Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul

Di Ceraikan Karena di Tuduh Mandul

Kinara terpaksa menikah di usia tiga puluh tahun demi menuruti keinginan orang tuanya. Namun, setelah dua tahun membina rumah tangga tanpa kehadiran buah hati, ia justru dituduh mandul oleh mertuanya sendiri. Penderitaannya kian mendalam saat sang suami memutuskan untuk berpoligami dengan wanita lain. Merasa dikhianati dan hancur, Kinara bertekad bangkit demi membuktikan bahwa tuduhan kejam mereka salah besar serta menunjukkan harga dirinya yang sebenarnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah tiba waktu yang ditentukan, akhirnya aku dan mas Bayu menikah. Bapak ibuku, mengadakan resepsi pernikahanku secara mewah. Mewah menurutku, karena dilengkapi dengan acara pengajian, dengan mengundang seorang Kyai yang sedang kondang saat ini.

Ibuku sangat antusias, membuat pesta pernikahanku semeriah mungkin. Ibu demikian mungkin karena anak perempuannya ini sudah mendapat jodoh, tak lagi disebut perawan tua.

"Selamat ya Key, akhirnya kamu punya pasangan juga," celetuk Dina saat selesai acara ijab qabul.

"Terimakasih ya Din."

Kupeluk Dina erat. Kini aku sudah menikah, mungkin akan jarang sekali bertemu dengan Dina. Tak seperti dulu, kemana selalu bersama. Dina selalu ada disaat senang ataupun susah.

Semoga kamu juga cepet nyusul."

Doaku untuk sahabat terbaikku.

"Amiin. Jangan lupakan aku ya Key, kalau ada sesuatu kamu hubungi aku ya."

"Iya bawel." Kucubit lengannya karena gemas.

Dina bukan hanya sekedar sahabat, dia sudah kuanggap saudara sendiri, meski usianya lebih muda dariku, tapi cara berpikirnya sudah seperti orang dewasa, justru aku yang kadang suka merajuk seperti anak kecil.

Selesai acara, ibu dan bapak mas Bayu, memintaku agar aku tinggal bersama mereka.

"Kinar, Ibu sudah minta ijin sama Bapak Ibumu, kalau kamu akan tinggal bersama kami."

Aku menatap ibu juga bapak, mereka tersenyum manggut manggut. Ibu bapak sepertinya sangat setuju kalau aku ikut mas Bayu suamiku. Sebenarnya aku belum siap, tapi mau bagaimana lagi. Sudah kewajiban seorang istri menurut pada suami nya.

"Kinar, setelah menikah, kamu bukan lagi tanggung jawab kami. Tapi sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Taat dan menurutlah pada suamimu."

Ucap ibu tegas, tapi bohong kalau tidak menangis, karena kulihat ibu mengusap matanya.

Aku hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Berat rasanya aku meninggalkan mereka. Sedari kecil mereka merawatku. Kini di hari tua nya, aku malah meninggalkannya.

"Kamu bisa kesini kapan pun kamu mau, tentu saja seijin suamimu." Ucap bapak menimpali.

"Iya Pak."

Aku yakin bapak juga pasti sedih. Tapi bapak bisa tegar, dan bisa menyembunyikan kesedihannya.

"Kamu nggak usah khawatir sama Ibu, sama Bapak. Adit sama Mila nanti akan pulang. Ibu sudah menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja."

Mendengar ucapan ibu, hatiku merasa lega. Tadinya aku berpikir ibu hanya akan tinggal berdua saja sama bapak. Ternyata ibu menyuruh mas Adit dan Mbak Mila untuk pulang. Mas Adit kakakku satu satunya, tapi mas Adit tinggal jauh diluar kota karena pekerjaanya. Disana mas Adit dan mbak Mila hanya ngontrak. Dari dulu ibu dan bapak sudah menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja, dan buka usaha sendiri. Namun mas Adit tak mau. Mungkin kali ini, karena mengetahui aku akan ikut suamiku, akhirnya mas Adit mau pulang juga.

Sebenarnya aku sudah menyuruhnya pulang lebih awal, untuk menyaksikan pernikahanku. Namun karena tak dapat ijin pulang dari tempat mas Adit bekerja, jadinya mas Adit tak bisa pulang.

