
Dendam Ayahku & Takdir Cinta
Bab 3
Rasa kopi pagi ini terasa pahit, sama seperti rencana Liana. Setelah nyaris tertangkap basah sama Tuan Mahesa kemarin, dia tahu harus memutar otak seratus delapan puluh derajat. Keberaniannya kemarin itu bodoh. Tuan Mahesa itu predator tua, nggak akan membiarkan mangsanya lolos dua kali.
Liana menarik napas, melihat layar ponselnya. Ada balasan dari Dino soal utang Kinar Adelia. Ternyata, utang itu dilunasi bukan oleh Prabu, tapi oleh sebuah perusahaan cangkang. Perusahaan yang sering dipakai Tuan Mahesa buat "membersihkan" masalah keluarganya tanpa meninggalkan jejak.
Utang sebesar itu cuma masalah kecil buat mereka. Kalau aku bongkar, Prabu mungkin cuma sedikit malu, tapi pernikahan nggak akan batal.
Liana sadar, menyerang Kinar hanya akan jadi gangguan kecil, bukan kehancuran total. Dia perlu sesuatu yang lebih besar, yang bisa merobohkan fondasi Mahesa Group. Dan untuk itu, dia butuh orang dalam. Bukan orang dalam di kantor, tapi orang yang tahu kotoran di balik sejarah keluarga itu.
Sambil memikirkan siapa yang paling membenci Tuan Mahesa, ingatan Liana melayang ke acara gala dinner perusahaan setahun lalu. Dia ingat melihat seorang pria di sudut, matanya penuh kebencian setiap kali Tuan Mahesa pidato. Pria itu adalah Reno, keponakan Tuan Mahesa. Semua orang tahu Reno seharusnya mewarisi sebagian saham Mahesa, tapi entah bagaimana, Tuan Mahesa berhasil menyingkirkannya, dan kini Reno cuma jadi konsultan kelas dua yang kerjanya serabutan.
Reno adalah korban. Korban dari Tuan Mahesa. Itu artinya, Reno punya dendam, dan dendam adalah mata uang paling berharga buat Liana.
Liana menghubungi kenalan lamanya. Dia harus memastikan pertemuan itu aman, tanpa jejak, dan yang paling penting, tanpa sepengetahuan Tuan Mahesa. Setelah beberapa kali telepon dan janji yang dirahasiakan, pertemuan itu diatur: hari ini, pukul tiga sore, di sebuah kafe terpencil di pinggiran kota yang terkenal sepi dan minim kamera CCTV.
Liana sampai duluan. Kafe itu terasa remang-remang dan senyap, cocok untuk konspirasi. Dia duduk di sudut, membelakangi dinding, dengan posisi yang memungkinkan dia melihat pintu masuk. Dia memesan teh hijau, bukan kopi. Dia butuh ketenangan, bukan kafein yang bikin dia makin paranoid.
Tepat pukul tiga lebih lima menit, Reno masuk. Pria itu tampak kusut dan jauh dari kesan elegan yang dulu ia tunjukkan saat masih jadi bagian dari keluarga Mahesa. Matanya cekung, dipenuhi kelelahan dan mungkin alkohol. Tapi di balik semua itu, tatapan bencinya pada pamannya sendiri, Tuan Mahesa, masih jelas terlihat.
"Liana, ya?" sapa Reno, suaranya parau, menjabat tangan Liana dengan erat. Jabat tangan itu terasa agresif, bukan sopan. Liana langsung menilai: Lelaki ini putus asa.
"Iya. Aku Liana. Terima kasih sudah mau datang, Reno," jawab Liana datar, menarik tangannya cepat.
Reno duduk di depannya, menghela napas panjang. "Nggak perlu basa-basi. Aku tahu kamu ini karyawannya Paman Mahesa. Dan aku tahu kamu nggak mungkin buang waktu untuk sekadar kencan sama aku. Jadi, langsung saja. Kamu mau apa?"
Liana menghargai kejujuran sinis itu. Itu menghemat waktu.
"Aku nggak mau apa-apa dari kamu, Reno. Aku mau kita punya musuh yang sama," Liana berucap pelan, nadanya seperti membujuk. "Musuh itu Tuan Mahesa. Dan sekarang, musuhku akan menikah."
Reno menyeringai pahit. "Prabu. Si anak emas. Aku tahu. Itu membuat perutku mual. Dia dapat segalanya. Perusahaan, kekayaan, bahkan calon istri sempurna. Padahal dia itu sampah, sama kayak Ayahnya."
"Sampah seperti apa?" tanya Liana, tatapannya menantang.
Reno mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan suara mereka tidak didengar. "Paman Mahesa itu mencuri segalanya dari almarhum Ayahku. Dan Prabu... Prabu tahu semua itu. Dia bukan korban, Liana. Dia menikmati hasil curian Ayahnya. Diapura-pura bersih, padahal dia terlibat dalam beberapa transaksi kotor Paman Mahesa. Khususnya, proyek pembangunan perumahan yang dulu mengorbankan-"
Liana menahan napasnya. Proyek perumahan. Itu proyek yang dulu menghancurkan Ayahnya. Ini dia.
"Proyek mana?" desak Liana, ia harus pura-pura tidak tahu, harus memastikan Reno percaya Liana hanya ingin membongkar kebobrokan Tuan Mahesa saat ini.
