Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Mrs. Ilona

Dendam Mrs. Ilona

Setelah genap berusia dua puluh lima tahun, Ilona Roselani Belvania kembali ke tanah air dengan satu ambisi: membalas kematian tragis ayahnya, Tuan Belvara. Tragedi itu tak hanya menghancurkan ekonomi keluarga, tapi juga membuat ibunya kehilangan kewarasan. Kesempatan emas muncul saat Ilona berhasil menjadi guru di sekolah elit tempat pewaris keluarga Altaresh belajar. Dendam harus dibayar tuntas, namun mampukah Ilona menyelesaikan misinya terhadap musuh sang ayah?
Bab
Bagikan

Bab 2

Rintik tiba-tiba mengguyur Kota Bandung. Padahal, jika diingat ini belum waktunya masuk musim penghujan. Seorang gadis lima belas tahun dengan balutan pakaian serba hitam masih setia memandangi pusara dengan tanah yang masih basah dan bebungaan aneka warna bertaburan di atasnya. Sebuah nisan dengan tulisan nama seorang pria yang selalu menjadi tamengnya ia elus begitu lembut. Seakan mengelus lembut wajah yang selalu ditumbuhi thin beard itu. Sudah tak ada lagi air yang bisa mengalir dari sepasang mata bulat dengan iris madu miliknya. Kini hanya tersisa rasa kehilangan yang benar-benar menyakitkan. Rasa yang tak pernah ia bayangkan akan hadir dalam waktu yang begitu cepat. Saat ia masih belum memiliki kuasa untuk bersikap kuat menerima apa saja keputusan takdir dan semesta.

Rintik yang semakin lebat ia biarkan membasahi tubuhnya. Tak peduli jika setelah ini ia akan mengalami demam yang begitu hebat. Sehebat rasa sakit atas kehilangan yang baru saja Tuhan titipkan padanya. Bolehkah ia berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruk? Dan ketika ia terbangun nanti, yang pertama kali ia lihat duduk di pinggir tempat tidurnya adalah sosok pemilik nama yang tertulis pada nisan kayu di hadapannya. Lalu, ia nikmati senyum lebar dan sapaan manis yang selalu ia dapatkan setiap pagi. Semanis buah mangga favoritnya. Sapaan yang selalu berhasil menjadi penghidup suasana hatinya.

“Kenapa harus Papa?” Kalimat itu kembali meluncur dengan bebas dari bibir tipis dan lebar milik gadis itu. Kali ini, kalimat itu tak dibarengi dengan air mata yang runtuh dan terjun dengan bebas pula membasahi wajah putih mulusnya seperti semalam saat ia dapati tubuh ayahnya kembali dengan kondisi terbujur kaku dan kelopak mata yang terpejam begitu erat. Tertutup kain dan digotong banyak orang.

Ada rasa ngilu di dalam ulu hati gadis itu saat kepalanya kembali menyajikan kepingan adegan semalam saat ia membuka kain yang menutupi tubuh ayahnya. Wajah penuh luka yang masih basah dan darah segar masih keluar dari hidung. Entah apa yang terjadi dengan ayahnya. Entah dari mana luka-luka itu datang dan menghiasi wajah tampan dengan senyum lebar itu. Kepala gadis itu buntu untuk mencerna semuanya dengan baik. Ia hanya bisa menatap wajah ayahnya dengan rasa sesak yang menghantam dadanya. Ayahnya sudah tak setampan pagi tadi saat mencium keningnya sebelum berangkat bekerja. Senyum ayahnya sudah berganti menjadi garis lurus. Bibir merah muda yang selalu berceloteh ria kini sudah pucat sepucat dinding ruang tamunya. Namun, tidak apa-apa jika itu tak ada lagi dari ayahnya. Ia hanya ingin ayahnya kembali membuka kelopak mata dan menatapnya penuh hangat. Lalu, merengkuhnya hingga tertidur.

“Kau tidak bisa meratapi terus menerus kepergian ayahmu, Ilona.”

Suara itu terdengar bersamaan dengan rintik yang tak lagi menyapa kulit bumi yang kehausan dalam sekejap. Gadis yang disapa Ilona itu mengangkat kepala. Ternyata bukan hujan yang reda. Namun, hanya dihalangi oleh payung hitam yang dibawa oleh seorang remaja lelaki yang berdiri di belakangnya. Ia melihat senyum tulus terpancar menghias wajah penuh kehangatan itu. Jika biasanya Ilona akan membalas dengan senyum yang tak kalah manis dan membuat lelaki itu gemas. Kali ini ia gagal. Ia tak bisa menarik kedua ujung bibirnya. Otot wajahnya terasa kaku. Dan ia hanya bisa menatap sendu lelaki itu.