"Kinar, kamu siap siap dulu ya?"

Ucap ibu mertuaku.

"Iya Bu."

Aku segera bergegas untuk menyiapkan barang apa saja yang akan aku bawa.

"Sudah selesai Nak?" Tanya ibu yang menyusul masuk ke kamar.

Aku memeluk ibu, aku menangis pilu. Aku tak menyangka akan meninggalkan ibu, karena mengikuti suamiku.

"Nay, Ibu sama Bapak baik baik saja, kamu bisa pulang kapanpun kamu mau. Sekarang bersiaplah, mereka sudah menunggumu!"

Ibu mengusap pipiku lembut. Namun air mata ini terus saja menetes.

"Ayo Nak!"

Aku hanya mengangguk dan berjalan keluar diikuti ibu.

"Ayo Nak, kita berangkat sekarang!"

Setelah berpamitan, mas Bayu mengajakku untuk segera naik kemobil. Dengan berat hati akupun menuruti mas Bayu.

***

"Selamat datang dirumah kami Kinar."

"Anggap saja rumah sendiri ya. Walaupun tak sebesar rumah orang tuamu, Ibu harap kamu kerasan tinggal disini." Ucap ibu mertuaku.

"Insyaallah Bu."

Rumah mas Bayu memang tak sebesar rumah bapak, tapi lumayan lega kalau untuk kami tinggal berempat.

"Aku tunjukan kamar kita ya."

Mas Bayu menggandeng tanganku dan mengajaku, kesebuah kamar.

"Ini kamar kita, mungkin tak sebesar kamar kamu. Tapi ini cukup kok untuk kita berdua."

Mas Bayu tersenyum menatapku, akupun balas menatapnya. Walaupun diantara kami tidak saling mengenal sebelumnya, tapi aku sudah sedikit merasa nyaman dengannya.

***

Tak terasa, sudah hampir Dua tahun pernikahan kami, selama ini mas Bayu sudah menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untukku. Walaupun gajinya tak sepenuhnya diberikan padaku, karena gaji mas Bayu diberikan pada ibu sebagian. Namun aku terima dan syukuri pemberian suamiku. Walaupun hanya cukup untuk kebutuhan dapur saja.

Tapi aku bingung dengan sikap ibu mertuaku. Semula ibu mertua bersikap baik padaku. Namun akhir akhir ini sikapnya berubah, semua yang kulakukan serba salah dimatanya. Bahkan ibu selalu membanding bandingkan aku dengan mbak Sarah, istrinya mas Fajar.

Padahal menurutku mbak Sarah biasa-biasa saja. Kalau kesini cuma duduk dan makan saja. Tapi wajar sih, soalnya mbak Sarah punya bayi yang baru berusia lima bulan. Ibu sangat perhatian pada mbak Sarah. Kalau mbak Sarah datang kesini. Ibu selalu menyuruhku ini itu, untuk mengambil keperluan mbak Sarah. Kadang aku merasa sudah seperti pembantu saja.

"Kamu itu gimana sih, kerjanya yang bener! masa ngepel saja nggak becus."

"Ini sudah bersih kok Bu, mungkin tadi pas Ibu masuk, sandal Ibu kena kotor Bu."

Aku tak mengerti dengan ibu, bukankah dia sendiri yang mengotori lantai, karena masuk masih memakai sandal.

"Kamu itu, kalau dibilangin, bisanya jawab aja. Enggak kaya Sarah, sudah pintar penurut lagi."

Aku tak menanggapi ucapan ibu. Sudah berulangkali selalu mencari cari kesalahan, dan pada akhirnya aku selalu dibandingkan dengan mbak Sarah. Ibu selalu memuji mbak Sarah tiap kali aku melakukan kesalahan.

kulanjutkan lagi mengepel lantai yang sudah kembali kotor, tanpa menghiraukan ibu.

Setelah selesai, aku langsung kedapur. Mungkin sebentar lagi mas Bayu pulang. Aku harus menyiapkan air hangat untuk mas Bayu mandi.

Saat kumendengar suara motor mas Bayu, aku berniat segera menyambutnya.

Langkahku terhenti seketika. Karena tak sengaja, kudengar ibu bertanya pada mas Bayu.

