
Derita Gadis Ternoda
Bab 2
Ana menarik kopernya menyusuri jalan setapak. Secarik kertas berisi nomor telepon Ardi dibuangnya. Ia bertekad tak akan menyusahkan sanak keluarga. Ia tak mau banyak orang tahu dengan kehamilannya, ayahnya pasti akan sangat malu.
Di tepi jalan raya ia menghentikan bus lintas pulau yang lewat tanpa ia tahu ke kota mana tujuan bus tersebut.
Kampung Mekar adalah perkampungan yang berada di jalan lintas timur yang menghubungkan Riau sampai ke Lampung. Ada banyak bus yang biasanya lewat dan bisa dihentikan tanpa harus ke terminal terlebih dahulu. Apalagi jika bukan hari libur atau hari raya besar, bisa dipastikan masih ada kursi kosong tersedia.
Ana duduk di bangku belakang, dekat jendela. Penumpang bus tak banyak. Bahkan bisa dihitung jumlahnya. Ana memejamkan mata, mencoba mencerna semua kejadian yang menimpa dirinya.
***
Tiga bulan lalu, saat Ana mengantarkan makan siang untuk Putra dan Hesti di sawah, ia berniat langsung kembali ke rumah karena ada beberapa pekerjaan rumah yang belum diselesaikannya.
Jalanan tampak sepi. Tak ada yang aneh, karena Kampung Mekar memang kampung yang sunyi. Para pemuda memilih untuk merantau ke kota. Ada yang melanjutkan pendidikan, ada juga yang mengadu nasib dengan bekerja di kota.
Beberapa penduduk juga ada yang memilih pindah dan menetap bersama dengan anak-anak mereka yang sudah sukses di perantauan.
Ana terus berjalan melewati kebun tebu tanpa menaruh rasa curiga atau firasat apa pun. Ia bahkan bersenandung melantunkan irama yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Tak jauh dari kebun tebu, seorang pria dengan penutup wajah serba hitam tiba-tiba menarik lengannya dengan kasar, membawanya secara paksa ke tengah-tengah kebun.
"Siapa kamu? Apa yang mau kamu lakukan?" pekik Hana.
Pria dengan penutup wajah itu tak bersuara, ia terus saja menyeret Ana sampai ke tengah kebun.
"Tolong ... Tolong!"
Ana berteriak, tapi tak ada yang mendengar. Kemudian pria itu menyumpal mulut Ana dengan kain dan mengikatkannya sampai ke belakang kepala Ana.
Gadis polos itu teriak lagi dengan ketakutan, air matanya sudah berhamburan membanjiri pipinya. Namun percuma, sekuat apa pun suara yang dikeluarkannya, hanya dia dan pria asing itu saja yang bisa mendengar.
Ana menangis ketakutan. Ia meronta sekuat tenaga ketika pria itu mendekap tubuh mungilnya dan dengan beringas mencoba men-ci-umnya
"Jangan, kumohon!" Teriak Ana, ia menangis tersedu-sedu. Pria itu sama sekali tak peduli karena ucapan Ana terdengar tak jelas akibat terhalang kain pengikat mulutnya itu.
Ana masih berusaha melepaskan diri meskipun tangannya dicengkram dengan erat. Ditendangnya bagian sensitif pria itu dengan sisa tenaganya.
"Awww." Si pria menjerit kesakitan. Refleks ia melepaskan tangan Ana karena menahan sakit di bagian bawah perutnya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Ana lari tunggang langgang. Ia juga segera melepaskan kain penyumpal mulutnya dan kembali berteriak. Ia berlari sejauh mungkin menghindari pria breng-s3k itu. Tapi langkahnya bukan tandingan si pria. Pria itu berhasil menyusulnya, menangkap, merangkul pinggang Ana, dan menguncinya dengan kekuatan tangannya.
Tanpa pikir panjang, pria yang sudah dikuasai n4f-su setan itu mendorong tubuh Ana hingga jatuh di tanah, melu-cuti pakaiannya dengan be-ri-ngas. Tangan Ana digenggamnya dengan kekuatan penuh sehingga Ana tak berdaya untuk melawan lagi.
"Jangan!! Jangan lakukan itu padaku. Kumohon!!" Ana menangis pilu.
Tapi pria itu tak peduli dengan raung tangis Ana. Yang ada dalam benaknya hanya ingin melampiaskan naf-su be-jadnya.
Tak henti-hentinya Ana meraung pilu, tapi suaranya tertahan. Jeritan dalam hatinya bagai sayatan sembilu yang ditetesi garam dan cuka. Pedih.
Rasa sakit yang teramat sangat merasuki tubuh Ana hingga bergetar. Ia meracau memanggil ibunya, ia berteriak minta tolong.
"Tolong aku, Ibu ... tolong aku!"
Tak ada yang mendengar.
Setelah melakukan aksi be-jadnya, pria itu lari meninggalkan Ana sendiri di kebun tebu. Ana menangis tersedu. Dengan gemetar dipakainya kembali pakaiannya.
Ia melangkah dengan gontai sambil menahan rasa sakit. Langkahnya diseret sekuat tenaga hingga sampai ke rumah. Tak ada seorang pun yang melihatnya.
Di rumah ia membersihkan diri. Menangis di bawah siraman air mengalir. Ia ji-jik pada dirinya sendiri.
