
Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya
Bab 3
Ayu terkejut melihat surat itu.
Dia dan Jasmine menjadi sahabat dekat selama lebih dari sepuluh tahun, dan selama itu, Ayu telah melihat seberapa besar cinta Jasmine pada Vovo.
Dulu, Jasmine rela mati untuknya, dan tidak akan ada orang yang mempertanyakannya.
Mereka menikah setahun yang lalu. Ayu senang melihat mereka menikah, meskipun ada sesuatu yang janggal mengenai hubungan keduanya. Tetapi tetap saja, Jasmine telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Itu sudah cukup bagi Ayu.
Sekarang ini ....
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku tidak mencintainya lagi," ucap Jasmine, sebelum Ayu sempat bertanya.
Jasmine meliriknya, dan tersenyum dengan tenang.
Dalam senyum itu, Ayu melihat sekilas sosok Jasmine yang dulu—sosok yang ada sebelum segalanya hancur, sebelum kesedihan menggerogoti jiwanya, sebelum kematian ayahnya dan kejatuhan Keluarga Samtoso mengubahnya.
Entah kenapa, hal itu membuat Ayu merasa tenang.
"Vovo tidak tahu tentang kehamilanku," ucap Jasmine tenang. "Dan sebelum resmi bercerai, aku tidak ingin mengambil risiko apa pun. Akan lebih baik kalau dia tidak tahu."
Jika salah satu pihak berubah pikiran sebelum keputusan cerai ditetapkan, mereka dapat menarik kembali permohonan tersebut, dan proses itu tidak akan dilanjutkan.
Pada saat inilah Ayu menyadari bahwa Jasmine memang serius tentang perceraiannya dengan Vovo.
Setelah mempertimbangkan semuanya, Ayu segera bertindak: dia mengatur tes medis Jasmine dan kemudian menyarankan dengan hati-hati, "Kamu harus menunggu beberapa hari sebelum menjalani operasi."
Jasmine mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Kamu tahu golongan darahmu—Rh-negatif. Itu golongan darah yang langka. Kami perlu waktu untuk menyiapkan darah, hanya untuk berjaga-jaga. Aku sudah menghubungi bank darah. Mereka bilang mungkin perlu waktu seminggu."
Jasmine tertegun sejenak. Kesedihan terlihat jelas di matanya.
Golongan darah langka itu berasal dari ayahnya. Dan kini, dia merindukan ayahnya lagi.
Seandainya ayahnya masih hidup ....
"Oke." Jasmine mengangguk pelan. Senyuman tersungging di bibirnya, tetapi matanya memerah.
"Kamu juga menunjukkan beberapa tanda keguguran. Kamu harus berhati-hati beberapa hari ke depan," tambah Ayu, suaranya penuh dengan kekhawatiran.
Mereka tumbuh bersama, dan Ayu sangat memahami kesedihan Jasmine.
Dia menggenggam tangan Jasmine. "Tunggu aku. Jam kerjaku hampir selesai. Aku akan pulang bersamamu."
Jasmine mengangguk, lalu pergi untuk menunggu di lorong.
Dia menatap perutnya.
Tanda-tanda keguguran awal.
Apakah bayinya tahu keputusannya dan memutuskan untuk pergi lebih dulu?
Sambil mengerutkan bibirnya, Jasmine berjalan menuju laboratorium untuk menjalani tes.
Pada saat yang bersamaan, ponselnya bergetar. Itu adalah notifikasi dari bank.
Dia telah membuka rekening baru— rekening yang tidak akan diketahui oleh Vovo. Dia menyimpan uangnya secara terpisah sebelum perceraian diselesaikan.
Mulai sekarang, setiap sen yang dia peroleh akan disimpan di rekening tersebut.
Pesan kedua masuk. Pembayaran untuk komposisi dan lirik telah diselesaikan. Departemen keuangan telah mengirimkan transfer. Mohon konfirmasi."
Sebelum menikah dengan Vovo, Jasmine diam-diam bekerja sebagai penulis lagu yang tak bernama.
Musik selalu menjadi cinta pertamanya. Dulu, ketika ayahnya masih hidup, hidupnya sangat berkecukupan, dan dia tidak kekurangan apa pun. Sebagai anak perempuan satu-satunya Keluarga Samtoso, dia memiliki kebebasan dan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya.
Perubahan yang terjadi dalam hidupnya telah mengajarkannya banyak hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Mungkin ayahnya tidak pernah menyangka bahwa hobi yang dulu dia dukung akan menjadi hal yang menyelamatkannya suatu hari nanti.
Jasmine berhenti sejenak, lalu membalas, "Uang sudah diterima. Terima kasih."
Balasan datang dengan cepat. "Kamu pantas mendapatkannya. Kamu sudah menulis banyak lagu hits selama bertahun-tahun. Kenapa kamu tidak berencana kembali? Ada acara baru yang cocok untukmu. Itu sangat cocok untukmu. Aku sudah mengirimkan rinciannya di email. Aku menyiapkan slot kontestan khusus untukmu."
Jasmine membuka dan membaca emailnya. Sebuah pesan baru muncul di bagian atas, mengundangnya untuk bergabung dalam sebuah acara kompetisi musik. Formatnya familier, seperti acara yang pernah dia tonton sebelumnya, tetapi yang ini menginginkan sesuatu yang orisinal.