"Bayu, kapan kamu punya anak? lihat itu, teman temanmu, sudah punya anak semua."

"Mungkin belum saatnya Bu, nanti juga Kinar hamil, dan ibu akan punya cucu dari Bayu."

Mungkin ini masalahnya, sehingga sikap ibu mertuaku kini berubah. Mungkin juga maksud ibu, aku tak seperti mbak Sarah. Karena aku belum punya anak seperti mbak Sarah.

"Mau sampai kapan Bayu? Apa mungkin istrimu masih bisa hamil?"

Ucapan ibu mertua membuatku terkejut, meski tersinggung, aku harus bersabar. Bukankah pernikahanku dengan mas Bayu, baru dua tahun, mungkin memang belum saatnya aku memiliki seorang anak. Banyak pasangan yang menikah sudah lima tahun, tapi mereka baru punya anak.

"Apa maksud Ibu?" Kudengar mas Bayu bertanya.

"Bu aku menikah baru dua tahun, banyak kan pasangan yang menikah sampai tiga tahun. Bahkan sampai lima tahun, mereka baru punya anak." Ujar mas Bayu.

"Itu beda Bayu, mereka masih muda. Kalau istrimu, umur saja sudah tigapuluh lebih. Kalau kandungannya kering, bisa jadi dia tidak punya anak selamanya."

"Menyesal Ibu menikahkan kamu dengannya."

Degh...

Bagai tersambar petir aku mendengarnya, tega sekali ibu berkata seperti itu. Bisa bisanya dia mengaitkan umur karena aku tak kunjung hamil. Kandunganku kering? Apa iya kandunganku memang kering. Ya Tuhan, apa benar yang ibu katakan. Aku jadi merasa takut sendiri.

Aku berlari masuk kamar. Aku tak dapat menahan rasa sakit hatiku, tapi aku tak bisa berbuat apa apa. Hanya air mata yang mewakili perasaanku.

"Kamu kenpa Nay?" Tanya mas Bayu.

Mas Bayu lebih memilih memanggilku Nay dari pada Kinar. Sama seperti ibu bapakku.

"Aku tak apa apa Mas."

Mas Bayu sepertinya tak tahu, kalau aku sudah mendengar percakapan mereka.

"Ya sudah, aku mandi dulu."

"Sebentar Mas, airnya masih didapur."

Aku begegas kedapur, menyiapkan air hangat untuk mas Bayu.

Begitulah kegiatanku sehari hari, selalu sibuk dirumah. Selain memasak, pekerjaan yang lain juga aku lakukan. Termasuk menyiapkan air hangat untuk suami dan mertuaku.Semua aku jalani dengan ikhlas, walau kadang terasa melelahkan.

"Kinar, nanti aku ada acara sama teman teman. Mungkin sampai malam, kamu tak perlu menungguku."

Mas Bayu, mau ada acara? acara apaan. Tumben saja, biasanya pulang kerja tak pernah kemana mana.

"Iya Mas."

Hanya itu kata kata yang keluar dari bibirku, aku tak pernah berani bertanya apapun, takut mas Bayu marah.

***

"Mas, kamu baru pulang?"

Hari sudah hampir pagi, ketika ku terjaga. Mas Bayu masuk baru saja masuk kekamar. Darimana saja dia, sampai pulang pagi begini. Jangan-jangan mas Bayu punya wanita lain.

"Iya."

Mas Bayu langsung menghempaskan tubuhnya kekasur, seperti orang kelelahan. Aku jadi penasaran, apa yang telah dia lakukan. Apa mungkin dugaanku benar, mas Bayu punya wanita simpanan.

"Mas, kamu darimana saja, sampai pulang pagi begini?" Tanyaku dengan nada tak suka. Aku kecewa, juga rasa cemburu mulai menghantui.

"Mulai bawel kamu ya. Mau kemana, mau apa, itu bukan urusanmu. Asal kamu tahu, aku tuh bosan dirumah terus."

Mas Bayu kenapa? tak biasanya dia bersikap kasar seperti ini, apa mungkin ini ada hubungannya dengan pertanyaan ibu tempo hari. Ahh pikiranku makin kacau.

"Maaf Mas, aku cuma ingin tahu, kenapa kamu sampai pulang pagi, itu saja."

