
Dendam Istri Muda
Bab 2
Pukul 19.30 saat hujan perlahan turun, Khalid terpaku di ambang pintu ruang perawatan istrinya. Pria itu sedih melihat kondisi Lita yang semakin hari semakin memburuk. Keinginannya untuk bertemu Lita urung ia lakukan. Khalid berbalik, duduk di kursi tunggu di depan ruang perawatan.
Dagunya ia tahan dengan kedua tangan, mata Khalid terpejam memikirkan cara untuk menyembuhkan Lita. Rasa sesal dan marah bercampur menjadi satu. Andai saja Wulan ditemukan, Khalid berjanji akan membuat wanita itu membusuk di penjara.
“Tuan, kami sudah menemukan lokasinya.” Asisten tampan Khalid datang menghampiri, memberikan informasi yang membuat Khalid sedikit lega.
Pria itu membuka mata, menatap Leo yang masih mengenakan seragam kerja. “Kerja bagus. Segera tangkap mereka dan orang-orang yang mungkin terlibat dalam membunuh putraku!”
Leo mengangguk paham. Ia segera meninggalkan rumah sakit untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Khalid. Meski malam terasa dingin, dan hujan tak kunjung reda tak membuat Leo menunda pekerjaannya. Jika menunggu hari esok, bisa jadi Wulan dan Udin kabur dari tempat persembunyiannya yang sekarang.
“Beritahu anggota kita untuk terus mengawasi mereka berdua. Kita akan tiba di sana sebelum subuh. Jangan sampai mereka lolos, atau Tuan Khalid akan menghukum kita.”
Leo memutuskan panggilan sebelum menaiki mobil yang akan membawanya ke tempat Wulan berada. Pria tampan yang sudah memiliki tunangan ini berusaha untuk memendam amarahnya ketika mengingat kejahatan yang telah dilakukan Wulan.
“Tuan, Nyonya Lita sudah tertidur. Tadi dokter telah memberinya obat penenang.” Perawat khusus yang telah diminta Khalid untuk merawat istrinya di rumah sakit itu menghampiri.
Meski memiliki banyak dokter dan perawat yang profesional, Khalid takut seseorang akan menyakiti Lita seperti yang telah dilakukan pada putranya.
Ia lebih memilih menyewa tenaga kesehatan pribadi agar kesehatan istrinya cepat stabil.
“Jangan pernah tinggalkan dia. Aku ingin kamu selalu ada disisi Lita dua puluh empat jam! Paham?”
“Baik, Tuan.” Wanita itu mengangguk dan kembali masuk ke ruang perawatan Lita.
Khalid hendak berdiri, sebelum itu ia sempat melihat seorang perempuan yang tampak mencurigakan. Pria itu mengikuti tanpa sepengetahuannya. Jika dilihat dari belakang, wanita itu seperti Wulan.
“Maaf, nggak sengaja.”
Khalid bersembunyi di balik tembok rumah sakit saat perempuan itu tanpa sengaja menabrak seorang perawat. Ia kemudian menoleh ke belakang saat menyadari ada seseorang yang tengah mengikutinya.
Matanya celingukan mencari seseorang yang ia curigai. Di sisi lain, Khalid menajamkan matanya melihat wanita yang memakai masker dan topi hitam itu yang kembali meninggalkan tempat.
“Seseorang baru saja keluar dari rumah sakit, ikuti dia!” perintah Khalid pada salah satu anak buahnya melalui panggilan telepon.
***
“Dengan wajah ini, aku yakin kita bisa menjalankan rencana yang sempat tertunda.” Seorang perempuan mengenakan seragam medis berbicara pada pria yang berdiri di hadapannya.
Pria itu tersenyum menatapnya sembari mendekat. Membelai lembut puncuk kepala wanita yang saat ini berstatus sebagai adik angkatnya.
“Kamu tenang saja, kali ini rencana kita akan berhasil. Mereka akan membayar semua penderitaan yang selama ini kamu alami sendiri,” ujar pria itu.
“Aku mohon, Kak! Kakak jangan sampai melukai pria itu apalagi istrinya. Aku hanya ingin mereka tahu bagaimana perasaanku selama ini. Kalau perlu, aku akan menjadi istri keduanya untuk membalaskan dendam kita.”
Wanita itu memeluk kakaknya, menangis di sana saat mengingat masa lalunya yang pahit. Ia sendiri tak menyangka akan mengalami nasib buruk akibat perbuatan satu orang yang telah merenggut kebahagiaannya. Kini, dendam yang selama ini mereka pendam akan segera terbayarkan agar rasa sakit itu segera berkurang.
“Sekarang kamu kembali ke rumah sakit, tenangkan pikiran dan jangan menangis,” ujar pria itu melepas pelukan. “Biar Kakak yang memikirkan caranya untuk bisa masuk dalam keluarga itu.”
