
DESTINY OF LOVE
Bab 2
Malam ini berlalu seperti biasa, dia Mendengar kan alunan nyanyian dari ke dua orang tua nya yang membuat hati terasa menyiksa hatinya. Teriakan dan suara benda dibanting sudah menjadi musik iringannya. Tapi kali ini berbeda, dia merasakan hal lain.
Pikirannya berhenti di waktu bersama Riko tadi siang. Pikirannya melayang dan terus melayang. Reyna masih menginginkan dengan jelas, ciuman yang Riko berikan masih begitu membekas. Setiap inci belain Riko, masih begitu terasa. Ciuman pertamanya, sentuhan remasan pertamanya tiba-tiba membuat hasratnya kembali naik.
Tanpa sadar dia menyentuh dan meremas payudaranya sendiri. Tanpa disadari Reyna mendesah disela permainannya sendiri. Putingnya pun sampai menegang. Ciuman pertama yang membutakan. Sentuhan pertama yang membuatnya ketagihan.
Hingga pikiran terus melayang terbang dan sampai masuk ke alam mimpinya. Reyna tertidur karena kelelahan. Mungkinkah Reyna sudah mulai kecanduan sentuhan-sentuhan itu?
--------
Keesokan harinya setelah pulang dari kuliah, Reyna dan Riko duduk di taman kampusnya. Reyna merasa gugup disamping Riko karena mengingat kejadian kemarin.
"Ada apa denganmu?"
"Ah, tidak!! Tidak ada apa apa kok Rik," Sahut Reyna dengan Cepat.
"Orang tuamu bertengkar lagi? Sudah tenang saja aku ada di sini untukmu."
Riko menarik tubuh Reyna ke dalam pelukannya.
"Iya seperti biasa Ric." Kata Reyna
"Aku sayang kamu, kamu tidak sendiri sekarang,". awan Riko meyakinkan.
"Terima kasih Ric!" Jawab Reyna gugup.
---------
Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampiri Reyna dan Riko.
"Rey...."
Laki-laki itu memanggil Reyna.
"Iya,.."
Reyna menoleh ke arah laki-laki yang datang dibelakang nya.
"Kamu kenal dia Rey?" Tanya Riko dengan wajah penuh kemarahan dan curiga.
"Iya dia temanku di bangku SMA, kenalin namanya William,, Dan William dia Riko. Ada apa Wil??" Jawab Reyna tersenyum.
"A... Aku... Pinjem uangnya $ 50 saja Rey."
Sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, William mencari alasan untuk kedatangannya diantara Reyna dan Riko.
"Oh, ini Wil.." Reyna segera mengambilkan uang untuk William.
"Terima kasih ya Rey! secepatnya aku kembali kan." kata William
"Santai saja Wil." Jawab Reyna sambil tersenyum.
Seperti kebiasaan Reyna yang selalu ceria dan periang kepada semua orang, tapi Riko melihat Reyna tersenyum semakin membakar hatinya karena cemburu.
"Aku pergi dulu Rey, Dan cepet pulang Rey, kamu (menatap Riko) jaga Reyna baik-baik." Kata William dengan tatapan tajam.
"Mau mu apa? Brengsek aku ini pacar Reyna." Sontak Riko Langsung meluapkan emosi nya. Dan melayangkan pukulan ke arah William tapi dihadang oleh Reyna.
"Hentikan Riko! Dan kamu Wil cepat pergi!," Tegas Reyna.
-----
Setelah William pergi, Riko sangat marah kepada Reyna.
"Maksudmu membela dia apa? Kamu suka sama dia?" Gertak Riko.
"Bukan begitu Ric. Dia tidak salah apa-apa, dia datang cuma pinjam uang saja." Reyna menjelaskan.
"Sudah aku katakan jangan dekat dekat sama orang lain! kamu kenapa tidak mau ku atur?" Riko sangat marah.
"Tapi dia juga teman aku Ric." Reyna menjelaskan lagi.
"Teman? Aku tidak suka kamu berteman dengan laki laki lain." Riko semakin marah.
"Kamu hanya untukku!! Ingat itu! Kamu ngerti!! Pikirkan baik-baik itu kalau hubungan kita ingin berlanjut!"
Riko pergi begitu saja meninggalkan Reyna.
----------
Reyna jatuh duduk ke lantai dengan ditemani air mata. Dari kejauhan William melihat semua yang terjadi. Dan William kaget dengan apa yang dia lihat setelah Riko pergi meninggalkan Reyna.
Ini pertama kalinya William melihat Reyna menangis. William segera berlari menghampiri Reyna, dan segera memeluk Reyna. Tapi Reyna malah mendorong tubuh William.
