Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Derita Gadis Ternoda

Derita Gadis Ternoda

Ana adalah gadis polos yang malang. Hidupnya hancur setelah menjadi korban pemerkosaan hingga hamil, yang membuatnya diusir sang ayah. Di Jakarta, ia bertemu Lukman yang baik hati, namun Ana justru mengalami penyiksaan kejam dari Juju, istri Lukman. Di tengah penderitaan dan benih cinta yang mulai dirasakan Lukman padanya, takdir membawa Ana bertemu kembali dengan sosok pria yang dulu menghancurkan kehormatannya. Akankah luka lama itu membelenggu hidupnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Sinar matahari menyembul dengan teriknya ketika Ana turun dari bus. Dihalaunya silau cahaya yang mengenai matanya dengan meletakkan telapak tangan di kening. Tangan yang satunya menyeret koper. Langkahnya terus maju menuruti kata hatinya. Ia asing dengan tempat ini. Tadi sempat dibacanya sebuah tulisan dekat perhentian bus, 'Terminal Kampung Rambutan'.

Puluhan bus berjejer, orang-orang lalu lalang dengan berbagai macam perangainya. 

Ana mengusap peluh. Dibelinya sebotol air mineral dari pedagang asongan. Ia harus duduk dan istirahat. Perutnya terasa keram.

"Maafkan ibu, dek," lirihnya sambil mengusap lembut perutnya yang belum terlalu membesar. 

Ana merogoh ponsel di dalam tas kecil yang disandangnya. Sejak kemarin ia ingin menghubungi Hesti dan Rida, tapi ponselnya mati kehabisan daya baterai. Baru tadi malam ia sempat mengisi baterai ponselnya di warung makan sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Baru saja ia mengeluarkan ponsel untuk mengabari Hesti bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja, dua orang bocah mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya, menjambret ponsel dan tas Ana. 

Ana kaget, ia membeku sesaat, hingga akhirnya panik dan menjerit, "Copet!!!"

Banyak orang berkerumun, lalu mengejar dua bocah tadi. Ana juga ikut berlari mengejar. Padahal ia tahu langkah kecilnya tak kan mampu mengejar pencopet itu. Ia bahkan tak sadar sudah meninggalkan kopernya begitu saja di terminal.

Ana kelelahan, ia sudah berlari sejauh 1 kilometer, dan kedua pencopet tadi berhasil kabur.

"Iklaskan aja, Neng. Para pencopet di daerah ini udah saling kerja sama. Mustahil barang Neng bisa kembali," ujar seseorang yang tadi melihat kejadian pencopetan itu.

Ana menghela nafas, berusaha meredam kekalutan di kepalanya dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia sudah tak punya apa pun. Ponsel dan dompetnya lenyap.

Seketika Ana teringat dengan koper yang ditinggalkannya di terminal. Ana balik badan, lalu berlari kecil menuju terminal kembali. Ia merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya ia meninggalkan koper di terminal.

"Semoga koperku masih ada di sana," gumamnya harap-harap cemas. Langkah kakinya dipercepat.

Ana terhuyung. Ia sudah berada di tempatnya semula di terminal Kampung Rambutan, tapi kopernya tak ada. 

Dicobanya mengatur nafas yang tersengal. Kepalanya berkunang, perutnya keram, lalu pandangannya berubah menjadi gelap. Ana ambruk tergelatak di tanah.

***

"Neng, bangun, neng." Seorang ibu dengan apron di badannya menepuk-nepuk pipi Ana. Ibu yang lain mengoles minyak kayu putih pada hidungnya. Tubuh Ana dibaringkan di atas bangku panjang di sebuah warung kopi, masih dalam area terminal.

Lambat laun mata Ana terbuka. Ia segera duduk tatkala mendapati dirinya dikelilingi orang yang asing baginya 

"Syukurlah neng udah sadar," ucap ibu yang mengoleskan minyak kayu putih tadi. Ana mengedarkan pandangannya, sampai matanya bertumpu pada seorang pria tegap berkulit agak kecoklatan.

"Tadi lu pingsan,” ujar pria itu. Ana tak meresponnya. Ia masih bingung dengan keadaan di sekitarnya.

“Oh ya nama lu siapa?" Tanya pria itu lagi. Ia menggeser duduknya mendekat pada Ana. 

"S-saya Ana, Om,” jawab Ana terbata-bata 

"Jangan panggil Om, emang tampang gue kayak om-om. Panggil gue bang Lukman aja." 

"I-iya, bang Lukman," ucap Ana. Ia sedikit takut melihat perawakan pria yang bernama Lukman itu. Apalagi tangannya penuh dengan tato.

"Gimana kondisi kamu? Sudah baikan? Tadi Nyak sempat lihat kamu lari-lari." Ibu yang memakai apron dan mengoleskan minyak kayu putih di hidung Ana kini membelai rambut halus milik Ana.

"Sudah lebih mendingan, Bu. Hanya sedikit pusing aja. Maaf sudah merepotkan ibu." Ana menunduk.

