
DI ANTARA DUA LELAKI
Bab 2
Lina melangkah memasuki sebuah kafe yang ramai, tempat acara reuni kecil sekolah lamanya diadakan. Ia hampir tidak datang, karena perasaannya yang masih kacau dengan masalah di rumah. Namun, undangan dari teman-teman lama yang tak henti-hentinya mengajaknya hadir akhirnya membuatnya berubah pikiran. Ia berharap acara ini bisa mengalihkan pikirannya, walau hanya untuk sementara.
Suasana kafe penuh dengan tawa dan obrolan. Wajah-wajah yang dulu begitu akrab kini terlihat lebih dewasa, meski masih ada sisa-sisa kenangan masa muda di mata mereka. Lina tersenyum sopan saat beberapa teman lama menyapanya, bertukar cerita singkat tentang hidup mereka sekarang. Namun, pikirannya terus terpecah, sulit fokus pada percakapan.
Saat ia sedang berdiri di samping meja, meraih segelas jus jeruk, ia mendengar suara yang begitu familiar dari belakang. Suara yang belum pernah ia dengar lagi sejak bertahun-tahun lalu, namun begitu dikenalnya.
"Lina?"
Lina berbalik, dan detik itu juga waktu seolah berhenti. Di hadapannya berdiri Ivan, temannya sejak kecil, pria yang sudah lama tak ada dalam hidupnya. Senyum Ivan masih sama seperti dulu-hangat dan menenangkan, meski ada garis-garis kedewasaan di wajahnya yang kini tampak lebih matang.
"Ivan?" jawab Lina dengan nada tak percaya. "Ini... ini benar-benar kamu?"
Ivan tertawa kecil, melangkah mendekat. "Iya, ini aku. Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini."
Lina tersenyum lebar, tak bisa menutupi rasa senangnya. "Aku juga nggak nyangka bisa ketemu kamu. Sudah berapa lama, ya? Sejak kita lulus SMA?"
"Lebih dari sepuluh tahun, kayaknya," jawab Ivan sambil tersenyum. "Kamu masih sama, Lina."
"Kamu juga nggak banyak berubah, Ivan," kata Lina, merasa nostalgia mulai mengalir dalam percakapan mereka.
Mereka berdua saling menatap beberapa detik sebelum Ivan mengangkat gelasnya, menawari Lina untuk duduk bersamanya di salah satu meja di sudut kafe. Mereka memilih tempat yang lebih tenang, sedikit jauh dari keramaian. Di sana, mereka mulai mengobrol, memulainya dengan cerita-cerita lama.
"Jadi, kamu sudah menetap di kota ini?" tanya Lina sambil menyesap jusnya.
"Iya, aku balik ke sini beberapa tahun yang lalu setelah selesai kerja di luar negeri. Sekarang aku mulai usaha kecil-kecilan, nggak terlalu besar sih, tapi cukup buat hidup nyaman," jawab Ivan dengan nada santai.
Lina mengangguk, kagum dengan bagaimana Ivan bisa berkembang selama ini. "Wah, keren. Aku nggak tahu kamu bisa jadi pengusaha sekarang."
Ivan tersenyum lagi, tatapan matanya teduh seperti dulu. "Ya, hidup membawa kita ke tempat yang nggak pernah kita duga, kan? Kamu gimana? Gimana kehidupan kamu sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Lina terdiam sejenak. Ia tahu percakapan ini seharusnya ringan dan penuh nostalgia, namun begitu ditanya tentang hidupnya, terutama tentang pernikahannya dengan Ardi, ia merasakan kekosongan yang selama ini ia pendam. Tapi ia tak ingin membiarkan Ivan tahu seberapa besar keretakan yang terjadi dalam hidupnya.
"Ah, biasa aja. Aku bekerja di firma hukum, sudah bertahun-tahun di sana," jawab Lina, menghindari topik tentang pernikahannya.
Ivan menatap Lina dengan sorot mata penasaran, seolah bisa merasakan ada hal yang disembunyikan. Namun, ia tak mendesak. Sebaliknya, ia mengalihkan topik kembali ke masa lalu mereka. "Ingat waktu kita sering main di taman dekat rumahmu? Setiap sore kita balapan sepeda?"
