
Dendam Mrs. Ilona
Bab 3
Sepasang kaki dalam balutan sepatu high heels bergerak dengan sangat anggun di tengah keramaian dan hilir mudik bandara. Hak sepatu yang runcing itu saling beradu dengan lantai hingga menimbulkan bunyi yang seakan terdengar seperti music pengiring langkah kakinya. Bunyi dengan irama konstan itu tak ia pedulikan kalau-kalau bunyinya nanti akan menyita perhatian banyak orang. Lalu, puluhan atau bahkan ratusan pasang mata akan menyorotnya dengan tatapan aneh. Terserah! Biarkan saja mereka memandangnya aneh. Sebab, menghentikan bunyi dari gesekan hak sepatu dan lantai itu juga ia tak punya kuasa untuk melakukannya. Lagi pula, ini tempat umum. Tidak akan ada orang yang akan merasa terganggu, bukan?
Tatkala sepasang kaki yang menopang tubuh proporsional itu tiba di pintu keluar bandara. Tuannya justru menghentikan langkah anggun bak model professional yang berjalan di atas catwalk itu. Ia membuka kacamata hitam yang menutupi sepasang puppy eyes miliknya dan sejak tadi bertengger pada hidung bangir bak patung Yunani tersebut. Memandang lurus ke depan dengan senyum yang teramat tipis dan nyaris tak terlihat. Ia mencoba mengirup udara dalam-dalam seraya mengatup kelopak matanya dengan rapat. Kini, ia sudah bisa menikmtai udara kota di mana ia dilahirkan dua puluh empat tahun lalu dan sempat ia tinggalkan hampir satu windu lamanya. Rentang wajtu yang cukup lama bagi perempuan pemilik nama Ilona Roselani Belvania itu.
Puppy eyes milik perempuan dengan rambut sebahu yang dibiarkan tergerai dan tersapu angin sore ini kembali terbuka pelan. Ia lantas mendongakkan kepala tinggi-tinggi, menatap langit sore yang menyambut kedatangannya dengan warna indah—biru kemerah-merahan. Langit yang mulai detik ini akan ia junjung sampai nanti tubuhnya melebur bersama tanah Kota Bandung.
Lalu. Bagaimana dengan Paris? Sebuah tempat yang menjadikannya tumbuh menjadi perempuan dewasa seperti sekarang ini. Apakah ia tidak akan kembali lagi menginjakkan kaki di tempat yang banyak menciptakan kenangan indah itu? Tidak! Ia pasti akan kembali, tetapi untuk pulang lagi. Dan entah kapan ia akan kembali memijakkan sepasang tungkainya di kota yang terkenal dengan sebutan The City of Love tersebut.
Ah, Paris. Belum juga dua puluh empat jam Ilona meninggalkan kota itu. Sekarang, ia sidah merindukan suasana dan orang-orangnya, khususnya seorang lelaki bermata sipit yang biasa disapa dengan Felix itu. Lelaki itu sekarang pasti tengah menanti kabar darinya. Namun, Ilona masih belum sempai mengirimkan pesan singkat untuk lelaki yang selalu membersamainya dalam segala keadaan selama di Paris. Lelaki itu juga yang banyak memberikan pandangan positif tentang bagaimana menyikapi perjalanan hidup dan melawan ketakutan agar tak melulu kalah. Ah, Felix. Lelaki itu memang hebat dan sempurna di mata Ilona.
“Lix, aku sudah tiba di tanah yang selalu aku banggakan di hadapanmu. Padahal, tanah kelahiranmu jauh lebih indah dan ramah,” monolog Ilona, lalu diiringi tawa kecilnya. “Nanti akan kuperlihatkan rumah dan potret masa kecilku sesuai inginmu,” sambung Ilona dengan senyum yang terpatri begitu cantik. Ia tiba-tiba membayangkan bagaimana Felix akan dengan sangat serius mendengar celotehannya seperti biasa. Seperti seorang kakak yang dengan sangat suka dan sabar mendengar cerita adik kecilnya.
Enough, Ilona! Hentikan otakmu bekerja untuk memikirkan tentang Felix, sebab memikirkan lelaki itu tentu tak aka nada titik temunya. Selalu saja ada hal yang akan ada kaitan dengannya.
