Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul

Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul

Kinara terpaksa menikah di usia tiga puluh tahun demi menuruti keinginan orang tuanya. Namun, setelah dua tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati, ia justru dituduh mandul oleh mertuanya sendiri. Penderitaannya kian mendalam saat sang suami memutuskan untuk berpoligami dengan wanita lain. Merasa dikhianati dan hancur, Kinara bertekad bangkit demi membuktikan bahwa tuduhan kejam mereka salah besar serta menunjukkan harga dirinya yang sebenarnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kinar, apa kamu sudah siap Nak?"

Tanya ibu yang tiba tiba datang, tanpa mengetuk pintu. Tak seperti biasanya, ibu selalu mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar ku. Sepertinya ibu sangat gugup dan terburu buru.

"Iya Bu. Kinar sudah siap." Jawabku lirih.

Ibu tersenyum melihatku. Ibu melihatku dari rambut hingga ujung kaki, ibu kembali menyunggingkan senyumannya. Terpancar jelas dimata nya. Kalau ibu sangatlah bahagia.

"Cantik, kamu terlihat sangat cantik Kinar."

Mendengar pujian ibu, aku jadi tersipu malu. Tapi jujur, aku memang terlihat beda dari biasanya. Biasanya aku hanya berpenampilan sederhana tanpa bedak tanpa pewarna bibir.

"Ayo sekarang kita temui mereka."

Ibu menuntunku keluar dari kamar, dan mengajakku berjalan keruang tamu untuk menemui mereka.

Kulihat ada empat orang tamu disana. Yang satu seumuran bapak. Itu pasti bapaknya Bayu. Yang perempuan pasti ibunya Bayu. Karena hanya ada satu tamu perempuan. Dan kedua pria itu yang satu berperawakan tinggi sedang, lumayan ganteng. Tapi usianya masih sekitar dua puluh lima'an. Tak mungkin dia Bayu, karena umurnya jauh dibawahku.

Kalau begitu Bayu berarti pria yang satunya. wajahnya sih lumayan hanya saja badannya sedikit pendek dan gendut. Tapi tak apalah, setidaknya dia tak seperti yang kubayangkan dan mungkin dia adalah jodoh yang Tuhan kirim untukku.

"Ini putriku Kinara"

Ibu memperkenalkanku pada mereka.

Akupun kemudian menjabat tangan ibu dan bapaknya Bayu, dan kedua pria itu. Kemudian aku duduk disebelah ibu.

"Kamu cantik Kinar."

Ucapan ibunya Bayu, membuatku tersipu malu. Aku hanya tersenyum dan menunduk saat mereka memandangku.

"Kinar. Ini Bayu,"

Aku terkejut setelah ibunya Bayu memperkenalkan pria yang berusia lebih muda dariku. Berarti aku salah, ternyata Bayu pria yang lebih muda usianya dariku.

Aku hanya mengangguk, dan Bayu tersenyum padaku. Sepertinya Bayu juga menerima perjodohan ini.

Ya Allah, jika benar Bayu ini jodohku. Jangan ragukan hatiku untuk menerimanya. Doa ku dalam hati.

Meskipun aku tidak yakin, kalau Bayu akan menerimaku. Mungkin saja dia hanya pura-pura demi menyenangkan hati orangtua nya.

"Dan ini Fajar. kakaknya Bayu."

Rupanya pria bertubuh gembul yang kukira Bayu adalah kakaknya.

"Bagaimana Kinar? apa kamu menerima pinangan kami untuk Bayu?"

Kujawab pertanyaan ibunya Bayu dengan anggukan, jujur aku sangat malu sekali.

"Kalau begitu, sekarang pakaikan cincin ini dijari Kinar Bay." Perintah ibunya mas Bayu.

"Baik Bu."

Mas Bayu mendekat kearahku. Lalu meraih jemariku. Kemudian menyematkan sebuah cincin bermata satu, di jari manisku. Aku merasa gemetaran saat mas Bayu memegang tanganku. Aku tak berani menatapnya karena malu.

"Pak Sukman, karena Kinar sudah menerima Bayu, bagaimana kalau kita segera menikahkan mereka? bukankah lebih cepat, lebih baik!"

Pertanyaan yang dilontarkan bapaknya Bayu, cukup membuatku terkejut. Bagaimana bisa segera menikah, sementara aku belum mengenal Bayu lebih jauh.

