Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Deviant Love

Deviant Love

Dunia Windy runtuh setelah Jimmy tiada. Sejak saat itu, serentetan aksi pembunuhan keji mulai menghantui orang-orang di lingkaran terdekatnya. Akibat pola mengerikan ini, Windy justru menjadi sasaran kecurigaan dan tuduhan miring. Di tengah tekanan publik, ia juga harus menghadapi teror misterius dari sosok tak dikenal yang mengincar nyawanya. Apakah sang pembunuh dan pengirim teror adalah orang yang sama? Windy terjebak dalam misteri yang mengancam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jimmy Putra Aksara.

Orang-orang memanggilnya Jimmy. Lelaki yang kerap kali menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa, juga dosen. Paras menawan berhiaskan lesung pipi menambah kadar manis ketika ranum tebalnya tertarik membentuk senyuman. Selain karena tampangnya, Jimmy sering jadi pembicaraan karena tekadnya dalam mengejar sang pujaan hati.

Bila dugaan kalian adalah Windy, jawabannya tepat. Jimmy sudah menyukai Windy sejak mereka menduduki bangku SMA.

Berbagai usaha untuk mendekati agar segera resmi berstatus sebagai sepasang kekasih tidak diindahkan oleh Windy. Bahkan Windy beberapa kali telah menolak secara halus. Memberi pengertian semaksimal mungkin agar Jimmy berhenti mengejarnya.

Akan tetapi, Jimmy malah tak acuh. Dia selalu berpikir bahwa ini hanya perkara waktu. Jimmy terima jika Windy memang belum menumbuhkan rasa secuil pun untuk dirinya. Maka dari itu, ia akan terus berjuang yang justru membuat Windy risih dan merasa terganggu. Sikap Jimmy semakin lama semakin mengusik kehidupan Windy.

Tidak. Windy tidak membencinya. Tidak ada salahnya bila seseorang mencintai insan lain. Namun, apa yang dilakukan Jimmy sudah salah karena Windy merasa tidak nyaman.

Bayangkan, tanpa sepengetahuan Windy, ternyata Jimmy diam-diam sering mengambil foto dirinya. Lalu saat pulang, Jimmy pernah beberapa kali tertangkap mengikuti Windy sampai ke rumah.

Alasan ingin memastikan Windy sampai dengan selamat tidak bisa Windy terima. Memangnya perilaku Jimmy yang seperti itu bisa dibilang baik dan etis? Itulah kenapa Windy malas berurusan dengan hal yang menyangkut Jimmy.

Termasuk pesan masuk serta telepon dari Jimmy semalam. Dan hari ini, Windy dirundung penyesalan. Sebab, ia terkejut atas isi pesan tersebut.

'winnn, tkglng'

'toklng'

'tolng ajuht'

'winbnn'

Huruf acak yang langsung Windy mengerti bahwa Jimmy butuh pertolongan. Dia minta bantuan yang justru malah Windy abaikan dan menghantarkan Windy pada rasa bersalah.

"Seandainya aku buka pesan dari Jimmy, apa kejadiannya bakal berbeda? Seandainya aku angkat telepon dari Jimmy, pasti sekarang dia masih ada di sini kan?"

Sekesal apapun Windy pada Jimmy, seharusnya ia tetap bersikap baik padanya.

***

"Hatinya tidak ada."

Jun melongo mendengar penuturan dari Kevin, dokter ahli forensik. "Hatinya seperti ditarik paksa, bukan dipotong atau diputus dengan benda tajam. Beberapa bagian tubuh organ rusak karena terhunus pisau berkali-kali. Menurutku ini kasus pembunuhan yang keji. Si pelaku menghabisi nyawa korban dengan sangat brutal," jelas Kevin.

"Sudah menghubungi keluarga korban?"

Jun anggukan kepala.

"Mereka sedang perjalanan kemari. Kalau begitu aku pergi, terima kasih."

Jun meraih ponsel dan membuka pesan dari rekan kerjanya. Di situ tertulis daftar orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Jimmy untuk mereka datangi guna menggali informasi.

Rekan kerja Jun juga melaporkan hasil bahwa tidak ada satupun petunjuk dari warga yang tinggal di sekitar tempat kejadian perkara. Dari mereka pula tidak ada yang memakai kamera pengintai. Otomatis, perburuan kali ini akan lebih sulit dan memakan waktu.

Jun membuka kontak dan menekan salah satu nama untuk ia hubungi.