Embusan napas Ilona beradu dengan deru angin sore Kota Bandung. Ia kembali menyeret kopernya untuk melanjutkan langkah yang sempat terjeda. Jika ia berlama-lama termenung sendiri di pintu keluar bandara. Itu artinya ia sudah menyia-nyiakan waktu dan memperlambat dirinya tiba di rumah. Dan itu juga artinya ia akan membuat seseorang yang berjanji untuk menjemputnya sudah menunggu lebih lama. Kasihan. Sudah cukup satu windu lamanya menabung rindu. Jangan lagi ia menambah waktu dan memperlama sebuah temu yang menjadi obat paling mujarab penyakit bernama rindu itu. Entah selebar apa sekarang sepasang lengan milik seseorang yang akan menjemputnya nanti.
Belum sampai kakinya melangkah jauh dari arah pintu keluar. Sebuah benda keras menubruk tubuhnya dari belakang. Ilona yang belum siap dengan keadaan pun akhirnya terjungkal ke depan dan lututnya berhasil menyentuh lantai pertama kali. Kacamata yang juga di dalam genggamannya terjatuh begitu saja. Ia mengaduh tertahan. Beruntung tak banyak pasang mata yang menoleh ke arahnya. Jika tidak, tentu ia akan sangat malu sebab menjadi tontonan gratis di tempat itu.
Tak hanya Ilona yang terjatuh menyentuh lantai. Orang yang menabrak Ilona itupun tak ayal tubuhnya menyentuh lantai bandara dengan sempurna. Namun, anehnya tak ada di antara keduanya yang angkat suara. Mereka justru saling mempertemukan tatapan satu sama lain dalam diam dan mengadunya dalam beberapa saat.
Sepasang iris hitam bersih begitu cantik dan teduh, tetapi tampak basah. Bahkan, kelopak mata itu tampak terlihat memerah. Menatap Ilona tanpa berkedip. Tidak ada aura ketertarikan dari tatapan itu. Hanya tatapan nanar tanpa ekspresi.
Ilona. Perempuan itu pun ikut tertegun. Baru kali ini ia melihat sepasang bola mata yang begitu meneduhkan tatapannya. Bahkan, mengalahkan tatapan Felix yang selalu berhasil membuatnya tenang. Namun, seperti ada luka yang terpancar dari sana. Dibuktikan dengan lebih kuat oleh kelopaknya yang sembap, tetapi tak juga menghilangkan keindahan di sana. Diam-diam Ilona memuji keindahan sepasang bola mata itu di dalam hatinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ilona lebih dulu. Padahal jika diingat-ingat, ialah yang menjadi korban dalam insiden ini. Beruntungnya, ia tak sampai tertindih tubuh atletis milik seseorang yang menabraknya.
Kening Ilona mengkerut dalam. Laki-laki yang masih sama-sama belum beranjak dari lantai itu masih bergeming. Sekali lagi, meski tatapannya berhasil menembus tatapan Ilona, tetapi tak ada percikan ketertarikan di sana. Hanya yang jelas terlihat adalah duka. Lantas, Ilona menjentikkan jarinya di depan wajah laki-laki itu untuk membangunkan kesadarannya. Tidak mungkin, bukan, jika ia dan laki-laki itu akan terus menerus dalam posisi seperti ini?
Berhasil! Jentikkan jemari lentik Ilona berhasil membangunkan laki-laki itu dari lamunannya. “Oh, maaf sudah menabrakmu. Apa kau tidak apa-apa?”
Ilona tertegun mendengar suara lembut, tetapi terdengar serak—persis seperti suara orang yang sebelumnya menangis tersedu. Namun, detik berikutnya ia tersadar bahwa ia tidak boleh menjebak diri dalam lamunan juga. “Tidak. Aku tidak apa-apa. Bagaimana denganmu? Apakah ada yang terluka?”
Laki-laki itu menggelengkan kepala hingga rambutnya yang menjuntai di depan kening ikut bergerak mengikuti arah gravitasi. “I’m okay,” balasnya. “Aku pergi dulu,” sambung laki-laki itu dan berlalu setelah mendapatkan anggukan Ilona dengan langkah yang tergesa-gesa.
Sepertinya, laki-laki itu memang sedang dikejar waktu, pikir Ilona. Namun, ia masih belum bisa melupakan sepasang bola mata basah itu. Teduh, tetapi sarat luka.
Ilona yang bersiap-siap untuk merubah posisinya menghentikan pergerakan ketika sepasang netranya menangkap sebuah benda yang jelas sekali asing baginya. Ia memicingkan mata, lalu meraih benda tersebut. Sejenak ia termenung memandangi benda itu. Ia lantas mengangkat kepala dan segera bangkit secepat kilat. Ini pasti barang laki-laki itu yang tak disadari tuannya terjatuh. Namun, Ilona sudah terlanjur terlambat untuk mengejar pemiliknya dan mengembalikan benda kecil berwarna biru itu. Ia sudah tidak bisa lagi menangkap sosok laki-laki itu dengan indra penglihatannya.