Sepasang mata dengan irisnya yang jernih tenggelam pada tatapan sendu milik Ilona. “Kau harus tahu, Lo. Kepulangan itu adalah kepastian yang kita sendiri tidak pernah tahu kapan datangnya. Sekarang giliran ayahmu. Besok entah giliran siapa lagi. Bisa jadi aku. Bisa jadi juga kau. Kita hanya tinggal menunggu giliran saja,” terang lelaki itu panjang lebar seraya menatap lurus ke depan dengan sebelah tangan terlipat di belakang punggung. Sedang tangan sebelahnya lagi masih setia memegang payung hitam untuk menghalau rintik menyentuk puncak kepala Ilona. “Aku tahu kehilangan adalah hal paling menyakitkan. Tetapi, kehilangan juga akan menyadarkan bahwa yang datang tak akan selamanya tinggal. Kehilangan mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi ikhlas.”

Ilona tertegun mendengar penuturan lelaki itu. Sedetik pun ia tak membuang pandang memandangi tubuh yang berdiri di belakangnya. Bagaimana bisa lelaki tujuh belas tahun itu begitu dewasa menyikapi keadaan? Memang Ilona tahu remaja lelaki yang ia panggil Garry itu sudah lebih dulu mengalami kehilangan daripada dirinya. Bahkan, mungkin kehilangan yang lebih hebat. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan sendiri bagaimana Garry pada usia yang sama dengannya harus kehilangan dua orang sekaligus yang begitu berarti dalam hidupnya. Namun, kala itu ia tak mendapati tangisan dari lelaki itu. Ilona hanya melihat senyum tipis Garry mengiringi kepergian orang tuanya.

“Cobalah mengikhlaskan ayahmu, Ilona. Dengan begitu, ayahmu akan tenang. Lagipula, ayahmu tidak benar-benar pergi.” Garry menurunkan pandangan. Menatap Ilona yang masih mendongak memandangnya dengan alis terangkat sebelah. Ia mengulum lagi senyumnya untuk mengirimkan energi positif yang setidaknya ia harap bisa sedikit mengenyahkan kesedihan Ilona. “Ayahmu akan selalu di hatimu. Percayalah!”

Seperti harapan Garry. Kedua ujung bibir Ilona terangkat ke atas membentuk lengkungan yang begitu manis, meskipun tipis. Dan seperti biasa juga, Garry akan merasa gemas dengan hal itu. Ekspresi Ilona saat tersenyum selalu membuatnya ingin mencubit pipi gadis itu. Namun, kali ini ia tidak akan melakukan hal itu. Melihat senyum itu terbit saja sudah berhasil membuat hatinya menghangat. Itu saja cukup untuk saat ini.

“Tetapi, aku masih tidak bisa mencerna dengan baik kepergian Papa yang begitu tiba-tiba dan tragis ini, Gar.” Akhirnya, kalimat itu bisa melebur dan ke luar. Sejak semalam ia tak bisa mengutarakan kalimat itu pada siapa pun. Ia hanya bisa memendamnya sendiri. Sebab, ia melihat sekelilingnya hanya manusia-manusia yang sarat akan kepedihan dan linangan air mata. Apalagi Nyonya Stella—sang Ibu—yang bahkan tak bisa lagi berkata-kata. Begitu juga Kenny—kakak satu-satunya Ilona—yang juga hanya menatap nanar tubuh ayahnya.

“Mungkin sekarang kau tidak akan paham dengan mudah tentang apa yang terjadi. Tetapi, suatu hari nanti kau pasti akan memahami semuanya.”

Sepuluh tahun berlalu setelah kejadian itu nyatanya tak membuat perempuan dua puluh lima tahun yang duduk di pinggir tempat tidur itu melupa. Setiap ia mengingat kepingan kisah masa lalu itu selalu berhasil membuat air matanya mengalir deras tanpa mampu ia bendung. Seperti saat ini. Sampai sekarang ia masih berharap jika itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, lagi-lagi kenyataan menamparnya dengan kasar bahwa kejadian itu memang sebuah fakta yang harus ia telan meskipun pahit.

Tangis Ilona semakin menjadi-jadi. Ia teringat akan perbincangannya dengan Kenny beberapa hari lalu. Sesuai janji Kenny sebelum Ilona dulu berangkat ke Paris. Lelaki itu akan memberitahukan sebuah rahasia besar jika Ilona akan kembali ke Indonesia. Sebuah rahasia tentang kematian Tuan Leonard Belvara—sang ayah—yang tak biasa dan tidak masuk akal.

