
DI ANTARA DUA LELAKI
Bab 3
Setelah pesan dari Ivan masuk ke ponselnya, Lina merasa terguncang. Di tengah-tengah tumpukan pekerjaan yang menggunung, pikirannya terus melayang kembali pada masa lalu. Siang itu, di ruang kerjanya yang sepi, Lina duduk diam, memandangi layar ponsel sambil menelusuri pesan Ivan yang sederhana namun mengundang begitu banyak kenangan.
Kenapa Ivan sekarang? batinnya bertanya. Kenapa setelah sekian lama, pria yang pernah menjadi bagian penting dari hidupnya muncul kembali, tepat saat pernikahannya mulai merenggang? Rasanya terlalu kebetulan.
Lina menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia memejamkan mata, membiarkan pikirannya tenggelam ke masa lalu-ke masa ketika semuanya terasa jauh lebih sederhana.
Lina dan Ivan tumbuh bersama di lingkungan yang sama. Mereka adalah tetangga sekaligus sahabat karib sejak kecil. Setiap sore, mereka selalu bermain bersama di taman dekat rumahnya. Taman kecil yang penuh dengan pohon rindang dan ayunan itu menjadi saksi bisu banyak kenangan mereka-tawa, canda, dan percakapan tanpa beban.
Salah satu kenangan yang paling jelas di benak Lina adalah ketika mereka berdua bersandar di batang pohon besar di sudut taman, menatap langit yang mulai berwarna jingga di saat senja.
"Kamu tahu, Lin?" kata Ivan suatu sore, dengan senyum hangat khasnya. "Aku mau jadi petualang. Aku mau keliling dunia. Gimana menurutmu?"
Lina tertawa kecil. "Petualang? Kamu mau pergi jauh? Nanti siapa yang akan nemenin aku kalau kamu nggak ada?"
Ivan menatapnya, lalu dengan penuh keyakinan berkata, "Kalau nanti aku pergi, aku pasti bakal balik. Lagipula, kalau aku keliling dunia, aku bisa ngajak kamu suatu saat nanti, kan?"
Mendengar itu, Lina hanya tersenyum, meski ada perasaan aneh di dadanya. Sejak dulu, Ivan adalah seseorang yang ia andalkan. Ia tidak pernah membayangkan hidup tanpa sahabatnya itu.
Saat mereka tumbuh remaja, perasaan di antara mereka mulai berubah, meski tidak pernah ada kata-kata yang secara eksplisit diucapkan. Ketika SMA, Ivan mulai dikenal sebagai sosok yang populer di kalangan teman-teman mereka-tampan, cerdas, dan selalu penuh semangat. Sementara Lina, meski tak terlalu menonjol, selalu menjadi orang yang Ivan ajak bicara setiap kali ada masalah.
Pada suatu malam menjelang kelulusan, saat mereka sedang berjalan-jalan di pinggir kota yang ramai, Lina ingat betul percakapan mereka. Mereka duduk di kursi panjang dekat sungai, menikmati angin malam yang sejuk.
"Kamu pernah mikirin masa depan, Lin?" tanya Ivan tiba-tiba.
"Maksudmu?" Lina menoleh, menatapnya bingung.
"Ya, tentang kita. Tentang apa yang bakal terjadi setelah kita lulus nanti. Kamu bakal ke mana? Aku mungkin akan pergi ke luar negeri untuk kuliah."
Lina merasakan hatinya berdesir mendengar kata-kata itu. Selama ini, mereka selalu bersama, dan pikiran bahwa Ivan akan pergi membuatnya merasa hampa. "Aku... nggak tahu, Ivan. Aku mungkin tetap di sini, masuk kuliah di kota ini."
Ivan terdiam sesaat, lalu menatap Lina dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lin, apa kamu pernah berpikir... kalau mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman di antara kita?"
Pertanyaan itu membuat Lina tertegun. Ia tak pernah menyangka Ivan akan mengatakannya. Meski selama ini perasaannya terhadap Ivan tak pernah diucapkan, ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih di hatinya. Tapi pada saat itu, Lina merasa belum siap. Ia takut kehilangan persahabatan mereka, takut jika semuanya akan berubah menjadi rumit.
"Aku... nggak tahu, Ivan. Mungkin," jawab Lina pelan, menghindari kontak mata.