“Bagaimana caraku untuk mengembalikan benda ini?” tanya Ilona pada dirinya sendiri. Ia yakin bend aitu pasti sangat penting untuk si laki-laki asing pemilik bola mata basah itu. Akan tetapi, Ilona pun tak punya daya dan cara mengembalikan kepada pemiliknya. Ia tidak tahu sama sekali lelaki yang menubruk tubuhnya hingga tersungkur ke lantai dan mungkin akan menyisakan memar di sepasang lututnya.
Ilona yang tidak bisa berpikir pun akhirnya memutuskan untuk menyimpan saja benda tersebut. Siapa tahu suatu saat ia akan bertemu lagi dengan lelaki itu. Oh, apakah Ilona mengharapkan pertemuan lain setelah ini? Bukan! Bukan itu maksud Ilona. Ia berharap bertemu hanya untuk mengembalikan barang milik laki-laki itu. Hanya itu. Tidak lebih.
Ketika Ilona membereskan beberapa barangnya yang berserakan di lantai. Ia menemukan ada satu barangnya yang hilang. Adalah kacamata hitam yang ia gunakan tadi untuk menghalau cahaya matahari langsung menerpa sepasang mata bulatnya. Ah, laki-laki itu pasti salah mengambil barang karena tergesa-gesa, pikir Ilona. Tiba-tiba ia merasa sedih, karena harus kehilangan kacamata itu. Bagaimana tidak? Kacamata itu adalah barang pemberian terakhir dari Felix. Dan apa pun bentuk barang dari laki-laki bermata sipit selalu ia simpan dan ia gunakan. Sayang, kali ini ada orang tak dikenal yang salah menjamah barangnya. Lalu, Ilona harus mencoba untuk mengikhlaskannya.
“Kenapa barang-barangmu bisa berserakan seperti ini?”
Suara berat itu berhasil menghipnotis Ilona untuk mengangkat kepala dengan posisinya yang berjongkok memungut satu per satu barangnya. Ia sejenak memicingkan mata untuk memperhatikan siapa laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Namun, detik berikutnya ia langsung memekik girang dan sukses mencuri perhatian orang. Ia tanpa malu memeluk tubuh laki-laki di hadapannya dengan erat seraya menggoyangkan tubuhnya.
Garry. Laki-laki itu adalah Garry. Sahabat masa kecil Ilona yang selalu setia menunggu kepulangan perempuan itu di tanah kelahiran mereka. Tanah yang menjadi saksi masa kecil yang indah sebelum duka sama-sama merenggut kebahagiaan mereka dengan kisah yang sama. Adalah kehilangan orang-orang tersayang yang begitu tiba-tiba.
“Lepaskan, Ilona. Kau tidak malu menjadi pusat perhatian orang, hm?” ujar Garry seraya melepaskan tangan Ilona yang melingkar di lehernya.
Ilona masih belum terbiasa dengan pijakannya sekarang. Jelas Garry akan mengatakan hal itu. Indonesia jelas berbeda dengan Paris. Akan ada banyak pasang mata yang memusatkan perhatian dengan tindakan-tindakan seperti itu. Baiklah. Kali ini Ilona mengaku salah, karena tidak sadar tempat.
“Barangmu?”
“Hm, tadi aku ditabrak seseorang, tapi orangnya sudah pergi,” tutur Ilona dan melanjutkan membereskan barangnya.
Garry tentu saja tidak tinggal diam. Laki-laki itu ikut berjongkok dan membantu Ilona. “Dia tidak pergi begitu saja? Kenapa kau biarkan dia lolos?”
“Tidak apa-apa. Aku juga baik-baik saja,” balas Ilona dengan santai.
Garry lantas menoleh ke arah Ilona. Ia tersenyum tipis. “Kau belum berubah. Masih sama seperti dulu,” puji Garry dan refleks mengelus puncak perempuan itu. Satu hal yang sering Garry lakukan dulu pada Ilona kecil.
“Bagaimana aku akan berubah? Aku bukan power rangers, Gar,” sahut Ilona. Lalu, ia tertawa kecil. Padahal, di dalam hatinya ada desiran saat tangan besar Garry menyentuh puncak kepalanya. Perlakuan laki-laki itu mengingatkannya pada Felix. Ya, lagi-lagi Felix.
Garry tidak bisa untuk tidak ikut tertawa. Ia kemudian membantu Ilona membawa barang-barangnya menuju mobil. Setelah ini, akan ia tepati janjinya pada perempuan itu.
Anda Mungkin Juga Suka