“Papa pergi bukan karena kecelakaan seperti yang kau lihat di berita-berita yang ditayangkan televisi. Tetapi, karena perbuatan pimpinan perusahaan di mana Papa bekerja.”

Begitulah keterangan yang Ilona dengar dari kakaknya. Rahang perempuan itu mengeras. Tatapannya nyalang menahan amarah. Tangannya terkepal dengan erat hingga buku-buku jemarinya memutih. “Altaresh Group,” ucap Ilona setengah berbisik mengucap nama sebuah perusahaan di mana almarhum Tuan Belvara bekerja. Sebuah perusahaan di mana pimpinannya yang melayangkan nyawa pria itu dalam hitungan jam.

“Apa kau sudah siap, Ilona?”

Suara itu terdengar sesaat setelah pintu kamar Ilona terbuka. Ia menyeka dengan kasar air mata yang masih membasahi pipinya sebelum tertangkap basah oleh pemilik suara yang tidak tahu sopan santun masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ilona mengembuskan napas kesal dan menatap tak suka seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengannya itu. “Harus berapa kali aku memberitahumu untuk mengetuk pintu sebelum masuk kamarku, Rossie?” tanya Ilona penuh kekesalan. Ya, hanya sepupu perempuannya itu yang dengan lancang memasuki kamar yang menjadi tempat paling privasi untuk Ilona. Bahkan, Rossie tak segan untuk menggunakan pakaian atau apa yang ia inginkan milik Ilona.

“Hm, maafkan aku, Ilona. Aku lupa,” jawab Rossie tanpa dosa dan berjalan mendekati tempat tidur Ilona.

“Itu kebiasaan burukmu. Lain kali, kau harus mengetuk pintu dulu. Bagaimana jika kau masuk dan aku sedang tidak mengenakan apa pun?”

“Lain kali kau sudah tak di sini lagi, Ilona,” jawab perempuan berambut piran itu dengan enteng.

Ilona terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Rossie. Sebentar lagi ia akan meninggalkan rumah yang menjadi saksi perjuangannya menempuh pendidikan. Meninggalkan negara kelahiran sang ayah. Meninggalkan cerita-cerita indah bersama Felix. “Aku pasti akan merindukan tempat ini,” ucap Ilona dengan suara pelan.

Rossie menyadari perubahan suasana di kamar Ilona. Ia meraih tubuh sepupunya itu dan merangkulnya seperti teman. Perbedaan umur hanya satu tahun membuat dirinya dan Ilona lebih cocok menjadi sepasang teman saja. “Aku tahu kau berat meninggalkan Paris. Tetapi, biar bagaimana pun kau harus melanjutkan hidup dan mimpi-mimpimu di Indonesia. Ada Kenny yang juga tengah menunggu kepulangan adik satu-satunya.” Rossie memiringkan kepalanya dan menatap Ilona. “Apa kau tak merindukan tanah kelahiranmu, Ilona?”

Bohong jika Ilona tak merindukan belahan bumi di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Berat juga bagi Ilona jika ia kembali menginjakkan kaki di sana sebab kenangan-kenangan tentang masa lalunya dengan Tuan Belvara dan Nyonya Stella pasti akan berseliweran di dalam kepala. Namun, mengingat ucapan Kenny saat ia berbicara lewat telepon beberapa waktu lalu berhasil membuat Ilona meyakinkan diri untuk tetap pulang.

“Kau bisa kembali ke sini kapan pun kau mau. Sebab, rumah ini adalah rumahmu juga.”

Ilona mengangguk seraya mengulum senyumnya. Begitu asyik berbincang dengan sosok Rossie. Perempuan riang dan bisa menjelma menjadi siapa saja bagi Ilona. Selama di Paris, Rossie-lah yang selalu menemani ke mana pun ia pergi—jika Felix tidak bisa menemaninya. Tidak heran jika nanti ia pasti akan merindukan perempuan itu. “Hm, aku pasti akan merindukanmu, Ross.”

Perempuan berambut pirang itu tersenyum lebar. “Aku juga.”

Keduanya lantas saling mengutarakan perasaan dengan saling merengkuh.

“Ayo berangkat!” uacp Rossie seraya mengurai pelukannya. “Nanti kau bisa ketinggalan pesawat. Aku tidak mau rugi dengan membelikanmu tiket dua kali,” lanjutnya dengan melempar candaan yang berhasil membuat Ilona tertawa.

“Apakah Felix sudah datang?”