Jasmine mengetik balasan singkat. "Aku akan pikirkan."
Kemudian dia menyimpan ponselnya. Kram ringan terasa di perut bagian bawahnya.
Membuatnya kembali teringat ayahnya.
Untuk kedua kalinya hari ini.
....
Sementara itu, internet dipenuhi dengan berita terbaru.
#VivianSimpsonKankerLambung
#HitungMundurFloristVivianSimpson
#EnamBulanTerakhirHidupnya
Postingan yang paling populer adalah video yang menampilkan seorang wartawan yang merangkum berita tentang Vivian. "Sumber membenarkan bahwa desainer bunga terkenal, Vivian Simpson, telah didiagnosis menderita kanker lambung. Dia hanya punya waktu enam bulan lagi untuk hidup. Namun, alih-alih menyerah, dia memilih untuk mendokumentasikan sisa waktunya—dia ingin membagikan kehidupannya dengan dunia di saat-saat terakhirnya."
Dalam video itu, Vivian muncul. Dia memandang kamera dengan senyum getir di wajahnya. "Dalam enam bulan terakhir ini, aku akan berbagi pengalaman hidupku. Aku tidak melakukannya untuk mencari perhatian. Aku hanya ingin memberikan dukungan untuk orang-orang yang menderita penyakit yang sama. Kuharap kalian semua tetap kuat."
Kemudian reporter kembali muncul di layar. "Selama ini, ada gosip yang beredar tentang Nona Vivian dan Pak Vovo, CEO Grup Puconto. Tapi Pak Vovo sudah menikah. Kita harus melihat apakah dia akan kembali berhubungan dengan Nona Vivian selama saat-saat terakhirnya."
Di latar belakang, Vivian sepertinya mendengar bagian itu. Dia melangkah maju, berhenti di samping wartawan, dan dengan lembut menyela.
Vivian menghadap kamera.
"Memang benar aku menyukai Kak Vovo. Dia adalah pria yang luar biasa," ucapnya. "Aku yakin aku bukan satu-satunya yang merasakan hal itu. Tapi aku ingin memperjelas satu hal—aku tidak akan mengganggu pernikahan orang lain. Itu bukan diriku."
Setelah mengatakan hal itu, Vivian berjalan pergi, meninggalkan wartawan sendirian.
Dia menyusuri kerumunan sambil tersenyum dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.
Perawat asing memberikan segelas air padanya, tangan terhenti di udara, ada sedikit keraguan di wajahnya.
"Kamu sepertinya ingin mengatakan sesuatu," ucap Vivian, suaranya dingin. "Katakan saja. Supir itu salah satu orang kita."
Perawat itu mendekat dan memelankan suaranya. "Nona Vivian, diagnosis Anda ... adalah tukak lambung. Membuat klinik kami mengubahnya menjadi kanker lambung sudah sangat berisiko. Tapi sekarang Anda malah mengumumkannya ke media?"
Vivian tertawa menghina, yang mengejutkan sang perawat.
"Klinikmu—apakah itu klinik yang sudah berizin?" tanyanya.
Pengasuh itu mengangguk.
"Apakah klinikmu mengurus rekam medisku secara pribadi?"
Perawat itu mengangguk sekali lagi.
"Bukankah rekam medisku menyatakan aku menderita kanker lambung dan hanya punya waktu enam bulan lagi?"
Perawat itu ragu sejenak sebelum mengangguk lagi.
"Tepat!" Vivian bersandar kembali sambil tersenyum. "Kalau begitu, diagnosis itu benar. Tidak ada seorang pun yang bisa mempertanyakannya."
"Tapi Anda tidak benar-benar menderita kanker lambung. Lalu apa yang akan terjadi nanti ...."
"Ada dua jalan keluar," ucap Vivian, menyela. Suaranya kini lebih sinis, sorot matanya menajam. "Satu: aku sembuh secara ajaib selama pengobatan di klinikmu atau tempat lain, mungkin karena semua cinta yang aku terima. Dua: klinikmu akan disalahkan atas kesalahan diagnosis dan pengobatan yang salam selama berbulan-bulan."
Vivian menatap perawat itu, tampak lebih menakutkan. "Pilihan mana yang kamu pilih?"
Perawat itu tampak panik, tetapi berusaha untuk menjawab. "Maafkan saya, Nona Vivian. Saya mengerti sekarang. Anda sudah memikirkan semuanya."
Mendengar itu, Vivian hanya mencibir.
"Nona Vivian, kita mau ke mana sekarang?" tanya perawat itu berusaha meringankan suasana.
Vivian melirik ponselnya. "Rumah Sakit Harmoni."
Perawat itu mengang. "Tapi—"
"Tenang saja. Aku ke sana untuk meminta obat pereda nyeri dengan rekam medisku," ucap Vivian, lalu meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Vovo, memberitahunya untuk bertemu di rumah sakit nanti.
Seketika itu juga, Vovo membalas, "Tentu."
Sementara itu, Jasmine berdiri di kamar mandi rumah sakit, merasakan nyeri yang terus-menerus di perut bagian bawahnya. Di tangannya ada tisu, noda darah terlihat jelas di atasnya.
Itu adalah tanda awal keguguran.
Anda Mungkin Juga Suka