Ivan hanya tersenyum tipis, mengangguk seolah memahami. Mereka tidak pernah melanjutkan percakapan itu, dan waktu berlalu begitu saja. Setelah lulus, Ivan benar-benar pergi ke luar negeri, dan mereka perlahan kehilangan kontak. Lina pun melanjutkan hidupnya, fokus pada kuliah dan kemudian bertemu dengan Ardi.
Namun, sekarang, setelah sepuluh tahun berlalu, Lina mulai bertanya-tanya. Bagaimana jika saat itu ia menjawab berbeda? Bagaimana jika ia berani mengakui perasaannya kepada Ivan? Apakah hidupnya akan berbeda?
Lina memegang ponselnya erat-erat, berusaha menenangkan hatinya. Kehadiran Ivan kembali dalam hidupnya telah mengguncang keseimbangan yang selama ini ia coba pertahankan. Ardi, yang dulu adalah sosok yang membuatnya jatuh cinta, kini terasa jauh. Mereka sudah lama tak berbicara dari hati ke hati, dan Lina semakin merasa terjebak dalam rutinitas tanpa cinta.
Bagaimana jika ia memilih Ivan dulu? Pikiran itu terus berputar di kepalanya.
Lina menyandarkan ponselnya di atas meja, matanya masih tertuju pada pesan Ivan. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena memikirkan pria lain di luar suaminya. Namun, di sisi lain, Ivan adalah bagian dari masa lalunya-sebuah bagian yang tak pernah ia selesaikan.
"Apa yang sebenarnya aku inginkan?" tanya Lina dalam hati.
Ia tahu, memilih untuk kembali berhubungan dengan Ivan bisa menjadi langkah yang berbahaya. Namun, perasaan yang muncul setiap kali memikirkan Ivan begitu kuat, seperti panggilan dari masa lalu yang tidak bisa ia abaikan.
Lina meraih ponselnya dan menulis balasan singkat.
Lina: "Aku baik, Ivan. Aku juga senang bisa ngobrol lagi. Mungkin kita bisa ketemu lagi minggu depan?"
Setelah mengirim pesan itu, Lina merasa dadanya berdebar. Ia tahu bahwa pertemuan berikutnya dengan Ivan mungkin akan membuka lebih banyak kenangan, dan ia harus siap menghadapi segala konsekuensinya.
Malam itu, setelah Lina mengirim pesan kepada Ivan, ia merasa resah. Tiba-tiba segalanya terasa lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Pikirannya terus berputar, antara kenangan masa lalu dan realita yang ia hadapi sekarang. Ada sesuatu tentang Ivan yang menariknya kembali ke masa lalu, sebuah masa di mana perasaannya begitu tulus dan murni. Namun, ada juga Ardi-suaminya-yang meski terasa semakin jauh, tetap menjadi bagian penting dari hidupnya.
Sepanjang malam, Lina berguling-guling di ranjang, tidak bisa tidur. Ia tahu, pesan yang ia kirimkan tadi hanyalah permulaan dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang ia takuti sekaligus ia rindukan. Ada hasrat yang berdesir di hatinya, dan itu membuatnya semakin bingung.
Pagi harinya, saat Lina duduk di meja makan bersama Ardi, ia tak bisa menghindari perasaan bersalah yang membebani dirinya. Ardi duduk di seberangnya, tenggelam dalam ponselnya seperti biasa, tanpa ada percakapan di antara mereka. Mereka telah terbiasa dengan keheningan seperti ini-sesuatu yang dulu terasa nyaman, kini menjadi tanda dinginnya hubungan mereka.
Lina mencoba memulai percakapan. "Hari ini kamu ada rencana apa, Di?"
Ardi menatap ponselnya sesaat sebelum menjawab, "Kerja, seperti biasa. Ada meeting penting sore nanti, jadi mungkin aku pulang agak larut."
"Ah, baik," jawab Lina singkat, menatap kopinya yang sudah mulai mendingin. Ia menunggu Ardi menanyakan rencananya, atau mungkin menanyakan kabarnya, tetapi tak ada pertanyaan yang muncul.
"Dan kamu?" tanya Ardi, akhirnya meletakkan ponselnya dan menatapnya dengan pandangan datar.
Lina terkejut sejenak karena Ardi akhirnya bertanya, meski nadanya tak begitu antusias. "Aku ada beberapa pekerjaan di kantor, dan mungkin mau ketemu teman setelahnya," jawab Lina pelan, sambil menahan kegelisahannya.
Ardi hanya mengangguk, tidak banyak bereaksi. "Oke, jangan pulang terlalu malam."
