
Dendam Istri Yang Dikhianati
Bab 3
Amora mengepalkan tinjunya, tapi ia tidak lantas menegur Aries. Ia meraih ponsel dan merekam adegan panas yang ada di hadapannya dengan tangan gemetar. Setelah itu ia melangkah pergi secara perlahan dari ambang pintu tanpa menutup lagi pintu tersebut.
Darahnya bergemuruh, jantungnya berdetak dengan kencang. Kakinya terasa lemas dan hampir saja ia tidak kuat untuk berjalan. Ia begitu tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri.
Berkali-kali ia bergumam dalam hati," ya Allah, apakah aku sedang bermimpi?"
Amora mencubit pipi sendiri, nyatanya ia kesakitan.
"Auhhh... ternyata semua nyata. Tetapi kenapa harus Arin, walaupun ia adik tiri tapi sudah aku anggap adik kandungku sendiri. Bahkan segala kebutuhannya aku yang selalu mencukupi. Mas Aries, kenapa kamu juga tega padaku? kurang apa aku padamu, hingga kamu berselingkuh?"
Air matanya menetes begitu saja.
Tetapi ia segera menghapus air matanya," aku tidak ingin lemah. Aku akan membalas perbuatan mereka dengan caraku sendiri."
Amora mempercepat langkahnya untuk segera sampai di pelataran rumah, dimana mobilnya terparkir.
Amora bisa keluar masuk rumah tanpa harus meminta tolong security untuk membuka pintu gerbang, karena ia selalu membawa kunci cadangan. Apalagi saat ini security dan bibi sedang pulang kampung. Hingga suasana rumah sepi dan membuat Aries gampang melakukan perselingkuhan di rumah dengan Arin.
Beberapa menit kemudian...
Amora masih saja teringat bagaimana suaminya main gila dengan adik tirinya.
"Astaghfirullahaladzim, kenapa aku teringat selalu dengan peristiwa tadi ya? sama sekali aku tidak bisa melupakannya. Tetapi aku harus bisa tegar, dan aku harus mempunyai cukup bukti untuk mempermalukan mereka berdua."
"Aku nggak boleh lemah. Aku bukan wanita bodoh yang akan menerima perlakuan orang yang sudah berlaku curang terhadapku. Baiklah aku akan ikuti permainan kalian, sejauh mana kalian bisa bertahan dengan semua kebusukan ini." batin Amora menabuh genderang perang dengan suami dan adik tirinya.
"Aku tidak akan lagi menangisi lelaki seperti Aries. Sayang sekali air mata ini tertumpah untuk lelaki bejat seperti dirinya. Aku tidak akan tinggal diam kok, pasti kalian akan merasakan juga apa yang saat ini aku rasakan!" sumpah Amora sembari mengepalkan tinjunya.
Sementara saat ini kedua sejoli yang baru saja selesai bercinta sedang bercengkrama. Arin berbaring di dada bidang Aries.
"Arin, kamu makin pintar saja sih? aku bagai terbang diatas awan, sangat menikmatinya sayang," Aries memuji permainan ranjang Arin.
Pasangan selingkuh tersebut telah selesai menyalurkan hasrat mereka. Keduanya masih terbaring di ranjang tanpa sehelai benang. Tubuh menyatu mendekap di dalam selimut.
"Apaan sih mas, kan biar mas Aries puas loh," ucap Arin sok malu-malu kucing.
Kembali lagi Aries memuji permainan ranjang Arin dan bahkan ia membandingkan dengan permainan ranjang Amora," kamu memang beda dengan Amora, dia itu tidak bisa bergaya hanya diam saja seperti patung yang membuatku jadi bosan padanya. Tidak ada gaya yang mengasyikkan sama sekali."
Arin rela melakukan apapun karena ia cinta pada Aries. Begitu pula dengan Aries, ia juga mengatakan pada Arin bahwa dirinya sangat cinta padanya.
"Hmmm...katanya sayang dan sangat cinta padaku. Tetapi kok tidak juga menikahiku sih, mas? aku sudah merasa lelah harus sembunyi-sembunyi seperti ini," keluh kesah Arin meminta pertanggung jawaban atas apa yang telah mereka lakukan selama ini di belakang Amora.
Tetapi seperti biasa Aries berkilah membujuk Arin dengan segala kata-kata manisnya.
"Sayangku cintaku, kamu yang sabar dulu dong. Karena segala sesuatu itu butuh proses dan tidak instan. Aku nggak bisa menceraikan Amora tanpa bukti dan alasan yang kuat, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang terpenting kan kita bisa bersama, dan setiap saat bisa melakukan hal ini tanpa sepengetahuan Amora."
Anda Mungkin Juga Suka





