Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel DEVIAN

DEVIAN

Maudy hidup layaknya pelayan di rumah sendiri akibat kebencian keluarganya sejak kematian sang adik. Saat nyaris menyerah pada takdir yang tidak adil, kehadiran Devian sempat memberi warna di tengah kegelapan hidupnya. Namun, luka Maudy kian dalam saat ia harus merelakan Devian bagi saudara kembarnya, Maura. Di tengah perjuangan melawan penyakit mematikan, harapan terakhir Maudy hanyalah merasakan kembali kasih sayang orang tua sebelum sisa usianya berakhir.
Bab
Bagikan

Bab 3

"DEVIAN, ANGGA, KEVIN, EDGAR, JANGAN LARI LO PADA!!" Maudy mengeram kesal, empat anak sialan itu malah kabur saat dia menagih uang kas.

Hosh hosh hosh

Maudy membungkuk dengan tangan di lutut, nafasnya tersengal lantaran lelah mengejar empat begundal itu.

"Maudy, lo kenapa?" Valen dan Ferisha baru datang dan melihat temannya yang membungkuk dengan nafas ngos-ngosan.

"Untung kalian dateng, bantu gue narikin uang kas ke cowok-cowok bandel itu!" ucap Maudy geram.

"Gampang, lo tinggal urus Devian aja, untuk yang lain biar gue sama Ferisha yang urus." Maudy menggeleng tegas.

"Kenapa harus gue? Kalian urus sekalian aja!" ucapnya kesal.

"Ck, udah di bantuin ngelunjak lo ya. Karena Devian nurutnya cuma sama lo, aja!" decak Valen.

"Bodo, gue gak sudi narik uang ke dia. Gue mau ke kelas, itu semua urusan kalian!" Valen dan Ferisha Cengo melihatnya.

"Ck, gak tau diri lo!" kesal mereka berdua, namun Maudy acuh tetap memilih masuk ke dalam kelas.

Dia melihat Kenzo yang nampak anteng di bangkunya. "Ken, kenapa sih temen-temen lo kalau di tagih kas selalu kabur?"

Kenzo mengangkat pandangannya ke arah Maudy lalu menatap sekitar. "Ngomong sama gue?" Maudy berdecak kesal.

"Tau ah, gak ada yang waras emang!" Kenzo menggedikan bahunya acuh, kembali fokus dengan buku yang tengah ia baca.

"SELAMAT PAGI EPRIBADI!!" Mata Maudy menghunus tajam saat melihat satu lagi biang kerok yang susah ketika dia tariki uang kas.

"Kas!" tagih Maudy saat Reno baru saja mendudukkan dirinya pada kursi.

Wajah yang tadinya sumringah kini terlihat murung. "Kas mulu elah!"

"Kas!" ulang Maudy sekali lagi, wajahnya datar, matanya menatap tajam ke arah lawannya.

"Bayar atau gue lempar ke luar kelas!" ucapnya santai namun penuh penekanan.

Reno menatapnya kesal, mengambil uang di saku seragamnya. "Berapa sih?"

"50 ribu!"

"Hah? banyak amat, perasaan gue selalu bayar!" Maudy menunjukkan buku catatnya.

"Satu Minggu bayar uang kas dua kali, dan lo selalu alasan, yang pertama lo alasan uang ketinggalan, yang kedua lo alasan uang habis buat tambal ban."

"Dan Minggu kemarin lo gak masuk sekolah dua kali dan entah lo sengaja atau nggak lo nggak masuk pas waktunya bayar kas."

"Setiap kali kas bayar sepuluh ribu, lo udah empat kali gak bayar artinya 40 ribu ditambah sekarang sepuluh ribu artinya lo harus bayar 50 ribu!" Jelas Maudy.

"Ya, kalau gue gak masuk ya gue gak perlu bayar uang kas lah!" sewot Reno.

"Itu kan unsur kesengajaan eh maksud gue unsur tidak kesengajaan. Jadi gue gak perlu bayar kenapa sekarang lo tagih!"

Maudy menghela nafas kasar, malas sebenarnya adu mulut dengan Reno yang sangat tidak berfaedah.

"Gak usah banyak bacot, bayar sekarang atau gue lempar lo keluar kelas!"

"Lo main lempar aja, gue nih anak orang. Kalau gue kenapa-napa lo bisa ganti!" sewot Reno.

"Bisa, itu gampang. Kembaran lo kan banyak, entar gue cari!"

"Maksud lo?"

"Bayar dulu baru gue jawab!" ucap Maudy dengan senyum miring di bibirnya.