Setelah itu, suasana kembali hening. Ardi kembali fokus pada ponselnya, dan Lina hanya bisa termenung. **Inikah yang disebut pernikahan?** batinnya bertanya, merasa semakin terasing dari pria yang duduk di hadapannya.
Saat Lina pergi bekerja, pikirannya terus melayang ke Ivan. Sejak pertemuan mereka di reuni, perasaan yang selama ini terkubur kembali muncul ke permukaan. Setiap detik yang ia habiskan bersama Ivan di masa lalu terasa begitu jelas dalam ingatannya, seperti film yang diputar ulang.
Lina ingat saat pertama kali Ivan mengajaknya bersepeda di sore hari. Waktu itu, mereka baru berusia sepuluh tahun, dan Ivan baru saja mendapatkan sepeda baru dari orang tuanya. "Ayo, aku ajak kamu ke bukit di belakang rumah!" seru Ivan penuh semangat.
Bukit itu adalah tempat favorit mereka berdua. Di puncaknya, mereka bisa melihat seluruh kota kecil tempat mereka tinggal. Lina masih bisa merasakan angin lembut yang meniup rambutnya, tawa Ivan yang selalu membuatnya merasa nyaman, dan sinar matahari sore yang menghangatkan kulit mereka.
"Saat besar nanti, aku bakal ngajak kamu keliling dunia, Lin," kata Ivan dengan nada penuh keyakinan.
Lina hanya tertawa kecil saat itu. "Ya, aku pegang janjimu."
Namun janji itu tidak pernah terwujud. Setelah lulus SMA, hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Ivan pergi melanjutkan studi di luar negeri, sementara Lina memilih kuliah di kota yang sama dengan keluarganya. Mereka kehilangan kontak, dan kenangan itu perlahan memudar, tertutupi oleh realitas kehidupan dewasa.
Kini, Ivan kembali dalam hidupnya, dan Lina mulai bertanya-tanya apakah takdir sedang mempermainkannya. Bagaimana jika ia memilih Ivan dulu? Apakah hidupnya akan lebih bahagia, lebih penuh gairah daripada sekarang?
Ponselnya bergetar, menandakan pesan masuk. Lina membuka pesan itu, melihat nama Ivan muncul di layar.
Ivan: "Minggu depan cocok buat aku. Aku akan cari waktu yang tepat. Ngobrol sama kamu kemarin bikin aku banyak ingat masa lalu. Ada hal-hal yang dulu kita nggak pernah bicarain, kan?"
Mata Lina tertuju pada kalimat terakhir. Ada hal-hal yang dulu kita nggak pernah bicarain. Seolah-olah Ivan sedang membuka pintu ke perasaan yang selama ini mereka sembunyikan.
Lina menggigit bibirnya, tak tahu harus menjawab apa. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan ia menyadari bahwa dirinya kini berada di persimpangan besar dalam hidupnya. Apakah ia akan membuka pintu itu dan membiarkan kenangan masa lalu kembali membanjiri hidupnya? Ataukah ia akan menutup pintu itu rapat-rapat, demi menjaga pernikahan yang perlahan hampa?
Namun, sebelum ia sempat menjawab pesan itu, suara panggilan telepon dari suaminya, Ardi, mengalihkan perhatiannya.
"Lin, malam ini aku mungkin nggak bisa pulang cepat. Kamu nggak apa-apa, kan?"
Lina menahan napas, suara Ardi yang datar dan formal seperti telepon bisnis semakin membuatnya sadar betapa jauhnya hubungan mereka kini.
"Iya, nggak apa-apa," jawabnya, meski dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah Ardi benar-benar peduli pada jawabannya.
Setelah menutup telepon, Lina menatap layar ponselnya lagi, melihat pesan Ivan yang masih menunggu balasan. Tangannya gemetar, namun hatinya sudah hampir memutuskan.
Dengan perasaan campur aduk, Lina mengetik balasan.
Lina: "Kita memang punya banyak hal yang belum selesai, Ivan. Mungkin kita harus bicara soal itu. Aku akan menunggu kabar dari kamu."
Setelah pesan itu terkirim, Lina menyadari bahwa perasaan yang ia simpan selama bertahun-tahun terhadap Ivan tidak lagi bisa ia abaikan. Masa lalu mereka tidak hanya sekadar kenangan indah, tetapi juga sesuatu yang mungkin bisa mengubah masa depannya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