"Nggakpapa. Nyak balik buat kopi dulu. Nanti para pelanggan pada kabur. Oh ya, panggil saya Nyak Yanti saja."

Ana mengangguk.

"Tadi gue lihat lu kecopetan, terus balik ke sini, eh langsung pingsan," ucap Lukman setelah Yanti kembali ke pekerjaannya.

"Koper dan tas saya hilang, Bang."

"Terus sekarang tujuan lu ke mana? Siapa tau kita bisa bantu anterin."

Ana diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Karena dalam rencananya, setelah sampai di Jakarta ia akan menghubungi Rida. Tapi sekarang ia tak tahu ke mana harus mencari Rida.

"Saya nggak tahu, Bang." 

"Ada keluarga yang menjemput?"

Ana menggeleng.

"Ada nomor telepon keluarga yang lu hapal?"

Ana menggeleng lagi.

"Alamat yang mau lu tuju ada?"

"Saya nggak punya tujuan, bang. Saya diusir dari rumah.”

"Hah! kok bisa?"

"Saya hamil." Ana mengelus perutnya.

"Terus?"

"Tapi saya belum bersuami." 

"Pantes lu diusir." 

Ana diam, ia Ia sudah menduga ekspresi Lukman akan seperti itu. Dan dugaannya tepat. 

"Anak jaman sekarang ya. Masih muda, gampang banget nyerahin perawan. Bego banget sih lu."

Ana tak menyahut, hatinya sakit mendengar ucapan Lukman.

"Terus kenapa lu nggak minta tanggung jawab sama cowok lu itu?" 

"Saya nggak tahu siapa yang hamilin saya?" Air mata Ana mulai menggenang.

Lukman melotot, mulutnya menganga lebar 

"Lu ngelakuinnya sama banyak cowok? sampe nggak tau siapa yang harus bertanggung jawab?" tanya Lukman keheranan. Suaranya meninggi, sehingga orang-orang di warung kopi itu menoleh pada mereka.

Wajah Ana merah padam, ia malu. Banyak mata tertuju padanya. 

“Tampang lu aja yang polos, pemain juga ternyata.” Lukman menyunggingkan sudut bibirnya.

"S-Saya diperkosa, bang." 

Lukman terdiam. Senyum sinis yang sempat terukir di wajahnya perlahan memudar. Ia tak berani lagi menyahut ucapan Ana.

Air mata luruh di pipi Ana. Sebenarnya ia tak mau mengingat-ingat kejadian itu lagi. Tapi saat ini ia butuh bantuan. Ia tak punya apa pun selain baju yang melekat di tubuhnya. Ia juga tak kenal siapa pun di Jakarta ini. 

"Jadi rencana lu apa?" 

Ana tak menjawab, ia hanya mengelus perutnya, karena ia memang tak punya rencana apa pun.

“Asal lu dari mana? Siapa tau kita bisa bantu pulangin lu.”

“Saya dari Riau, Bang.”

“Alamak jauhnya. Kok bisa kesasar sampai di sini? Jadi lu mau tinggal di mana? Jakarta ini kota gede. Hidup di sini keras.”

Ana tak tau harus menjawab apa. Ia kebingungan. Membayangkan ia akan tidur di mana, dan dari mana biaya hidupnya kelak sudah membuatnya ketakutan. Apalagi kondisinya sedang hamil. Perlahan air mata menetes lagi di pipinya. Ia rindu pada Hesti. Ia ingin pulang, tapi ayahnya pasti tak akan mau menerimanya kembali. 

"Lu mau tinggal bareng gue?" tawar Lukman akhirnya.

Ana menoleh dan memandang Lukman dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia baru saja mengenal pria itu. Ia tak tahu apakah Lukman orang baik atau orang jahat.

"Jangan salah sangka dulu. Gue bukan laki-laki bejad. Gue hanya mau nolongin elu." 

"Saya butuh kerjaan untuk bisa makan dan punya tempat tinggal," ujar Ana.

"Nah, pas. Di rumah gue banyak kerjaan. Nanti lu bisa gratis makan dan tempat tinggal." 

Lama Ana berpikir sampai akhirnya ia mengangguk setuju. Ia merasa tawaran Lukman adalah satu-satunya jalan keluar saat ini. Ia tak punya siapa-siapa, juga tak punya apa-apa.

Lukman memesan dua piring nasi goreng dan teh hangat. Satu diberikannya pada Ana, dan sepiring lagi untuknya. 

Setelah makan ia membawa Ana dengan sepeda motor keluar dari area terminal, menyusuri jalanan ibukota yang mulai macet. 

Ana memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang mereka lewati, berbagai kendaraan yang lalu lalang, bus, mobil, motor, semuanya penuh sesak memenuhi badan jalan. Sangat kontras dengan suasana di kampung Sikar yang sunyi saat siang hari.

Lukman membelokkan motornya ke sebuah jalan. Plat bertuliskan Jl. Kamboja tampak di persimpangan jalan. 

Motor Lukman berhenti ketika mereka sudah sampai di sebuah rumah berpagar hitam yang halamannya cukup luas. Lukman membuka pagar dan membawa motornya ke dalam.