Rossie menganggukkan kepala. Memang sepupunya itu tidak bisa jauh dari lelaki bernama Felix itu. Sayang, mereka tak bisa menyatu sebab tak ada rasa yang tumbuh di hati masing-masing. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu bersama menjadi sepasang teman. Harapan Rossie, setelah keduanya hidup di negara berbeda, semoga mereka tidak menyesali pilihan untuk tak menjalani hubungan sepasang kekasih. Perihal merasa ada yang berbeda, itu sudah pasti adanya.

Ilona bangkit dengan senyum semringah dan menyeret kopernya. Ia membiarkan Rossie melangkah ke luar terlebih dulu. Di ambang pintu kamar ia berhenti dan membalik tubuhnya. Kepala Ilona terangkat menatap langit-langit kamar. Lalu dengan pandangannya ia beralih menyapu setiap jengkal ruangan yang selalu menjadi tempat pulangnya selama beberapa tahun terakhir ini. Kedua sudut bibirnya berkedut. “Aku pergi, ya. Terima kasih sudah menjadi tempat paling nyamanku selama di sini. See you soon,” ucap Ilona seolah tengah berbicara dengan orang lain. Ia lalu membalik badan dan menutup pintu kamarnya.

“Pa, tunggu aku di sana. Aku akan membalas semua perlakuan jahat orang-orang itu terhadap Papa,” tukas Ilona dengan wajah merah padam. Pertanda ia tengah diliputi amarah yang benar-benar membuncah hingga mencapai ubun-ubun. Terbukti juga dengan genggamannya yang begitu erat pada pegangan koper yang ia seret. Hingga buku-buku jemarinya ikut memutih.

"Seperti rindu yang harus kubayar dengan tuntas. Dendam pun demikian. Nyawa harus dibalas dengan nyawa," tegas perempuan itu dengan tatapan yang benar-benar mengerikan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dangerous Girl
9.7
Aliya kehilangan segalanya saat kekayaan orang tuanya memicu tragedi berdarah. Gadis lembut ini bertransformasi menjadi dewi kematian yang haus balas dendam demi mengungkap dalang pembunuhan keluarganya. Di tengah teka-teki rumit di sekolah, ia harus mencari Samudra, pangeran bermata biru yang kini tak lagi mengenalinya. Meski penolakan terasa menyakitkan, Aliya tetap mengejar jawaban di balik badai rahasia yang mengancam nyawanya. Darah harus dibayar darah.
Sampul Novel Devano Lauder
9.1
Kisah Devano Lauder mengungkap beban masa lalu yang memicu dendam membara dari musuh lama. Selama dua dekade, sang tokoh utama berjuang menyelesaikan konflik yang tak kunjung usai. Di tengah perselisihan dan pembantaian, ia pun terjebak cinta segitiga saat remaja. Memasuki usia dewasa, ia mengambil tanggung jawab penuh dan nyaris tewas demi mengakhiri segalanya. Meski musuh terus mengintai, takdir akan membawa semua pada titik penyelesaian yang semestinya.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel Fulfi
8.6
Fulfi, model cerdas berusia 20 tahun yang hidup sebatang kara, mendirikan yayasan wanita demi mencegah penderitaan serupa menimpa orang lain. Namun, hidupnya hancur setelah menjadi korban pemerkosaan hingga hamil. Saat berjuang menata ulang karier di tengah sabotase pihak yang membencinya, Fulfi justru berhadapan dengan ancaman besar yang menyeretnya bertemu dalang di balik tragedi masa lalunya. Mampukah ia bertahan dan kembali meraih kesuksesan di dunia modeling?
Sampul Novel ISTRI BERCADARKU MANTAN MAFIA
9.4
Tekanan sang kakek memaksa konglomerat Sayudha Wistara menikahi Diandra Safaluna, wanita bercadar yang penuh misteri. Yudha terus dibuat terperangah oleh kemampuan luar biasa dan prinsip unik sang istri. Pesona Diandra perlahan meruntuhkan niat Yudha untuk bercerai setelah dua tahun tanpa kontak fisik. Namun, ia tidak menyadari identitas asli Diandra. Akankah Yudha tahu bahwa istrinya adalah sosok tangguh yang memimpin kakeknya sendiri di dunia mafia?
Sampul Novel Ketika Cinta Mati, Dendam Dimulai
9.8
Pasca kematian tragis putranya, Eva Anindita justru dikhianati suaminya, Jaksa David Adiwijaya. Demi melindungi Karin, pelaku tabrak lari, David memenjarakan Eva atas tuduhan palsu. Setelah tiga tahun mendekam di penjara dan kehilangan anak keduanya, Eva bebas hanya untuk melihat kenyataan pahit. David telah membina keluarga baru bersama Karin. Kini, jurnalis investigasi ini siap menuntut balas atas pengkhianatan keji yang menghancurkan hidupnya.