"Kita beri waktu untuk Bayu dan Kinar saling mengenal. Setelahnya kita baru merencanakan pernikahan mereka."

Jawaban bapak sangat mewakili perasaanku, aku memang ingin mengenal dulu Bayu. Sebelum dia menjadi suamiku.

"Baiklah pak, satu minggu saya rasa cukup. Untuk mereka berdua saling mengenal." Ujar bapaknya Bayu.

Hah satu minggu? mana cukup waktunya. Jujur aku belum siap, kalau harus menikah dalam waktu satu minggu lagi. Aku belum mempersiapkan apapun. Jeritku dalam hati.

"Bagaimana Pak Sukman?"

Kulihat bapak terdiam, sepertinya sedang berpikir.

"Baiklah Pak, satu minggu lagi kita nikahkan mereka."

Keputusan bapak sudah tidak bisa diganggu gugat, aku harus menerima dengan lapang. Meski harus menikah dengan lelaki yang usianya jauh dibawah ku.

"Kinar. Bayu. Sebaiknya kalian ngobrol berdua dulu, biar kalian cepat akrab!" Ucap ibunya Bayu.

"Iya Bu." Sahutku lirih. Disusul dengan anggukan mas Bayu.

Yang ibunya Bayu katakan memang benar. Sebaiknya aku ngobrol berdua dengan Bayu.

Kupandang sejenak wajah ibu. Aku ingin meminta ijin pada ibu, dan tampaknya ibu mengerti. Karena ibu langsung menganggukan kepala.

"Kinar, ajak Bayu ngobrol diteras saja,"

Aku langsung mengangguk, mendengar perintah ibu.

Aku mengajak Bayu untuk keluar.

"Ayo Mas, ke depan!"

Aku dan mas Bayu akhirnya mengobrol di teras.

"Kinar, apa kamu sudah siap menikah denganku?"

Pertanyaan mas Bayu, membuatku terkejut. Mengapa harus dipertanyakan, kalau tadi aku sudah mengiyakan didepan orang tuanya. Apa jangan jangan mas Bayu tak mau dijodohkan denganku. Kalau iya, tak mengapa. Wajar saja, karena usia kami berbeda jauh.

"Mas, aku siap jika kamu siap. Aku tidak mau, kamu menikahiku karena terpaksa."

Aku tertunduk lesu, aku sudah pasrah jika mas Bayu menolak. Aku tak mungkin memaksanya. Menikah memang seharusnya karena terpaksa.

"Apa benar yang kamu katakan Kinar?"

"Iya Mas." Jawabku lirih.

Mas Bayu tersenyum simpul, aku jadi bingung dibuatnya. Senyum senang karena menerima perjodohan ini, atau menolaknya.

"Terimakasih ya Kinar. Aku pasti sangat bahagia, bisa menikah denganmu, dan menjadi suamimu."

Mendengar ucapan mas Bayu, aku terkejut. Aku kira mas Bayu akan menolak ku dan menentang perjodohan ini. Ternyata aku salah, ternyata mas Bayu mau menerimaku. Sungguh aku merasa sangat bahagia. Sekalipun aku baru saja mengenalnya, tapi sepertinya mas Bayu orangnya baik.

"Mas, itu berarti, kamu menerima perjodohan ini?" Tanyaku serius. Aku masih belum yakin.

"Tentu saja Kinar, siapa sih yang tak mau dijodohkan dengan orang secantik kamu."

Pujian mas Bayu membuatku tersipu malu. Apa ini tandanya, aku mulai punya rasa pada mas Bayu. Tapi aku masih ragu, mengenai umurku yang sepertinya lebih tua darinya, apa mas Bayu tak mempermasalahkannya?

"Mas, ada yang ingin kutanyakan,"

"Ada apa Nay?"

"Mas, umur kita sepertinya jauh berbeda. Kamu lebih muda dariku, apa kamu tetap menerimaku?"

Kucoba beranikan untuk bertanya pada mas Bayu, karena aku tak mau ini akan menjadi masalah dikemudian hari. Aku tak mau mas Bayu mengungkit masalah umur saat kita sudah menikah nanti.

"Kinar, kita cuma selisih lima tahun. Mau aku lebih muda darimu atau apalah, itu tak jadi soal. Masih banyak diluar sana, perbedaan usia antara istri dan suaminya yang jauh lebih muda. Kenyataanya mereka bisa hidup bahagia. Lalu kenapa kita tidak mencobanya?"