"Halo Detektif Glen, besok kamu mulai gali informasi dari pihak keluarga. Biar aku yang gali informasi dari teman-temannya," titah Jun yang langsung disetujui oleh rekan kerjanya tersebut.

***

"Windy, udah dong, jangan terus-terusan merasa bersalah. Yang namanya petaka, kita nggak ada yang tahu. Walaupun kamu terima cintanya Jimmy, jika dalam skenario Tuhan jalannya dia memang harus seperti itu, mau bagaimana lagi?"

Perihal kejadian Windy yang mengabaikan semua pesan beserta panggilan Jimmy, membuat gadis jelita itu dirundung rasa bersalah. Andaikan, andaikan, andaikan, dan andaikan. Windy selalu berandai jika saja ia mau peduli dengan Jimmy malam itu, mungkin garis yang sudah dibuat oleh Sang Pencipta bisa berubah?

Namun apa yang dikatakan oleh Chacha juga benar. Nasib seseorang tidak ada yang tahu.

Ding! Dong!

Bunyi bel menarik atensi Chacha. Gadis mungil itu menatap sejenak ke arah Windy yang masih diam berbaring telungkup di atas ranjang, tanpa ada respon gerak setelah mendengar bunyi bel barusan.

Lantas, Chacha berdiri dan menghampiri pintu utama. Ketika dibuka, muncul sosok pria tinggi dengan pakaian serba hitam. Wajah tegas, rahang tajam, hidung mancung dan kulit sawo matang. Tampak seram namun tampan secara bersamaan.

"Saya Detektif Jun, bisa bertemu dengan seseorang yang bernama Windy?" Jun mengangkat lencana miliknya sembari memperkenalkan diri.

"Ada keperluan apa ya Pak?"

"Saya hanya ingin melempar beberapa pertanyaan mengenai Jimmy."

Chacha diam. Bingung harus mengambil keputusan apa. Jadi, sebelum dia mempersilahkan Detektif tersebut masuk, Chacha kembali ke kamar guna memberitahu tamu beserta tujuannya datang kemari.

Windy setuju dan segera keluar dari kamar. Chacha mengajak Jun masuk lalu memintanya untuk duduk di sofa. Sedangkan Windy, ia mengisi sofa yang berhadapan dengan Jun.

"Bapak mau minum apa?"

"Air putih saja."

Chacha langsung pergi ke dapur setelah mendapat jawaban dari Jun. Kini, hanya mereka berdua di sana.

Jun mengeluarkan note kecil dan bolpoin dari kantung bagian dalam jaketnya.

Interogasi pun, dimulai.

"Saudari Windy, anda kenal dengan pria bernama Jimmy?"

"Iya Pak, saya kenal."

"Bisa jelaskan hubungan anda dengan korban?"

Windy menghela nafas berat sebelum ia mengurai panjang jawaban yang akan dia beri. Selama bercerita, Jun tak lepas mencatat poin-poin yang menurutnya penting.

Di sela perbincangan, Chacha kembali, menaruh segelas air putih di meja kemudian duduk di sebelah Windy. Mendengar penuturan sang sahabat hingga usai.

"Kalau saja… Kalau saja saya tidak mengabaikan pesan dan telepon Jimmy hari itu, mungkin dia masih ada di sini."

Chacha sigap memeluk dan mengusap punggung Windy ketika tangis gadis itu pecah. Jika kalian bertanya mengapa Windy sampai merasa seperti ini?

Padahal Jimmy sering kali membuat dirinya tidak nyaman. Jawabannya adalah, karena Jimmy orang baik.

Terlepas dari perilaku Jimmy yang membuat Windy tidak nyaman, dia sebenarnya adalah pria yang baik. Peduli, rendah hati, tidak pandang teman, bahkan dia selalu memberi untuk mereka yang dilanda kesusahan.

Windy tidak membenci Jimmy, dia hanya terlalu jengah dengan sikap Jimmy yang selalu saja datang mengganggu dengan embel-embel bentuk perjuangan cinta.

Satu jam berlalu, Detektif Jun menyudahi sesi interogasi pada Windy. Dia kemudian berterima kasih, lalu pamit pergi dari sana.

"Windy, aku keluar dulu ya. Mau beli makan malam di Mas nasgor depan. Kamu mau nasi goreng atau kwetiau?" tanya Chacha.

"Apa aja deh, Cha," jawab Windy sekenanya.

Sepersekian detik, Chacha pergi dari apartemen Windy untuk membeli makanan. Khusus hari ini, Chacha berinisiatif menginap dan menemani Windy.