Seorang wanita berdaster bunga-bunga dengan roll rambut di poni sudah berdiri di teras rumah. Badannya bongsor, kira-kira dua kali lipat lebih lebar dari Lukman. Bibirnya bergincu merah menyala. Alisnya diukir pakai celak menukik tajam seperti golok. Ia menatap Lukman dan Ana dengan tatapan menyala.

"Siapa perempuan ini?" teriak wanita itu.

Ana bergidik, ia sembunyi di belakang Lukman.

"Sttt. Jangan teriak-teriak." Lukman menempelkan telunjuknya di bibir wanita itu. 

"Berani-beraninya lu bawa perempuan lain ke rumah kita? Siapa dia?" 

Ana menyesal telah menerima tawaran Lukman tadi. 

"Eh, elu siapa? kenapa nempel-nempel sama lakik gue?" Wanita itu berkacak pinggang.

"Ayo masuk ke dalam dulu. Nggak enak di dengar tetangga," bujuk Lukman.

"Biarin. Biar semua orang tahu kalau lu main serong di belakang gue." 

"Dia Ana," jawab Lukman.

"Oh ... berani lu yeee, selingkuh di belakang gue."

"Dia lagi hamil," bisik Lukman

"Apa? lu selingkuh sampai hamilin perempuan ini? jahat lu bang, jahat! tega lu sama gue. Gue salah apa sama lu bang? Apa karena dia lebih cantik dan langsing dari gue? Jawab, bang! Jawab!"

Wanita itu meraung histeris. Ia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, lalu beringsut masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Sang Menantu Benalu
8.7
Selama tiga tahun, Stefan hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan dianggap benalu oleh keluarga Lionny. Pasca kecelakaan yang memicu amnesia, posisinya kian terpuruk hingga ia nyaris gila. Putus asa, ia mencoba mengakhiri hidup dengan menelan ratusan butir obat sekaligus. Namun, keajaiban terjadi; alih-alih tewas overdosis, ingatan Stefan justru pulih sepenuhnya. Inilah titik balik sang menantu sampah untuk bangkit dan menunjukkan jati diri aslinya.
Sampul Novel Dua Sisi
8.1
Revan Aditama Perkasa, CEO ADITAMA Group, merasa apatis terhadap pernikahan setelah berulang kali gagal dalam asmara. Mulai dari mencintai gurunya hingga jatuh hati pada kekasih orang lain, ia tak lagi percaya pada cinta. Namun, ayahnya justru memintanya menikahi wanita dari Suku Anak Dalam yang dianggap primitif. Revan pun terkejut dan menolak keras ide menikahi wanita yang sangat kontras dengan dunianya yang modern serta intelektual tersebut.
Sampul Novel Gairah Liar Nayla
7.8
Nayla selalu percaya bahwa kehidupan pasti akan berakhir indah meski badai menerjang. Namun, keyakinannya diuji saat ia jatuh pingsan karena kelelahan di sofa rumahnya. Di tengah kondisi tak berdaya itu, seorang pria misterius yang telah merencanakan segalanya muncul mendekat. Dengan niat terselubung, ia mulai menyentuh tubuh Nayla yang sedang terlelap. Situasi menjadi semakin mencekam saat pria itu meraba dadanya, memicu reaksi tak sadar dari Nayla yang sedang tertidur.
Sampul Novel Istri Dadakan
9.5
Skandal cinta satu malam yang terungkap oleh sang ayah memaksa Dave untuk menikahi Rachel secara mendadak. Dave yang merasa kebebasannya dirampas seketika menaruh kebencian mendalam pada istri barunya tersebut. Padahal, Rachel sendiri sebenarnya sudah memiliki kekasih hati sebelum perjodohan paksa ini terjadi. Di tengah rasa benci dan keterpaksaan, akankah pernikahan tanpa dasar cinta antara Dave dan Rachel ini mampu bertahan menghadapi konflik yang ada?
Sampul Novel Maduku Putri Konglomerat
9.4
Kehidupan yang serba kekurangan mendorong Hilman untuk mengkhianati janji suci pernikahannya. Demi mengejar harta dan kemewahan, ia nekat menikahi seorang wanita dari keluarga konglomerat di belakang istrinya. Kini, sang istri harus berjuang menghadapi kehancuran hati dan kepedihan mendalam akibat pengkhianatan lelaki yang sangat ia cintai itu. Sanggupkah ia bertahan saat suaminya lebih memilih kekayaan daripada kesetiaan mereka?
Sampul Novel MY BEST PARTNER
8.5
Terjebak dalam zona pertemanan, dua orang ini saling mencintai namun enggan mengakuinya. Keseharian mereka penuh perselisihan dan perdebatan sengit layaknya air dan api yang tak pernah bisa bersatu. Namun, sebuah insiden dalam satu malam mengubah segalanya secara drastis. Hubungan mereka berbalik total menjadi saling ketergantungan. Kini, mereka tak bisa terpisahkan, saling membutuhkan dan menginginkan satu sama lain dalam setiap hembusan napas.