sikap Owen yang penuh perhatian membuatku sedikit lebih tenang.
Dia mengurus semua proses check-in hingga mengantarku ke pintu pemeriksaan.
“Jangan khawatir, Isabel. Di sana semua sudah kuatur dengan baik,” katanya sambil menepuk ringan punggung tanganku.
Aku mengangguk pelan, hatiku penuh rasa terima kasih.
Tapi tepat saat itu...
“Renata, hati-hati!”
Suara yang amat kukenal terdengar dari kejauhan.
Jantungku bergetar hebat.
Itu… suara Tritan!
Kenapa dia ada di sini?!
Refleks aku menunduk, takut dia mengenaliku. Aku tak boleh ketahuan.
Tak lama, suara manja Renata terdengar.
“Tritan, aku mau minum di kafe baru itu. Temani aku, ya?”
Tritan tampak ragu.
“Tunggu. Aku mau menelepon Isabel. Aku rasa tadi aku dengar namanya.”
Tatapannya sempat menyapu ke arahku.
Aku buru-buru menunduk lebih dalam, berpura-pura sibuk dengan koper, sementara keringat dingin mengalir di punggung.
Renata cepat-cepat menggenggam tangannya.
“Nggak usah! Pasti Isabel lagi di laboratorium. Kamu hanya akan mengganggunya. Ayo ke kafe, mitra bisnismu sebentar lagi datang. Nanti nggak ada waktu lagi.”
Tritan akhirnya mengangguk.
Keduanya pun berjalan menjauh.
Aku baru bisa bernapas lega, meski dada terasa sesak.
Ironis…
Saat menandatangani surat cerai, kalau bukan karena Renata yang menyela, Tritan takkan semudah itu menandatanganinya.
Dan kini, kalau bukan karena Renata yang mengalihkan perhatian, aku pasti sudah ketahuan.
Perpisahanku dengan Tritan… diselesaikan oleh Renata sendiri.
“Isabel, waktunya pemeriksaan.”
Suara Owen memecah lamunanku.
Aku segera menyembunyikan gejolak di hati, mengikuti langkahnya menuju pemeriksaan.
Di sana, Owen menyodorkan sebuah kartu pos padaku.
“Kirim ini ke keluargamu, biar mereka tahu kabarmu.”
Kartu pos itu bergambar gletser megah, indah dan misterius.
Aku menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis.
Dengan tenang, aku melemparkan kartu pos itu ke tempat sampah.
“Nggak perlu. Aku nggak punya siapa pun yang layak menerimanya.”
Aku tak ingin lagi ada ikatan dengan masa lalu.
Setelah naik pesawat, aku duduk di kursiku.
Owen memastikan semua beres. Dia menitipkan sebuah pesan padaku.
“Isabel… laboratorium sudah menyiapkan fasilitas terbaru khusus untukmu. Jadwal kerjamu pun sudah mereka sesuaikan agar kamu bisa menjaga kandungan dengan tenang. Kamu hanya perlu fokus pada dirimu sendiri… dan bayimu.”
Kata-katanya kembali membuat mataku sembab.
Semua yang dia berikan… sesuatu yang sederhana, perhatian tulus… hal yang tak pernah kudapat dari Tritan selama empat tahun pernikahan.
Aku menutup mata, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Ketika pesawat bersiap lepas landas, aku menoleh sekali lagi.
Menatap kota yang penuh kepalsuan dan kesepian.
'Tritan… mulai sekarang, kita benar-benar sudah berakhir.'
Anda Mungkin Juga Suka