Baru saja Windy ingin masuk ke kamar, tiba-tiba suara bel kembali bergema. Itu pasti bukan Chacha, karena Chacha tahu kata sandi apartemen Windy. Apa mungkin Detektif Jun datang lagi?

Windy mengintip pada lubang pintu dan tidak mendapati siapapun.

"Masa sih orang iseng?" monolognya.

Karena penasaran, Windy membuka pintu. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat lorong yang sepi nan kosong. Dan saat netra bulatnya jatuh pada permukaan lantai, di sana Windy mendapati secarik kertas putih yang dilipat dua.

Ia raih, lalu ia buka perlahan. Detik selanjutnya, kalimat yang tertulis di permukaan kertas buat Windy terpaku.

'Seharusnya kamu bahagia Jimmy mati.'

─── To Be Continue

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Jadi Korban Kelalaian Orang Tuaku
8.1
Seorang gadis menjadi korban balas dendam keji dari kriminal yang pernah ditangkap ayahnya. Di saat kritis dengan lidah terpotong, sang penculik menghubungi ayahnya yang seorang kapten polisi. Namun, sang ayah dan istrinya yang ahli forensik mengabaikan telepon itu demi menemani sang adik lomba. Setelah membantai korban, pelaku meninggalkan jasadnya. Saat pasutri itu tiba di TKP untuk menyelidiki mayat tragis tersebut, mereka tidak sadar bahwa korban adalah putri kandung mereka sendiri.
Sampul Novel Kelahiranku, Kematian Ibuku, Dan Kebencian Ayahku
9.7
Disiksa kejam oleh penculik demi melindungi sang ayah, seorang gadis meregang nyawa dalam kesendirian. Di momen terakhirnya, panggilan teleponnya justru ditolak dengan penuh kebencian oleh ayahnya yang sedang merayakan ulang tahun putri adopsinya. Sang ayah mengutuk kelahirannya yang merenggut nyawa ibunya. Jasadnya kemudian ditemukan tragis di depan kantor polisi. Ironisnya, sang ayah yang bekerja sebagai ahli otopsi memimpin penyelidikan tanpa menyadari bahwa korban mutilasi keji tersebut adalah putri kandung yang sangat ia benci.
Sampul Novel MEMBUAT AZAB
9.5
Dalam kisah mencekam ini, rasa iri yang mendalam terhadap pencapaian orang lain terbukti mampu memicu konsekuensi yang sangat fatal. Dendam dan kecemburuan yang tidak terkendali berubah menjadi kekuatan gelap yang mengancam nyawa. Bagaimana sebuah kesuksesan bisa berujung pada teror mematikan? Ungkap misteri di balik kebencian yang melampaui batas logika manusia, di mana setiap keberhasilan seseorang justru menjadi awal dari malapetaka yang mengerikan.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Kampung Serigi memiliki mata air kembar ajaib yang terus mengalir meski kemarau melanda. Aliran air dari bambu sederhana ini menjadi tumpuan warga, namun menyimpan rahasia kelam. Ada banyak pantangan ketat yang wajib dipatuhi siapa pun. Jika dilanggar, sosok gaib penghuni tempat keramat itu akan mendatangi rumah pelaku. Rentetan kejadian mistis terus menghantui penduduk dan pendatang, menciptakan teror nyata di balik ketenangan sumber air yang tak pernah kering tersebut.
Sampul Novel My Beloved Bastard
9.3
Cullen Kyleer adalah pria arogan yang bertindak sesuka hati. Hidupnya berubah setelah bertemu Jasmeen, penulis novel bergenre gore. Namun, Jasmeen justru terjebak dalam obsesi gelap Cullen yang posesif dan mesum. Cullen terus memaksa Jasmeen memenuhi hasratnya sambil menebar ancaman maut bagi pria lain yang mendekat. Hubungan penuh kekerasan dan pelecehan seksual ini mengikat Jasmeen dalam gairah berbahaya yang tak terkendali di bawah kuasa Cullen.
Sampul Novel Salah Mencintai
8.5
Saat terjebak di dalam gua yang dikepung kawanan serigala, seorang istri berharap pada suaminya, Haris, yang merupakan ketua tim penyelamat. Tragisnya, Haris justru mengabaikan panggilan darurat tersebut demi menemani cinta pertamanya yang terluka ringan. Di tengah keputusasaan dan kobaran api yang padam, sang istri harus menghadapi terkaman fatal para pemangsa sendirian. Sebelum napasnya berakhir, ia hanya bisa meminta maaf kepada janin di dalam kandungannya yang ikut menjadi korban.