Ucapan mas Bayu benar. Memang banyak diluar sana, banyak istri yang lebih tua usia nya dibanding suaminya. Kenyataannya mereka terlihat bahagia. Kata-kata mas Bayu benar-benar telah membuatku yakin, akan lelaki pilihan kedua orang tuaku. Aku semakin mantap dengan pernikahanku nanti dengan mas Bayu.

"Iya Mas." Sahutku sembari menunduk. Aku tak berani menatap mas Bayu. Aku masih merasa malu padanya.

"Kinar, Bayu, Ayo masuk dulu! Kita makan malam dulu!" Perintah ibu tiba-tiba. Entah sejak kapan ibu datang, mungkin saja dia sudah mendengar percakapanku dengan mas Bayu tadi.

"Iya Bu."

"Ayo Mas!" Aku mengajak mas Bayu masuk.

Kami makan malam bersama keluarga mas Bayu. Tersedia banyak menu hidangan malam ini. Ada juga beberapa jenis buah-buahan. Rupanya ibu sudah mempersiapkan semuanya, khusus menyambut keluarga mas Bayu. Kasihan ibu, masak sebanyak ini sendirian. Pasti capek sekali.

Selesai makan malam, mereka pun langsung berpamitan untuk pulang.

"Pak, Bu, ini sudah malam. Kami permisi pulang dulu ya." Ucap bapaknya mas Bayu.

"Kinar, aku pulang dulu ya." Mas Bayu berbisik lirih ditelinga ku.

"Iya Mas, hati-hati dijalan ya?"

Setelah mengantar mereka sampai keteras. Aku langsung bergegas menuju kamar. Ingin segera kuhubungi Dina, untuk membagi kebahagiaan ini. Dina pasti sudah menunggu kabar dariku.

Benar saja, saat kulihat ponselku sudah ada beberapa pesan masuk dari Dina.

[ Nay, apa sudah datang calon suamimu? ]

Pesan ini masuk tiga jam yang lalu. Berarti saat aku sedang menemui keluarga mas Bayu didepan.

[ Nay, sudah datang ya tamunya. Cakep tidak orangnya, apa jangan-jangan orang sudah tua lagi Nay ]

Aku jadi tersenyum melihat chat Dina barusan. Mungkin saja Dina mengira aku dijodohkan dengan om-om. Wajar saja, aku juga sempat berpikir seperti itu.

Chat terakhir dikirim lima belas menit yang lalu, Dina juga masih aktif. Mungkin sedang menunggu kabar dariku.

[ Key, kalau sudah pulang tamu nya, langsung balas chat ku ya. Penasaran nih 😁 ]

Dina nih bawelnya setengah mati. Tapi justru aku senang, itu berarti Dina perhatian padaku.

[ Din, besok saja ya aku ceritain. Ini sudah malam, aku ngantuk sayang ]

Hehehe Dina pasti tak sabar untuk menunggu besok. Aku jadi ketawa sendiri membayangkan wajah Dina yang cemberut setelah membaca chat dariku.

Kurebahkan tubuhku, namun aku belum bisa memejamkan mata. Ingatanku selalu pada mas Bayu. Baru pertama aku melihatnya tapi mengapa aku selalu terbayang sosoknya. Mungkinkah aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya?

***

"Key, masih ada waktu. Ayo Key ceritakan! Seperti apa cowok yang semalam datang melamarmu." Pinta Dina setengah memaksa.

Kulirik jam dipergelangan tanganku. Masih ada waktu kurang lebih lima belas menit.

"Hemm, baiklah. Dasar kepo." Ucapku sambil mencubit lengannya.

"Ya kepo banget lah. Lagian ada acara penting masa aku tak di undang. Sahabat macam apa kamu Key." Umpat Dina terlihat kesal.

"Kalau itu, kamu tahu sendiri. Acaranya sangat mendadak. Bapak bilang cuma perkenalan doang, ehh malah ujung-ujungnya dilamar sekalian." Ujarku sambil melirik cincin yang tersemat dijari manisku.

"Iya deh. Terus bagaimana rupa orangnya Key. Apa dia tampan? Atau jangan-jangan dia bujang tua ya Key. Sudah seperti om-om." Tanya Dina antusias.

"Menurutku dia tampan juga Din. Tapi usianya jauh lebih muda dari aku Din."

"Masa sih Key. Memangnya selisih berapa sama kamu Key?"

