
DEVIAN
Bab 3
"DEVIAN, ANGGA, KEVIN, EDGAR, JANGAN LARI LO PADA!!" Maudy mengeram kesal, empat anak sialan itu malah kabur saat dia menagih uang kas.
Hosh hosh hosh
Maudy membungkuk dengan tangan di lutut, nafasnya tersengal lantaran lelah mengejar empat begundal itu.
"Maudy, lo kenapa?" Valen dan Ferisha baru datang dan melihat temannya yang membungkuk dengan nafas ngos-ngosan.
"Untung kalian dateng, bantu gue narikin uang kas ke cowok-cowok bandel itu!" ucap Maudy geram.
"Gampang, lo tinggal urus Devian aja, untuk yang lain biar gue sama Ferisha yang urus." Maudy menggeleng tegas.
"Kenapa harus gue? Kalian urus sekalian aja!" ucapnya kesal.
"Ck, udah di bantuin ngelunjak lo ya. Karena Devian nurutnya cuma sama lo, aja!" decak Valen.
"Bodo, gue gak sudi narik uang ke dia. Gue mau ke kelas, itu semua urusan kalian!" Valen dan Ferisha Cengo melihatnya.
"Ck, gak tau diri lo!" kesal mereka berdua, namun Maudy acuh tetap memilih masuk ke dalam kelas.
Dia melihat Kenzo yang nampak anteng di bangkunya. "Ken, kenapa sih temen-temen lo kalau di tagih kas selalu kabur?"
Kenzo mengangkat pandangannya ke arah Maudy lalu menatap sekitar. "Ngomong sama gue?" Maudy berdecak kesal.
"Tau ah, gak ada yang waras emang!" Kenzo menggedikan bahunya acuh, kembali fokus dengan buku yang tengah ia baca.
"SELAMAT PAGI EPRIBADI!!" Mata Maudy menghunus tajam saat melihat satu lagi biang kerok yang susah ketika dia tariki uang kas.
"Kas!" tagih Maudy saat Reno baru saja mendudukkan dirinya pada kursi.
Wajah yang tadinya sumringah kini terlihat murung. "Kas mulu elah!"
"Kas!" ulang Maudy sekali lagi, wajahnya datar, matanya menatap tajam ke arah lawannya.
"Bayar atau gue lempar ke luar kelas!" ucapnya santai namun penuh penekanan.
Reno menatapnya kesal, mengambil uang di saku seragamnya. "Berapa sih?"
"50 ribu!"
"Hah? banyak amat, perasaan gue selalu bayar!" Maudy menunjukkan buku catatnya.
"Satu Minggu bayar uang kas dua kali, dan lo selalu alasan, yang pertama lo alasan uang ketinggalan, yang kedua lo alasan uang habis buat tambal ban."
"Dan Minggu kemarin lo gak masuk sekolah dua kali dan entah lo sengaja atau nggak lo nggak masuk pas waktunya bayar kas."
"Setiap kali kas bayar sepuluh ribu, lo udah empat kali gak bayar artinya 40 ribu ditambah sekarang sepuluh ribu artinya lo harus bayar 50 ribu!" Jelas Maudy.
"Ya, kalau gue gak masuk ya gue gak perlu bayar uang kas lah!" sewot Reno.
"Itu kan unsur kesengajaan eh maksud gue unsur tidak kesengajaan. Jadi gue gak perlu bayar kenapa sekarang lo tagih!"
Maudy menghela nafas kasar, malas sebenarnya adu mulut dengan Reno yang sangat tidak berfaedah.
"Gak usah banyak bacot, bayar sekarang atau gue lempar lo keluar kelas!"
"Lo main lempar aja, gue nih anak orang. Kalau gue kenapa-napa lo bisa ganti!" sewot Reno.
"Bisa, itu gampang. Kembaran lo kan banyak, entar gue cari!"
"Maksud lo?"
"Bayar dulu baru gue jawab!" ucap Maudy dengan senyum miring di bibirnya.
"Nih!" Reno dengan mudah memberikan uangnya 50 pas dengan tunggakannya.
"Jadi, siapa kembaran gue? perasaan nyokap gue gak pernah bilang kalau gue kembar, kok lo tau?"
Maudy berusaha menahan tawa melihatnya, entah polos atau bego.
"Kembaran lo gue temuin kemarin di jalanan lagi kerja joget-joget, namanya si monkey!" ujarnya lalu tertawa terbahak.
Reno menatapnya datar lantaran kesal dengan ucapan Maudy, kerja joget-joget yang dimaksud Maudy adalah topeng monyet.
"SIALAN LO MAUDY!"
****
Hari ini cukup melelahkan untuknya, lelah menariki uang kas kepada teman-temannya khususnya, Devian. Yang harus membuatnya kehilangan banyak energi.
"Gue capek bego!" kesal Maudy, dia menjewer telinga Devian setelah lelah mencari keberadaan cowok itu.
Ternyata dia malah enak-enakan makan bakso di kantin. Sialan memang!
"Belum gue apa-apain, udah capek aja. Lemah lo!" ujarnya ambigu.