Reno menjelaskan detail proyek lama itu, menyebutkan bagaimana Tuan Mahesa menggunakan dokumen palsu dan menjebak pesaingnya-persis seperti yang Liana alami, tanpa Reno tahu. Reno juga menjelaskan bahwa Prabu, meskipun saat itu masih kuliah, pernah dipaksa Ayahnya untuk memalsukan beberapa tanda tangan penting.
Informasi ini adalah emas. Jika Liana bisa mengaitkan Prabu dengan skandal masa lalu yang melibatkan ayahnya, itu akan jauh lebih mematikan daripada hanya membongkar utang Kinar. Itu bukan hanya urusan pribadi; itu urusan hukum dan reputasi.
"Jadi, kamu mau aku lakukan apa?" tanya Reno, matanya mulai menunjukkan binar harapan dan keserakahan.
Liana bersandar. Ini adalah bagian yang paling sulit.
"Aku butuh bukti. Bukti nyata yang mengikat Prabu dengan skandal masa lalu Tuan Mahesa. Kamu punya akses ke sana, kan?"
Reno tertawa kecil, suara kering yang penuh sinisme. "Aku nggak bodoh, Liana. Tentu saja aku punya backup data-data kotor itu. Aku cuma nunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka. Tapi aku nggak bisa bergerak sendirian. Kalau aku yang maju, Paman Mahesa akan menuduhku iri dan cuma mencari warisan."
Dia menatap Liana dengan tatapan mata yang licik. "Tapi kamu berbeda. Kamu orang dalam. Kamu bisa mencari celah di sistem mereka. Aku akan kasih kamu semua dokumen yang kamu butuhkan, asalkan kamu janji, setelah Prabu dan Mahesa Group hancur, kamu bantu aku merebut kembali sahamku. Kita bagi dua, Liana. Lima puluh lima puluh."
Jantung Liana mencelos.
Bagi dua?
Bukan, dia bukan marah karena Reno meminta bagian. Liana marah karena ia sekali lagi menyaksikan keserakahan manusia yang tidak bermoral. Reno membenci Mahesa Group karena perlakuan Ayahnya, tapi dia tidak peduli pada keadilan. Dia hanya peduli pada uang. Dia ingin menjadi Mahesa yang baru, menggunakan dendam Liana sebagai alatnya.
Liana tahu saat itu juga: Lelaki ini nggak bisa dipercaya. Dia hanya akan menjadi rekan sementara, dan begitu dia mendapatkan sahamnya, Reno tidak akan ragu-ragu untuk menusuk Liana dari belakang agar semua data itu hilang dan dialah satu-satunya pewaris kegelapan itu.
Konflik internal Liana berteriak. Haruskah dia bekerja sama dengan ular ini, yang sama gilanya dengan Tuan Mahesa? Atau haruskah dia tetap berjalan sendirian, meskipun jalannya lebih sulit?
Keputusan Liana cepat, didorong oleh prinsip sinisnya yang kuat: Jangan pernah percaya siapa pun, gunakan mereka.
"Aku setuju," kata Liana, senyumnya yang dingin kini kembali. "Tapi persentase itu urusan nanti. Prioritas kita sekarang: hancurkan pernikahan Prabu, hancurkan reputasi mereka, dan jatuhkan Tuan Mahesa ke penjara. Kita bergerak bersama, Reno. Kamu kasih aku dokumen luar, aku kasih kamu informasi dalam. Aku akan jadi orang yang menusuk dari depan, kamu yang memberi pisau."
Reno mengangguk, matanya bersinar karena nafsu kekuasaan. "Baik. Tapi kita harus cepat. Pernikahan itu minggu depan. Kita nggak punya banyak waktu."
Liana meneguk sisa tehnya. Dia merasa jijik pada Reno, pada Tuan Mahesa, dan sedikit pada dirinya sendiri karena harus bekerja sama dengan orang busuk seperti ini.
"Aku akan siapkan rencana paling cepat. Kamu siapkan dokumennya," kata Liana sambil bangkit.
"Mau ke mana? Kita harus bahas taktiknya," protes Reno.
"Nggak perlu taktik. Taktik cuma bikin semuanya rumit. Kita cuma perlu satu hal: bukti nyata. Begitu bukti itu ada di tanganku, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ujar Liana. Dia tahu dia harus menjauh dari Reno secepat mungkin sebelum Reno bisa membaca semua gerak-geriknya.
Liana membayar minumannya dan berjalan keluar kafe, meninggalkan Reno sendirian dengan tumpukan rencana keserakahannya.
Luar biasa. Dalam dua hari, dia hampir dipecat oleh musuh utamanya, dan sekarang dia bersekutu dengan keponakan musuhnya yang sama-sama beracun. Dia benar-benar sendirian di permainan ini. Reno hanyalah alat sekali pakai, dan Liana tidak akan ragu membuangnya begitu dia mendapatkan apa yang dia butuhkan.
Di jalan yang ramai, Liana menyalakan mobilnya. Kepalanya sakit, tapi semangatnya kembali menyala.
Aku nggak akan pernah bagi hasil dengan siapa pun. Semua yang hilang dari Ayahku harus kembali utuh ke tanganku. Dan semua orang yang ada di sekitarku, entah itu Prabu, Kinar, atau bahkan Reno, semuanya cuma pion. Semuanya.
Dia menginjak pedal gas, meninggalkan kafe itu, meninggalkan Reno, dan meninggalkan semua ilusi tentang aliansi yang bersih.
Anda Mungkin Juga Suka