Sungguh hatiku terasa sakit, dibentak seperti ini, mas Bayu sekarang mulai berubah. Mas Bayu tak lagi lembut seperti dulu. Sering membentak, meskipun aku tanya baik-baik.

"Aku minta kamu jangan banyak tanya! Sekarang aku mau tidur, aku capek."

"Iya Mas."

Mas Bayu langsung tertidur pulas. Sepertinya semalam mas Bayu habis begadang.

Hatiku menjerit mendengar ucapan mas Bayu. Mas Bayu seperti sudah tak mengnggapku istrinya lagi. Aku harus cari tahu, apa penyebab mas Bayu berubah. Aku tidak mau kalau mas Bayu memiliki wanita lain.

Ibu Bapak, aku kangen kalian, andai ibu sama Bapak tahu, aku disini merasa tersiksa. Pasti kalian tidak akan tega membiarkanku hidup menderita dirumah mertua.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Untuk Kakak Iparku
9.1
Demi mengungkap rahasia mendiang suaminya, Kinan nekat menikahi Yuan, kakak iparnya sendiri, sebagai istri muda. Keputusan egois ini akhirnya menjawab teka-teki mengapa suaminya dulu jarang pulang dan tak pernah menyentuhnya. Namun, di balik misteri itu, Kinan justru menemukan cinta yang jauh lebih besar dari Yuan. Kini, ia bertekad memiliki buah hati demi menuntaskan rasa penasarannya. Semua langkah berisiko ini dilakukan Kinan hanya demi satu tujuan utama.
Sampul Novel Cerita dewasa
7.9
Karya fiksi romansa modern ini menyajikan narasi dewasa yang berfokus pada hubungan intim antara pria dan wanita. Mengingat konten di dalamnya mengandung unsur pornografi dan adegan eksplisit, pembaca yang belum cukup umur sangat dilarang untuk mengaksesnya. Penulis berharap dukungan penuh dari para pembaca atas karya imajinatif ini agar terus berkembang. Pastikan Anda berusia 21 tahun ke atas sebelum mengikuti kisah ini hingga akhir. Terima kasih.
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi kesembuhan sang ayah, Helena terpaksa menggantikan saudara tirinya menikahi pewaris kota yang tuli. Namun, malam pertama mereka justru diawali peringatan dingin bahwa pernikahan ini hanyalah bisnis. Helena harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sulit ditebak. Meski banyak yang meramal kehancurannya, sang suami justru menjadi pelindung utama. Saat kontrak usai dan Helena bersiap pergi, pria itu memohon sambil menangis agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Hati Biru Affa
8.6
Air mata gadis 17 tahun itu pecah saat melihat sosok yang ia anggap kakak sendiri mengkhianati kepercayaannya. Rahasia hati yang ia titipkan justru dibalas dengan pengkhianatan menyakitkan; sang kakak terlihat pergi bersama pria pujaan hatinya. Meski sang kakak membantah, amarah sang remaja tak terbendung hingga nyaris melayangkan pukulan fisik. Di tengah keributan ini, seorang teman pria hanya bisa terpaku melihat persahabatan tulus mereka kini hancur karena cinta.
Sampul Novel Identitas Ganda Suamiku
9.1
Nadine terburu-buru menikah dengan pengusaha yang dikabarkan bangkrut. Ia siap menjadi tulang punggung keluarga, namun keajaiban mulai terjadi. Nadine memenangkan Porsche dan vila mewah secara tak terduga. Segala masalahnya tuntas berkat bantuan sang suami yang misterius. Semula ia tak curiga, hingga orang-orang memujinya karena bersuamikan pria kaya raya. Nadine akhirnya menyadari bahwa suaminya bukan orang biasa, melainkan seorang konglomerat ternama.
Sampul Novel Jovan, Birahi Anak Panti
8.1
Menjalani kehidupan pernikahan ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal saya. Dahulu, saya mengira berumah tangga hanya sebatas menyatukan dua insan serta saling memenuhi nafkah lahir dan batin secara sederhana. Namun, kenyataan mengungkap adanya elemen kompleks yang mewarnai perjalanan panjang ini. Inilah sebuah kisah nyata yang saya alami sebagai pasangan suami istri di usia dua puluh dua tahun, di mana setiap tantangan menguji kedalaman komitmen kami.