Maudy mengeram kesal semakin menarik telinga Devian tak perduli jika telinga itu akan putus.
"Woi anjing sakit bego!" Devian berusaha melepas jeweran tangan Maudy pada telinganya.
"Gue udah sabar ya, Dev. Narikin uang kas baik-baik ke lo! tapi emang dasarnya lo yang suka nyari gara-gara sama gue!" kesal Maudy.
Geram rasanya, tangannya gatal seolah ingin menampar mulut Devian yang tidak bisa diam. "Lepasin bego!"
"Gak akan gue lepas sebelum lo lunasin semua uang kas lo!" Devian mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan singa betina ini terus menjewer teliganya.
Yang ada telinganya bisa putus. "Iya, gue bayar! tapi lepasin dulu!" sahutnya.
"Gak!"
"Lepasin atau gak gue bayar!"
"Bayar atau telinga lo putus!" sahut Maudy santai.
Mereka semua melihat kejadian itu dengan tawa cekikan. Angga dengan kegabutannya malah merekam kejadian itu, dan Edgar memakan camilannya sembari menonton tanpa ada keinginan membantu.
Devian dengan cepat merogoh saku bajunya dan menyerahkan satu lembar uang 100 ribu pada Maudy.
"Tuh, lepasin sekarang juga!"
Maudy mengambilnya lalu menepuk bahu Devian cukup kencang. "Gitu kek dari tadi, nyusahin lo!" cetusnya lalu pergi.
"Maudy setan!" Devian mengusap-usap telinganya yang terasa panas, akibat jeweran Maudy yang tak main-main.
"Bangsat! lo pada nggak mau nolongin gue." Devian menatap sebal ke arah teman-temannya yang malah menertawakan dirinya.
"Haha, gak berani gue! gila, galak amat si Maudy. Lo serius sama taruhan itu? gak yakin gue kalau lo menang!" ledek Angga.
"Gue pasti menang, sebelum satu bulan singa betina itu akan tunduk sama gue!" ujarnya dengan tersenyum tipis.
"Motif lo apa?" Kenzo menyahut menatap datar ke arah Devian.
Tumben, bisanya cowok irit bicara itu tak pernah nimbrung dengan obrolan teman-temannya.
"Gabut aja sih, haha!"
"Sinting! itu hati lo men lo buat mainan. Anak orang lo jadiin taruhan, gue yakin seratus persen kalau Maudy tahu bakal diamuk lo!" sahut Kevin.
"Itu urusan nanti, yang pasti gue akan buat dia jadi pacar gue. Dan kalau nanti dia udah mulai cinta sama gue, bakal gue tinggal!" ucapnya tanpa hati.
"Shit! gila lo." Edgar tertawa mendengarnya.
"Awas kemakan omongan lo sendiri!" Lagi, Kenzo menyahut sebelum dia pergi dari sana membuat mereka saling pandang.
"Kenapa tuh anak?"
"Dia suka Maudy, maybe?"
Deviana terdiam namun setelahnya dia menggedikan bahunya acuh. "Kalau dia suka Maudy, ya bagus sih. Lagian gue cuma main-main sama dia!" ucapnya.
"Wah, parah lo tapi belum tentu juga Maudy mau sama lo!" ledek Kevin, membuat mereka semua tertawa.
****
Plak!
Maudy terdiam kala dia kembali mendapat tamparan. Apa salahnya? dia baru pulang lalu mamanya menamparnya.
"Maudy salah apa lagi?" tanyanya lirih, dia mengusap pipinya yang terasa kebas.
Lalu menatap sendu ke arah mamanya yang tengah menatapnya marah.
Plak!
"Anak pembawa sial!" sentak Mareta.
"Gak becus bersihin rumah!" murkanya.
Maudy semakin bingung apa maksud mamanya, kenapa dia marah-marah kepadanya tanpa sebab.
"Kamu tahu, gara-gara kamu Maura hampir jatuh dari tangga. Kalau sampai anak saya kenapa-napa, saya bunuh kamu!"
Maudy terdiam, Maura akan jatuh tapi dia yang disalahkan? tidak masuk akal!
"Maaf non, jadi Non Maudy yang di salahkan, sebetulnya itu salah bibi. Tadi bibi tidak sengaja menumpahkan minyak di tangga. Waktu bini mau ambil pel udah keburu Non Maura turun untung dia gak jatuh." Maudy mengangguk, ternyata itu sebabnya.
"Iya bi, nggak papa. Terus keadaan Maura sekarang gimana, bi?"
"Kakinya ke kilir non, yaudah Non Maudy masuk kamar sana. Nanti bibi antar makannya ke kamar, non."
"Eh, gak usah bi. Nanti Maudy makan di dapur aja barang bibi!" Maudy tersenyum tipis sebelum dia masuk ke kamarnya.
Kurang miris apa hidupnya?
Selalu disalahkan! dan satu hal yang membuatnya setiap kali merasa sakit hati. Bahkan orang tuanya tak mengijinkan Maudy makan di meja makan, setiap hari Maudy harus makan di dapur bareng dengan pembantu di rumahnya.
Anda Mungkin Juga Suka