Saat petang tiba, ketika Putra dan Hesti sudah kembali dari sawah, Ana mengurung diri di kamar. Ingin ia mengadu, tapi entah kenapa ia tak sanggup. Bibirnya kelu. Tak ada satu ucapan pun yang mampu dikeluarkannya. Hanya air mata yang terus berderai. Sekujur tubuhnya sakit, terlebih hatinya.
***
Ana turun dari bus. Ia tak tahu di kota mana ia kini berpijak. Tapi dari suasana tempat itu, Ana yakin bahwa itu adalah terminal bus.
Sepanjang perjalanan tadi Ana tidur hingga ia tak tahu di kota mana bus itu berhenti.
Tadi supir bus mengatakan bahwa mereka sudah sampai. Mau tak mau Ana ikut turun bersama penumpang lain, dan membayar ongkos.
Setelah celingukan, menoleh ke kanan dan kiri, ia melihat sebuah warung makan. Tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam warung makan itu.
Perutnya sudah lapar. Apalagi sejak ia mengetahui bahwa dirinya hamil, nafsu makannya bertambah dua kali lipat.
"Maaf, Bu. Ini di kota mana ya?" tanya Ana saat pemilik warung mengantarkan pesanannya.
Pemilik warung berbadan bongsor itu memandang Ana sambil menautkan alisnya.
"Memangnya kamu naik bus tujuan ke kota mana? Kok bisa-bisanya kamu nggak tahu ini di mana?”
Ana tak menjawab.
"Kamu kekasar?" selidik wanita itu.
Ana bingung harus menjawab apa, akhirnya ia lebih memilih diam saja.
"Ini di Palembang," jawab ibu si pemilik warung, membuat Ana mengangguk-angguk. Walaupun selanjutnya ia tak tahu harus pergi ke mana lagi. Ia tak punya tujuan
“Bu, Apakah dari sini ada bus ke Jakarta?" tanya Ana tiba-tiba.
"Ada, kamu bisa pesan di loket sana."
Wanita itu menunjuk ke arah kanan. Di sebrang warung makan itu, tepat di sebelah mushola ada loket kecil untuk membeli tiket bus.
Ana ingat, tahun lalu, waktu Rida mudik, Rida pernah cerita kalau hidup di Jakarta itu enak, dan gampang cari kerja. Ana mempercayainya karena penampilan sahabat masa kecilnya itu berubah jadi lebih modis sejak merantau. Uangnya juga banyak. Mungkin sampai di Jakarta nanti Rida bisa mencarikan pekerjaan untuknya.
Ana mengambil ponsel dari dalam tas yang disandangnya. Ia ingin menghubungi Rida, tapi ternyata ponselnya mati karena habis baterai.
"Nanti saja kutelpon, kalau udah sampai di Jakarta," gumamnya. Ia pun menyantap makanannya, setelah itu ia pergi ke loket pembelian tiket bus.
***
Sudah berpuluh kali Hesti memencet panggilan telepon ke nomor Ana, tapi tak tersambung. Hati Hesti berkecamuk, ia hanya bisa menangis, duduk lesu di atas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya.
Ia juga sudah menelpon Ardi, adiknya di Padang, tapi Ardi bilang Ana belum tiba di rumahnya, dan juga belum menghubunginya.
Sedangkan Putra lebih banyak diam. Ada rasa sesal di hatinya telah mengusir Ana, tapi di sisi lain ia juga tak mau diamuk warga dan menganggap Ana pembawa kutuk bagi Kampung Mekar.
"Pak Putra, ada undangan dari Pak Beni. Malam ini beliau mengadakan syukuran dan doa bersama untuk memberangkatkan Gani ke Jakarta," ucap Farhan, orang suruhan Beni.
Gani adalah pemuda teladan di Kampung Mekar. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di sebuah universitas ternama di Jakarta. Ia juga sudah dikontrak oleh perusahaan asing untuk bekerja sebagai manager.
Beberapa bulan lalu ia datang kembali ke kampung Mekar untuk mengunjungi orang tuanya. Sekaligus memohon doa restu agar pekerjaannya bisa berjalan lancar dan ia bisa sukses bekerja di perusahaan asing yang kantor pusatnya ada di Jakarta.
Sebenarnya sudah lama Putra menginginkan agar Gani menjadi menantunya. Kini pupus sudah harapan itu.
"Ana ke mana, Pak Putra? Kok tak kelihatan?" tanya beberapa warga ketika Putra dan Hesti sudah berada di rumah Beni.
"Oh, itu. Kemarin berangkat ke Padang, diajak pamannya kerja di sana," jawab Putra sambil tersenyum. Sekuat tenaga dicobanya untuk bersikap biasa saja. Sementara Hesti hanya bisa menunduk.
"Bu Hesti kok diam saja, murung terus dari tadi," tanya yang lainnya.
"Biasalah, baru ditinggal merantau sama anak kesayangannya. Lama-lama juga terbiasa."
Putra mengambil alih semua pertanyaan yang dilontarkan warga, sementara Hesti lebih memilih tak bersuara sepatah kata pun.
Gani yang duduk tak jauh dari Putra sempat curi-curi dengar obrolan itu. Sesekali ia terlihat menarik nafas panjang.
Anda Mungkin Juga Suka