Lina tertawa mendengar itu. "Tentu saja. Kamu selalu menang! Aku heran gimana caranya kamu bisa lebih cepat dari aku setiap kali."
"Rahasia kecil," Ivan terkekeh, matanya bersinar penuh keakraban. "Aku ingat kamu selalu marah tiap kalah."
Mereka tertawa bersama, merasakan kehangatan nostalgia yang kembali menyatukan mereka setelah bertahun-tahun. Percakapan mengalir begitu mudah, seolah-olah mereka tidak pernah terpisah lama. Setiap cerita lama yang mereka bagi membuat mereka semakin akrab, dan tanpa disadari, hubungan mereka mulai terasa lebih erat, lebih nyaman.
Namun, di balik tawa itu, perasaan yang Lina pikir sudah lama hilang perlahan-lahan bangkit kembali. Ia tak bisa mengabaikan bagaimana senyuman Ivan, caranya berbicara, atau tatapannya membuatnya merasa aman, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan bersama Ardi. Tapi perasaan itu bercampur dengan kebingungan dan rasa bersalah. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang istri-seorang istri yang sedang berjuang menyelamatkan pernikahannya.
Setelah beberapa jam berbincang, mereka akhirnya menyadari bahwa waktu telah larut. Lina menatap jam tangannya dan tersadar bahwa sudah terlalu lama ia berada di acara ini.
"Aku harus pulang," kata Lina sambil berdiri dari kursinya. "Aku senang sekali bisa ketemu kamu lagi, Ivan."
Ivan ikut berdiri, tersenyum tipis. "Aku juga, Lin. Senang banget kita bisa ngobrol seperti ini lagi."
Mereka berdiri di depan pintu kafe, terdiam sejenak sebelum Ivan berbicara lagi. "Lina, kalau kamu ada waktu, aku pengen kita bisa ketemu lagi. Kita punya banyak hal yang belum sempat kita bicarakan."
Lina merasakan debaran di dadanya. Ia tahu perasaan itu, dan ia tahu ini bisa menjadi masalah. Namun, ia tak mampu berkata tidak. "Aku akan pikirkan, Ivan. Terima kasih untuk malam ini."
Ivan mengangguk, dan setelah berpamitan, mereka berpisah. Di sepanjang perjalanan pulang, Lina tak bisa menghilangkan senyum di wajahnya. Tapi di dalam hatinya, ada kekhawatiran yang mulai muncul. Ivan adalah masa lalunya, tetapi sekarang ia kembali hadir dalam hidupnya, membawa serta perasaan yang pernah ia kubur dalam-dalam.
Di rumah, Ardi masih terlelap, tak sadar bahwa hati istrinya mulai terombang-ambing di antara dua hati yang berbeda.
Lina melangkah menuju mobilnya, tetapi pikirannya masih tertinggal di kafe, bersama Ivan. Ia tak bisa menghilangkan perasaan hangat yang muncul saat berbicara dengannya, seolah-olah mereka kembali ke masa lalu, masa di mana segalanya lebih sederhana. Namun, setiap kilas senyuman Ivan menambah beban di dadanya, karena ia tahu ada sesuatu yang salah di balik keakraban mereka.
Di perjalanan pulang, Lina menatap jalan yang sepi. Lampu-lampu jalanan yang redup terasa seperti bayangan di hatinya. Sesuatu di dalam dirinya mulai berontak-perasaan bersalah yang semakin jelas. Ia sudah menikah dengan Ardi selama sepuluh tahun. Meskipun belakangan pernikahan mereka terasa hampa, ia tak pernah menyangka akan merasa begitu terikat kembali pada Ivan hanya dalam satu malam.