"Dasar Bodoh, apa yang kamu lakukan?" Tanya Reyna sambil menghapus air mata karena dia tidak mau dianggap lemah dan cengeng.
"Rey, ada apa denganmu? Apa yang terjadi?" William tampak cemas.
"Ada apa? Memang nya apa yang terjadi? Kenapa kamu kesini lagi?" Membalikan badan membelakangi William. Reyna segera menghapus air matanya agar tetap tampak baik-baik saja.
"Aku sudah melihat semuanya Rey, kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Pacar kamu terlalu posesif Rey. Kamu sudah dikekang dia Rey. Rey dengar aku..!! Banyak laki-laki lebih baik dari dia Rey. Kamu sekarang sangat berubah, kamu sudah tidak seceria dulu Rey. Kamu sekarang lebih pendiam, kamu sering murung Rey semenjak Kamu dekat dengan laki-laki itu. Rey kamu dengar aku kan." William memegang pundak Reyna
"Kamu tahu apa tentang aku Wil?? Siapa kamu sehingga bisa seenaknya sendiri menilai dia?" Reyna membela Riko dengan air mata.
"Kamu sudah dibutakan dengan cintanya yang mengekang mu Rey! Suatu saat cinta itu akan menghancurkan mu Rey,, dia bukan orang yang pantas untukmu."William menjelaskan.
"Darimana kamu tahu dia pantas atau tidaknya untukku?" Tanya Reyna.
"Seorang laki-laki sejati tidak akan mengekang cintanya,, seorang laki-laki sejati akan selalu mendukung cintanya,, seorang laki-laki sejati tidak akan meninggalkan begitu saja cintanya yang sedang menangis." menerangkan kepada Reyna.
Sontak jawaban William membuat Reyna terdiam dalam air mata yang terus berjatuhan. William memberanikan diri memeluk Reyna lagi.
"Rey badanmu dingin sekali."
William melepaskan jaketnya dan memakaikan kepada Reyna.
"..........." Reyna hanya diam.
"Aku antar kamu pulang ya Rey. Ini sudah mulai gelap. Ayo ambil motorku diparkiran." William meraih tangan Reyna dan menggenggamnya dengan erat seakan takut kehilangan.
Sedangkan Reyna hanya terdiam melihat perlakuan William yang sangat berbeda dengan William yang biasa dia kenal.
Reyna merasakan kehangatan dari sikap William, dia merasa tenang dan seakan semua kesedihan yang baru saja dia rasakan seolah menghilang.
Saat dibonceng William di jalan tanpa sadar Reyna memeluk William. Dengan ditemani air mata yang tak berhenti menetes. Reyna merasa ada orang yang melindunginya saat ini. Seperti memiliki seorang kakak.
Ya... Mungkin itu yang Reyna rasakan saat ini, karena dia sadar sudah ada Riko berstatus sebagai pacarnya saat ini.
"Terimakasih Wil..." Kata Reyna.
"Tidak perlu... Kamu kapan berhenti menangisinya? Kayak bayi gede saja... hahahaha...." Wlliam menghibur Reyna disela-sela dia menyetir motornya.
"Enak saja bayi gede,,, emang kamu... dasar gak berubah...." Reyna mulai melupakan kesedihannya tadi.
"hahahaha... adanya kamu tuh yang berubah jadi cengeng. Kita berhenti di minimarket sebentar ya,, ada sesuatu yang mau aku beli." Ajak William.
"Iya Wil..."
----------
Setelah keluar dari mini market, William memberikan sebuah permen karet kepada Reyna.
"Nih..." memberikan permen karet itu.
"hahaha,,,, William kamu masih ingat aku suka permen karet?" Reyna mulai tertawa.
"Mana mungkin aku lupa, kamu satu-satunya cewek yang bisa buat balon permen karet di Sekolah menengah atas dulu." Jawab William.
"Terimakasih ya Wil..."
"Sudah berapa kali kamu mengucapkan terimakasih kepada ku hari ini?? hahahaha...."
"Dasar..... kamu Wil..."
"Berapa lama kamu tidak makan permen karet Rey?" Tanya William.
"Sudah sejak....."
kata - kata Reyna tiba - tiba terhenti.
"Sejak pacaran sama si pecundang itu?" William mulai geram.
"Wil... Kamu ngomong apa sih?" Reyna masih tidak terima ketika William mengatai sang pacar.
"Sudah jangan dibahas, ayo lanjutkan perjalanan lagi." Dengan cepat William mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin melihat Reyna marah.
=======00000=======
Anda Mungkin Juga Suka