Dina seperti sangat terkejut mendengar kata-kataku.

"Lima tahun Din. Bagaimana menurutmu, apa aku pantas mendampingi pria yang usia nya lebih muda dariku?" Jujur aku masih merasa minder.

"Key, kalau masalah pantas, ya pantas saja Key. Jangankan untuk usia dua puluh lima, untuk dua puluh tahun pun, kami masih cocok mendampingi. Kamu tuh awet muda Key. Percayalah, menurutku kamu masih pantas berusia dua puluh tahunan."

"Din, aku serius nih. Malah ngeledek." Aku mencebik kesal.

"Aku serius Key. Tapi ngomong-ngomong, apa kamu suka sama cowok itu?"

"Aku sudah menerima perjodohan itu Din. Suka tidak suka, toh aku akan tetap menikah dengannya bukan?"

"Tapi Key, aku tidak setuju kalau kamu menikah karena terpaksa!"

Dina memang sahabat terbaikku. Dina begitu peduli padaku.

"Aku suka sama dia kok Din. Ayo masuk! Sudah saatnya kerja."

Dina masih melongo mendengar jawabanku. Aku tarik tangannya dan mengajaknya masuk.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Untuk Kakak Iparku
9.1
Demi mengungkap rahasia mendiang suaminya, Kinan nekat menikahi Yuan, kakak iparnya sendiri, sebagai istri muda. Keputusan egois ini akhirnya menjawab teka-teki mengapa suaminya dulu jarang pulang dan tak pernah menyentuhnya. Namun, di balik misteri itu, Kinan justru menemukan cinta yang jauh lebih besar dari Yuan. Kini, ia bertekad memiliki buah hati demi menuntaskan rasa penasarannya. Semua langkah berisiko ini dilakukan Kinan hanya demi satu tujuan utama.
Sampul Novel Cerita dewasa
7.9
Karya fiksi romansa modern ini menyajikan narasi dewasa yang berfokus pada hubungan intim antara pria dan wanita. Mengingat konten di dalamnya mengandung unsur pornografi dan adegan eksplisit, pembaca yang belum cukup umur sangat dilarang untuk mengaksesnya. Penulis berharap dukungan penuh dari para pembaca atas karya imajinatif ini agar terus berkembang. Pastikan Anda berusia 21 tahun ke atas sebelum mengikuti kisah ini hingga akhir. Terima kasih.
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi kesembuhan sang ayah, Helena terpaksa menggantikan saudara tirinya menikahi pewaris kota yang tuli. Namun, malam pertama mereka justru diawali peringatan dingin bahwa pernikahan ini hanyalah bisnis. Helena harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sulit ditebak. Meski banyak yang meramal kehancurannya, sang suami justru menjadi pelindung utama. Saat kontrak usai dan Helena bersiap pergi, pria itu memohon sambil menangis agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Hati Biru Affa
8.6
Air mata gadis 17 tahun itu pecah saat melihat sosok yang ia anggap kakak sendiri mengkhianati kepercayaannya. Rahasia hati yang ia titipkan justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan; sang kakak terlihat pergi bersama pria pujaan hatinya. Meski sang kakak membantah, amarah sang remaja tak terbendung hingga nyaris melayangkan pukulan fisik. Di tengah keributan ini, seorang teman pria hanya bisa terpaku melihat persahabatan tulus mereka kini hancur karena cinta.
Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
9.1
Nadine terburu-buru menikah dengan pengusaha yang dikabarkan bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban mulai terjadi. Nadine memenangkan Porsche dan vila mewah secara tak terduga. Segala masalahnya tuntas berkat bantuan sang suami yang misterius. Semula ia tak curiga, hingga orang-orang memujinya karena bersuamikan pria kaya raya. Nadine akhirnya menyadari bahwa suaminya bukan orang biasa, melainkan seorang konglomerat ternama.
Sampul Novel Jovan, Birahi Anak Panti
8.1
Menjalani kehidupan pernikahan ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal saya. Dahulu, saya mengira berumah tangga hanya sebatas menyatukan dua insan serta saling memenuhi nafkah lahir dan batin secara sederhana. Namun, kenyataan mengungkap adanya elemen kompleks yang mewarnai perjalanan panjang ini. Inilah sebuah kisah nyata yang saya alami sebagai pasangan suami istri di usia dua puluh dua tahun, di mana setiap tantangan menguji kedalaman komitmen kami.