"Nih!" Reno dengan mudah memberikan uangnya 50 pas dengan tunggakannya.

"Jadi, siapa kembaran gue? perasaan nyokap gue gak pernah bilang kalau gue kembar, kok lo tau?"

Maudy berusaha menahan tawa melihatnya, entah polos atau bego.

"Kembaran lo gue temuin kemarin di jalanan lagi kerja joget-joget, namanya si monkey!" ujarnya lalu tertawa terbahak.

Reno menatapnya datar lantaran kesal dengan ucapan Maudy, kerja joget-joget yang dimaksud Maudy adalah topeng monyet.

"SIALAN LO MAUDY!"

****

Hari ini cukup melelahkan untuknya, lelah menariki uang kas kepada teman-temannya khususnya, Devian. Yang harus membuatnya kehilangan banyak energi.

"Gue capek bego!" kesal Maudy, dia menjewer telinga Devian setelah lelah mencari keberadaan cowok itu.

Ternyata dia malah enak-enakan makan bakso di kantin. Sialan memang!

"Belum gue apa-apain, udah capek aja. Lemah lo!" ujarnya ambigu.

Maudy mengeram kesal semakin menarik telinga Devian tak perduli jika telinga itu akan putus.

"Woi anjing sakit bego!" Devian berusaha melepas jeweran tangan Maudy pada telinganya.

"Gue udah sabar ya, Dev. Narikin uang kas baik-baik ke lo! tapi emang dasarnya lo yang suka nyari gara-gara sama gue!" kesal Maudy.

Geram rasanya, tangannya gatal seolah ingin menampar mulut Devian yang tidak bisa diam. "Lepasin bego!"

"Gak akan gue lepas sebelum lo lunasin semua uang kas lo!" Devian mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan singa betina ini terus menjewer teliganya.

Yang ada telinganya bisa putus. "Iya, gue bayar! tapi lepasin dulu!" sahutnya.

"Gak!"

"Lepasin atau gak gue bayar!"

"Bayar atau telinga lo putus!" sahut Maudy santai.

Mereka semua melihat kejadian itu dengan tawa cekikan. Angga dengan kegabutannya malah merekam kejadian itu, dan Edgar memakan camilannya sembari menonton tanpa ada keinginan membantu.

Devian dengan cepat merogoh saku bajunya dan menyerahkan satu lembar uang 100 ribu pada Maudy.

"Tuh, lepasin sekarang juga!"

Maudy mengambilnya lalu menepuk bahu Devian cukup kencang. "Gitu kek dari tadi, nyusahin lo!" cetusnya lalu pergi.

"Maudy setan!" Devian mengusap-usap telinganya yang terasa panas, akibat jeweran Maudy yang tak main-main.

"Bangsat! lo pada nggak mau nolongin gue." Devian menatap sebal ke arah teman-temannya yang malah menertawakan dirinya.

"Haha, gak berani gue! gila, galak amat si Maudy. Lo serius sama taruhan itu? gak yakin gue kalau lo menang!" ledek Angga.

"Gue pasti menang, sebelum satu bulan singa betina itu akan tunduk sama gue!" ujarnya dengan tersenyum tipis.

"Motif lo apa?" Kenzo menyahut menatap datar ke arah Devian.

Tumben, bisanya cowok irit bicara itu tak pernah nimbrung dengan obrolan teman-temannya.

"Gabut aja sih, haha!"

"Sinting! itu hati lo men lo buat mainan. Anak orang lo jadiin taruhan, gue yakin seratus persen kalau Maudy tahu bakal diamuk lo!" sahut Kevin.

"Itu urusan nanti, yang pasti gue akan buat dia jadi pacar gue. Dan kalau nanti dia udah mulai cinta sama gue, bakal gue tinggal!" ucapnya tanpa hati.

"Shit! gila lo." Edgar tertawa mendengarnya.

"Awas kemakan omongan lo sendiri!" Lagi, Kenzo menyahut sebelum dia pergi dari sana membuat mereka saling pandang.

"Kenapa tuh anak?"

"Dia suka Maudy, maybe?"

Deviana terdiam namun setelahnya dia menggedikan bahunya acuh. "Kalau dia suka Maudy, ya bagus sih. Lagian gue cuma main-main sama dia!" ucapnya.

"Wah, parah lo tapi belum tentu juga Maudy mau sama lo!" ledek Kevin, membuat mereka semua tertawa.

****

Plak!

Maudy terdiam kala dia kembali mendapat tamparan. Apa salahnya? dia baru pulang lalu mamanya menamparnya.