Ia mengangguk, kemudian meninggalkan kakaknya sendiri. Sementara kepergian sang adik, pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju lokasi tempat persembunyian Wulan.
***
“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tawar perawat pribadi Lita menghampiri Khalid yang masih duduk di ruang tunggu.
Pria beranak satu itu menengadahkan kepala, melihat wanita berhijab itu berdiri di hadapannya.
“Jenni, kamu di sini? Bagaimana keadaan istri saya?” tanyanya sembari berdiri.
“Nyonya baik-baik saja, Tuan. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang, InsyAllah Nyonya Lita akan segera sembuh,” jawabnya.
Khalid mengangguk, mengusap wajahnya yang terlihat kusut. Malam ini Khalid tak bisa berpikir dengan sempurna, ia masih belum tenang sebelum Wulan ditemukan.
“Jen, boleh saya minta tolong?” tanya Khalid serius.
“Minta tolong apa, Tuan?”
Pria itu tak langsung menjawab, Khalid takut permintaannya akan membuat Jenni tersinggung. Sebelumnya, Khalid sudah pernah membicarakan hal serius ini dengan Lita akan tetapi rencana itu terpaksa dibatalkan dengan kehadiran Rais.
“Saya ingin punya anak, tapi saya bingung bagaimana caranya.”
“Nyonya Lita masih bisa punya anak ‘kan, Tuan? Mungkin setelah kondisi beliau stabil, Tuan bisa mencobanya lagi,” saran Jeni.
Khalid menatap Jenni lama. Matanya terlihat sendu dan menyimpan sesuatu yang sulit untuk diucapkan. Namun, tampak bermakna.
“Tidak, Jenni. Lita tak mungkin bisa hamil lagi, rahimnya sudah diangkat sejak Rais lahir.”
“Kalau begitu, Tuan bisa mengangkat anak dari panti asuhan,” saran Jenni lagi.
Khalid terdiam, bingung harus menjelaskannya lagi. Bukan Jenni yang tidak peka dengan perkataannya, namun Khalid sendiri yang terlihat ambigu saat mengatakannya.
“Lita nggak mau mengasuh anak yang bukan darah dagingku. Dia hanya ingin anak dariku saja.”
Jenni menyipitkan mata, baru paham dengan maksud dari perkataan Khalid. “Apa Tuan mau menikah lagi?” tanyanya hati-hati.
Pria itu menghembuskan napas pelan, kemudian mengangguk. “Akhirnya kamu paham juga.”
“Maaf, Tuan. Saya memang sulit untuk mencerna perkataan yang serius. Saya nggak tahu kalau permasalahan yang Tuan hadapi begitu rumit. Tapi, Tuan, dengan siapa anda akan menikah?”
“Kamu.”
Jenni membulatkan matanya mendengar ucapan Khalid. Ia yakin majikannya ini hanya bercanda untuk menghibur diri. Tak mungkin semudah itu bagi seorang pria seperti Khalid yang sangat mencintai Lita akan tega berkhianat di saat kondisi istrinya tidak begitu baik.
“Maaf, mungkin Tuan bercanda.”
“Tidak, Jenni,” sanggah Khalid cepat. “Kita sudah kenal lama, dan kamu gadis yang sangat baik. Saya pernah meminta izin pada Lita untuk menikahimu, tapi dia menolak. Saat itu saya nggak punya keberanian untuk menyakitinya.”
“T-tapi, Tuan. Saya hanyalah gadis biasa yang pernah Tuan selamatkan dari kejaran preman itu. Saya nggak berani menyakiti Nyonya yang sudah menganggap saya seperti adiknya sendiri,” tolak Jenni.
“Lita akan mengerti dengan keputusan ini. Cuma ini satu-satunya cara untuk membuat Lita kembali seperti semula. Hanya dengan kehadiran seorang anak, istri saya akan sembuh,” ujar Khalid memelas.
Jenni berpikir sejenak, antara menerima permintaan Khalid atau tidak. Ia juga tak ingin hanya dianggap sebagai mesin pembuat anak. Biar bagaimana pun, Jenni masih memiliki perasaan yang tak ingin disakiti.
“Saya akan membicarakan hal ini dengan keluarga terlebih dahulu. Tuan jangan terlalu berharap lebih, saya nggak mungkin bisa menerimanya.” Jenni berlalu begitu saja, membiarkan Khalid sendiri yang masih berada dalam kebingungan.
“Sebenarnya kamu di mana? Kenapa begitu lama pergi tanpa meninggalkan jejak. Pulanglah! Aku merindukanmu,” batin pria itu.
Penyesalan akan datang di saat orang yang selama ini setia berada di sampingmu pergi tanpa meninggalkan jejak. Mungkin ia ingin menghapus kenangan yang pernah tercipta dan membuatnya terluka.
Anda Mungkin Juga Suka