Setelah sampai di rumah, Lina mendapati suasana rumah yang sunyi. Ardi masih terlelap di kamar, tak menyadari bahwa Lina pulang lebih larut dari biasanya. Hatinya semakin bergejolak. Ada perasaan janggal yang mulai merayap; di satu sisi, ada Ivan, teman masa kecil yang mampu menghidupkan kembali perasaan yang sudah lama terlupakan, dan di sisi lain, ada Ardi, suaminya, yang meskipun sedang menjauh, tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dengan langkah hati-hati, Lina masuk ke kamar dan menatap Ardi yang masih tertidur pulas. Laki-laki yang pernah menjadi segalanya untuknya kini terasa seperti orang asing. Ia ingat malam-malam penuh cinta yang mereka lewati bersama, percakapan hangat, tawa, bahkan kebodohan-kebodohan kecil yang pernah mereka lakukan. Namun, semua itu kini terasa seperti kenangan yang semakin menjauh.
Lina duduk di tepi ranjang, memandangi Ardi dengan tatapan hampa. "Apa yang salah dengan kita?" bisiknya dalam hati.
Ia mengingat percakapannya dengan Ivan di kafe. Ivan tidak hanya hadir sebagai sosok masa lalu yang membawa kenangan indah, tetapi juga sebagai seseorang yang memberinya ruang untuk bercerita, sesuatu yang sudah lama tak ia dapatkan dari Ardi.
Saat Lina hendak bangkit menuju kamar mandi, tiba-tiba Ardi bergerak dan membuka matanya. "Kamu baru pulang?" tanyanya dengan suara serak, tampak mengantuk.
"Iya, tadi ada acara reuni kecil di kafe," jawab Lina datar.
Ardi mengangguk, kemudian kembali memejamkan matanya. Tanpa bertanya lebih jauh, tanpa mengajak berbicara, seolah-olah keberadaan Lina tak lagi berarti baginya.
Lina hanya menatap suaminya yang sudah kembali tertidur. Hatinya semakin perih. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi percakapan, hanya rutinitas kosong yang membuatnya merasa seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Setelah mandi, Lina kembali ke ranjang, berbaring di sebelah Ardi. Namun, matanya tak bisa terpejam. Bayangan Ivan terus muncul dalam benaknya, membayangi setiap kenangan yang pernah ia miliki dengan Ardi. Malam itu, Lina berbaring di antara dua perasaan yang saling bertentangan-di antara dua hati yang kini membingungkannya. Satu sisi adalah suaminya, lelaki yang sudah bertahun-tahun bersama, sementara sisi lainnya adalah Ivan, teman masa kecil yang perlahan-lahan menariknya ke masa lalu yang dulu terasa begitu manis.
Lina memejamkan mata, berharap tidur akan membawanya menjauh dari kebingungan yang menyelimuti hatinya. Namun, ia tahu bahwa perasaan itu tidak akan mudah hilang. Ivan telah kembali, dan kehadirannya membawa perubahan besar dalam hidupnya yang selama ini tampak tenang. Bagaimana ia bisa mengabaikan perasaan yang kini tumbuh di hatinya?
Malam itu, Lina menyadari bahwa pilihannya tidak lagi sesederhana memilih untuk bertahan atau melepaskan. Ada lebih banyak hal yang harus ia hadapi, dan setiap keputusan yang akan ia buat pasti membawa konsekuensi besar. Di antara dua hati ini, ia harus mencari jalan keluar, meski ia belum tahu ke mana langkah kakinya akan membawanya.
Hari-hari berikutnya, Lina berusaha menjalani hidupnya seperti biasa. Ia pergi bekerja, berusaha tersenyum kepada rekan-rekannya, dan pulang ke rumah seperti yang selalu ia lakukan. Namun, perasaan kosong itu terus menghantuinya.
Suatu siang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ivan muncul di layar.
Ivan: "Lina, gimana kabarmu? Pengen ngajak kamu ngopi lagi, kalau kamu punya waktu."
Lina menatap pesan itu cukup lama, jari-jarinya gemetar. Sebuah keinginan muncul di hatinya untuk membalas pesan itu, untuk menemui Ivan lagi. Namun, di sisi lain, rasa bersalah mulai menekan.
Hatinya berbisik-apa yang akan terjadi jika ia terus bertemu Ivan?
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