"Maudy salah apa lagi?" tanyanya lirih, dia mengusap pipinya yang terasa kebas.

Lalu menatap sendu ke arah mamanya yang tengah menatapnya marah.

Plak!

"Anak pembawa sial!" sentak Mareta.

"Gak becus bersihin rumah!" murkanya.

Maudy semakin bingung apa maksud mamanya, kenapa dia marah-marah kepadanya tanpa sebab.

"Kamu tahu, gara-gara kamu Maura hampir jatuh dari tangga. Kalau sampai anak saya kenapa-napa, saya bunuh kamu!"

Maudy terdiam, Maura akan jatuh tapi dia yang disalahkan? tidak masuk akal!

"Maaf non, jadi Non Maudy yang di salahkan, sebetulnya itu salah bibi. Tadi bibi tidak sengaja menumpahkan minyak di tangga. Waktu bini mau ambil pel udah keburu Non Maura turun untung dia gak jatuh." Maudy mengangguk, ternyata itu sebabnya.

"Iya bi, nggak papa. Terus keadaan Maura sekarang gimana, bi?"

"Kakinya ke kilir non, yaudah Non Maudy masuk kamar sana. Nanti bibi antar makannya ke kamar, non."

"Eh, gak usah bi. Nanti Maudy makan di dapur aja barang bibi!" Maudy tersenyum tipis sebelum dia masuk ke kamarnya.

Kurang miris apa hidupnya?

Selalu disalahkan! dan satu hal yang membuatnya setiap kali merasa sakit hati. Bahkan orang tuanya tak mengijinkan Maudy makan di meja makan, setiap hari Maudy harus makan di dapur bareng dengan pembantu di rumahnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NAW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NAW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Berkalung Noda
7.9
Ikhsan adalah pemuda tampan yang terhimpit kemiskinan hingga ia terpaksa mengorbankan perasaan tulusnya. Demi mengejar ambisi materi, ia merantau ke kota besar. Namun, keputusan itu menjadi awal kehancuran asmaranya. Ikhsan terjebak situasi pelik yang mengharuskannya menikahi putri bosnya sendiri. Ia pun memutuskan hubungan secara sepihak. Akankah takdir mempertemukannya kembali dengan cinta pertamanya? Ikuti perjalanan pahit Ikhsan di sini.
Sampul Novel Dear Ex and Mistakes
9.1
Enam tahun berlalu sejak aku memilih pergi demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan suami yang sangat kucintai. Meski hidup dalam kehampaan, aku berusaha tegar menghadapi perihnya kenangan saat ia mendua. Namun, ketenanganku terusik ketika takdir mempertemukan kami kembali. Ia kini muncul sebagai tetangga baru yang berusaha mendekat, mencoba menawarkan kembali janji masa depan yang dulu pernah ia hancurkan demi wanita lain. Sanggupkah hatiku memaafkan?
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Dokter Ajaib Primadona Desa
9.7
Kehidupan Tirta Hadiraja berubah drastis setelah mengonsumsi seekor ular putih. Masalah impotensi yang dideritanya sirna, digantikan kekuatan luar biasa, mata tembus pandang, dan daya ingat super. Berbekal kemampuan baru ini, Tirta sukses memajukan klinik kesehatannya. Namun, kesuksesan dan kehebatannya justru memicu persaingan sengit di antara para janda, primadona desa, hingga putri keluarga kaya yang kini saling berebut untuk menjadi pendamping hidupnya.
Sampul Novel Janda Lugu
8.4
Terlilit hutang akibat ditipu, Arka melarikan diri ke kampung halaman untuk menghindari kejaran rentenir. Di sana, ibunya justru menjodohkannya dengan Nilam, janda kaya raya. Arka pun berniat menikahi Nilam demi menguras hartanya. Namun, ketulusan Nilam perlahan meluluhkan hati Arka hingga ia menyesali niat busuknya. Saat rahasia terbongkar, Nilam yang kecewa justru meminta pernikahan formalitas belaka. Mengapa sosok yang semula lugu itu berubah drastis?
Sampul Novel My Lovely Angel
8.1
Renata terpaksa menikahi Dafa, seorang duda kaya dengan dua anak, demi mengakhiri ejekan perawan tua dan paksaan kencan buta dari ibunya. Di sisi lain, CEO Dafa Hutama hanya menyetujui pernikahan ini karena desakan anak-anaknya yang menginginkan ibu baru. Meski Renata hadir, Dafa masih terjebak kenangan mendiang istrinya, Arin. Akankah pernikahan tanpa cinta ini bertahan saat hati sang suami masih terkunci rapat untuk wanita masa lalunya?