
Dendam Istri Yang Dikhianati
Bab 2
Amora mengurungkan niatnya untuk memesan makanan, tetapi ia kini menelpon suaminya untuk mengucapkan terima kasih.
Kring kring kring kring
Panggilan telepon tersambung ke nomor ponsel Aries.
📱"Iya sayang, ada apa ya?"
Aries bertanya terlebih dahulu dari balik telepon.
📱"Mas, terima kasih ya kamu sudah pesan makanan. Kamu perhatian banget sih."
Amora kembali lagi tersenyum sendiri dibalik telepon.
📱"Nggak apa-apa sayang, aku yakin kamu pasti belum makan. Kalau dikasih tahu pasti cuma iya-iya jawabnya. Makanya aku inisiatif buat pesan dari sini."
📱"Iya sih mas, Habis sampai kantor langsung meeting. Barusan habis meeting mau pesan go food, ehh sudah di kirimin dulu sama suami tercinta."
Kembali lagi Amora memuji Aries.
📱"Ya sudah sekarang dimakan dulu gih, ingat loh kamu punya penyakit maag!"
📱"Iya sayangku ini juga mau ..
"Masssss....ini bagaimana ya?"
Sejenak Amora menghentikan perkataan, ia menajamkan pendengarannya. Matanya menyipit pada saat mendengar suara perempuan di balik ponselnya.
📱"Mas, kok ada suara perempuan?"
📱" Ya ampun, sayang. Aku kan sudah ada di toko, jelas saja ada suara perempuan. Apa kamu lupa kalau toko pakaianku yang beli nggak cuma lelaki, bahkan banyak pelangganku yang perempuan." Aries berkilah dari balik telepon, seraya ia memberikan kode pada wanita selingkuhannya dengan menempelkan jari telunjuk dibibir.
📱"Ohh, aku kira suara siapa? ya sudah kalau begitu aku makan dulu ya mas. Kamu hati-hati kerjanya. Sampai ketemu di rumah nanti ya."
Keduanya mematikan panggilan telepon, tetapi dalam hati Amora merasa tidak enak hati setelah mendengar suara perempuan.
"Ya Allah, kenapa aku jadi berburuk sangka dengan suamiku sendiri ya? memang apa yang dikatakan oleh Mas Aries benar juga sih. Usaha dia kan buka toko pakaian yang pastinya para pelanggannya itu kebanyakan ya perempuan. Astaghfirullahaladzim, kok jadi suudzon sama suami sendiri."
Amora menghela napas panjang, ia mencoba untuk menepis rasa curiganya pada Aries. Ia pun membuka bingkisan makanan tersebut dan segera memakannya.
Aries memiliki toko pakaian yang cukup besar, dengan enam pelayan, yakni tiga perempuan dan tiga lelaki. Ia bisa buka toko pakaian juga berkat Amora yang memberikan modal usaha padanya.
Segala kebutuhan besar di dalam rumah tangga semua yang membayar Amora. Dari angsuran mobil , angsuran bank , Amora yang menanganinya.
Sejenak Amora melirik jam tangannya," baru jam sebelas siang. Biasanya Mas Aries buka tokonya juga siangan sekitar jam setengah dua belas. Ini kok sudah buka saja ya?"
Memang toko pakaian milik Aries untuk grosiran, dan ia lebih suka buka toko menjelang siang hingga pukul lima sore baru tutup. Hanya hari Minggu saja, toko pakaiannya tutup. Jika tanggal merah atau selain Minggu, toko pakaiannya tetap buka.
Amora terus saja mencoba untuk tidak berburuk sangka pada Aries. Walaupun entah kenapa hatinya terus saja tidak tenang memikirkan Aries
"Astagfirullahaladzim, ya Allah. Kenapa kok hatiku terus saja memikirkan Mas Aries dan suara manja wanita yang tadi aku dengar di dalam panggilan telepon ya?"
"Ya Allah, tolong tepiskan rasa curiga ini. Karena aku yakin suamiku setia dan tidak bertingkah. Aku nggak ingin terus berburuk sangka seperti ini ya Allah."
Berkali-kali Amora berusaha untuk tidak curiga pada suaminya, tetap saja hatinya tidak tenang.
Tetapi ia terhenyak kaget pada saat pulang ke rumah untuk mengambil berkas kantor yang tertinggal. Dia tidak sengaja melintas di depan kamar utama dan mendengar suara lelaki dan wanita sedang asik melakukan hubungan suami istri.
Dengan tangan gemetar, Amora membuka perlahan pintu kamar tersebut, sejenak matanya membola melihat pemandangan syur dimana suaminya sedang asik menindih seorang wanita. Dan wanita itu tak asing lagi bagi Amora.
Anda Mungkin Juga Suka





